(Completed) Brianna goes to school, has friends, and has a boyfriend, but when her dad dies and leaves her and her brother to fend for themselves, things start to unravel. When they move to start over, her life isn't what she thought her life was, nothing she thought was the truth, is, and she has some major secrets to keep hidden from some of her best friends. When her mate finds her and awakens her to the world of the supernatural, things get even more complicated. Is she even human? Does she want a mate? Will the heartbreak, the love, and the sacrifices be worth what the Moon Goddess has in store for her? ***This book can be read as a stand-alone but it does contain a cross-over and spoilers from my first book "Timber Alpha". If you're planning on reading them both start there. **This 4 book series is COMPLETE – Reading order: 1-Timber Alpha (ch1-86), 2-Mated to Brianna, 3-Mylo (Timber Alpha ch89-172), 4-Alpha Heirs
Lihat lebih banyak"Aku sponge cake, Mbak 2 yang bentuknya cinta, ya," pinta seorang remaja laki-laki pada wanita yang berdiri di belakang meja kasir.
Nasha, si pemilik bakery yang hari ini turun tangan menjaga kasir langsung mencatat pesanan pelanggannya dalam sebuah tablet.
"Spesial buat kamu cintanya saya kasih bertumpuk-tumpuk," balas Nasha dengan senyum manisnya lalu menyerahkan sekotak roti pada pengunjung setianya itu.
Remaja laki-laki yang hampir setiap hari mampir untuk membeli sponge cake itu menerimanya dengan senang hati lalu memberikan sejumlah uang untuk membayar kue pesanannya.
Sudah 2 tahun ini Nasha fokus mengelola bakery miliknya. Dia yang semula bekerja di sebuah agen properti memilih untuk resign dan membuat usaha sendiri. Ya, meskipun tidak mudah. 2 tahun Nasha membangun bakerynya dan baru setahun ini pelanggannya meningkat pesat.
"Saya cheesecake satu."
Senyum Nasha langsung berganti dengan wajah ketusnya. Dengan pongah Nasha menyebutkan harga yang harus dibayar oleh pria tadi.
Pria tadi adalah Satria Bimantara. Teman Nasha Aqila. Well, teman dalam segala bidang maksudnya.
Teman SMA, teman kuliah, teman curhat, teman kondangan bahkan teman serumah alias housemate. Roommate? Bisa iya bisa juga tidak. Nasha sendiri tidak yakin.
Hanya yang dia tahu Satria adalah teman yang sangat bisa diandalkan dalam berbagai situasi dan kondisi.
Ya, terkecuali semalam. Hal yang membuat Nasha gondok setengah mati. Satria tidak bisa menemaninya ke acara pernikahan mantan kekasihnya.
God! Ego Nasha rasanya tersentil saat menghadiri pernikahan mantan seorang diri. Mau bagaimana lagi, Satria juga memiliki urusan lain yang tidak bisa ditinggalkan.
"Nas, masih ngambek?" tanya Satria begitu sepotong cheesecake dihidangkan di depannya. Bahkan sekarang pria itu menarik sebuah kursi agar bisa bertahan lebih lama lagi di depan meja kasir.
"Sat, really kamu tanya gitu? Itu mantanku, Satria. Oh my god!"
Dengan kesal Nasha meninggalkan meja kasir dan memberi kode pada salah seorang pegawai untuk menggantikan posisinya. Rambut panjangnya yang semula diikat menjadi satu kini diurai.
Dia sangat ingin menyembur Satria dengan berbagai umpatan, tapi tentunya bukan di depan khalayak umum. Bakerynya baru naik daun. Jangan sampai dia menjatuhkan usaha yang sudah dibangunnya dengan susah payah.
"Saya udah bilang saya gak bisa, Nas. Keisha lulus SMA dan semalam keluarga lagi makan-makan. Saya udah ajak kamu juga kan, tapi kamu gak mau."
Tentu Nasha menolak dan lebih memilih untuk menghadiri pesta pernikahan mantan kekasihnya. Jelas Nasha tidak mau diberi cap gagal move on.
"Ya ampun, Satria. Andai kamu tahu aku sama sekali gak berminat datang kesana. Aku terpaksa datang." Belum sempat Nasha merampungkan kalimatnya Satria sudah menyela lebih dulu.
"Itu pilihan kamu sendiri, Nas. Kamu bisa menolak, tapi kamu tetap datang. Memangnya ada kenangan apa sih sama mantanmu yang itu?"
Langsung saja Nasha terdiam. Apa dia harus jujur bahwa mantan kekasihnya yang kemarin menikah adalah laki-laki pertama yang pernah mencumbunya?
"Mbak Nasha," panggil Jihan, pegawai bakery yang memasuki dapur dengan terburu-buru. "Bantuin di depan dong, Mbak! Rame banget itu."
Mengangguk singkat Nasha langsung mengikuti langkah Jihan dan dengan sigap kembali berdiri di belakang meja kasir. Tanpa sadar Satria kembali mengikutinya dan duduk di kursi yang tadi sempat dipakainya.
Mencoba acuh dengan keberadaan Satria Nasha terus melempar senyum pada pelanggannya. Sampai seorang pria lain yang datang membuat Nasha tertegun. Nasha tidak menyangka pria itu akan datang ke bakerynya.
"Tiramisu 2 dan roll cake pandan 1," ucapnya nyaris tanpa nada. Pun demikian dengan sorot wajahnya yang datar.
Dengan kaku Nasha mengangguk. Tatapan matanya tak luput mengawasi interaksi antara Satria dengan pria yang merupakan kakak tirinya, Agarish.
Bibirnya tersenyum miris. Agarish bisa tersenyum tipis dan mengobrol santai dengan Satria. Sedang dengan dirinya? Agarish hanya akan menampilkan wajah datarnya. Entah kesalahan apa yang pernah Nasha perbuat hingga Agarish selalu acuh padanya.
Padahal kalau diingat-ingat lagi Nasha belum pernah membuat satupun masalah di keluarga barunya. Bagaimana bisa membuat masalah kalau sejak awal pernikahan bunda dengan pak Tanubrata, papa Agarish Nasha jarang sekali berada di kediaman Tanubrata.
Masa SMA-nya dia habiskan dengan tinggal bersama ayah. Lalu setelah ayahnya meninggal Nasha dimasukkan ke asrama sampai dia lulus kuliah, bukannya ikut tinggal di kediaman papa sambungnya.
Setidaknya dalam seminggu hanya 2 kali Nasha mampir ke rumah itu. Ya, Nasha menyebutnya mampir.
Lalu dimana Nasha tinggal? Tentu di tempat kos dengan alasan menghemat biaya transportasi yang sebenarnya juga tidak seberapa. Kemudian saat memiliki bakery yang diberi nama 'Aqila's Bakery' tersebut Nasha memanfaatkan salah satu ruang sebagai tempat tinggal.
"Udah, Bang," ujar Nasha sambil menyerahkan pesanan Agarish. Sesuai dugaan Agarish hanya memandangnya datar lalu pergi usai berpamitan dengan Satria.
Dia hanya berpamitan dengan Satria. Tidak dengan Nasha. Dipandanginya punggung tegap tersebut sampai tidak sadar Satria sudah memanggilnya beberapa kali.
"Gak nyoba buat ngajak ngobrol?" Satria jelas tahu betul sepak terjang kehidupan Nasha.
"Takut, Sat. Dia kelihatan gak tertarik sama kehadiran aku." Suara Nasha lirih terdengar.
Bisa Satria tangkap dengan jelas nada kesedihan disana. Mereka saudara tiri, tapi lebih terlihat seperti 2 orang asing. Satria sendiri kurang paham apa yang membuat Agarish bersikap kelewat acuh terhadap Nasha.
Seolah teringat satu hal Satria langsung menandaskan cakenya dan berpamitan, "Saya ada kerjaan lagi, Nas. Nanti balik lagi."
Tangan Satria bergerak mengusap kepala Nasha pelan. Pria itu nampak terburu-buru.
"Take care, Satria," ucap Nasha dengan senyumnya. Ya, meskipun tadi dia sempat sinis terhadap Satria, tapi Nasha tidak bisa berlama-lama sinis dan ketus pada Satria. Bagaimanapun juga Satria itu seperti penyelematnya.
Penyelamat saat Nasha merasa kesepian, sendirian, maupun dalam segala situasi yang terasa sulit Nasha lewati. Nyatanya Nasha bisa melewati semua itu karena Satria masih setia berdiri disampingnya. Memberinya sebuah lengan untuk berpegangan saat Nasha merasa dunianya akan runtuh.
Senyum Nasha mengembang sempurna kala melihat mobil Satria keluar area parkir bakery. Tidak masalah kakak tirinya seakan tak pernah menganggapnya ada. Yang terpenting dia masih mempunyai Satria.
"Mbak, kenapa gak jadian aja sama mas Satria?" Kemudian pertanyaan itu membuat senyum Nasha berganti dengan raut wajah keheranan.
"Mbak Nasha sama mas Satria kelihatan cocok. Daripada nanti cari calon lain terus ternyata dalam sama luarnya beda. Mending sama mas Satria aja, Mbak. Udah hapal luar dalam."
Ucapan asal dari pegawai bakerynya itu ternyata mampu mengetuk sisi lain dari Nasha. Menikah. Apa dia masih bisa bergantung pada Satria kalau pada akhirnya pria itu akan menikah? Tuhan bahkan belum memberitahunya siapa jodoh Satria kelak. Lalu jika wanita beruntung itu bukan dirinya, Nasha harus berbuat apa?
Alpha Heirs is now live! Born of fire… that's how we became triplets, and now that the ashes have given us life there's nothing that can keep us apart. Not my sister trying to ignore her royal status, not my brother trying to destroy a whole species, not even death. We’ve grown up training and aligning ourselves to fulfill part of our parent’s prophecy, but the path to get there is growing more and more complicated. Our destiny is peace, but it takes death to get there. *****This is the 4th and final book in the series and all update information is available in our group on F B GoodNovel - Marie Night- Readers https://m.goodnovel.com/book_info/31000211002/Werewolf/Alpha-Heirs?shareuser=22318084&ch=apps
If you're following along with Timber Alpha for the complete storyline, chapters for "Mylo" are now up and will be updated daily until complete! Although "Timber Alpha" and "Mylo" can be read separately from "Mated to Brianna" and "Alpha Heirs," they do come from the same timeline and cross into each other :) The reading order is as follows; Timber Alpha, Mated to Brianna, Mylo (Add to length of Timber Alpha), Alpha Heirs (coming in fall) Find my group on F******k for updates, general discussions, and reading orders. I'd love to see who you all picture for the characters, hear who you love, who you hate, and who you love to hate! I'm always interested in feedback so I can help my books continue to be what you truly love to read. "GoodNovel - Marie Night - Readers"
“Today?” Xander’s tone was bordering on angry in his surprise, making the twins squirm. “Tell us,” Alaric was surprisingly calm, and I was hoping that it was his genuine emotion. “We want them all to be raised together don’t we?” I asked and they all nodded immediately, “No differences? Because if that’s changed, you need to tell me right now.” “No differences Precious,” Xander was back to being himself, “that’s what we decided and nothing has changed. We want them to be raised together, rule together, and for everyone to regard the new Phoenix as a member of the royal family.” “Right,” Alaric picked up the conversation, “only our parents and Second’s will know that they are a Phoenix until we can’t keep it a secret any longer.”
“Dezzy… you better link some people,” Logan was scooping under my arms to keep me upright as Dez took in what was happening, trying to take me to the couch. “I’m NOT sitting,” I half snapped out. “Logan, go wait outside please,” Dez looked a bit terrified, “you don’t want to be anywhere near her when the kings get back.” “I’m not… I’m not ready Dez,” the tears started to roll down my face. “You’re strong Love, you-” “NO!” I interrupted him as another wave of pain started to creep around my stomach, “Connor…” I tried to wipe my tears before the boys got back, “I didn’t think it was going to be this hard to let him go, and he’s not even gone yet.” “Love,” Dez grasp
** 9 months later** “It’s hard to believe I found out I was a royal a year ago already,” I smirked up at Connor as we watched the sun slip behind the trees. “I don’t think I’ve ever gotten a grasp on time,” Connor kissed the top of my head as he continued to brush through my wet hair from behind me, his legs perched on either side of me as we sat staggered on the steps. I would miss this, I would miss him, and an annoyingly familiar pressure started to build in my chest. “I’m not ready,” I could feel the tears building in my eyes, not a huge surprise lately, it felt like that’s all I ever did was cry. “You are,” Connor tilted my chin up to look at him, “you’re going to be an amazing mother Brianna, and the next Phoenix couldn’t have lucked out better havi
“Shh Sugar, you’re ok, we’re here,” he lifted my chin and locked eyes with me, his golden hues grounding me and his sparks soothed me, “she doesn’t need you right now Artemis.”Alaric and Xander surrounded me, the perfect storm of my mates back in place as I let their scents bring me back to safety. Connor’s fire was nothing compared to Alaric’s. His smokiness filled my senses and drifted through me as it connected with Xander’s warmth and Wyatt’s sweet dew that lifted my mood.‘Tell us,’ Alaric linked the four of us.‘I don’t know where to start,’ I let my hands drift up Wyatt’s shirt, and he pulled it off so
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
Komen