Mag-log inHalo pembaca semua… Sembari menunggu kisah Bayu dan Maudy, bisa baca novel rekomendasi Author. Judulnya: "Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya". Karya : Author Callme_Tata. dan "Suntik Aku Mas Dokter!" Karya : Author NFLusica Terima kasih.
Tranfusi darah berjalan dengan baik. Beberapa waktu kemudian, Kesadaran Cindy kembali setetes demi setetes, membawa serta rasa nyeri yang berdenyut di lengan atasnya. Dia mengerang pelan, merasakan tubuhnya begitu lemas seolah seluruh energinya telah habis terkuras. Saat pandangannya mulai fokus, dia mendapati dirinya dikelilingi oleh orang-orang yang ia kenal. Ada Bayu yang berdiri dengan wajah kaku di ujung ranjang, Ibunya yang duduk di kursi samping dengan mata sembab, dan Maudy yang berdiri sedikit menjauh dengan wajah pucat namun tetap tenang. “Akhirnya kamu siuman Cindy,” ucap Ibunya dengan raut wajah yang penuh kelegaan. “Iya Bu,” jawab Cindy pelan. Ingatan tentang kejadian di kantor seketika berputar di kepala Cindy seperti potongan film. Dia ingat gunting itu, dia ingat teriakan Bayu, dan dia juga ingat tujuannya melakukan hal nekat itu. Yakni untuk membuat Bayu merasa bersalah dan berpaling padanya. Dengan suara yang parau dan dibuat serapuh mungkin, Cindy mulai mer
Setelah beberapa waktu berlalu, Pintu ruang tindakan akhirnya berderit terbuka, memecah keheningan koridor yang terasa mencekam sejak tadi. Dokter keluar dengan wajah yang sedikit lebih rileks, diikuti oleh Maudy yang melangkah perlahan. Wajah Maudy tampak pucat, langkahnya sedikit gontai, tapi sorot matanya memancarkan kelegaan yang tulus."Proses pengambilan darah sudah selesai. Darah ini akan segera kami proses di laboratorium untuk tahap skrining akhir sebelum dimasukkan ke tubuh pasien. Mohon tunggu sebentar lagi,” ujar Dokter kepada Bayu dan Ibu angkatnya.Bayu segera menghampiri Maudy, merangkul bahunya dengan protektif dan membantunya duduk di kursi tunggu. Namun, sebelum Bayu sempat mengucapkan sepatah kata pun, Ibu angkatnya bangkit berdiri. Dengan langkah ragu dan tangan yang masih gemetar, wanita tua itu mendekati Maudy.Maudy mendongak, menatap wajah wanita yang telah merawat Bayu itu dengan pandangan lembut. Dia segera berdiri meski kepalanya sedikit pening.“Nak Maud
Lorong rumah sakit itu terasa begitu panjang dan sunyi, hanya menyisakan deru halus mesin pendingin ruangan dan langkah kaki perawat yang sesekali melintas. Di sebuah deretan kursi tunggu yang keras, Bayu duduk bersisian dengan Ibu angkatnya. Keduanya terdiam, menatap pintu ruang tindakan yang tertutup rapat, di mana di baliknya, Maudy sedang mempertaruhkan staminanya untuk memberikan napas kehidupan bagi Cindy.Ibu angkat Bayu terus meremas sapu tangan di genggamannya. Matanya yang sembab menatap kosong ke lantai marmer yang dingin. Setelah beberapa saat dalam keheningan yang menyesakkan, ia perlahan menoleh ke arah Bayu, memecah kesunyian dengan suara yang serak."Nak Bayu...Siapa sebenarnya wanita itu? Wanita yang tadi dengan begitu tulus menawarkan darahnya untuk Cindy? Ibu... Ibu merasa sangat berhutang nyawa padanya. Di saat stok darah kosong dan Ibu tidak berdaya, dia datang seperti malaikat. Dan sebenarnya, apa yang sudah terjadi pada Cindy sampai kondisinya seperti ini?” ta
Ruangan medis yang semula hanya penuh dengan ketegangan emosional, seketika berubah menjadi hiruk-pikuk yang mencekam saat tubuh Cindy tiba-tiba terkulai lemas dan tidak sadarkan diri. Cengkeraman tangannya yang semula begitu kuat pada lengan Bayu perlahan mengendur, jemarinya jatuh terkulai di atas sprai putih yang kini ternoda merah."Cindy, bangun Cindy!” teriak Ibunya sambil menepuk pelan pipi Cindy yang kini pucat pasi layaknya kertas.“Cindy, cindy..!” Bayu pun tak kalah panik.Dokter segera memeriksa denyut nadi dan pupil matanya. Semua berharap semua akan baik baik saja.“Gimana keadaannya Dok?” tanya Bayu. "Pasien kehilangan terlalu banyak darah dan mengalami syok hipovolemik. Dia pingsan. Kita tidak bisa menunda lagi, dia butuh transfusi darah segera!" Seru sang Dokter.Lantai rumah sakit yang dingin seolah bergetar di bawah kaki Bayu. Ia menoleh ke arah Dokter dengan wajah yang kaku. Dia tau sejak awal jika golongan darahnya dengan Cindy berbeda. Meski dia kesal dengan
“Mas, sakit Mas Bayu….” teriak Cindy selama perjalanan menuju ke Rumah Sakit. “Tahan Cindy. Lain kali, jangan coba mengulangi tindakan bodoh seperti ini,” sahut Bayu. Di tengah kepanikannya, dia masih berusaha untuk menasehati Cindy. Setelah melakukan perjalanan selama beberapa menit, mereka akhirnya tiba di Rumah Sakit. Bau antiseptik yang tajam menusuk indra penciuman saat mereka berada di dalam ruang tindakan yang serba putih. Suasana begitu mencekam, hanya didominasi oleh rintihan kecil Cindy yang sesekali pecah saat perawat mulai membersihkan luka robek di lengannya. Cindy tampak sangat pucat, keringat dingin membasahi dahi dan pelipisnya. Sejak tadi jemarinya mencengkeram tangan kanan Bayu dengan kekuatan yang luar biasa, seolah-olah jika dia melepaskannya sedikit saja, dia akan tenggelam dalam kegelapan. Maudy berdiri mematung di sudut ruangan, hanya beberapa langkah dari ranjang tindakan. Menyaksikan pemandangan itu, ada rasa sesak yang perlahan merayapi dadanya. DIa men
Kepanikan yang luar biasa meledak dalam sekejap mata. Ruangan yang tadinya menjadi saksi bisu perdebatan emosional itu kini berubah menjadi tempat kejadian perkara yang mengerikan. Bayu tidak membuang waktu lagi. Dia segera melepas jasnya, melilitkannya dengan kencang pada lengan Cindy yang terus mengeluarkan darah segar untuk menghambat pendarahan.Tanpa memedulikan noda merah yang kini mengotori kemeja putihnya sendiri, Bayu mengangkat tubuh Cindy yang mulai lemas ke dalam dekapannya."Maudy, buka pintunya! Cepat!" perintah Bayu dengan suara yang bergetar namun penuh otoritas.Maudy, dengan wajahnya yang pucat pasi dan tangannya masih gemetar hebat, segera berlari membukakan pintu. Mereka berdua menerobos kerumunan karyawan yang memenuhi koridor dengan wajah penuh tanda tanya dan ketakutan. Bayu melangkah lebar, mengabaikan bisik-bisik yang mulai menjalar seperti api di atas rumput kering, menuju lift khusus petinggi perusahaan.Di dalam lift yang bergerak turun dengan cepat, su
Suasana kamar itu mendadak sunyi sesenyap kuburan. Lyra, yang sedari tadi berdiri di sudut ruangan, hampir saja memekik kegirangan mendengar keputusan perceraian Maudy dan Rio. Di dalam otaknya, dia sudah membayangkan dirinya menjadi nyonya besar dengan cara yang terhormat di rumah itu, menggantika
Amarah yang sudah mencapai ubun-ubun membuat Rio benar-benar kehilangan akal sehatnya. Ia menyambar sebuah vas bunga kristal yang ada di atas nakas dan dengan gerakan membabi buta menghantamkannya ke arah Bayu.Prang!Vas itu hancur berkeping-keping. Bayu tidak sempat menghindar sepenuhnya, dan p
"Eh, Mbak Lyra juga," lanjut Bayu menatap Lyra dengan wajah polos yang menyebalkan. "Lipstiknya agak berantakan sedikit di sudut kiri. Mungkin tadi di mobil kena guncangan ya? Maklum, jalanan di sini memang tidak semulus janji-janji lelaki.""Kamu... kamu lancang ya!" desis Lyra, wajahnya merah
Keheningan di kamar hotel itu terasa begitu pekat, seolah oksigen di ruangan itu telah habis tersedot oleh pengakuan mengerikan yang baru saja terlontar. Maudy masih mematung di tepi ranjang. Tatapannya kosong, tertuju pada foto yang tergeletak di lantai. Foto yang kini tampak seperti potongan bukt







