Mag-log inRio menyandarkan punggungnya ke kursi kayu kafe, matanya menatap Alena dengan tatapan predator yang telah melihat mangsanya terjepit. Rio memperhatikan jam tangan berlian yang melingkar di pergelangan tangan Alena dan juga tas bermerek yang diletakkan sembarangan di atas meja. Dari situ Rio sadar bahwa wanita di depannya adalah pewaris kekayaan yang tidak akan merasa kehilangan meski harus membuang uang miliaran rupiah. Keterangan yang sama dengan yang dia dapat dari media sosial tentang Alena.“Baiklah, aku percaya sama kamu. Katakan, dimana aku bisa menemui Bayu?” tanya Alena kemudian setelah sempat lama terdiam.Rio tidak langsung menjawab. Dia justru tersenyum simpul sambil menikmati minumannya."Alena, Membantumu bertemu Bayu dan menembus hubungan yang dibangun antara Bayu dan Maudy bukan perkara mudah. Aku mempertaruhkan sisa reputasiku untuk ini. Jadi, sebelum kita melangkah lebih jauh, aku butuh jaminan... dalam bentuk finansial,” cakap Rio tanpa basa basi.Alena mengangkat
Rio menunggu dengan napas tertahan. Dia duduk di kursi taman kota, jauh dari jangkauan Lyra yang mungkin akan terus mengawasinya. Lima menit berlalu. Sepuluh menit. Hingga akhirnya, muncul notifikasi balasan. "Siapa ini? Dari mana kamu mendapatkan nomorku? Apa maksudmu dengan informasi tentang Bayu?" balas Alena.Rio menyeringai. Dia merasa mangsanya itu sudah mulai mendekati umpan. Segera dia balas pesan tersebut.“Aku adalah Rio, orang yang cukup dekat dengan Bayu. Aku bisa membantu kamu bertemu dengan dia. Bayu kamu yang ini kan?” balas Rio tanpa basa basi sambil mengirimkan foto Bayu untuk meyakinkan Alena.“Kamu serius?” balas Alena dengan antusias.“Tentu serius. Sepertinya kita perlu bertemu empat mata untuk membicarakan ini,”“Tapi, kenapa kamu tiba tiba menawarkan aku hal seperti ini?”“Nanti saja kita bicarakan. Katakan saja, dimana kita bisa bertemu?” balas Rio.Meski Alena sempat ragu dan heran dengan kehadiran Rio yang tiba tiba menawarkan cara untuk bertemu dengan Ba
Keesokkan harinya, Rio melangkah menuju pintu apartemen Lyra dengan terburu-buru. Di dalam kepalanya, nama Alena menjadi jalan kebangkitannya. DIa harus segera bergerak, sebelum Bayu sempat mencium pergerakannya atau sebelum Alena memutuskan untuk menghapus jejak masa lalunya di media sosial.Namun, baru saja jemarinya menyentuh gagang pintu, suara langkah kaki yang angkuh menghentikannya."Mau ke mana kamu pagi-pagi begini, Rio?" Lyra berdiri di ambang pintu kamarnya, masih mengenakan jubah mandi , sambil melipat tangan di dada. Matanya menyipit penuh selidik, menatap penampilan Rio yang tampak sedikit lebih rapi daripada kemarin.Rio berbalik perlahan, mencoba memasang wajah datar, lalu menjawab pertanyaan Lyra."Aku ada urusan bisnis. Ada peluang baru yang harus segera kupastikan sebelum orang lain mengambilnya,” jawab Rio.Lyra mengangkat sebelah alisnya, senyum sinis tersungging di bibirnya yang merah. Ada keraguan besar pada jawaban yang diberikan oleh Rio. Apalagi menginga
Malam semakin larut, menyisakan kesunyian yang mencekam di apartemen mewah milik Lyra. Di dalam kamar utama, Lyra mungkin sudah terlelap dalam buaian mimpi kemenangannya. Namun di ruang tamu yang remang, Rio masih terjaga. Dia berbaring telentang di atas sofa kulit yang dingin, menatap langit-langit ruangan yang dihiasi lampu kristal yang mati. Pikirannya kalut, berputar-putar seperti badai yang mencari titik pendaratan."Aku harus cari Kerja. Aku harus punya penghasilan lagi. Tapi, Siapa yang mau mempekerjakan aku sekarang?" bisik Rio pada kegelapan, suaranya terdengar getir.DIa membayangkan dirinya duduk di depan meja wawancara, hanya untuk ditertawakan oleh mantan rekan bisnisnya atau ditolak mentah-mentah karena reputasinya yang sudah hancur lebur di pengadilan. Gengsinya yang setinggi langit memberontak. Bagi Rio, bekerja sebagai staf biasa atau melakukan pekerjaan rendahan adalah penghinaan yang lebih buruk daripada kematian. Dia terbiasa memerintah, terbiasa memiliki kuasa,
Malam semakin larut di apartemen Lyra, tapi suasana di sana jauh dari kata hangat. Jika di tempat lain Bayu dan Maudy sedang merayakan kebebasan dengan kelembutan dan keintiman. Tapi di apartemen Lyra, suasana yang tercipta adalah tentang dominasi dan penghinaan. Ruang tamu mewah yang dipenuhi furnitur modern itu terasa dingin, sedingin sorot mata Lyra yang sejak tadi mengawasi setiap gerak-gerik Rio.Rio duduk di ujung sofa kulit, mencoba menyandarkan punggungnya yang pegal. Dia memegang ponselnya, menatap layar yang gelap, mencoba memikirkan sisa-sisa koneksi bisnis yang mungkin masih bisa dia hubungi. Dia berusaha terlihat tenang, seolah-olah dia masih memiliki martabat, meski kopernya masih tergeletak mengenaskan di sudut ruangan. Dia tidak punya kamar khusus di apartemen itu, karena Lyra sengaja menyuruhnya tidur di sofa saja.Tiba-tiba, suara denting gelas kosong yang diletakkan di atas meja marmer memecah keheningan."Rio!" panggil Lyra. Suaranya tidak tinggi, tapi mengandun
Malam itu, unit apartemen yang baru saja direbut Maudy dari Rio, kembali terasa jauh lebih luas dan tenang. Aroma maskulin Rio yang sebelumnya mendominasi ruangan kini telah memudar, digantikan oleh aroma pengharum ruangan beraroma sandalwood dan bunga melati yang dibawa Maudy. Maudy duduk di sofa utama, menatap kosong ke arah balkon. Dia masih merasa seperti sedang bermimpi dengan apa yang terjadi pada hari itu. Di sana juga ada Bayu . Bayu berjalan mendekat ke arah Maudy sambil membawa dua gelas teh hangat yang mengepulkan uap tipis. Dia meletakkan gelas itu di atas meja, lalu duduk tepat di samping Maudy, membiarkan bahu mereka bersentuhan. "Bagaimana perasaanmu sekarang, Maudy? Setelah semua milikmu telah kembali? Sekarang kamu benar-benar berdiri tanpa bayang-bayang Rio,” tanya Bayu dengan pelan. Maudy menoleh, memberikan senyuman yang paling tulus pada Bayu. Lalu Maudy menanggapi ucapan Bayu. “Tentu aku sangat bahagia, Bayu. Sangat lega. Rasanya seolah-olah aku bar
Maudy hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan Bayu, lalu beralih menatap Lyra dengan raut wajah tidak enak hati. "Maaf ya, Lyra. Bayu memang begitu, dia OB yang sedikit bandel di sini. Jangan dimasukkan ke hati ucapan lancangnya tadi," ucap Maudy meminta maaf pada Lyra. Lyra hanya tertawa k
Bayu menepi di bawah pohon rindang yang agak jauh dari butik itu. Ia menatap layar ponselnya yang menampilkan foto Rio tengah tertawa mesra bersama wanita itu. Jarinya gemetar, berada hanya beberapa milimeter di atas tombol Kirim ke kontak Maudy. "Kalau aku kirim sekarang, apa yang terjadi?Bu Mau
Mobil yang dikendarai Ayah dan Ibu Maudy melaju menembus kesunyian malam. Namun suasana di dalamnya jauh dari kata tenang. Begitu gang sempit kontrakan Bayu menghilang dari spion, Ibu Maudy tiba-tiba melepaskan pegangan di pelipisnya. Ia duduk tegak, napasnya kembali teratur, dan sorot matanya yang
"Eh, Mbak Lyra juga," lanjut Bayu menatap Lyra dengan wajah polos yang menyebalkan. "Lipstiknya agak berantakan sedikit di sudut kiri. Mungkin tadi di mobil kena guncangan ya? Maklum, jalanan di sini memang tidak semulus janji-janji lelaki.""Kamu... kamu lancang ya!" desis Lyra, wajahnya merah







