Share

Bab 3

Penulis: Zoro
Sebelum Gisel selesai bicara, Howard sudah melepas sarung tangan plastiknya, mengambil pena, dan membubuhkan tanda tangan.

"Cepat sekali, nggak mau membacanya dulu?" Gisel bertanya meski sudah tahu jawabannya, sambil melirik ke arah Maya.

Howard tersenyum tipis. "Apa kita masih butuh formalitas seperti itu?"

"Tante Gisel, aku juga mau mainan. Belikan buat aku ya?" Jesika mengedipkan matanya yang besar. "Aku mau kamarku penuh dengan boneka! Buatan Ibu jelek sekali, aku nggak suka!"

"Aku juga mau!" Javier mengangkat tangan penuh semangat. "Aku mau seratus Ultraman!"

Maya menyela dengan kening berkerut, "Kalian berdua punya asma, nggak boleh menaruh terlalu banyak mainan di kamar, bisa membahayakan nyawa kalian."

Gisel tertegun sejenak, lalu tersenyum. "Aku akan memilihkan bahan yang paling aman, Nona Maya jangan khawatir."

Howard menimpali, "Kalau Gisel yang mengurus, kamu bisa tenang."

Dengan izin Howard, Javier dan Jesika kegirangan dan mencium pipi Gisel. "Hore! Tante Gisel baik sekali! Seandainya saja Tante yang jadi Ibu kami!"

Howard menatap interaksi mereka dengan pandangan yang sangat lembut.

Menyaksikan hal itu, Maya merasa sangat ironis.

Di kehidupan sebelumnya, karena takut mainan di toko berdampak buruk bagi asma mereka, dia menggunakan bahan ramah lingkungan untuk membuat mainan sendiri dengan tangan, meski tangannya harus lecet-lecet.

Sayangnya, kerja kerasnya itu tidak berharga di mata mereka.

Maya kembali ke kamarnya sendirian.

Tak lama kemudian, Gisel datang membawa surat cerai itu.

"Howard sudah tanda tangan, kau tidak akan menyesal, ‘kan?"

"Tentu saja nggak," jawab Maya tegas.

"Begitu masa jeda cerai selesai, aku akan pergi."

...

Keesokan harinya, Gisel membawa banyak mainan.

Javier dan Jesika mengekor di belakang Gisel dengan riang, menata kamar mereka.

Maya melewati lorong dan melihat mereka membuang kastel balok yang dia susun dengan susah payah serta boneka jahitan tangannya ke tempat sampah.

Bersamaan dengan itu, terdengar suara barang berat diseret di lorong.

Beberapa petugas angkut membawa masuk lampu berdiri, meja rias, dan meja kopi yang masih baru.

"Saat menemani anak-anak membeli mainan, aku melihat perabot ini cantik, jadi sekalian aku beli," ucap Gisel pada Howard dengan senyum manis. "Lagi pula, gaya rumahmu terlalu kaku. Bagaimana kalau kapan-kapan kita dekorasi ulang?"

Tanpa berpikir panjang, Howard menjawab, "Terserah kamu saja."

Ujung jari Maya meremas telapak tangannya sendiri.

Segala sesuatu di vila ini adalah hasil jerih payahnya menata sedikit demi sedikit selama tujuh tahun.

Kini, hanya karena kata "kaku" dari Gisel, semuanya disingkirkan.

Hari-hari berikutnya, Gisel tinggal di rumah itu dengan alasan mengawasi renovasi.

Maya yang sudah memegang surat cerai, memilih untuk angkat tangan dan tidak lagi memedulikan urusan rumah.

Dia melihat Howard yang biasanya sulit pulang, kini mulai pulang tepat waktu.

Dia melihat mereka berempat berdesakan di dapur memasak bersama, hingga kecap tumpah ke mana-mana disertai tawa riang.

Dia melihat Gisel menyuapkan stroberi yang belum dicuci ke mulut Howard yang memiliki fobia kotor tingkat akut, dan pria itu memakannya tanpa berkedip.

Dia melihat Howard yang sangat menghargai waktu, rela menemani Gisel dan anak-anak menonton film hingga larut malam. Mereka tidur di sofa sampai tengah hari berikutnya, Howard bahkan membatalkan rapat penting.

Maya akhirnya sadar, standar ketat Howard selama ini hanya berlaku untuknya.

Di depan orang yang benar-benar dicintai, pria itu bisa menjadi sangat toleran, perhatian, bahkan melanggar semua prinsipnya sendiri.

...

Malam itu, pintu kamar Maya didorong paksa.

Pria yang sudah berhari-hari tidak menyapanya itu berdiri di depannya dengan kemarahan yang meluap di matanya.

"Maya, kesabaranku ada batasnya!" Howard bicara dengan nada sangat dingin.

Maya tidak mengerti, sampai Howard melemparkan sebuah selimut ke hadapannya.

"Belakangan ini kamu lepas tangan dan nggak peduli urusan rumah, aku sudah malas mempermasalahkannya. Tapi bagaimana bisa kamu melampiaskan kekesalanmu pada anak-anak?"

"Kamu tahu Jesika punya asma, tapi kamu membiarkannya memakai selimut yang nggak dicuci berhari-hari. Kamu hampir mencelakainya!"

Maya tertegun.

Selimut itu adalah katun berkualitas tinggi yang dia beli dua tahun lalu setelah membandingkan banyak toko.

Mana mungkin hanya karena tidak dicuci beberapa hari bisa memicu asma!

"Asma Jesika nggak mungkin kambuh karena selimut ini," jawab Maya dingin. "Lebih baik kamu periksa mainan-mainan yang dibeli Gisel."

Belum sempat dia menyelesaikan kalimatnya, Javier berlari sambil menangis, memeluk kaki Howard dan berteriak penuh tuduhan, "Ibu memang benci kami, dia nggak sayang kami lagi! Waktu kami diculik, dia nggak mau menyelamatkan kami dan menyuruh penculik itu membunuh kami!"

"Ayah, usir dia! Karena dia nggak sayang kami, aku dan Jesika juga nggak sayang dia lagi!"

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Masa Lalu yang Meluruh Seperti Salju   Bab 19

    Saat itu, Gisel dijatuhi hukuman tiga tahun penjara karena sengaja melukai orang lain. Setelah bebas, dia mencoba kembali ke dunia kerja dan menyadari bahwa segalanya telah berubah. Dia mengirim banyak resume, tetapi semuanya berakhir sia-sia. Entah tidak ada kabar sama sekali, atau dia ditolak mentah-mentah karena memiliki catatan kriminal.Dalam keputusasaan, dia mencari Howard dengan harapan pria itu mau membantunya. Namun, dia bahkan tidak bisa melewati pintu gerbang perusahaan. Gisel dihadang oleh petugas keamanan yang menyodorkan sejumlah uang kepadanya."Pak Howard bilang, ambil uang ini dan jangan pernah hubungi dia lagi!"Gisel berdiri di bawah gedung Perusahaan Bandri sambil menggenggam uang itu. Hatinya dipenuhi rasa tidak rela dan penyesalan mendalam. Dia dulu mengira akan menikah dengan Howard dan menjadi Nyonya Bandri yang membuat iri semua orang. Namun siapa sangka, dia justru berakhir mengenaskan seperti ini!...Berbeda dengan penderitaan kedua orang itu, kehidupa

  • Masa Lalu yang Meluruh Seperti Salju   Bab 18

    Maya mendengar nama Howard kembali pada suatu sore, lima tahun kemudian.Hari itu, dia baru saja menyelesaikan seminar pengasuhan anak. Seorang anak magang di studionya sedang melihat berita di ponsel dan berceletuk, "Direktur Perusahaan Bandri, Howard, masuk berita viral lagi. Katanya, dia gagal dalam negosiasi dengan mitra bisnis karena nggak bisa konsentrasi gara-gara masalah keluarga."Tangan Maya yang sedang merapikan dokumen sempat terhenti sejenak. Dia tidak mendongak, hanya berkata datar, "Fokus saja pada pekerjaan kalian."Si anak magang itu menjulurkan lidahnya dan segera menyimpan ponselnya. Namun, berita tentang Howard itu, tetap seperti kerikil kecil yang menimbulkan riak tipis di hati Maya. Bukan karena masih peduli, dia hanya merasa sedikit getir.Lima tahun telah berlalu. Pria yang dulu menjadi pusat dunianya itu, kini hanyalah "tokoh berita" yang tidak penting dalam hidupnya.Belakangan, dia mendengar dari teman-temannya bahwa hidup Howard selama lima tahun ini tidak

  • Masa Lalu yang Meluruh Seperti Salju   Bab 17

    Setelah kembali ke negaranya, Howard membatalkan semua pekerjaannya dan tinggal di rumah sakit untuk fokus merawat kedua anaknya. Namun, saat terbangun dan melihat bahwa dialah yang berjaga di samping mereka, mata anak-anak itu justru dipenuhi kekecewaan.Malam itu, suhu tubuh Jesika tidak kunjung turun. Dia terus mengigau dalam sakit panasnya, "Mau makan bubur buatan Ibu."Howard mencoba membuat bubur dengan kaku mengikuti tutorial di internet. Namun, saat bubur itu disodorkan ke tepi ranjang, Jesika langsung menepisnya. Bubur yang masih panas itu tumpah berserakan di lantai."Nggak mau! Ini bukan buatan Ibu!" Tangis anak itu penuh kepedihan. "Bubur buatan Ibu selalu diberi kurma merah yang manis. Ayah nggak tahu apa-apa!"Melihat kekacauan di lantai, hati Howard terasa seperti dihantam benda tumpul. Dulu, dia mengira rumah ini akan baik-baik saja meski tanpa Maya. Baru sekarang dia sadar bahwa tidak ada seorang pun yang bisa menggantikan keberadaan Maya.Di hari-hari berikutnya,

  • Masa Lalu yang Meluruh Seperti Salju   Bab 16

    Maya terdiam sejenak, lalu bertanya balik, "Justru karena nggak tega, aku selalu memilih untuk mengalah. Tapi apa pengabdianku selama bertahun-tahun ini membuahkan hasil yang baik? Nggak, ‘kan?"Setelah berkata demikian, dia menutup telepon tanpa keraguan sedikit pun....Setelah Howard masuk rumah sakit, kehidupan Maya segera kembali ke jalurnya. Hari itu, dia sengaja menemui Benny untuk berterima kasih karena telah membantunya menghalangi gangguan Howard sebelumnya.Benny duduk di kursi kerjanya, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis. "Kalau kamu benar-benar mau berterima kasih, aku punya sebuah ide.""Ide apa?""Virga sangat menyukaimu." Benny berhenti sejenak. "Aku mau kamu jadi ibu angkatnya. Apa kamu bersedia?"Virga adalah anak dari kakak laki-laki Benny. Beberapa tahun lalu, kakak dan kakak iparnya meninggal dalam kecelakaan, dan mereka menitipkan anak itu kepadanya. Selama ini Benny berperan sebagai ayah, dan mendidik Virga menjadi anak yang penurut dan pengertian

  • Masa Lalu yang Meluruh Seperti Salju   Bab 15

    Pupil mata Maya mengecil karena terkejut, dia mundur setengah langkah. Sebelum dia sempat bereaksi, sebuah sosok yang tegap, mendadak menerobos masuk dari pintu dan mencengkeram pergelangan tangan Gisel."Gisel, letakkan pisaunya!" Howard mengertakkan gigi, suaranya sedingin es.Mata Gisel memerah, dia berontak ingin melepaskan diri. "Nggak mau! Kecuali kamu berjanji padaku untuk nggak mencarinya dan berhubungan dengannya lagi!"Howard tidak menjawab, dia justru memperkuat cengkeramannya. Sikap diamnya itu seperti menyiram bensin ke dalam api, memicu kemarahan Gisel sepenuhnya. Gisel meronta dengan sekuat tenaga. Di tengah aksi saling dorong itu, mata pisau itu menusuk telak ke perut Howard dengan bunyi yang mengerikan.Darah seketika merembes membasahi setelan jas abu-abu tuanya, menetes ke lantai. Udara seolah membeku seketika. Gisel terpaku di tempat, wajahnya penuh rasa tidak percaya. Maya juga panik, dia segera mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi ambulans.Petugas keam

  • Masa Lalu yang Meluruh Seperti Salju   Bab 14

    Sepuluh tahun yang lalu di Universitas Kenington, Benny dan Howard diakui sebagai dua mahasiswa yang sangat jenius. Yang satu tajam dan berpikiran cepat.Yang satunya lagi tenang dan tegas dalam bertindak. Dari debat di kelas hingga peringkat kompetisi, keduanya selalu bersaing sengit dan tidak ada yang mau mengalah.Meski sudah bertahun-tahun lulus, satu sama lain tetap menjadi "duri dalam daging" yang paling disegani dalam peta persaingan bisnis mereka. Hingga akhirnya Benny pergi mengembangkan karier di Negara Artina, barulah nama itu perlahan menghilang dari daftar musuh bisnis Howard.Dia tidak pernah membayangkan bahwa pertemuan pertama mereka setelah bertahun-tahun akan terjadi dalam situasi seperti ini."Aku juga nggak menyangka akan bertemu denganmu di sini," kata Benny sambil tersenyum tipis. "Lagi pula, aku kira setelah Maya menceraikanmu, kamu akan segera menikah dengan Gisel."Kening Howard semakin berkerut. "Perceraian itu nggak sengaja terjadi. Aku nggak akan menikahi

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status