Compartir

Bab 225

Autor: Kak Han
last update Fecha de publicación: 2026-05-06 22:41:39

Malam itu, kamar Cindy terasa lebih sempit dari biasanya. Cahaya lampu meja yang remang hanya mampu menerangi sebagian kecil ruangan, sementara sisa ruangan lainnya dibiarkan tenggelam dalam kegelapan. Persis seperti kondisi pikiran Cindy saat ini. Ia berbaring telentang, menatap langit-langit plafon dengan mata yang terjaga sepenuhnya. Jarum jam dinding berdetak dengan suara yang seolah sengaja mengejek keheningan hatinya.

​Pikiran Cindy terus berputar pada kata-kata Lyra di kafe tadi sore.

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 227

    Pagi itu, sinar matahari yang menerobos masuk melalui celah jendela kamar Cindy terasa lebih menyengat dari biasanya. Cindy berdiri di depan cermin besar, menatap pantulan dirinya yang tampak pucat dengan lingkaran hitam di bawah mata. Sebuah jejak dari malam panjang yang penuh pergolakan batin. Tangannya gemetar saat dia memulas lipstik, mencoba menutupi kegelisahan yang merayap di balik pori-porinya.​Keputusan sudah diambil. Logikanya telah kalah oleh obsesi yang ditiupkan Lyra. Dia akan melancarkan aksi itu. Dia akan menjerat Bayu ke dalam situasi yang tak mungkin bisa pria itu tolak. Dalam benaknya, dia sudah menyusun rencana untuk mengajak Bayu merayakan kembalinya dia bekerja dengan alasan permohonan maaf atas kegaduhan yang dibuat Rio kemarin.​Namun, saat dia melangkah ke ruang makan untuk berpamitan, langkahnya terhenti. Di atas meja, sudah tersedia dua buah kotak bekal yang dibungkus dengan rapi. Ibunya sedang sibuk merapikan dua bekal tersebut dengan senyum yang tulus, sen

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 226

    Di sebuah bar yang tersembunyi di sudut kota, Rio duduk sendirian dengan segelas minuman keras yang sudah hampir tandas. Cahaya lampu neon yang berkedip-kedip memantul di matanya yang memerah, memperlihatkan gurat keputusasaan sekaligus dendam yang membara. Amarahnya bukannya padam setelah diusir dari kantor Bayu. sebaliknya, rasa malu itu terus menggerogoti dadanya seperti api yang disiram bensin.​Setiap kali dia teringat wajah tenang Bayu dan tatapan muak Maudy, tangannya akan mencengkeram erat gelas kaca itu. Bagi Rio, kehilangan harta adalah satu hal, tapi melihat Maudy, hidup bahagia dengan musuh bebuyutannya adalah penghinaan yang tidak bisa dia toleransi. Bukan karena dia masih menyukai Maudy, melainkan karena harga diri.​Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, dia merogoh ponselnya dan menghubungi Lyra. Begitu panggilan tersambung, Rio tidak lagi menggunakan basa-basi.​"Lyra! Ada hal penting yang mau aku bicaranya dengan kamu!!" geram Rio, suaranya serak dan berat dari s

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 225

    Malam itu, kamar Cindy terasa lebih sempit dari biasanya. Cahaya lampu meja yang remang hanya mampu menerangi sebagian kecil ruangan, sementara sisa ruangan lainnya dibiarkan tenggelam dalam kegelapan. Persis seperti kondisi pikiran Cindy saat ini. Ia berbaring telentang, menatap langit-langit plafon dengan mata yang terjaga sepenuhnya. Jarum jam dinding berdetak dengan suara yang seolah sengaja mengejek keheningan hatinya.​Pikiran Cindy terus berputar pada kata-kata Lyra di kafe tadi sore. “Korbankan harga dirimu!” bisikan itu terngiang seperti kaset rusak di telinganya.​Di satu sisi, ada sebuah letupan ego yang membakar dadanya. Bayangan jika suatu saat dia terbangun di samping Bayu, dan Bayu terpaksa menjadi miliknya karena ikatan tanggung jawab, terasa seperti kemenangan yang selama ini dia impikan. Dia membayangkan wajah Maudy yang hancur, yang akan pergi menjauh karena kecewa dan jijik pada Bayu. Itulah skenario yang membuat Cindy tersenyum tipis dalam kegelapan.​Namun, di d

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 224

    Langkah Lyra ternyata jauh lebih panjang dan berkelok dari yang pernah dibayangkan oleh Bayu maupun Maudy. Setelah tembok pertahanan Ibu Maudy terbukti terlalu kokoh untuk ditembus dengan uang, Lyra memutar otak mencari titik terlemah dalam lingkaran hidup Bayu. Dan di sanalah ia menemukannya, yakni seorang gadis muda yang hatinya sedang terbakar api cemburu dan obsesi yang tak kunjung padam pada Bayu. Dia adalah adik angkat Bayu, Cindy.​Sore itu, Lyra sengaja menunggu di sebuah kafe kecil yang tak jauh dari rumah sakit tempat Cindy biasa lewat. Dengan penampilan yang tetap elegan namun lebih tertutup agar tidak menarik perhatian, Lyra memperhatikan Cindy yang berjalan gontai, wajahnya masih menyiratkan kesedihan yang mendalam.​"Cindy?" sapa Lyra dengan nada suara yang dibuat selembut mungkin saat gadis itu melintas di depan mejanya.​Cindy menoleh, dahinya berkerut menatap wanita yng tidak asing yang tampak sangat berkelas di depannya. "Iya? Siapa ya?" sahut Cindy sambil mengingat

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 223

    Gagal di kantor Bayu tak lantas membuat Lyra menyerah begitu saja. Di dalam otaknya yang penuh intrik, dia masih menyimpan satu kartu yang dia yakini bisa menjadi celah. Yakni Ibu Maudy. Lyra mengingat betul bagaimana wanita tua itu dulu begitu memuja kekayaan dan kedudukan Rio. Baginya, Ibu Maudy adalah sosok yang mudah dibeli, seseorang yang akan bertekuk lutut jika disodorkan tumpukan uang di depan matanya.​Siang itu, Lyra mendatangi kediaman Ibu Maudy saat Maudy belum pulang kerja. Dia sengaja membawa aura kemewahan, mengenakan perhiasan yang mencolok untuk memancing naluri lama wanita itu. Begitu dipersilakan masuk, Lyra duduk dengan anggun di ruang tamu, memperhatikan setiap sudut rumah yang kini tampak lebih rapi dan nyaman berkat bantuan Bayu.​"Ada angin apa Nak Lyra datang kemari?" tanya Ibu Maudy lembut sembari menyajikan teh hangat.​Lyra tersenyum manis, senyum yang penuh akan maksud tersembunyi. "Saya hanya rindu, Bu. Sekaligus ingin menawarkan sebuah jalan keluar yan

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 222

    Lyra menyadari bahwa menyerang Bayu secara logika hukum adalah jalan buntu. Pria itu terlalu kokoh, terlalu rapi dalam menyusun pertahanannya. Maka, dia mengalihkan sasarannya.Tujuannya kini beralih pada sosok Maudy yang masih duduk di sofa. Lyra akan pergi sejenak. Lalu dia akan kembali menemui Maudy di ruangannya.Satu jam kemudian, ​Maudy merasakan kehadiran Lyra yang mendekat. Dia mendongak, matanya dengan tegas menatap wanita yang dulu dia anggap sebagai penolong,tapi ternyata tetaplah menjadi serigala berbulu domba seperti yang dulu.​"Ngapain kamu ke sini, Lyra? Mau menculikku lagi? Belum cukup kejadian di gudang kemarin membuatmu puas?" tanya Maudy dengan suara yang pelan tapi lebih tenang dalam menanggapi Lyra.​Lyra menarik napas panjang, lalu duduk di kursi tunggal tepat di hadapan Maudy. Dia memasang raut wajah yang tampak prihatin, sebuah topeng yang sudah sangat mahir dia kenakan selama bertahun-tahun.​"Kamu salah sangka, Maudy. Aku ke sini bukan untuk berdebat atau me

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 48

    ​"Eh, Mbak Lyra juga," lanjut Bayu menatap Lyra dengan wajah polos yang menyebalkan. "Lipstiknya agak berantakan sedikit di sudut kiri. Mungkin tadi di mobil kena guncangan ya? Maklum, jalanan di sini memang tidak semulus janji-janji lelaki."​"Kamu... kamu lancang ya!" desis Lyra, wajahnya merah

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 42

    Keheningan di kamar hotel itu terasa begitu pekat, seolah oksigen di ruangan itu telah habis tersedot oleh pengakuan mengerikan yang baru saja terlontar. Maudy masih mematung di tepi ranjang. Tatapannya kosong, tertuju pada foto yang tergeletak di lantai. Foto yang kini tampak seperti potongan bukt

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 41

    Lampu kamar hotel yang redup seolah menambah berat atmosfer di antara mereka. Maudy duduk di tepi ranjang dengan napas yang tertahan, matanya menatap tajam ke arah Bayu yang masih berdiri mematung di dekat jendela. Keheningan itu terasa mencekik, hanya terdengar deru halus pendingin ruangan yang ti

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 18

    Maudy hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan Bayu, lalu beralih menatap Lyra dengan raut wajah tidak enak hati. "Maaf ya, Lyra. Bayu memang begitu, dia OB yang sedikit bandel di sini. Jangan dimasukkan ke hati ucapan lancangnya tadi," ucap Maudy meminta maaf pada Lyra. ​Lyra hanya tertawa k

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status