Share

Bab 77

Author: Kak Han
last update publish date: 2026-03-24 11:41:10

“Tenang Maudy. Jangan panik,” bisik Bayu berusaha menenangkan Maudy. Tapi setelah itu Bayu perlahan melepaskan genggaman tangan Maudy. Ia berdiri dengan tenang. Akan tetapi aura yang terpancar dari tubuhnya mendadak berubah. Tidak ada lagi kelembutan yang ia tunjukkan pada Maudy tadi. Karena yang tersisa hanyalah tatapan sedingin es yang menghujam langsung ke manik mata Rio.

​Tanpa memedulikan tatapan sinis Ibu Maudy atau kehadiran dua pengawal Rio yang siap menyerangnya, Bayu melangkah maju. I
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 100

    Suasana di dalam ruang perawatan itu mendadak berubah menjadi panggung sandiwara yang menjijikkan. Rio, yang sempat pucat karena cengkeraman tangan Bayu, tiba-tiba menyeringai licik. Dengan gerakan tangkas, dia merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponsel pintar model terbaru miliknya. Hanya dengan beberapa ketukan cepat, ia menyalakan fitur siaran langsung di akun media sosialnya yang memiliki ribuan pengikut.​"Lihat ini semua! Lihat wajah pria yang katanya miliarder baru ini! Dunia harus tahu siapa Bayu sebenarnya. Dia bukan pahlawan! Dia hanyalah mantan OB rendahan di perusahaanku yang lancang telah meniduri istri bosnya sendiri. Yakni istriku!” seru Rio dengan nada suara yang sengaja dikeraskan, mengarahkan kamera ponselnya tepat ke wajah Bayu yang sedang murka​Bayu tidak melepaskan cengkeramannya, tapi matanya menatap lensa kamera itu dengan sorot yang dingin dan mematikan. Para pengawal Bayu bergerak maju. Namun Rio justru semakin berani, ia sengaja memutar sudut pandang ka

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 99

    Belum sampai Rio dan Ibu mertuanya pergi, terdengar derap langkah kaki yang mantap dan berwibawa di koridor rumah sakit. Pintu ruangan terbuka lebar dengan sentakan kasar, memperlihatkan sosok Bayu yang berdiri tegak dengan setelan jas hitam rapi yang membalut tubuh tegapnya. Di belakangnya, beberapa pria berbadan besar dengan ekspresi wajah dingin berjaga dengan waspada, menciptakan aura intimidasi yang seketika membungkam ruangan tersebut.​Bayu memang tidak pernah benar-benar pergi. Meski Maudy tidak diperkenankan bertemu dengannya sejak pemakaman ayahnya, Bayu tetap menempatkan orang-orang terbaiknya untuk mengawasi setiap gerak-gerik di sekitar rumah itu dari kejauhan. Begitu Bayu mendapat laporan jika Maudy keluar dengan terburu-buru menuju rumah sakit, Bayu langsung memacu mobilnya, menembus kemacetan demi memastikan wanita yang ia cintai baik-baik saja.​Melihat Bayu yang tiba-tiba hadir seperti pahlawan di tengah keputusasaannya, pertahanan Maudy runtuh sepenuhnya. Tanpa meme

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 98

    Bau karbol yang menyengat di ruang pemeriksaan UGD seolah mencekik pernapasan Maudy. Ia terbaring lemah di atas brankar dengan wajah sepucat kertas, sementara dokter spesialis kandungan yang menanganinya baru saja meletakkan stetoskop dan melepas sarung tangan karetnya. Suasana ruangan itu sunyi, hanya diiringi suara detak jam dinding yang terasa menghujam jantung Maudy.​"Bagaimana, Dokter? Bagaimana dengan kondisi Anak saya…?" tanya Maudy dengan suara bergetar, dan nyaris tidak terdengar.​Dokter paruh baya itu menghela napas panjang, menatap Maudy dengan tatapan prihatin yang mendalam. "Pendarahannya cukup serius, Bu Maudy. Beruntung janin Anda masih bisa dipertahankan. Namun kondisinya sangat lemah.” jawab sang Dokter. Maudy terdiam. Pikirannya tidak karuan. Lalu dia kembali bertanya pada Dokter tersebut.“Apa penyebabnya Dok?” tanya Maudy untuk meyakinkan pikirannya. Meski dia sudah menduga itu terjadi karena ulah Rio semalam.“Dari hasil pemeriksaan, pendarahan ini dipicu oleh

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 97

    Cahaya matahari pagi yang menyeruak masuk melalui celah gorden tidak membawa kehangatan bagi Maudy. Tubuhnya terasa kaku dan sendi-sendinya linu, sisa dari pergulatan batin dan fisik semalam yang menghancurkan harga dirinya. Dengan gerakan pelan dan hati yang berat, ia menyeret langkahnya menuju kamar mandi, berharap air dingin bisa sedikit membasuh rasa sesak yang masih tertinggal.​Namun, saat ia sedang membersihkan diri, dunianya seolah berhenti berputar. Matanya membelalak menatap bercak cairan merah kecokelatan yang menodai pakaian dalamnya, bahkan ada yang masih mengalir deras. Jantung Maudy berdegup kencang, menghantam rongga dadanya dengan ritme yang tak beraturan. Rasa dingin menjalar dari ujung kaki hingga ke kepalanya.​"Ya Tuhan, apa yang terjadi?... tolong jangan biarkan terjadi apa apa pada anakku," bisik Maudy dengan suara yang nyaris hilang. ​Pikiran pertamanya adalah Bayu. Hanya Bayu yang ia inginkan saat ini. Dengan tangan gemetar dan napas tersengal, ia keluar dari

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 96

    Rio bergerak dengan penuh ambisi, mencoba mendominasi setiap inci tubuh Maudy yang kaku bagai es. Ada ego yang besar di dalam dada Rio malam itu. Dia bukan hanya ingin mengambil haknya, tetapi dia ingin membuktikan bahwa dia jauh lebih hebat dari Bayu dalam segala hal, termasuk di atas ranjang.​Rio menyentuh Maudy dengan gerakan yang sengaja dibuat lambat, mencoba meniru kelembutan yang mungkin pernah diberikan Bayu. Rio memperhatikan setiap nafas Maudy, mencoba mempelajari titik lemah istrinya, seolah sedang melakukan sebuah eksperimen kompetitif. Dia ingin Maudy mendesah, ingin Maudy mengakui kehebatannya, dan ingin menghapus bayang-bayang Bayu dari ingatan istrinya.​"Lihat aku, Maudy. Lihat, siapa yang sedang bersamamu sekarang? Bukan pelayan rendahan itu, tapi suamimu,” bisik Rio dengan suara serak yang dipaksakan.​Maudy tetap memalingkan wajahnya ke samping, menatap gorden jendela yang tertiup angin kecil. Matanya kosong, tidak ada kilat gairah, yang ada hanyalah genangan air

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 95

    ​Maudy menoleh, matanya berkaca-kaca karena kecewa, tertekan dan juga bercampur amarah. "Kamu bukan kepala keluarga di sini. Kamu hanya menumpang di sini, Rio! Ini rumah Bapak. Kamu tidak punya hak untuk mengaturku!" tegas Maudy.​Rio terkekeh tipis, sebuah tawa yang terdengar sangat meremehkan tudingan Maudy. "Menumpang? Sebutlah sesukamu. Tapi faktanya, Ibumu yang memintaku tinggal di sini. Beliau memercayakan keselamatanmu dan martabat keluarga ini padaku. Apa kamu tega menghancurkan satu-satunya harapan yang membuat Ibu tetap kuat setelah pemakaman kemarin? Atau, kamu ingin melihat Ibumu juga menyusul untuk di makamkan?” ujar ​Rio sambil menatap Maudy dengan pandangan yang mengunci.“Jangan bicara sembarangan! Setelah kamu menghilangkan nyawa orang tua Bayu, lalu nyawa Bapakku, tidak aku biarkan kamu merenggut nyawa Ibuku!” bentak Maudy. Dia memang kesal pada Ibunya yang memihak pada Rio. Tapi Maudy yakin Ibunya hanya masih buta pada kebenaran saja. "Baiklah, jika kamu menola

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status