Short
Setelah Dia Kembali, Aku Melepasnya

Setelah Dia Kembali, Aku Melepasnya

By:  JuwaraCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
11Chapters
179views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Di hari sidang, hakim mengajukan pertanyaan sesuai prosedur yang biasa dilakukan. "Kalian baru menikah tiga tahun. Apa hubungan kalian benar-benar sudah hancur?" Aku mengatupkan bibir sambil tersenyum pahit, lalu melepaskan cincin kawinku dan meletakkannya di atas meja. "Selama tiga tahun menikah, kami juga sudah hidup terpisah selama tiga tahun." "Pak Hakim, apa masih ada perasaan di antara kami?" Selama lima tahun berpacaran, aku adalah kontak yang dia sematkan di bagian paling atas kontak WhatsApp-nya. Nomorku juga jadi kontak daruratnya. Bahkan, penerima manfaat asuransinya juga aku. Aku mengira sudah mencintai orang yang tepat. Namun, di hari pernikahan kami, dia menerima telepon dan wajahnya langsung menjadi pucat pasi. Ketika aku bertanya apa yang terjadi, dia hanya mengatakan bahwa ibunya sakit. Dia meninggalkan segalanya dan langsung membeli tiket pesawat untuk pulang ke kampung halamannya. Selama tiga tahun berikutnya, setiap hari dia mengirimkan foto makanan tiga kali sehari di tiap waktu makan, tetapi ibunya tidak pernah muncul sekalipun dalam foto-foto tersebut. Aku merasa kasihan padanya dan berkata ingin mengundurkan diri dari pekerjaan untuk membantunya merawat ibunya. Namun, dia berkata dengan sedih, "Aku nggak tega." Hingga sebulan yang lalu, aku menemukan akun seorang influencer yang sedang berjuang melawan kanker. Eric Maheswara muncul di vlog influencer itu, dengan keterangan yang begitu hangat. [Ada dia, di setiap terbangun di pagi hari.] [Ada dia, di setiap makan tiga kali sehari.] [Tangan yang saling menggenggam erat ini, juga dirinya.] Lalu, bagaimana dengan aku? Selama 1095 hari dan malam, aku hanya seorang diri. Dia sudah menipuku. Hakim pun mengetuk palu, lalu mengajukan pertanyaan terakhir. "Sudah memikirkannya masak-masak?" Aku mengangguk dengan tegas. Saat putusan cerai dibacakan, aku menatap surat putusan itu dan air mataku tumpah tak terbendung. Eric, aku membebaskanmu. Aku juga membebaskan diriku sendiri.

View More

Chapter 1

Bab 1

"Sudah cerai?"

Aku keluar dari pengadilan dan Ibu menghampiriku.

"Sudah."

"Dia tetap nggak datang?"

"Nggak."

"Kalau gitu, apa dia tahu?"

Aku menggelengkan kepala.

"Pengadilan sudah mengumumkan selama 60 hari dan nggak ada yang bisa hubungi dia. Kurasa dia juga nggak punya waktu untuk melihatnya."

Suara ibu tercekat.

"Karena Venny?"

"Hmm, waktu itu dia lagi operasi dan dalam keadaan kritis antara hidup dan mati."

Ibu mengusap air mata di sudut matanya.

"Lalu, apa penyakitnya sudah sembuh?"

"Mungkin."

"Laura, bukankah kamu masih mencintainya?"

"Selama tiga tahun menikah, dia yang urus semua makanannya, mulai dari sarapan, makan siang dan makan malam, tanpa pernah terlewat. Bu, mungkin di hatinya ada aku, tapi juga ada dia."

Wajah Ibu tampak makin sedih dan muram, tetapi Ibu tidak lagi mengatakan apa-apa.

Lima tahun lalu, kami bertemu di rumah sakit.

Waktu itu, dia sudah menjadi dokter bedah toraks paling terkenal di seluruh provinsi.

Sementara aku, aku ini pasiennya.

Setiap pukul delapan pagi, dia selalu memimpin para dokter untuk melakukan kunjungan pasien, tetapi tatapannya tidak pernah tertuju padaku.

Namun, setiap kali, dia selalu meninggalkan permen untukku.

Dia bilang, “Obatnya agak pahit. Makanlah permen biar rasanya nggak terlalu pahit.”

Pada hari aku sembuh dan diperbolehkan pulang dari rumah sakit, Eric Maheswara datang sendirian untuk melakukan kunjungan pasien.

Dia bilang, "Kondisimu udah baik-baik aja. Ke depannya, kamu nggak perlu datang lagi."

Aku pun tidak bisa menyembunyikan kekecewaan di mataku.

Namun, kalimat berikutnya yang dia ucapkan membuatku terpaku di tempat.

"Kamu sekarang bukan lagi pasienku, bolehkah aku mengejarmu?"

Saat itu, seluruh rumah sakit tahu bahwa Dokter Eric menyukaiku.

Selama sebulan aku dirawat di rumah sakit, Eric menukar semua jadwal jaga yang bisa ditukar, hanya agar bisa lebih sering melihatku.

Seringkali, dia bekerja bergantian antara shift malam dan shift siang tanpa henti.

Semua itu hanya untuk menanyakan satu hal kepadaku, "Gimana keadaanmu hari ini?"

Ting.

Pintu lift terbuka dan menarikku kembali dari kenangan itu.

Setibanya di rumah, layar ponselku menyala. Ternyata itu pesan dari Eric.

Pesan itu berupa sebuah foto.

Foto tiket pesawat dari Kota Damira ke Kota Kansar.

Waktunya besok.

Detik berikutnya, Eric kembali mengirim pesan.

[Sayang, aku akan segera pulang!]

Aku berdiri di depan pintu dan menatap kata-kata itu untuk waktu yang sangat lama.

Tahun lalu, aku menderita radang usus buntu akut.

Saat dibawa ke rumah sakit, aku juga mengirimkan pesan kepadanya dengan kata-kata yang serupa.

Hanya saja, pesanku berupa kalimat tanya.

[Sayang, bisakah kamu pulang?]

Hari itu, ponselku hening sepanjang hari.

Belakangan, aku melihat Eric di vlog Venny.

Wajah Eric tampak tegang. Saat kamera menjauh, aku melihat Eric menyemprotkan krim kue dengan hati-hati.

Di atas kue itu tertulis: [Semoga Venny sehat dan bahagia.]

Tiga tahun berlalu dan tepat di hari ini, aku memutuskan untuk melepaskan Eric.

Namun, Eric justru mengatakan bahwa dia akan pulang.

Aku membuka pintu, membungkuk untuk mengganti sepatu dan memandang sekeliling rumah ini.

Sejauh mata memandang, hanya ada jejak keberadaanku saja.

Sandal pria di rak sepatu yang belum pernah dibuka, sudah tergeletak di sana selama tiga tahun.

Pakaian yang dijemur di balkon juga hanya milikku.

Barang-barang Eric tidak banyak.

Namun, barang-barang yang menjadi milik kami bersama, tidak ada sama sekali.

Aku membuka video yang disematkan oleh Venny, yang juga memiliki jumlah suka terbanyak.

Itu adalah rumah mereka di Kota Damira.

Di bawah rak sepatu, ada dua pasang sandal rumah yang tertata rapi.

Satu berwarna merah muda dan satu lagi biru.

Sandal yang berwarna biru, bagian solnya sudah agak aus.

Di balkon, tergantung pakaian-pakaian mereka, persis seperti sepasang suami istri.

Kamera kemudian mengarah ke bawah, menunjukkan berbagai bunga berwarna-warni.

Venny muncul di depan kamera sambil tersenyum cerah dan memperkenalkan bunga-bunga itu satu per satu.

Ada bunga mawar, aster, bunga matahari dan bugenvil.

Semua itu ditanam Eric untuk Venny tanpa alasan khusus, selain hanya ingin membuat Venny lebih bahagia.

Di tahun kedua kami tinggal bersama, aku juga menanam bunga di balkon.

Namun, Eric selalu lupa menyiramnya.

Aku pun berkata, "Eric, bisakah kamu lebih perhatian sedikit?"

Dia pun menjawab.

"Hanya bunga aja."

Hanya itu saja.

Hanya kepadaku saja.

Dia memang hanya tidak cukup peduli padaku.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
11 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status