Seluruh pembawaannya seolah berteriak, "Akulah penguasa segalanya di sini, pemimpin absolut yang tak tertandingi."
Aku segera menundukkan kepala dengan tubuh gemetar.
Walaupun aku tidak memiliki roh serigala betina di dalam diriku, namun kekuatan yang terpancar dari pria itu terasa seperti bisa mencekik dan menghancurkan jiwa, padahal dia tidak berdiri dekat denganku.
Dia adalah seorang Lycan, ras manusia serigala tertinggi dan superior, bentuk evolusi paling sempurna, dan aku hampir yakin bahwa dia adalah yang terkuat dari mereka semua, Adrian Tarore, Sang Raja.
"Sania, buang sampah itu dan pastikan pelayan pribadiku selanjutnya bukan seorang pelacur yang penuh muslihat, kalau tidak, dia akan kehilangan lebih dari sekadar kepalanya." Suaranya yang berat, dingin, dan mengintimidasi bergema di ruangan, dan diikuti oleh suara langkah kaki yang menjauh.
"Ini benar-benar bencana. Ini sudah yang kelima dalam dua bulan ini. Aku tidak tahu apa yang ada di kepala gadis-gadis itu. Padahal aku sudah memperingatkan mereka," gerutu kepala pelayan sembari mendekat, lalu menarik sebuah botol kecil dari tangan mayat wanita itu.
"Satu lagi yang mencoba membius Tuan Adrian dengan obat perangsang. Dasar wanita bodoh! Aku akan memanggil pelayan untuk membawa mayatnya pergi. Dan tugas pertamamu dimulai sekarang, bersihkan kekacauan ini."
Dan begitulah, pekerjaanku di istana Raja Adrian dimulai dengan membersihkan darah segar dari lantai.
Pelajaran pertama yang kupelajari adalah jangan pernah sekali pun mencoba mengganggu pria berbahaya itu atau kau akan berakhir tanpa kepala.
Sayangnya, aku segera mendapati diriku yang sudah Kembali, berada di ujung tanduk.
…
Sania memperkenalkanku kepada para staf, sekelompok serigala betina dan jantan yang bekerja di istana untuk melayani para Pelindung Suci.
Mereka semua menatapku seolah-olah sedang melihat monster.
Aku tidak peduli, aku hanya ingin terus hidup dan tetap tak terlihat oleh siapa pun.
Para Pelindung Suci, itulah sebutan untuk kelima Lycan yang tinggal di istana kuno dan gelap ini.
Mereka menegakkan hukum di dunia, atau setidaknya hukum yang mengikat seluruh bangsa manusia serigala, demi menjaga keseimbangan dengan makhluk supernatural lainnya.
Mereka memberikan keadilan, perlindungan, dan sekaligus hukuman … seringkali dengan cara yang paling brutal dan tanpa ampun, terutama Sang Raja.
Setidaknya, itulah cerita yang selalu kudengar selama ini.
Aku dilarang menaiki tangga atau berkeliaran di luar area pelayanan. Dan jujur saja, aku pun tidak berniat sama sekali untuk mencobanya.
Aku fokus bekerja dan menyembuhkan diri dengan ramuan obat yang diberikan kepala pelayan.
Makanan di sini juga enak.
Kecuali pada hari pertama, aku telah melewati tiga hari tanpa melihat satu pun Pelindung Suci lainnya.
Sampai pagi ini.
...
"Hei, kudengar kepala pelayan masih belum menemukan kandidat yang cocok untuk pelayan pribadi Raja. Mungkin dia akan memberikan kita kesempatan itu."
Aku sedang berlutut menggosok lantai sambil mendengarkan bisik-bisik yang bergema di dapur besar istana. Kepalaku tetap tertunduk, dan poni hitam panjangku hampir menutupi mata, sangat membantu untuk menyembunyikan cacat di wajahku.
Tanganku terus menggerakkan kain lap di atas ubin, tetapi mengabaikan gosip itu adalah hal yang mustahil.
Tiba-tiba, ruangan menjadi hening seketika. Suara sepatu hak tinggi bergema dari lorong, dan ketegangan langsung memenuhi udara, itu adalah kepala pelayan.
"Hentikan semua tugas kalian. Aku ingin kalian semua berbaris," perintahnya dengan suara tajam. Para juru masak, pelayan, dan bahkan aku, si petugas kebersihan rendahan, semua berbaris seperti tahanan dalam posisi berdiri berdampingan.
Dia mulai memeriksa, melewati setiap sosok yang tampak gemetar dengan kepala tertunduk rendah.
Ketika bayangannya melewati depanku, kupikir dia akan terus berjalan. Namun, kenyataannya tidak.
"Oh iya, siapa namamu?" tanyanya.
"Valerie, Nyonya," jawabku pelan.
Jari tangannya yang dingin menekan bagian bawah daguku, memaksaku untuk mengangkat kepala.
Mata biruku langsung bertemu dengan tatapan mata berwarna hijau yang mengintimidasi.
"Bagus. Sepertinya aku akan mencoba strategi berbeda kali ini. Ikut denganku," perintahnya, dan rasa takut langsung mencengkeram dadaku.
Dari sudut mataku, aku bisa memperhatikan tatapan dari para pelayan wanita lain di barisan. Tatapan tajam penuh kecemburuan, amarah, dan iri hati.
Tidak ada yang baik, itu sudah pasti.
"Dengarkan baik-baik, Valerie. Kau akan menjadi pelayan pribadi Raja Adrian," katanya dengan santai, seolah itu bukanlah masalah besar sambil berjalan ke sisi lain dapur.
"Apa kau tahu caranya memasak, menyetrika, mengatur barang-barang pria, pakaian, dan sebagainya?"
"I … iya, Nyonya. Tapi … sepertinya saya bukan pilihan yang tepat untuk posisi itu. Mungkin seseorang yang lebih …."
"Ini bukan pilihan," potongnya dengan cepat sembari berbalik badan dengan tiba-tiba.
"Kau bisa terima, atau kau pergi dari sini. Aku tidak butuh tukang bersih-bersih lantai sekarang. Aku butuhnya pelayan untuk Raja. Kau mengerti?"
Aku tak punya pilihan selain mengangguk. Terkadang, aku lupa bahwa wanita galak ini yang telah menyelamatkan hidupku.
Meskipun sejujurnya, aku masih tidak tahu alasannya, terutama sekarang saat dia mengirimku langsung masuk ke sarang Lycan.
"Hafalkan semua yang akan kukatakan. Raja bangun jam .… Dia tidak suka …. Lebih suka cara seperti ini …. Dan makanannya hanya boleh disiapkan oleh juru masak dari bagian ini. Pastikan selalu dia …. Dan kau harus mencicipinya sebelum disajikan."
Dia berjalan mondar-mandir di dapur, area laundri, ke seluruh area pelayanan, menjelaskan satu persatu daftar kesukaan dan ketidaksukaan Sang Raja.
Aku mengikutinya di belakang, otakku rasanya hampir korsleting karena menerima informasi yang terlalu banyak. Aku harus menuliskan semua ini nanti!
"Baiklah. Sekarang kau akan mengantarkan sarapan pertamanya. Lakukan persis seperti yang kukatakan," katanya sambil meletakkan nampan perak berisi hidangan yang tertutup itu ke tanganku.
"Dan Valerie … ingat, tetap tundukkan kepalamu. Jangan menarik perhatian. Kau hanya sekadar pajangan di sana."
"Dan kuharap kau belum melupakan kejadian di hari pertamamu di sini. Kalau kau mencoba melakukan sesuatu pada Raja, percayalah, dia masih bermurah hati pada wanita kemarin itu."
Peringatannya membuatku menelan ludah dan mengangguk.
Aku tidak menganggap diriku seorang pengecut, tetapi rasanya seperti sedang berjalan langsung menuju tiang gantungan saat menaiki anak tangga terlarang, melewati koridor remang-remang yang hanya diterangi lilin menuju kamar pemimpin Pelindung Suci.
Aku sampai di satu-satunya pintu yang ada di sisi bangunan ini, sebuah pintu kayu raksasa dengan ukiran yang rumit, dan mencoba mengingat kembali setiap instruksi.
"Jangan mengetuk pintu pada jam ini. Langsung masuk saja."
Jadi, aku pun melakukannya. Sambil dengan hati-hati menyeimbangkan nampan di tangan, aku memutar gagang pintu yang terasa berat.
Selangkah demi selangkah, aku memasuki sarang serigala jahat itu, berusaha menghindari pandangan yang tidak perlu ke sekeliling ruangan.
Aku langsung menyadari keberadaan sebuah meja kayu besar di bagian tengah ruangan, pencahayaan yang redup, aku fokus untuk menata hidangan dengan benar.
Tetapi kemudian aku mendengarnya … dan mencium baunya. Aroma gairah dan keintiman yang pekat.
Dari balik poni rambut, aku melirik ke arah sebuah pintu hitam yang sedikit terbuka.
Erangan wanita yang teredam lolos dari celah itu, meskipun pintunya tertutup.
Terdengar lebih dari satu suara wanita.
Suara beritme dari sesuatu yang membentur dinding bergema berulang kali. Mungkin ranjang, aku tidak tahu dan tidak mau peduli.
Aturan yang paling penting adalah tundukkan kepala, jangan menarik perhatian. Jangan bicara, melihat, dan mendengarkan apa pun.
Aku sangat fokus untuk mengingat setiap detail preferensinya sambil mengelilingi meja, sampai-sampai tidak menyadari bahwa suara-suara itu telah berhenti.
"Siapa kau?" Sebuah suara penuh wibawa dari belakangku membuatku tersentak kaget.
Kepalan tanganku yang gemetar mengencang, dan aku pun berbalik, menatap lurus ke arah karpet abu-abu di bawah.
"Yang Mulia, nama saya Valerie. Saya adalah pelayan baru Anda," ucapku tanpa terbata-bata.
Sebuah bayangan besar menyelimuti tubuhku, setiap insting di dalam diriku seakan berteriak memberi alarm bahaya dan menyuruhku lari, tetapi aku justru tetap berdiri teguh saat dia meletakkan satu jarinya di bawah daguku, memaksaku untuk menatap matanya.
Aku mengira akan melihat ekspresi jijik karena wajahku yang penuh bekas luka. Namun sebaliknya, aku melihat sepasang mata abu-abu yang tajam dan mengintimidasi sedang menatapku, begitu memikat hingga menyerupai kilatan pedang baja yang mematikan.
"Di mana roh serigalamu?" tanyanya sambil mengerutkan kening.
Bagaimana mungkin dia bisa menyadarinya hanya dengan sekali pandang?
"Saya … saya tidak tahu secara pasti, Yang Mulia. Saya mengalami kejadian yang buat trauma sebelum berusia delapan belas tahun, jadi roh serigalanya tidak pernah muncul. Tapi … saya bisa berubah ke wujud serigala. Orang-orang bilang itu adalah kutukan."
Aku menambahkan dengan cepat, setengah berharap akan dipecat pada hari pertamaku. Penuh bekas luka dan dikutuk, benar-benar pelayan yang sempurna.
"Apa itu sebabnya luka di wajahmu belum sembuh?" tanyanya dengan nada suara tenang tetapi menusuk tajam.
"Sepertinya begitu, Yang Mulia. Kemampuan saya untuk menyembuhkan diri … lebih lambat daripada yang lain."
Pria itu tidak mengatakan apa pun lagi, tetapi tatapan tajamnya membuat bulu kudukku merinding. Apa aku sudah mengatakan hal yang salah?
Aku berusaha keras untuk tidak menatap fitur wajahnya yang tampak tegas, tetapi kini semakin jelas mengapa ada begitu banyak wanita yang rela mempertaruhkan nyawa hanya demi bisa menghabiskan satu malam di ranjangnya. Adrian Tarore adalah pria yang diciptakan untuk memikat hati wanita.
Sosoknya yang menjulang tinggi, hampir dua meter, dengan tubuh yang kekar dan penuh bekas luka, membuatnya semakin tampak gagah dan berwibawa. Berotot, kasar, dan sangat seksi.
Dadanya yang bidang dan terbuka tampak dipenuhi tato berwarna merah dan hitam, tampak kontras di kulitnya yang pucat dan penuh bekas luka pertempuran.
Dan meskipun auranya sedingin es, rambutnya yang panjang hingga sebahu memiliki warna merah tua sama seperti janggut tipisnya, tampak menyala seperti api, seperti warna darah yang bisa dia tumpahkan tanpa gentar sedikit pun.
"Aku tidak peduli dengan keanehanmu itu, tapi aku harap kau sudah memahami seluruh aturan di sini dengan jelas karena aku tidak akan mentolerir adanya pembangkangan atau pun tipu muslihat." Dia memperingatkanku dengan nada suara yang terdengar sangat rendah dan serak, penuh ancaman.
Aku mengangguk, menelan ludah dengan susah payah.
"Baik, Yang Mu …."
"Dan panggil aku Tuan. Aku tidak suka panggilan omong kosong Yang Mulia itu," jelasnya cepat. Dia akhirnya melepaskanku dan berjalan menuju sisi lain ruangan.
Aku menghela napas penuh kelegaan, baru menyadari bahwa aku telah menahan napas sepanjang percakapan tadi. Namun, aku masih bisa mencium aroma tubuhnya yang tertinggal, sebuah aroma seperti anggur tua, terasa mewah, memabukkan, dan sangat menggoda.
Apa itu semacam parfum? Aku tidak bisa mendeteksi feromon dari manusia serigala seperti yang bisa dilakukan orang lain.
"Mereka akan segera datang untuk menjemput wanita-wanita itu. Pastikan mereka pergi dan bersihkan semuanya." Dia memberi perintah tanpa melihat ke arahku lagi, lalu sosoknya pun menghilang di balik sebuah pintu yang mengarah ke ruangan lain.
Aku tetap berdiri diam di sana dalam cahaya yang temaram, seakan membeku sejenak.
Kemudian, aku mengepalkan tangan untuk mengumpulkan seluruh keberanianku dan melangkah untuk menghadapi para wanita itu yang masih berada di ranjang.
Aku membuka pintu kamar dan langsung tertegun melihat pemandangan kacau di dalamnya.
Ruangan itu tampak remang-remang, pakaian berserakan di lantai, dan di bagian tengah, tiga wanita tanpa busana sedang berbaring telentang di atas sebuah ranjang kayu ek yang besar.
Aroma gairah yang pekat memenuhi udara, membuatku sedikit sulit bernapas.
"Umm ... Nona-nona, sudah waktunya untuk pergi." Aku berkata dengan lembut, sambil berdiri di tepi ranjang, tetapi tak ada satu pun dari mereka yang merespon, mata mereka terpejam seolah-olah tidak sadarkan diri.
Mereka terlihat sangat kelelahan, tubuh mereka dipenuhi bekas gigitan, memar, dan sisa air mani yang bercampur dengan darah menodai paha mereka.
"Raja memerintahkan kalian semua untuk pergi. Kalian harus …."
"Diam kau, dasar bocah ingusan menyebalkan!" geram wanita berambut pirang dengan tubuh berisi yang berbaring di tengah dua gadis berambut cokelat, dia bahkan melemparkan bantal ke arahku yang untungnya berhasil kuhindari dengan cepat.
Yah, sepertinya mereka masih punya energi tersisa.
Oke, tugas ini tidak berjalan semulus yang kubayangkan, dan mereka sudah kembali berbaring seolah berencana untuk tidur di sana.
Apa mereka tidak merasa risih dengan semua ... itu?
Tetapi aku tidak boleh gagal dalam tugas pertamaku. Aku tahu Raja sengaja memerintahkan tugas ini untuk mengujiku.
Aku bergegas menuju kamar mandi, mengisi baskom dengan air dingin, dan meletakkannya di dekat ranjang.
Kemudian, menggulung lengan bajuku hingga memperlihatkan lenganku yang pucat, lalu aku berjalan ke arah tirai besar berwarna merah tua, mencengkeram kainnya yang tebal, dan menariknya terbuka dengan paksa.
"Aaahh! Tutup tirainya, brengsek! Tutup tirai sialan itu!" Mereka menjerit histeris seperti orang kerasukan, meskipun kondisi langit sedang mendung.
Matahari memang tidak pernah benar-benar bersinar terang di tempat ini, wilayah ini selalu diselimuti oleh kabut tebal.
Aku mengambil baskom, mengangkatnya tinggi-tinggi dan .… Byuur! Aku mengguyur mereka dengan air dingin untuk menyadarkan mereka dari sisa rasa kantuk.
"Apa kau sudah gila, Pelayan sialan?!"