Share

Bab 202

Author: Kak Han
last update publish date: 2026-05-01 19:30:46

Matahari sore mulai meredup, menyisakan semburat jingga yang pucat di cakrawala. Namun hawa dingin di sekitar area parkir rumah sakit terasa lebih menusuk dari biasanya. Di dalam sebuah mobil hitam dengan kaca gelap yang terparkir tak jauh dari pintu keluar darurat, dua orang pria bertubuh kekar memperhatikan setiap pergerakan dengan mata yang awas. Mereka telah mengintai selama berjam-jam, menunggu celah sekecil apa pun untuk menjalankan instruksi keji dari Lyra.

​"Lihat, itu mereka!” bisik s
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 350

    Keesokan harinya, matahari ibu kota bersinar terik, memantulkan kilau kemegahan gedung pencakar langit milik Bayu. Di dalam salah satu ruang rapat lantai eksekutif, Tasya duduk dengan posisi tegak, senyuman percaya diri tak pernah lepas dari wajahnya yang dipoles riasan tebal. Di hadapannya, tiga orang panelis dari pihak Human Resources Development (HRD) berkali-kali mengangguk kagum membaca rangkuman riwayat hidup dan ijazah kelulusan luar negeri milik Tasya.​Proses wawancara berjalan sangat mulus, persis seperti yang sudah diprediksikan Tasya semalam. Mengingat posisi Manajer Pemasaran Regional yang dilamarnya memang membutuhkan kualifikasi internasional, pihak HRD langsung memberikan lampu hijau. Hari itu juga, Tasya dinyatakan diterima bekerja dan diminta menandatangani kontrak kerja untuk mulai aktif di awal minggu depan.​“Pa, aku benar benar diterima,” tulis Tasya pada pesan singkat yang dia kirim untuk Papanya. Dan tidak butuh waktu lama, heru membalas pesan putrinya dengan

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 349

    Mendengar racunan dendam putrinya yang kian tak terkendali, Heru mengembus napas berat. Ia tahu betul watak Tasya yang keras kepala dan selalu kompetitif jika sudah menyangkut nama Maudy. Namun, ancaman dingin dari Bayu di ruang perjamuan tadi masih menyisakan efek jeri yang nyata di benak Heru. Ia tidak ingin posisi keluarganya yang baru saja menata kaki di ibu kota langsung hancur berantakan hanya karena obsesi Tasya.​Heru berdeham keras, mencoba mencairkan ketegangan yang pekat di ruang keluarga itu dengan mengubah topik pembicaraan ke arah yang lebih produktif.​"Sudah, Tasya. Simpan dulu semua kekesalanmu tentang Maudy. Lebih baik sekarang kita bicara tentang masa depanmu. Kamu sudah menganggur cukup lama sejak lulus kuliah di luar negeri kemarin. Rencana kepindahan kita ke rumah baru ini kan juga salah satunya agar kamu bisa mulai merintis karier di sini," potong Heru dengan nada suara yang lebih serius.​Mendengar kata karier, sorot mata Tasya yang semula penuh kebencian seket

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 348

    Malam kian larut, membungkus kota dengan keheningan yang semu. Namun, kedamaian yang melingkupi kamar Bayu dan Maudy, di mana kelelahan perlahan mencair menjadi kehangatan dan rasa percaya, sama sekali tidak menyentuh dua rumah lainnya. Di sudut kota yang berbeda, sisa-sisa badai dari perjamuan malam itu justru memercikkan api amarah yang siap membakar apa saja.​Di kediaman peninggalan mendiang Baron, suasana rumah terasa begitu mencekam sejak pintu depan dibanting menutup. Dara yang sudah kehabisan energi akibat tantrum hebatnya kini telah tertidur pulas di kamar, meskipun napasnya masih sesekali tersengat sesenggukan kecil.​Di ruang tengah, ketenangan itu langsung pecah. Ani berjalan mondar-mandir dengan napas memburu, wajah paruh bayanya merah padam menahan dongkol yang luar biasa. Begitu Silvy keluar dari kamar Dara setelah menyelimuti putrinya, Ani langsung menghadangnya dengan telunjuk yang bergetar.​"Kamu benar-benar anak durhaka, Silvy! Kamu mempermalukan Ibu di depan orang

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 347

    Perjalanan pulang dari rumah Paman Heru dilewati dalam keheningan yang pekat. Di dalam mobil, hanya ada suara deru mesin dan helatan napas yang berat. Bayu fokus membelah jalanan malam kota, sementara Maudy menyandarkan kepalanya pada kaca jendela, menatap kosong lampu-lampu jalanan yang berpendar buram. Ibunda Maudy yang duduk di kursi belakang pun memilih diam, memahami bahwa putri dan menantunya baru saja melewati ujian emosional yang teramat melelahkan.​Begitu tiba di rumah dan mengantar sang ibu ke kamarnya untuk beristirahat, Bayu dan Maudy melangkah perlahan menuju kamar utama mereka. Begitu daun pintu itu tertutup rapat dan terkunci dari dalam. Suasana ketegangan yang sejak tadi mereka tahan di depan umum seketika luruh. Kamar yang tenang itu kembali menjadi satu-satunya tempat aman bagi mereka.​Maudy tidak langsung mengganti gaunnya. Wanita itu berjalan gontai menuju tepi ranjang, lalu menjatuhkan duduknya di sana. Bahunya yang semula tegap saat menghadapi pamannya kini mer

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 346

    Maudy memejamkan mata sejenak, menarik napas dalam-dalam untuk menguasai gemuruh di dadanya. Ketika ia membuka mata, kabut kepanikan di wajahnya telah berganti dengan ketegangan yang dingin dan terukur. Ia melepaskan tautan jemarinya dari Bayu, lalu melangkah maju. Bukannya membalas tatapan Tasya atau Pamannya, Maudy justru berlutut di atas lantai marmer, menyejajarkan tubuhnya dengan Silvy yang masih bersimpuh parau.​Dengan gerakan lambat yang disaksikan oleh seluruh pasang mata di ruangan itu, Maudy memegang kedua bahu Silvy dan memaksanya untuk berdiri.​"Berdirilah, Silvy. Bawa Dara pulang sekarang, Silvy. Dia butuh istirahat, bukan tontonan gatis di tempat seperti ini. Urusan besok, biar besok menjadi urusan kita secara pribadi. Tapi malam ini, selamatkan anakmu dulu." ucap Maudy, suaranya mengalun rendah tapi terdengar begitu jelas di tengah keheningan yang mencekam.​Silvy menatap Maudy dengan tatapan tidak percaya sekaligus haru yang luar biasa. Dengan anggukan cepat dan berk

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 345

    Detik-detik seolah membeku di dalam ruang perjamuan yang megah itu. Pekikan histeris Dara yang menggema di langit-langit tinggi rumah paman Muady tersebut. Apalagi setelah kedatangan Ani dan cucunya. Telapak tangan Bayu masih merangkul erat pinggang Maudy. Sementara Maudy, dengan bibir yang sedikit terbuka dan wajah yang mendadak pias, menatap lurus ke ambang pintu.​Kejutan ini terlalu mendadak. Kepala Maudy terasa pening dihantam kenyataan bahwa privasi keluarganya kini ditelanjangi di depan paman dan sepupunya yang menaruh dendam lama. Ani berdiri dengan napas memburu, kedua matanya berkilat penuh kemenangan yang nekat, sementara Dara di sampingnya terus meronta, menangis parau hingga urat-urat di leher kecilnya menegang.​Melihat skandal luar biasa ini tersaji langsung di depan mata mereka, Tasya tidak menyia-nyiakan kesempatan. Rasa iri yang bertahun-tahun ia pendam seolah mendapatkan bahan bakar paling murni malam ini. Tasya melangkah maju, meletakkan gelas minumannya dengan den

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 173

    Di salah satu kafe yang terletak tak jauh dari kawasan perkantoran, Lyra duduk dengan kaki bersilang, menyesap espresso pahitnya sambil sesekali melirik arloji melingkar di pergelangan tangannya. Dia baru saja mengirimkan sebuah pesan singkat dan padat yang dia yakini akan menjadi umpan paling meng

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 172

    Bayu berdiri mematung di hadapan Maudy, kedua tangannya terangkat sedikit di udara dengan gestur yang menggambarkan kebingungan yang tulus. Ia menatap Maudy dengan tatapan mata yang terlihat sangat polos, seolah dia adalah seorang anak kecil yang baru saja dihukum karena mencoba melakukan hal yang

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 171

    Setelah satu jam menunggu, Pintu ruangan CEO itu akhirnya terbuka perlahan, menampakkan sosok Maudy yang tampak sedikit lelah setelah perdebatan panjang di ruang rapat. Namun, rasa lelah itu seolah tersapu angin ketika dia melihat Bayu benar-benar masih ada di sana, duduk dengan sabar di sofa milik

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 169

    Ketegangan di ruangan depan ruang kerja Bayu seolah membeku sesaat setelah suara bariton sang Komisaris memecah keributan. Bayu berdiri mematung di ambang pintu, menatap dua wanita di hadapannya dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada rasa lelah yang amat sangat di matanya, terutama setelah drama

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status