LOGINLangkah Lyra ternyata jauh lebih panjang dan berkelok dari yang pernah dibayangkan oleh Bayu maupun Maudy. Setelah tembok pertahanan Ibu Maudy terbukti terlalu kokoh untuk ditembus dengan uang, Lyra memutar otak mencari titik terlemah dalam lingkaran hidup Bayu. Dan di sanalah ia menemukannya, yakni seorang gadis muda yang hatinya sedang terbakar api cemburu dan obsesi yang tak kunjung padam pada Bayu. Dia adalah adik angkat Bayu, Cindy.Sore itu, Lyra sengaja menunggu di sebuah kafe kecil yang tak jauh dari rumah sakit tempat Cindy biasa lewat. Dengan penampilan yang tetap elegan namun lebih tertutup agar tidak menarik perhatian, Lyra memperhatikan Cindy yang berjalan gontai, wajahnya masih menyiratkan kesedihan yang mendalam."Cindy?" sapa Lyra dengan nada suara yang dibuat selembut mungkin saat gadis itu melintas di depan mejanya.Cindy menoleh, dahinya berkerut menatap wanita yng tidak asing yang tampak sangat berkelas di depannya. "Iya? Siapa ya?" sahut Cindy sambil mengingat
Gagal di kantor Bayu tak lantas membuat Lyra menyerah begitu saja. Di dalam otaknya yang penuh intrik, dia masih menyimpan satu kartu yang dia yakini bisa menjadi celah. Yakni Ibu Maudy. Lyra mengingat betul bagaimana wanita tua itu dulu begitu memuja kekayaan dan kedudukan Rio. Baginya, Ibu Maudy adalah sosok yang mudah dibeli, seseorang yang akan bertekuk lutut jika disodorkan tumpukan uang di depan matanya.Siang itu, Lyra mendatangi kediaman Ibu Maudy saat Maudy belum pulang kerja. Dia sengaja membawa aura kemewahan, mengenakan perhiasan yang mencolok untuk memancing naluri lama wanita itu. Begitu dipersilakan masuk, Lyra duduk dengan anggun di ruang tamu, memperhatikan setiap sudut rumah yang kini tampak lebih rapi dan nyaman berkat bantuan Bayu."Ada angin apa Nak Lyra datang kemari?" tanya Ibu Maudy lembut sembari menyajikan teh hangat.Lyra tersenyum manis, senyum yang penuh akan maksud tersembunyi. "Saya hanya rindu, Bu. Sekaligus ingin menawarkan sebuah jalan keluar yan
Lyra menyadari bahwa menyerang Bayu secara logika hukum adalah jalan buntu. Pria itu terlalu kokoh, terlalu rapi dalam menyusun pertahanannya. Maka, dia mengalihkan sasarannya.Tujuannya kini beralih pada sosok Maudy yang masih duduk di sofa. Lyra akan pergi sejenak. Lalu dia akan kembali menemui Maudy di ruangannya.Satu jam kemudian, Maudy merasakan kehadiran Lyra yang mendekat. Dia mendongak, matanya dengan tegas menatap wanita yang dulu dia anggap sebagai penolong,tapi ternyata tetaplah menjadi serigala berbulu domba seperti yang dulu."Ngapain kamu ke sini, Lyra? Mau menculikku lagi? Belum cukup kejadian di gudang kemarin membuatmu puas?" tanya Maudy dengan suara yang pelan tapi lebih tenang dalam menanggapi Lyra.Lyra menarik napas panjang, lalu duduk di kursi tunggal tepat di hadapan Maudy. Dia memasang raut wajah yang tampak prihatin, sebuah topeng yang sudah sangat mahir dia kenakan selama bertahun-tahun."Kamu salah sangka, Maudy. Aku ke sini bukan untuk berdebat atau me
Setelah beberapa jam yang lalu Lantai eksekutif menjadi tenang setelah amukan Rio, kini kembali terusik oleh ketukan langkah sepatu hak tinggi yang beradu tajam dengan lantai granit. Lyra melangkah masuk dengan aura yang berbeda. Jika Rio datang dengan kemarahan yang membabi buta, Lyra datang dengan kedinginan yang menusuk. DIa tidak butuh berteriak untuk menunjukkan bahwa ia sedang murka.Tanpa menunggu asisten Bayu menyapa, Lyra langsung mendorong pintu ruangan komisaris. Dia mendapati Bayu masih berdiri di dekat meja kerjanya, sementara Maudy duduk di sofa panjang dengan raut wajah yang masih pucat."Permainan yang sangat cantik, Bayu! Aku tidak menyangka pria seterhormat kamu bisa bermain curang seperti ini. Memalsukan tanda tangan? Membiarkan kami merasa menang hanya untuk menjatuhkan kami ke jurang yang paling dalam? Itu sangat... menjijikkan!” seru Lyra dengan suaranya halus tapi mengandung bisa. Dia lalu berjalan mendekat ke arah meja Bayu, melemparkan tas bermereknya ke ata
Keheningan yang ditinggalkan Rio terasa begitu berat, menyelimuti ruangan luas itu seperti kabut tebal setelah badai berlalu. Maudy masih berdiri terpaku di dekat jendela, kedua tangannya saling meremas dengan jari-jari yang memucat. Suara makian Rio yang tadi menggema di lorong seolah masih terngiang di telinganya, meninggalkan getaran kecemasan yang merayap dari ujung kaki hingga ke dadanya.Maudy menarik napas panjang, tapidadanya terasa sesak. Ia memutar tubuhnya perlahan, menatap Bayu yang kini kembali duduk dengan sangat tenang di kursi kebesarannya, seolah-olah baru saja menyelesaikan percakapan ringan tentang cuaca, bukan sebuah konfrontasi hidup dan mati."Bayu… kamu dengar apa yang dia katakan tadi? Dia tidak akan pernah melepaskanku. Dia akan mempersulit semuanya,” cemas Maudy dengan suara yang terdengar lirih. “Tenang sayang. Kamu tidak perlu cemas begitu,” sahut Bayu sambil menatap ke arah Maudy.Maudy pun melangkah mendekat ke meja kerja Bayu, matanya yang berkaca-ka
Ruangan komisaris yang luas itu mendadak terasa sempit akibat energi negatif yang dibawa Rio. Napas pria itu terdengar pendek-pendek dan berat, seperti seekor binatang buruan yang terpojok, tapi masih mencoba menunjukkan taringnya yang sudah tumpul. Dia berdiri di depan meja Bayu dengan tangan yang masih gemetar karena amarah, sementara matanya yang memerah menatap tajam ke arah map yang tersimpan di laci meja.“Cepat berikan surat cerai itu, atau aku akan bertindak gila yang tidak pernah kamu duga!” ancam Rio.Bayu tidak menunjukkan reaksi yang diharapkan Rio. Dia tidak panik, tidak marah, dan tidak pula terkejut. Dengan gerakan yang sangat lambat dan teratur, Bayu merapikan letak pulpen di atas mejanya, lalu menyilangkan tangan di depan dada. Dia menatap Rio seolah sedang mengamati sebuah fenomena yang menyedihkan, tapi menarik untuk dipelajari."Sudah aku katakan tadi, Rio. Kamu terlambat. Surat itu tidak lagi ada di gedung ini. Begitu kemarin aku melangkah keluar dari gedung pen
Lampu kamar hotel yang redup seolah menambah berat atmosfer di antara mereka. Maudy duduk di tepi ranjang dengan napas yang tertahan, matanya menatap tajam ke arah Bayu yang masih berdiri mematung di dekat jendela. Keheningan itu terasa mencekik, hanya terdengar deru halus pendingin ruangan yang ti
Maudy hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan Bayu, lalu beralih menatap Lyra dengan raut wajah tidak enak hati. "Maaf ya, Lyra. Bayu memang begitu, dia OB yang sedikit bandel di sini. Jangan dimasukkan ke hati ucapan lancangnya tadi," ucap Maudy meminta maaf pada Lyra. Lyra hanya tertawa k
Pagi itu, Bayu datang terlambat. Dia sedikit berlari menuju pintu masuk. Langkah kaki Bayu terhenti di lobi utama gedung perkantoran mewah itu saat Jam di dinding sudah menunjukkan pukul delapan lewat tiga puluh menit. Sebuah rekor keterlambatan baginya yang biasanya selalu datang paling awal. Pikir
Bayu menepi di bawah pohon rindang yang agak jauh dari butik itu. Ia menatap layar ponselnya yang menampilkan foto Rio tengah tertawa mesra bersama wanita itu. Jarinya gemetar, berada hanya beberapa milimeter di atas tombol Kirim ke kontak Maudy. "Kalau aku kirim sekarang, apa yang terjadi?Bu Mau







