Share

Bab 4

Penulis: Zoro
Mendengar kata-kata itu keluar dari mulut anak yang dia besarkan dengan sepenuh hati, jantung Maya seolah tersayat pisau. Rasanya perih luar biasa.

Dengan mata memerah dan suara bergetar, dia menyahut, "Baiklah, kalau begitu pergi cari Tante Gisel-mu itu. Dia akan sangat mencintaimu!"

"Maya!" Howard benar-benar murka mendengar tanggapan itu. "Jesika hampir mati karena kamu, dan kamu masih bisa bicara begitu? Kamu tahu betapa menderitanya dia saat asmanya kambuh?"

Selesai bicara, dia menoleh ke arah kepala pelayan di luar pintu. "Ambilkan gumpalan kapas!"

Sebelum Maya menyadari apa yang akan dilakukan Howard, beberapa pelayan sudah menekan tubuhnya ke lantai.

"Sumpalkan kapas-kapas ini ke mulutnya. Biarkan dia merasakan sendiri bagaimana rasanya sesak napas."

"Howard ... emph!"

Pelayan menahan bahu Maya, lalu meraup segenggam demi segenggam kapas dan menjejalinya ke dalam mulut Maya. Serat-serat halus kapas itu terasa seperti ribuan jarum yang menusuk masuk ke saluran pernapasannya.

Tubuh Maya melengkung hebat. Dadanya terasa seperti disesaki tumpukan rumput kering yang terbakar. Dia pun tersedak hingga air mata dan ingusnya mengalir deras, sementara tenggorokannya mengeluarkan suara "huk-huk" yang menyayat hati.

Dia mencengkeram lantai dengan kuat, lalu mendongak menatap Howard dan Javier.

"Ayah, sumpalkan lebih banyak lagi! Biar dia kapok!" seru Javier dengan nada memerintah yang penuh kebencian.

Sementara itu, Howard berdiri di sampingnya, bersikap dingin seolah-olah dia hanya sedang menonton sebuah sandiwara yang tak ada hubungannya dengan dirinya.

Hingga sisa oksigen terakhirnya habis, tubuh Maya ambruk ke lantai dan dia kehilangan kesadaran sepenuhnya.

...

Saat membuka mata kembali, Maya melihat Gisel duduk di tepi tempat tidurnya.

Melihat Maya sudah sadar, Gisel memasang wajah penuh penyesalan. "Nona Maya, ini semua salahku karena membelikan banyak boneka untuk Jesika."

"Hasil pemeriksaan rumah sakit sudah keluar, asma Jesika kambuh memang karena mainan-mainan itu. Aku sudah minta maaf pada Howard. Tolong maafkan aku juga, ya?"

Maya membuka mulutnya. Dia ingin bicara, namun tidak ada suara yang keluar.

Tepat saat itu, Javier berlari masuk.

"Tante Gisel, itu bukan salahmu! Ini salah Ibu karena nggak memberitahumu!" Javier pun menggandeng tangan Gisel. "Ayo kita pergi, jangan buat Ayah menunggu lama!"

Gisel berdiri dan kembali menatap Maya yang terbaring di ranjang.

"Kejadian Jesika membuatku sangat takut. Howard khawatir aku terlalu menyalahkan diri sendiri, jadi dia mau membelikanku kalung sebagai kompensasi. Apa ada sesuatu yang kamu mau? Aku bisa sekalian membelikannya untukmu."

Maya hanya memalingkan wajah dalam diam.

Rasa pahit yang bergejolak di hatinya seolah menelan dirinya bulat-bulat.

Hanya karena dia tidak mencuci selimut anaknya selama beberapa hari, Howard menyiksanya dengan cara yang begitu kejam.

Namun, saat Gisel menyebabkan asma Jesika kambuh, pria itu malah ingin memberinya kompensasi?

Melihat Maya tetap bungkam, Gisel tidak bicara lagi dan membawa Javier pergi.

Menatap kamar yang kosong itu, Maya tidak bisa lagi membendung emosinya. Tangannya mencengkeram seprai dengan erat, lalu ia menangis tersedu-sedu.

Air matanya terus mengalir deras.

Seolah-olah dia ingin menggunakan kesempatan ini untuk menumpahkan seluruh kepedihan dari dua masa kehidupannya hingga tuntas.

...

Maya terbaring di tempat tidur selama tiga hari.

Pada hari keempat, dia menerima telepon dari pusat pengurusan visa yang mengabarkan bahwa visanya sudah selesai diproses.

Masih ada sepuluh hari tersisa dari masa jeda perceraian, tetapi dia tidak ingin menetap di sana sedetik pun.

Dengan mantap, dia memesan tiket pesawat ke luar negeri untuk sepuluh hari mendatang.

Saat Howard membawa kedua anak mereka masuk ke kamar, dia kebetulan melihat layar ponsel Maya yang menampilkan tiket pesawat tersebut.

Dia mengernyit. "Kamu mau ke mana?"

"Nggak ke mana-mana, hanya lihat-lihat saja."

Howard tidak terlalu memikirkannya. Dengan nada dingin dia berkata, "Soal selimut itu, aku memang salah paham padamu. Tapi sebagai ibu Jesika, kamu tahu dia nggak boleh bermain boneka, tapi kamu nggak melarangnya dengan tegas. Itu tetap menjadi kelalaianmu."

Mendengar itu, Maya merasa hal itu sangat konyol. Dia mau tak mau bertanya balik pada Howard, "Kamu juga ayah dari anak-anak ini. Apa kamu nggak merasa lalai?"

Wajah Howard menegang. "Aku bekerja di luar, nggak sama denganmu. Sudah kukatakan, satu-satunya tugasmu sebagai Nyonya Keluarga Bandri adalah mengurus kedua anak kita dengan baik!"

Sambil melirik jam tangannya, dia melanjutkan, "Sebentar lagi aku akan membawa mereka ke taman hiburan. Kamu ikutlah juga, anggap saja sebagai permintaan maafmu pada anak-anak."

Baru saja Maya hendak menolak, Javier sudah menggenggam tangannya. "Ibu, aku nggak menyalahkanmu lagi. Temani kami pergi, ya!"

Jesika juga ikut memohon, "Ibu, aku mau Ibu pergi sama kami!"

Menatap binar tulus di mata kedua anaknya, hati Maya terasa perih. Akhirnya, dia tidak tega untuk menolak.

Lagi pula, dia akan segera pergi.

Mungkin ini adalah terakhir kalinya ia bisa menemani mereka ke taman hiburan sebagai seorang "ibu".

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Masa Lalu yang Meluruh Seperti Salju   Bab 19

    Saat itu, Gisel dijatuhi hukuman tiga tahun penjara karena sengaja melukai orang lain. Setelah bebas, dia mencoba kembali ke dunia kerja dan menyadari bahwa segalanya telah berubah. Dia mengirim banyak resume, tetapi semuanya berakhir sia-sia. Entah tidak ada kabar sama sekali, atau dia ditolak mentah-mentah karena memiliki catatan kriminal.Dalam keputusasaan, dia mencari Howard dengan harapan pria itu mau membantunya. Namun, dia bahkan tidak bisa melewati pintu gerbang perusahaan. Gisel dihadang oleh petugas keamanan yang menyodorkan sejumlah uang kepadanya."Pak Howard bilang, ambil uang ini dan jangan pernah hubungi dia lagi!"Gisel berdiri di bawah gedung Perusahaan Bandri sambil menggenggam uang itu. Hatinya dipenuhi rasa tidak rela dan penyesalan mendalam. Dia dulu mengira akan menikah dengan Howard dan menjadi Nyonya Bandri yang membuat iri semua orang. Namun siapa sangka, dia justru berakhir mengenaskan seperti ini!...Berbeda dengan penderitaan kedua orang itu, kehidupa

  • Masa Lalu yang Meluruh Seperti Salju   Bab 18

    Maya mendengar nama Howard kembali pada suatu sore, lima tahun kemudian.Hari itu, dia baru saja menyelesaikan seminar pengasuhan anak. Seorang anak magang di studionya sedang melihat berita di ponsel dan berceletuk, "Direktur Perusahaan Bandri, Howard, masuk berita viral lagi. Katanya, dia gagal dalam negosiasi dengan mitra bisnis karena nggak bisa konsentrasi gara-gara masalah keluarga."Tangan Maya yang sedang merapikan dokumen sempat terhenti sejenak. Dia tidak mendongak, hanya berkata datar, "Fokus saja pada pekerjaan kalian."Si anak magang itu menjulurkan lidahnya dan segera menyimpan ponselnya. Namun, berita tentang Howard itu, tetap seperti kerikil kecil yang menimbulkan riak tipis di hati Maya. Bukan karena masih peduli, dia hanya merasa sedikit getir.Lima tahun telah berlalu. Pria yang dulu menjadi pusat dunianya itu, kini hanyalah "tokoh berita" yang tidak penting dalam hidupnya.Belakangan, dia mendengar dari teman-temannya bahwa hidup Howard selama lima tahun ini tidak

  • Masa Lalu yang Meluruh Seperti Salju   Bab 17

    Setelah kembali ke negaranya, Howard membatalkan semua pekerjaannya dan tinggal di rumah sakit untuk fokus merawat kedua anaknya. Namun, saat terbangun dan melihat bahwa dialah yang berjaga di samping mereka, mata anak-anak itu justru dipenuhi kekecewaan.Malam itu, suhu tubuh Jesika tidak kunjung turun. Dia terus mengigau dalam sakit panasnya, "Mau makan bubur buatan Ibu."Howard mencoba membuat bubur dengan kaku mengikuti tutorial di internet. Namun, saat bubur itu disodorkan ke tepi ranjang, Jesika langsung menepisnya. Bubur yang masih panas itu tumpah berserakan di lantai."Nggak mau! Ini bukan buatan Ibu!" Tangis anak itu penuh kepedihan. "Bubur buatan Ibu selalu diberi kurma merah yang manis. Ayah nggak tahu apa-apa!"Melihat kekacauan di lantai, hati Howard terasa seperti dihantam benda tumpul. Dulu, dia mengira rumah ini akan baik-baik saja meski tanpa Maya. Baru sekarang dia sadar bahwa tidak ada seorang pun yang bisa menggantikan keberadaan Maya.Di hari-hari berikutnya,

  • Masa Lalu yang Meluruh Seperti Salju   Bab 16

    Maya terdiam sejenak, lalu bertanya balik, "Justru karena nggak tega, aku selalu memilih untuk mengalah. Tapi apa pengabdianku selama bertahun-tahun ini membuahkan hasil yang baik? Nggak, ‘kan?"Setelah berkata demikian, dia menutup telepon tanpa keraguan sedikit pun....Setelah Howard masuk rumah sakit, kehidupan Maya segera kembali ke jalurnya. Hari itu, dia sengaja menemui Benny untuk berterima kasih karena telah membantunya menghalangi gangguan Howard sebelumnya.Benny duduk di kursi kerjanya, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis. "Kalau kamu benar-benar mau berterima kasih, aku punya sebuah ide.""Ide apa?""Virga sangat menyukaimu." Benny berhenti sejenak. "Aku mau kamu jadi ibu angkatnya. Apa kamu bersedia?"Virga adalah anak dari kakak laki-laki Benny. Beberapa tahun lalu, kakak dan kakak iparnya meninggal dalam kecelakaan, dan mereka menitipkan anak itu kepadanya. Selama ini Benny berperan sebagai ayah, dan mendidik Virga menjadi anak yang penurut dan pengertian

  • Masa Lalu yang Meluruh Seperti Salju   Bab 15

    Pupil mata Maya mengecil karena terkejut, dia mundur setengah langkah. Sebelum dia sempat bereaksi, sebuah sosok yang tegap, mendadak menerobos masuk dari pintu dan mencengkeram pergelangan tangan Gisel."Gisel, letakkan pisaunya!" Howard mengertakkan gigi, suaranya sedingin es.Mata Gisel memerah, dia berontak ingin melepaskan diri. "Nggak mau! Kecuali kamu berjanji padaku untuk nggak mencarinya dan berhubungan dengannya lagi!"Howard tidak menjawab, dia justru memperkuat cengkeramannya. Sikap diamnya itu seperti menyiram bensin ke dalam api, memicu kemarahan Gisel sepenuhnya. Gisel meronta dengan sekuat tenaga. Di tengah aksi saling dorong itu, mata pisau itu menusuk telak ke perut Howard dengan bunyi yang mengerikan.Darah seketika merembes membasahi setelan jas abu-abu tuanya, menetes ke lantai. Udara seolah membeku seketika. Gisel terpaku di tempat, wajahnya penuh rasa tidak percaya. Maya juga panik, dia segera mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi ambulans.Petugas keam

  • Masa Lalu yang Meluruh Seperti Salju   Bab 14

    Sepuluh tahun yang lalu di Universitas Kenington, Benny dan Howard diakui sebagai dua mahasiswa yang sangat jenius. Yang satu tajam dan berpikiran cepat.Yang satunya lagi tenang dan tegas dalam bertindak. Dari debat di kelas hingga peringkat kompetisi, keduanya selalu bersaing sengit dan tidak ada yang mau mengalah.Meski sudah bertahun-tahun lulus, satu sama lain tetap menjadi "duri dalam daging" yang paling disegani dalam peta persaingan bisnis mereka. Hingga akhirnya Benny pergi mengembangkan karier di Negara Artina, barulah nama itu perlahan menghilang dari daftar musuh bisnis Howard.Dia tidak pernah membayangkan bahwa pertemuan pertama mereka setelah bertahun-tahun akan terjadi dalam situasi seperti ini."Aku juga nggak menyangka akan bertemu denganmu di sini," kata Benny sambil tersenyum tipis. "Lagi pula, aku kira setelah Maya menceraikanmu, kamu akan segera menikah dengan Gisel."Kening Howard semakin berkerut. "Perceraian itu nggak sengaja terjadi. Aku nggak akan menikahi

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status