LOGINBLURB: The sins of the father are about to be visited on the child... Wren Blackthorn watched her parents get killed by a man she thought was an ally. 13 years later, she's out for blood and revenge and who better to take it on than the son of her parents' killer. What will she do when she finds out that he is her mate? Will she continue with her thirst for revenge and deny herself a chance at love? Mates, murder and revenge. Dive into this whirlpool of mysteries and follow Wren's journey in Mate's Revenge.
View More“Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif.”
Arsila mengernyitkan keningnya kala nomor Rio, sang tunangan yang dijodohkan dengannya 6 bulan lalu, tidak dapat hubungi sejak tadi. Belum lagi, sahabat Rio mengatakan jika pria itu menghilang tanpa pamit. Padahal, Rio seharusnya tidak pergi kemana-mana karena besok adalah hari pernikahan mereka.
Arsila menatap keluar jendela ada perasaan yang aneh yang menggantung di hatinya, meskipun dia sendiri bingung mendeskripsikannya.
Kembali gadis itu mencoba menghubungi nomor Rio sekali lagi. Sama. Suara operator. Lagi-lagi.
Haus, Arsila melangkah pelan di lorong rumah besar keluarga Jusman dan hendak menuju dapur.
Namun anehnya, ketika melewati kamar adik tirinya yang masih kuliah, ada suara desahan terdengar dari sana.
“Auuh, Sayang….."
Deg!
Jantung Arsila berdetak kencang. Kali ini, desahan pria.
Meskipun belum lama bersama dengan Rio, tapi Arsila bisa mengenali suara calon suaminya itu.
“Ah, sayang… kamu nanti gak boleh seperti ini sama Arsila ya,” ujar Anila di sela-sela desahannya.
“Iya, Sayang. Ini kan semua demi kita.”
“Tapi, aku cemburu melihat kamu dengannya,” rengek sang adik tiri, "kenapa kamu gak nikahin aku aja sih?"
“Sayang, aku menikah dengan Arsila untuk menguasai hartanya. Bukankah papa tirimu itu mewariskan semua hartanya kepada Arsila? Jadi, aku harus menikah dengannya, menguasai hartanya dan menyingkirkannya. Barulah kita menikah,” jawab Rio.
Tubuh Arsila gemetar.
Pantas saja, Rio mendesaknya untuk segera menikah. Jika bukan karena tekanan keluarga dan harapan akan kisah cinta yang tumbuh setelah akad, Arsila tak akan menerimanya!
Tidak bisa lagi mendengar lebih banyak, Arsila membuka pintu tesebut.
Braak!
“Kalian…!” teriaknya. Namun, dia idak mampu lagi melanjutkannya. Hatinya kini begitu sakit melihat pemandangan Rio dan Anila.
Kedua pengkhianat itu buru-buru menarik selimut dan memakai pakaian mereka.
Wajah keduanya pucat, tapi anehnya mata Anila tampak penuh kemenangan?
“Arsila, ini tidak seperti yang kamu lihat. Aku bisa jelaskan,” jawab Rio membela diri. Dia segera turun dari ranjang setelah mengenakan pakaiannya dan mendekati Arsila.
“Apa yang perlu kau jelaskan? Semuanya sudah jelas!”
“Arsila, mohon dengarkan aku. Ini tidak seperti pikiranmu,” ucap Rio lagi berusaha meraih tangan Arsila, namun Arsila menepisnya dengan kasar.
Plak!
Arsila menampar Rio, membuat ekspresi pria itu langsung berubah merah padam. “Arsila, kau menamparku?”
“Kenapa? Kau pantas mendapatkannya!” jawab Arsila.
Rio memegang wajahnya sambil tersenyum miring. “Ternyata seperti ini sifatmu. Kasar. Kau sangat berbeda dengan Anila.”
“Kau—“
“Ya! Aku dan Anila memang saling mencintai. Lalu kenapa?” potong Rio cepat.
Begitu juga dengan Anila yang tersenyum penuh kemenangan ke arah Arsila. Adik tiri yang selalu iri dengan Arsila, selalu berusaha memiliki apa yang Arsila miliki.
Padahal dia hanyalah anak tiri yang dibawa ibunya ketika menikah dengan Papa Arsila, sepuluh tahun lalu.
Namun, Arsila menahan diri. Tapi, lihatlah apa yang dilakukannya?
“Arsila, ada apa ini?” tanya suara wanita yang datang dengan tergesa-gesa mendengar keributan itu, ternyata itu adalah ibu tirinya, Mirna.
Arsila menoleh. “Rio dan Anila selingkuh,” jawabnya.
Mirna mengernyit. “Ah paling mereka hanya mengobrol, kau jangan asal menuduh,” ucapnya santai, tidak terkejut.
“Lihatlah, Ma. Mereka sedang berduaan.”
“Ya ampun Arsila, tidak selalu berduaan itu selingkuh. Mereka ini calon kakak dan adik ipar loh. Masa kau gak percaya,” jawab Mirna.
“Tanpa pakaian, apa itu wajar?” tanya Arsila sambil menggeleng pelan.
“Kau itu selalu saja tidak suka kepada Anila. Kau juga bukan wanita suci, kan?” tanya Mirna. “Kau juga berselingkuh, Arsila. Kau sudah tidak perawan, jangan pikir aku tidak tahu.”
“Apa maksud mama?“
“Sudahlah, Arsila. Toh, besok kau juga menikah dengan Rio. Jangan dipermasalahkan hal yang kecil seperti ini,” potong Mirna dengan cepat.
Arsila menggeleng, dia menatap ke arah Anila dan Rio yang kini sudah mengenakan kembali pakaiannya seperti semula. “Tidak ada pernikahan besok! Pernikahan batal!”
“Arsila, kau tidak bisa membatalkan pernikahan kita!” bentak Rio.
“Kenapa? Kau takut jatuh miskin?” tanya Arsila mengejek.
“Pokoknya pernikahan tetap dilakukan, kau tidak bisa membatalkannya!” balas Rio.
Begitu juga dengan Mirna dan Anila, mereka tidak terima Arsila membatalkan pernikahan dengan Rio.
Karena itu bisa merusak rencana yang telah mereka susun selama ini.
“Arsila! Jangan gila. Pernikahan harus dilaksanakan besok. Undangan sudah disebar. Wartawan sudah bersiap, jangan mempersulit keadaan!” teriak Mirna dengan penuh emosi.
“Aku tidak peduli!”
“Kau…” Mirna tampak mengangkat tangannya ingin menampar, tapi diurungkannya begitu menyadari
Hario Jusman, ayah kandung Arsila tampak di depan ruangan.“Ada apa ini ribut-ribut?” tanyanya.
“Pa, lihatlah. Arsila ingin membatalkan pernikahannya besok,” jawab Mirna yang langsung mendekat ke arah sang suami.
“Batal? Ada apa?”
“Dia menuduh Rio dan Anila selingkuh, Pa. Padahal dia sendiri yang selingkuh sebenarnya!” ucap Mirna cepat.
“Bahkan sampai tidur dengan lelaki lain,” sambung Mirna setengah bergumam, tapi semua masih bisa mendengarnya.
Hario mengernyit, menatap Arsila yang sudah berlinang air mata.
“Arsila?”
“Pa, aku tidak mau menikah dengan Rio,” jawab Arsila pilu.
Hario menggelengkan kepalanya, tidak terbayangkan kalau acara pernikahan ini batal, semua persiapan sudah seratus persen. Bagaimana reputasi keluarga Jusman kalau pernikahan ini batal?
“Arsila, sudah Mama katakan. Kamu jangan membuatnya menjadi sulit, kamu yang berselingkuh malah menuduh Rio dan Anila. Sebenarnya apa yang kamu inginkan?” tanya Mirna dengan suara lembut yang dibuat-buat.
Hario tampak mengernyitkan keningnya, dia masih tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Tapi, matanya tetap menatap kearah Rio dan Anila, anak tirinya.
“Arsila, jelaskan pada papa,” ujar Hario, kali ini dia menatap Arsila.
“Pa, aku memergoki mereka sedang—“
“Maafkan saya atas keributan ini, Pa.” Arsila belum menyelesaikan kata-katanya, tapi Rio melangkah maju memotong pembicaraan Arsila sambil menatap Hario dengan wajah sedih yang dibuat-buat.
“Arsila tidak ingin melanjutkan pernikahan kami, Pa. Karena, Arsila mencintai lelaki lain,” lanjutnya menunduk.
Sontak saja jawaban Rio itu membuat Arsila terkejut bukan main, dia tidak menyangka kalau lelaki itu sangatlah licik. Dan sekarang dia membalikkan fakta.
“Kau…” ucap Arsila sambil menggeleng.
“Arsila ingin menutupi fakta itu, Pa. Dia mencari kambing hitam dan menuduh Rio dan Anila berselingkuh. Dia melabrak Anila di tengah malam begini, padahal mereka tidak memiliki hubungan apa-apa,” sambung Mirna.
“Iya, seperti itu, Pa,” jawab Rio menunduk.
Anila dan Mirna tampak tersenyum penuh kemenangan.
“Pa, dia berbohong…” ujar Arsila lah, dadanya bergemuruh hingga tidak ada kata-kata yang bisa diteruskan.
Hario tampak kembali menatap Rio dan Anila bergantian, seolah sedang mencari siapa yang salah dan siapa yang benar.
Mirna kembali membuka suaranya.
“Mama punya video Arsila dengan lelaki lain, Pa. Mama sudah berusaha menutupinya, tapi sepertinya hubungan Arsila dengannya sudah terlalu jauh,” ujar Mirna menunjukkan ponselnya kepada Hario.
Hario menerima ponsel itu, tangannya mengepal saat melihat tayangan disana. Entah video seperti apa yang telah mereka siapkan.
Anila berpura-pura menangis. “Pa, mungkin karena aku hanyalah adik tirinya, jadi Kak Arsila sangat membenciku, sehingga dia tega menuduh aku berselingkuh dengan tunangannya… huhuhu…”
Arsila menggelengkan kepalanya melihat sandiwara mereka yang begitu mulus.
“Selama ini, Kak Arsila memang tidak pernah menyukaiku. Padahal aku tidak pernah menganggapnya orang lain, aku tulus menganggap dia kakakku,” sambung Anila sambil mengelap ingusnya.
“Pa…” panggil Arsila.
“Arsila, mengaku saja. Semua sudah seperti ini, yang penting Rio masih mau menikah denganmu. Lupakan lelaki itu, kalian lanjutkan pernikahan,” sambung Mirna.
“Iya, aku bersedia memaafkanmu. Kita lupakan saja kejadian malam ini, aku tulus mencintaimu, Arsila,” jawab Rio.
Arsila menggeleng, rasanya dia sangat muak mendengarnya. Kini, dia diserang oleh tiga orang. Semuanya memojokkannya, tidak ada yang membelanya. Bahkan ayahnya sendiri sepertinya tidak mempercayainya.
“Tidak…” jawab Arsila menggeleng.
“Pernikahan tidak bisa dibatalkan!” jawab Hario dengan wajah dingin.
“Tapi, Pa—”
“CUKUP, Arsila! Masih untung Rio mau menerimamu!” bentak Hario. Suaranya menggelegar, membuat semua orang terdiam, "Bukti ini sudah jelas. Jika kau masih tetap ingin membatalkan pernikahan ini. Mulai hari ini, kau bukan lagi bagian dari keluarga Jusman. Papa akan menghapus namamu dari ahli waris!”
“Pa…” panggil Arsila lagi.
“Silakan tinggalkan rumah ini sekarang!”
Wren’s POV For a long moment, the words just hung there. I wasn't sure I heard him right, “I'm sorry what?”The edges of the King’s lips curled up in a way that was very caelum like,“Which one of your parents belonged to a coven?”I blinked, once, twice. My mouth opened, then closed again. “None,” I said finally, my voice steadier than I felt. “None of them belonged to any coven, Your Majesty.”The King tilted his head slightly, studying me as if I were an interesting puzzle piece that didn’t fit the way it should. “Are you certain? Magic runs in bloodlines, Wren Blackwell. It doesn’t simply appear by chance. If you trace your ancestry far enough, you may find truths your parents never told you.”His words landed like stones in my stomach. “With all due respect, Your Majesty, I think it’s a stretch to assume I’m a witch because I can smell sandalwood. I don't have magic, I have never done a spell.”
Wren’s POV The air in the war room was heavy, like grief had seeped into the walls themselves. The table between us gleamed under the dim chandelier, polished but lifeless….like everything else in the palace tonight.Caelum stood at the head of the table, shoulders straight but eyes hollow with grief. Soren, Dane, Jessica, and Robin filled the seats around him, their faces a mixture of confusion and trepidation. Like the good soldiers they were, they knew something was wrong but they didn't know what. The faint buzz of electricity echoed in the background. When Caelum finally spoke, his voice was steady, almost unnervingly so,“My aunt, Ellen Vale, is dead.”No one moved. The words sank like stones in water. For a heartbeat, I thought I’d imagined the tremor that passed through him but then I saw it, the slight twitch of his jaw, the tightening of his hand where it rested on the table.Finally the silence was broken when Jessica gasped softly, a hand covering her mouth. “Caelum, I-I’
Wren’s POVThe whistle still echoed in my ears when I ran.Branches clawed at my face as I sprinted through the clearing, heart pounding, every sense tuned to the woods ahead. The forest blurred as I ran past leaves of different shades of green. Somewhere between the shadows, I caught movement and a flicker of black fabric slipping past a tree.I pushed harder, my lungs protested the action but anger fueled my every step.Leaves whipped against my arms, dirt kicked up under my boots. I rounded the bend just in time to see the attacker vanish between the trees, nothing left but the soft rustle of disturbed foliage and a faint, lingering scent.Sandalwood.I froze, chest heaving. It clung to the air, something was going on and it involved this scent, it was time to tell Caelum about it. I turned around slowly but there was no trace of the one who’d fired that arrow. It was like the forest had swallowed them whole.Grinding my teeth, I turned back. The quiet felt heavier now, the weight
Caelum’s POV Flashback I was six, barefoot and naked. I had just shifted from my wolf to human form and I was chasing sunlight across the courtyard while Aunt Ellen scolded me for dripping mud on the marble floors. I pouted and she laughed, her laughter had a tinkling sound, like a bell caught in wind, soft but bright. “Hold still, little prince,” she said while I strugged to get out of her grip, kneeling with a comb in one hand and ribbons in the other. “Your hair’s a battlefield.” “It hurts,” I complained, wriggling. “That’s because you’re fighting me.” Her eyes, storm-grey, softened. “You fight everything good for you.” When she finished, she tied the last braid with a green ribbon and pressed a kiss to my forehead. “There. Now you look like royalty.” I giggled at her and preened under her adoring gaze, sticky-fingered and tanned from staying ou
Wren's POV Caelum and I sat in front of the elders, hand in hand, the idea was to present a united front and also to keep Caelum calm. He kept staring them down, his eyes flashing between the black eyes of his wolf and his normal violet eyes.We had been sitting here for almost 20 minutes in silen
Wren's povI took a deep breath and exhaled shakily, anxiety and dread filling my veins. My heart pounded at the thought of what could happen in the next minutes. I was standing in front of I and Caelum's room, my hand poised above the doorknob, ready to open. I would either leave this place in pea
Wren's POVRemember, wren, remember….I wanted to open my eyes but I didn't have the strength, my eyelids felt like they were glued together and I couldn't open them.“Wren? Baby, open your eyes for me!" I heard someone say, Caelum.Caelum! I need to see him, I need to see my mate.With great effor
Wren's POV“Mummy, can we please go to the market now? Can we?" Five years old me tugged on my mother's skirt.“I don't know, Wren, I don't think it's a good idea." Mummy said, her eyebrows furrowed like it did whenever daddy was late from work.“Please mummy, you promised." I tugged endlessly on h






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.