首頁 / Fantasi / Mawar Berduri untuk Raja Lycan / Bab 5: Pelayan Sang Raja

分享

Bab 5: Pelayan Sang Raja

作者: Luna Nova
"Aahh, mengerikan sekali, wajahnya cacat!"

"Kau hanya iri, itu sebabnya kau ingin menjauhkan kami dari Raja!"

"Raja sudah memerintahkan bahwa kalian harus pergi sekarang juga," ulangku tanpa ekspresi. Aku berdiri tegak di ujung ranjang sementara mereka terus menghujaniku dengan berbagai hinaan.

Tetapi, aku tidak merasakan apa pun.

Aku hanya sedang memikirkan cara untuk mengeluarkan mereka dari sini, karena mau bagaimanapun kondisiku masih lemah, dan jumlah mereka ada tiga orang.

Tepat saat itu, ketukan keras bergema dari pintu samping yang terhubung langsung ke lorong, sebuah pintu yang bahkan belum kusadari keberadaannya sejak tadi. Itu pasti orang yang diutus untuk mengeluarkan mereka dari istana.

Aku berjalan menghampiri dan membukanya, melihat dua orang pelayan bertubuh tegap yang langsung masuk tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Para wanita itu mulai melawan, sembari mencoba menutupi tubuh polos mereka. Mereka berteriak bahwa tubuh mereka hanyalah untuk Raja, dan mengancam bahwa kepala kami semua akan dipenggal.

Aku tidak perlu tinggal lama di sini untuk bisa melihat kebohongan mereka.

Pria itu hanya memperlakukan mereka seperti barang sekali pakai dan sekarang membuang mereka begitu saja seperti sampah.

Wanita berambut pirang itu bergegas menuju pintu yang mengarah ke ruang makan, tetapi aku langsung berdiri di depan untuk menghalangi jalannya.

"Jaga sedikit harga dirimu dan pergilah sekarang juga. Ini perintah Raja. Tidak perlu bertaruh nyawa."

"Aku ingin dengar langsung! Semalam, dia menunjukkan hal sebaliknya! Minggir dari jalanku!" Dia menerjangku sambil memperlihatkan taringnya. Aku membela diri, meraih kedua lengannya di udara saat kami bergumul.

Cakar panjangnya berhasil mencakar kullitku dalam amarah, tetapi aku tahu bisa mengendalikannya karena saat ini kondisinya sedang lemah.

Serigala betina ini ternyata lebih kuat dariku … sejujurnya, siapa pun memang lebih kuat dariku.

Dengan bantuan para pelayan tadi, kami berhasil menyeret wanita gila terakhir itu keluar dari ruangan. Aku pun menutup pintu dengan napas terengah-engah.

"Hari pertama bekerja yang luar biasa," gumamku pasrah sambil menatap kekacauan yang sekarang harus kubersihkan.

Aku menyeka keringat dari dahi, lalu mengambil waktu sejenak untuk mengatur napas, dan mengamati ruangan yang kini sudah hampir rapi.

Bagian terberatnya adalah ranjang itu.

Dan setelah mengganti seprai kotor, aku baru menyadari sepertinya terlalu banyak menyiramkan air tadi.

Jadi, aku berpikir untuk mendorong kasur itu lebih dekat ke arah jendela agar bisa diangin-anginkan dan terkena sedikit sinar matahari.

"Hhmm." Aku melenguh sambil menarik kasur berukuran paling besar yang sangat berat itu dengan tangan gemetar. Aku ragu apakah bisa memindahkannya.

Aku terus berjuang ketika ….

"Berapa abad yang kau butuhkan untuk merapikan sebuah ruangan?" Suaranya mengejutkanku, aku sama sekali tidak mendengar langkahnya masuk.

Aku berbalik untuk meminta maaf, tetapi karena gerakan yang salah, rasa gugup, dan tampaknya ada sisa cairan lengket yang tertinggal di lantai membuatku kehilangan keseimbangan dan jatuh terjerembap ke depan.

Aku langsung refleks mencengkeram benda pertama yang bisa kuraih, lalu berakhir dengan jatuh berlutut dan mata tertutup rapat.

Sesuatu telah terlepas dari tanganku, dan sekarang ada benda lain yang terasa tebal menyentuh hidungku. Aroma misik yang gelap, maskulin dan memabukkan langsung menyerbu indra penciumanku. Ketika membuka mataku, dan melihat pemandangan tepat di hadapanku, aku langsung berharap bisa mati saja di sana tanpa perlu repot-repot menunggu dia membunuhku.

Di genggaman tanganku ada sebuah handuk hitam, yang aku asumsikan sebagai tadinya melilit pinggul Sang Raja. Aku dalam posisi berlutut, mencengkeram pahanya yang kekar, dengan bagian paling intim miliknya yang berukuran besar dan berurat tepat di depan mataku yang terbelalak lebar.

‘Sial, ini pasti bisa membuat orang menangis.' Itu adalah hal pertama yang terlintas di pikiranku saat syok berat karena panik.

Dan membayangkan bahwa itu adalah ukurannya dalam keadaan setengah ereksi ... bahkan milik Damian pun tidak ada apa-apanya jika dibandingkan.

"Apa aku perlu mengambil meteran biar kau juga bisa sekalian mengukurnya?" Suaranya yang dingin langsung menyadarkanku.

Diliputi rasa ketakutan, aku mengangkat pandanganku untuk melihatnya yang sedang berdiri dalam keadaan telanjang sepenuhnya, menampilkan seluruh keperkasaannya. Rambutnya yang berwarna merah tua tampak terurai dan acak-acakan, masih lembap karena sehabis mandi, dan aku sangat yakin mata abu-abunya sedang memancarkan kilatan yang mengejek.

"Yang Mulia, saya mohon maaf! Tolong ampuni nyawa saya yang rendah ini dan tidak pantas mendapatkan belas kasihan Anda!" Aku langsung menjatuhkan diri ke lantai, menempelkan dahi ke permukaan lantai yang keras, dan memohon ampun padanya.

Apa yang telah kulakukan benar-benar tak termaafkan. Oh Dewi, aku bahkan sempat terpaku di sana ... menatap semua miliknya.

Bayangan tubuhnya yang mengancam melingkupi tubuhku yang gemetar. Aku memejamkan mata, bersiap menghadapi akhir hidupku.

"Saya akan pergi sekarang juga ... saya mohon ... saya akan keluar dari istana ... saya mohon ...."

"Aku tidak punya waktu untuk mencari pelayan baru setiap hari. Kau boleh pergi kalau aku memutuskan begitu. Sekarang berdiri." Suara beratnya terdengar bergemuruh di dekat telingaku, dan aku bisa merasakan dia menarik handuk yang masih kugenggam erat di tanganku.

Aku segera melepaskannya, keringat dingin mengalir di punggung saat seluruh tubuhku gemetar tak terkendali.

"Lagipula, kalau kau terus melayaniku, ini bukan terakhir kalinya kau akan melihatku telanjang. Ini bukan masalah besar. Ayo ke ruang makan," tambahnya sebelum suara langkah kaki telanjangnya bergema menjauh dari ruangan.

Menelan ludah dengan perasaan gugup, aku pun segera berdiri dengan kaki yang masih gemetar.

‘Ayolah, Valerie. Tetap fokus.’

"Coba dulu sarapannya," perintahnya sambil menunjuk makanan yang tersaji di meja.

Dia duduk di kursi besar, mengamati setiap gerakanku dengan seksama.

Aku mengambil garpu, lalu memotong sedikit dari setiap hidangan, dan mencicipi semuanya sedikit demi sedikit.

"Kalau ada yang tidak sesuai selera Tuan, saya bisa meminta dapur untuk …."

"Tidak perlu. Semuanya sudah pas," selanya cepat, dan kembali terdiam.

Aku terus menatap ke arah lantai, tidak yakin apa yang sedang dia tunggu, membuatku panik sambil terus mengingat-ingat setiap aturan dalam pikiranku.

"Apa kau pikir aku akan makan dengan tangan?"

"Apa? Tidak, tidak, Yang Mu ... Tuan ...." Aku segera mengangkat pandanganku dan melihatnya sedang melirik garpu yang masih kupegang.

Ya Tuhan, aku telah mengotori satu-satunya alat makan dengan air liurku sendiri! Kepala pelayan tidak menyebutkan bahwa aku juga harus mencicipi makanan di sini!

"Saya ... saya akan mengambilkan yang baru. Maafkan saya …."

"Kau tampaknya sangat pandai meminta maaf," katanya sembari mengambil garpu dari tanganku.

"Tapi itu kotor, saya ... tadi makan dengan itu …."

Aku tidak sempat menyelesaikan kalimat karena dia sudah menyeka garpu itu dengan serbet dan mulai makan dengan tenang. Aku pun melangkah mundur, berdiri di sudut, dan menunggu perintah selanjutnya.

Dari balik poni rambut, aku sesekali melirik ke arahnya.

Dia tampak santai, dalam keadaan setengah telanjang dan hanya mengenakan handuk. Dia makan sambil memeriksa beberapa dokumen di sampingnya.

Apa pun yang dilakukan oleh Sang Raja, aura agresifnya selalu memenuhi seluruh ruangan, hanya menuntut kepatuhan dan penyerahan diri total.

Dialah majikan baruku. Dan sejujurnya, aku mulai bertanya-tanya apakah akan lebih baik jika aku lari menjauh dari istana ... dan klan ini.

Adrian Tarore adalah sosok paling berbahaya yang pernah kutemui.

...

Hari-hari pun berlalu, dan meskipun aku melakukan beberapa kesalahan pemula, namun aku berhasil bertahan hidup.

Majikanku itu juga tidak selalu berada di istana, dia sering bepergian di antara klan atau menghadapi situasi-situasi yang berbahaya. Aku bahkan belum pernah melihat Pelindung Suci lainnya sampai pada suatu pagi.

"Wah, aku sangat penasaran bagaimana kau bisa menghadapi tekanan besar dan godaan di sini," kata Julia.

Dia adalah satu-satunya staf istana yang mau mendekatiku.

Seorang gadis dengan kepribadian ekstrovert dan selalu ceria.

Namun, aku tidak menganggapnya sebagai seorang sahabat, aku tidak akan pernah memercayai wanita seperti itu lagi. Tetapi setidaknya, obrolannya bisa menghiburku.

Kami sedang berjalan menyusuri koridor bawah tanah sambil membawa keranjang cucian ketika sebuah pintu samping yang menuju ke salah satu ruang latihan mendadak terbuka.

Seorang Lycan bertubuh besar muncul dari sana. Aku tahu dari aura kuat yang dipancarkan tubuhnya.

Kami segera menundukkan kepala, menunggu hingga dia lewat, tetapi langkah kakinya justru berjalan mendekat ke arah kami.

"Apa ini handuk bersih?" tanya sebuah suara berat namun sangat tenang.

"Iya, benar, Tuan," jawabku yang baru menyadari bahwa akulah yang sedang membawanya. Aku sempat melirik ke atas.

Sepasang mata berwarna emas yang sangat memesona sedang menatap balik ke arahku.

Aku segera menundukkan pandangan kembali ke arah karpet dan menyerahkan handuk kepadanya, tetapi saat dia mengulurkan tangan untuk menerimanya, jari-jari kami sempat bersentuhan sesaat.

Sentuhan tangannya terasa hangat.

Meskipun penampilannya tampak mengintimidasi, namun Lycan ini memancarkan aura pelindung, tidak setajam dan seganas milik Sang Raja.

"Maaf ... saya mohon maaf."

"Tenang, tidak apa-apa. Terima kasih," jawabnya sambil mengambil handuk itu dan melangkah pergi menyusuri lorong.

Setelah itu, aku baru berani menatap punggungnya.

Dia berambut pirang, tubuhnya besar dan kekar seperti semua Lycan pada umumnya. Dia terlihat perkasa dengan punggung yang berotot dan penuh keringat berkilauan, dibalut pakaian tempur berwarna hitam.

Sepertinya dia baru saja selesai berlatih.

Entah kenapa, kombinasi warna mata dan rambutnya sedikit mengingatkanku pada sosok Damian.

Aku sebenarnya tidak ingin lagi mengingat bajingan itu, tetapi pikiran terkadang bisa mengkhianati. Lagipula, dia adalah pria pertama dan satu-satunya yang pernah kucintai.

"Benar, kan? Dia memang sangat tampan! Mereka semua sangat seksi dan gagah, tapi menurutku yang terbaik tetap Raja Adrian dan Tuan Anthony .... Walaupun Raja, ugh, pria itu benar-benar seksi. Aku sampai bingung. Kalau menurutmu bagaimana, Valerie? Kau lebih suka Raja atau Tuan Anthony?"

Sebelum aku bisa menegurnya karena berbicara sembarangan, wajahnya sudah tampak pucat pasi, menatap ke arah belakangku dengan panik.

Sebuah aura kehadiran yang kuat seakan menekan punggungku, hembusan napas panasnya menyentuh telingaku.

"Aku juga mau tahu jawabannya, Valerie. Siapa yang kau pilih? Dan kenapa kau membiarkan pria lain menyentuh milikku?"

Keranjang di tanganku mulai bergetar hebat.

Tamatlah riwayatku. Dan meskipun aku tahu dia sedang membicarakan tentang handuk tadi, namun entah kenapa, rasanya seperti dia sedang membicarakan tentang diriku.

"Tu ... Tuan ...."

"Pergi!" perintahnya kepada Julia, yang sempat menatapku sejenak dengan rasa bersalah tetapi tidak punya pilihan selain pergi dengan setengah berlari.

Aku tetap berdiri membelakanginya. Apa aku juga bisa ikut melarikan diri?

"Aku masih menunggu jawabanmu, Valerie. Katakan padaku, apa kau tidak senang menjadi pelayanku? Atau apa kau lebih suka menjadi pelayan pribadi Anthony? Cepat balikkan badanmu!"

在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP

最新章節

  • Mawar Berduri untuk Raja Lycan   Bab 50: Semuanya Palsu

    Kamar tidur itu sebenarnya sangat indah, dengan ranjang, lemari, meja rias kecil, dan jendela besar yang menghadap ke danau yang indah."Ini kamarmu, dan di sana ada kamar mandi bersama dengan bak mandi yang kujanjikan tadi." Dia menunjuk ke arah pintu kecil lain di belakang."Tunggu sebentar ... jadi untuk keluar dari sini, saya harus melewati kamar Yang Mulia? Kamar ini tidak memiliki jalan keluar sendiri ke lorong. Dan … kamar mandi bersama? Raja tidak punya kamar mandi sendiri? Dia harus melewati seluruh kamar saya untuk menggunakannya?" Aku menunjukkan hal yang jelas.Siapa yang mendesain kamar-kamar yang tidak nyaman ini?"Maaf, Nona. Tidak ada kamar lain yang tersedia," jawabnya dengan wajah lebih keras daripada lantai batu."Yang Mulia!" Aku menoleh dengan marah ke arah Adrian, yang memperhatikanku dari ambang pintu di antara kamar-kamar dengan tatapan puas."Kau yang memilih untuk tinggal di sini, Valerie, jadi sekarang kita tidak bisa menyinggung Alpha Gerry. Ini kamar yang t

  • Mawar Berduri untuk Raja Lycan   Bab 49: Raja yang Licik

    "Elia, jaga ucapanmu dan pergi bawa Edwin ke kamarnya agar dia bisa beristirahat! Marvin, segera panggil dokter, dan soal ini, kita bicara lagi nanti, berdua!" Alpha mulai membentak memberi perintah.Aku tetap diam di belakang Adrian sambil mengerutkan kening karena tidak ada yang bisa kulakukan.Aku memperhatikan saat mereka membawa anak kecil itu pergi, pipinya semakin merona dan pendarahannya berhenti, itu meredakan kekhawatiranku.Sepertinya aku adalah satu-satunya yang menyaksikan kekejaman pemuda itu terhadap adiknya sendiri, dan aku tidak dalam posisi bisa ikut campur dalam urusan keluarga mereka.Aku benar-benar berharap sudah salah menafsirkan situasi tersebut."Yang Mulia, ini sambutan yang memalukan. Saya mohon maaf kepada Anda dan juga pelayan Anda. Putra bungsu saya lahir dengan kelemahan langka di kaki sehingga tidak dapat berjalan dengan baik. itu hal yang tidak biasa untuk kaum kami. Meskipun begitu, dia cukup nakal dan selalu berhasil membuat masalah. Dia akan segera p

  • Mawar Berduri untuk Raja Lycan   Bab 48: Bukan Seperti yang Terlihat

    Aku langsung berlari tanpa berpikir dua kali menuju taman kecil itu.Aku tidak mengenal siapa pun di sini, tetapi aku tidak bisa hanya berdiri diam menyaksikan nyawa seorang anak dalam bahaya tepat di depan mataku."Valerie!" Suara Adrian menggelegar di belakangku saat dia menyadari aku telah menjauh darinya.Aku sampai di tempat anak kecil itu tergeletak di tanah, darah mengalir dari luka dalam di belakang kepalanya, membuat rambut cokelatnya menjadi lengket."Bertahanlah, Nak. Tetaplah bertahan," bisikku sambil menarik saputangan dari sakuku dan menekannya dengan kuat ke luka untuk menghentikan pendarahan.Aku memeluknya di dada, mencoba membalikkan badannya sedikit. Tanganku gemetar, takut kalau dia mungkin sudah mati.Wajahnya tampak pucat dengan pipi bulat, dan hampir tidak bernapas."Edwin!" Aku mendengar suara pria pembunuh itu di dekatku dan langsung mendongak, melihatnya bergegas menuju tubuh anak itu dengan ekspresi khawatir."Jangan mendekatinya! Aku melihat persis apa yang

  • Mawar Berduri untuk Raja Lycan   Bab 47: Danau Perak

    "Katakan apakah Anda bisa memenuhi syarat itu, kalau tidak, saya akan meninggalkan pekerjaan itu sekarang juga, Raja Adrian. Saya bukan tahanan Anda." Aku menantangnya untuk pertama kali, mengangkat dagu, dan bersiap untuk menolak keinginan dan keegoisannya.Namun, Adrian hanya menatapku dalam diam.Aku bisa merasakan seluruh tubuhnya menegang, seolah-olah dia sedang berjuang melawan musuh internal, melawan dengan segenap kekuatannya.Di mata abu-abunya, binatang buas dalam dirinya berkedip, berwarna merah seperti wujud Lycan-nya."Baiklah." Akhirnya dia mengalah, mundur selangkah, lalu mengatupkan gigi begitu erat hingga aku pikir otot rahangnya mungkin akan patah. "Aku terima ... untuk saat ini."Dia menjawab, dan kami pun saling berhadapan dalam pertarungan tekad.Jika seseorang mengatakan kepadaku sebulan yang lalu bahwa aku akan melakukan hal seperti ini, aku pasti akan menganggap mereka gila."Kau butuh pakaian ini. Kau tidak punya cukup pakaian. Para wanita di klan itu sangat so

  • Mawar Berduri untuk Raja Lycan   Bab 46: Ayo Perjelas Semua

    "Iya, iya, tentu saja, Yang Mulia. Suatu kehormatan bagi saya menerima Anda di toko sederhana ini," jawab Nyonya Belinda dengan gugup, dia membungkuk dengan hormat."Terima kasih. Tolong keluar sebentar, Nyonya Belinda .... Sania sedang menunggu di bawah untuk pembayaran," jawab Adrian. Matanya tidak pernah lepas sedetik pun dariku.Aku memanfaatkan kepergian kilat penjahit itu, menutup pintu di belakangnya dan menuju ke tempat gaunku dilipat dan memakainya kembali.Namun, baru sampai di tepi meja, aku sudah mendengar langkah kaki terburu-buru, dan tubuhku menegang, merasakan dia menekan punggungku yang telanjang.Satu tangannya melingkar di pinggang dan membelai perutku, sementara tangan lainnya meluncur di atas lengan yang kugunakan untuk menutupi payudaraku.Hanya sehelai kain tipis di pinggul yang memisahkan tubuhku dari kehangatan Raja."Lepaskan saya! Apa yang sedang Anda lakukan?" Aku sedikit meronta, mencoba melepaskan diri dari cengkeramannya, tetapi lengannya tetap melingkari

  • Mawar Berduri untuk Raja Lycan   Bab 45: Baju Untuk Pelayanku

    Awalnya dia menatapku dengan sedikit terkejut, tetapi kemudian dengan cepat menyembunyikannya sebaik mungkin dan kembali bekerja.Kurasa bekas lukaku cukup untuk membuat siapa pun terkejut.Pakaian tergantung di mana-mana, dan berbagai aksesori menjahit memenuhi etalase di sepanjang dinding belakang.Aku suka menjahit dan menyulam. Di waktu luang, aku banyak berlatih dan selalu menjadi orang yang memperbaiki pakaian Damian."Valerie, ikut aku memilih setelan Yang Mulia," perintah kepala pelayan. Aku mengikutinya lebih dalam ke toko.Kami menghabiskan cukup banyak waktu memilih kain dan pakaian jadi, sapu tangan, aksesori ... semuanya.Dan hampir setiap keputusan akhirnya bergantung pada seleraku.Sepertinya Raja ingin berpakaian elegan untuk kunjungan ke Klan Danau Perak."Sepertinya ini sudah cukup," kataku kepada kepala pelayan yang mengangguk setuju.Tepat saat itu, Nyonya Belinda, Si Pemilik toko masuk."Kain-kain baru sudah tiba dan semuanya sudah siap!" serunya dengan antusias. D

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status