INICIAR SESIÓNBayu segera menarik dokumen pengalihan aset yang baru saja dia tanda tangani ke sisi meja. Namun tangannya tetap menindih kertas itu dengan kuat. Tatapannya setajam sembilu, tertuju lurus pada Rio yang masih tampak pongah dengan tawa kemenangannya."Giliranmu. Sekarang juga, tanda tangani surat cerainya, Rio. Sekarang!” bentak Bayu. Suaranya pelan, tapi mengandung ancaman yang sangat nyata.Lyra, yang sudah tidak sabar ingin segera mendekap dokumen aset tersebut, menoleh ke arah Rio. Dia tidak peduli pada urusan asmara atau kebencian antara Rio dan Maudy, ia hanya ingin urusan ini selesai agar dokumen di bawah tangan Bayu bisa segera ia kuasai."Ayo, Rio. Jangan buang waktu lagi. Sesuai kesepakatan, tanda tangani surat itu dan biarkan mereka pergi. Aku sudah mendapatkan apa yang aku mau, jadi jangan buat masalah ini berlarut-larut karena egomu," cetus Lyra. Meski ia licik, Lyra adalah tipe orang yang konsekuen. Dia tidak berpihak pada Rio saja atau Bayu saja. Dia hanya berpihak p
Suasana di dalam gudang tua itu terasa semakin mencekam, seolah-olah dinding beton yang retak di sekeliling mereka perlahan menghimpit oksigen hingga habis. Bayu berdiri mematung di depan meja kayu yang berdebu, jemarinya menyentuh permukaan kertas yang dingin. Di bawah sinar lampu gantung yang bergoyang pelan, bayangan mereka memanjang di lantai semen, menciptakan siluet yang tampak seperti pertarungan antara hitam dan putih.Tepat saat Bayu hendak menarik pulpen dari balik saku jasnya, terdengar suara erangan tertahan dari arah kursi tengah. Maudy mulai menggerakkan kepalanya dengan lemah. Obat bius yang disuntikkan para preman itu mulai kehilangan cengkeramannya. Maudy membuka matanya perlahan, berusaha menyesuaikan diri dengan cahaya redup yang menusuk netranya. Begitu kesadarannya pulih sepenuhnya, ia melihat Bayu sedang berdiri di depan Lyra dengan dokumen di atas meja.Maudy tahu persis apa yang sedang terjadi. Dia mencoba berteriak, tapii suaranya hanya terdengar seperti gum
Tanpa berpikir panjang, Bayu segera bergegas memacu kecepatan mobilnya menuju alamat yang diberikan oleh Lyra. Ban mobil Bayu mencicit tajam saat ia mengerem mendadak di depan gudang tua yang tampak menara di bawah cahaya senja yang kian meredup. Debu beterbangan, menyelimuti bodi mobil mewahnya yang kini tampak kontras dengan lingkungan kumuh di sekitarnya. Bayu tidak segera turun. Ia duduk diam di balik kemudi selama beberapa detik, mengatur napasnya yang menderu layaknya badai. Tangannya mencengkeram setir hingga buku-bukunya memutih.Lyra mungkin merasa telah memegang kendali penuh atas papan catur ini. Namun dia tidak sadar bahwa Bayu bukan boneka yang bisa dipermainkan. Tapi dia adalah pengatur strategi yang sudah memprediksi langkah busuk ini sejak awal. Sebelum memacu mobilnya ke tempat ini, Bayu telah mengaktifkan sebuah protokol keamanan yang telah ia siapkan sebagai antisipasi jika Lyra bermain kotor. Ia tahu, tanda tangan di atas kertas yang dibawa Lyra bukan sekadar tra
Mobil hitam itu berhenti di sebuah gudang tua yang tersembunyi di pinggiran kota, jauh dari hiruk pikuk keramaian. Bau apek dan debu yang menyesakkan menyambut saat pintu besi berkarat itu dibuka secara perlahan. Kedua preman itu menggotong tubuh Maudy yang masih lunglai tak berdaya, lalu mendudukkannya di sebuah kursi kayu tua di tengah ruangan yang hanya diterangi oleh satu lampu gantung yang bergoyang tertiup angin.Lyra sudah berdiri di sana, menyandarkan punggungnya pada meja kayu besar sambil melipat tangan di dada. Ia menatap sosok Maudy dengan pandangan merendahkan. Dengan gerakan yang sangat lambat, salah satu preman mengikat tangan Maudy ke belakang kursi menggunakan tali tambang yang kasar, lalu melilitkan kain hitam untuk membungkam mulutnya."Kerja bagus," bisik Lyra, matanya berkilat penuh kemenangan. “Segera transfer bayaran kami!” sahut para preman.“Tenang, ucapanku bisa dipegang!” Setelah mentransfer bayaran preman itu, da mendekat ke arah Maudy. Lalu dengan ujun
Matahari sore mulai meredup, menyisakan semburat jingga yang pucat di cakrawala. Namun hawa dingin di sekitar area parkir rumah sakit terasa lebih menusuk dari biasanya. Di dalam sebuah mobil hitam dengan kaca gelap yang terparkir tak jauh dari pintu keluar darurat, dua orang pria bertubuh kekar memperhatikan setiap pergerakan dengan mata yang awas. Mereka telah mengintai selama berjam-jam, menunggu celah sekecil apa pun untuk menjalankan instruksi keji dari Lyra."Lihat, itu mereka!” bisik salah satu preman sambil menunjuk ke arah pintu lobi utama.Awalnya, mereka melihat Bayu keluar bersama Maudy. Bayu tampak menggenggam tangan Maudy dengan protektif, wajahnya menunjukkan guratan kelelahan yang luar biasa tapi tetap siaga. Para preman itu sudah bersiap untuk melakukan konfrontasi fisik seperti perintah Lyra. Rencana awal mereka adalah melumpuhkan Bayu terlebih dahulu sebelum menyeret Maudy pergi. Namun, sebuah kejadian tak terduga di ambang pintu lobi mengubah segalanya.Langka
Di dalam apartemen mewahnya yang bernuansa minimalis dan terasa dingin, Lyra duduk menyandarkan punggungnya di sofa kulit sambil menatap kosong ke arah jendela besar yang menampilkan pemandangan kota. Di atas meja kopi, tersebar lembaran dokumen pengalihan aset yang masih bersih, tanpa goresan tinta tanda tangan sedikit pun. Detik jam dinding seolah berdentum keras di telinganya, mengingatkannya bahwa waktu terus berjalan, sementara rencananya untuk menguasai harta itu masih tertahan di titik nol.Kegaduhan di rumah sakit yang melibatkan Cindy benar-benar menjadi berkah terselubung bagi Lyra. Dia menarik napas dalam-dalam, mencoba menjernihkan pikirannya yang sejak semalam dipenuhi kabut kecemasan. Rio masih bersikeras menjadi batu karang yang tak mau bergerak, sementara Bayu adalah tembok baja yang hanya akan terbuka jika ada kunci yang tepat."Rio tidak akan bergerak kalau dia tidak merasa menang, dan Bayu tidak akan tanda tangan kalau dia tidak merasa terdesak," gumam Lyra sambil
Lampu kamar hotel yang redup seolah menambah berat atmosfer di antara mereka. Maudy duduk di tepi ranjang dengan napas yang tertahan, matanya menatap tajam ke arah Bayu yang masih berdiri mematung di dekat jendela. Keheningan itu terasa mencekik, hanya terdengar deru halus pendingin ruangan yang ti
Amarah yang sudah mencapai ubun-ubun membuat Rio benar-benar kehilangan akal sehatnya. Ia menyambar sebuah vas bunga kristal yang ada di atas nakas dan dengan gerakan membabi buta menghantamkannya ke arah Bayu.Prang!Vas itu hancur berkeping-keping. Bayu tidak sempat menghindar sepenuhnya, dan p
"Eh, Mbak Lyra juga," lanjut Bayu menatap Lyra dengan wajah polos yang menyebalkan. "Lipstiknya agak berantakan sedikit di sudut kiri. Mungkin tadi di mobil kena guncangan ya? Maklum, jalanan di sini memang tidak semulus janji-janji lelaki.""Kamu... kamu lancang ya!" desis Lyra, wajahnya merah
Keheningan di kamar hotel itu terasa begitu pekat, seolah oksigen di ruangan itu telah habis tersedot oleh pengakuan mengerikan yang baru saja terlontar. Maudy masih mematung di tepi ranjang. Tatapannya kosong, tertuju pada foto yang tergeletak di lantai. Foto yang kini tampak seperti potongan bukt







