首頁 / Fantasi / Mawar Berduri untuk Raja Lycan / Bab 2: Pengkhianatan Terparah

分享

Bab 2: Pengkhianatan Terparah

作者: Luna Nova
Damian menggigit pahaku dengan ganas dan menyeret tubuhku ke bawah kuasanya, menahan diriku tanpa ampun.

Aku mencoba melawan, berteriak meminta bantuan, sambil tanganku tetap mencengkeram perut, berusaha keras melindungi anakku. Tetapi cakarnya seperti senjata mematikan, dia menusuk kulitku, mencabik-cabik tubuhku yang kecil dan tak berdaya.

Aku refleks harus mengangkat kedua tangan ketika cakarnya yang tajam mengarah ke wajahku. Aku menjerit kesakitan yang teramat sangat saat luka dalam menyayat pipiku, memanjang dari dahi.

Meninggalkan perutku tanpa perlindungan, dia pun langsung menyerang anak kami.

"Tidak, jangan anakku, kumohon. Damian, jangan sentuh anakku!"

Air mata mengalir tanpa henti saat aku memohon padanya, tetapi taringnya terus merobek dagingku, dan cakar-cakarnya menancap jauh ke dalam perutku dengan kekejaman yang mengerikan, dia berusaha merenggut kehidupan yang sedang tumbuh di dalam diriku.

Aku tidak tahu berapa lama penderitaan itu berlangsung, aku terisak, terus memohon selama aku masih bisa berbicara.

Rasa sakit di seluruh tubuhku sudah tak tertahankan, tetapi yang lebih buruk adalah rasa sakit di jiwaku, yang seakan berdarah dan hancur berkeping-keping.

Aku dicampakkan begitu saja seperti sampah di tepi jurang, kesadaranku hampir hilang akibat rasa sakit yang mendera ketika aku melihatnya berubah kembali menjadi wujud manusia.

"Kau pikir bisa mengikatku selamanya, dasar bodoh!" teriaknya dengan penuh amarah.

Sorot matanya sangat dingin dan penuh rasa muak, tatapan yang belum pernah kulihat sebelumnya.

"Apa kau benar-benar berpikir kalau aku mencintaimu, bahwa aku sangat ingin memiliki anak denganmu? Buang-buang waktu saja!" Dia menendangku dengan marah, tetapi aku tidak lagi memiliki kekuatan untuk sekadar mengerang kesakitan.

"Tiga tahun ini aku harus terpisah dari pasangan jiwaku karena kau, dasar brengsek!" Dia meraung seakan meluapkan semua kebencian yang telah dia simpan selama ini.

"Kenapa …?" Aku bahkan hampir tidak mampu berbisik, wajahku bengkak, lidahku terasa berat, dan tenggorokanku berdarah karena luka robekan yang dalam.

"Karena kau datang ke klan ini sebagai anak yatim piatu yang malang, dan peramal tua bodoh itu bilang kau akan melahirkan Alpha terkuat, cukup kuat untuk mengangkat derajat garis keturunanku."

"Omong kosong nenek tua gila itu, tapi ibuku memercayainya dan memaksaku untuk melepaskan wanitaku demi kau karena kau tergila-gila padaku! Dia memberiku waktu tiga tahun untuk membuatmu hamil, itu kesepakatan kami. Kalau kau gagal, aku akan bebas."

"Jadi, hari ini aku datang untuk menyingkirkan penghalang sepertimu, tapi kau malah muncul dalam keadaan hamil." Damian tertawa seperti orang gila.

"Aku tidak akan membiarkanmu melakukannya lagi, Valerie. Kau tidak akan bisa menghancurkan hidupku lagi. Ini akhir hidupmu!"

Dia berjalan ke arahku, dan aku seolah bisa melihat kematian sedang menatapku.

Aku ingin mengatakan banyak hal ....

‘Aku tidak tahu kalau kau sudah mencintai orang lain. Aku hanya gadis naif yang jatuh cinta padamu, tapi aku tidak pernah memaksamu untuk membalas cintaku. Bagaimana kau tega menipuku, memalsukan semuanya selama ini? Dan anak kita … bagaimana kau tega … bagaimana kau tega melakukan ini?’

Aku merasa begitu tak berdaya saat terbaring di sana, aku hanya bisa terisak, berdarah, dan sekarat.

Aku berharap bisa terhubung secara batin dengan wujud serigalanya, meneriakkan ketidakadilan ini, tetapi aku tidak bisa, bahkan hal itu pun tidak mampu kulakukan. Aku tidak memiliki roh serigala betina di dalam diriku.

Aku hanya bisa mengubah wujud tubuhku dan berpura-pura.

Ada yang mengatakan itu adalah trauma akibat kematian orang tua angkatku yang kejam, di mana hanya aku yang berhasil selamat.

Ada pula yang mengklaim bahwa itu adalah kutukan, tetapi aku tahu itu tidak benar. Aku memang tidak pernah merasakan kehadiran roh serigala di dalam diriku.

"Selamat tinggal, Istriku tersayang. Kau ternyata tidak seistimewa itu," katanya sinis. Lalu, dia menendangku hingga jatuh dari tepi tebing.

Hal terakhir yang kutahu adalah sensasi jatuh ke dalam jurang yang dingin.

Aku mendongak ke langit gelap saat bayangan gagak berputar-putar di atas kepalaku, seperti pembawa pesan kematian.

"Maafkan Mama, Sayang. Mama tidak bisa melindungimu."

...

"Kenapa lukanya masih belum sembuh juga?"

"Aku tidak bisa membuang darah klan untuk orang asing. Jerry sudah baik, mau menyelamatkannya dari hutan liar. Dia harus bisa sembuh dengan kekuatannya sendiri."

"Jujur saja, aku bahkan tidak tahu bagaimana wanita ini masih bisa hidup. Kasihan sekali … tubuhnya rusak parah, terutama perut … dan wajahnya."

Aku mendengar suara-suara orang berbicara di dekatku, dan tangan-tangan yang memeriksa tubuhku.

Rasa sakit yang tak tertahankan bahkan terasa lebih buruk daripada kematian, membakar tubuhku, menyeretku antara ambang kesadaran dan kegelapan.

Aku tidak tahu berapa banyak waktu yang telah berlalu atau di mana aku berada, tetapi ketika membuka mata, aku melihat langit-langit berwarna putih.

Aku melihat sekeliling dan mendapati diriku berada di sebuah kamar kecil, berbaring di atas sebuah ranjang.

"Kau sudah sadar?" Sebuah suara seorang wanita tiba-tiba terdengar di sampingku, dan aku melihat wajah yang tidak kukenal.

Aku mencoba berbicara, tetapi entah mengapa aku tidak bisa, seolah-olah pita suaraku menolak untuk berfungsi.

"Jangan memaksakan diri. Tenanglah. Kau … kurasa kau belum bisa bicara sekarang karena luka di lehermu," jelasnya dengan ekspresi cemas.

Dan kemudian, pikiranku yang kabur mulai mengingat … semuanya.

Hal pertama yang kulakukan adalah meraba perutku, mencoba duduk meskipun kepalaku terasa pusing dan sakit yang menyengat.

"Jangan bergerak! Tunggu, tenang dulu!" Dia menghentikanku dan membantuku untuk kembali berbaring, tetapi aku perlu tahu, aku sangat butuh kepastian apakah sebuah keajaiban telah terjadi.

Aku menatapnya dengan lekat dan kemudian beralih ke arah perutku yang dibalut perban tebal.

"Iya … aku mengerti apa yang ingin kau tanyakan, tapi … maafkan aku … perutmu benar-benar robek. Rahimmu hancur, dan anakmu … tidak bisa selamat. Mustahil untuk menyelamatkannya. Kami bahkan tidak tahu bagaimana caranya kau bisa bertahan hidup."

Air mata mengalir tak terkendali dari mataku. Aku memejamkannya dalam kepedihan yang luar biasa, jiwaku terasa hancur berkeping-keping.

Bibirku gemetar, seluruh tubuhku berguncang, dan isak tangis keluar dari tenggorokanku yang robek.

Mengapa ini harus terjadi padaku?

Mengapa semuanya harus berubah menjadi mimpi buruk?

Bayiku, anakku yang tidak bersalah. Mengapa sesuatu yang begitu mengerikan harus terjadi padanya?

"Tenanglah, kumohon! Kau tidak boleh seperti ini! Anton, aku butuh bantuanmu di sini! Bawakan obat penenang! Sekarang, Anton, cepat!"

"Aahh! Aahh!" Aku mendengar jeritan yang terdistorsi, tangisan yang begitu menyayat hati hingga bisa membekukan darah dan menghancurkan hati siapa pun yang mendengarnya.

Seorang wanita yang putus asa dan hancur sedang meratap, dan kemudian aku baru menyadari … bahwa orang itu adalah diriku sendiri.

Wanita malang yang telah kehilangan segalanya itu … adalah aku.

...

Beberapa hari telah berlalu. Aku tahu seorang pria sudah menyelamatkanku dari hutan di bawah tebing.

Aku tinggal di klan kecil tidak jauh dari wilayah Klan Hutan Musim Gugur.

Dengan tangan yang masih dipenuhi luka, aku mencoba membasuhkan air ke wajah, tetapi aku bahkan tidak sanggup menyentuh kulitku sendiri.

Aku mengangkat kepala, dan seperti yang kulakukan setiap kali menghadap cermin, aku harus mengumpulkan semua keberanianku.

Wajahku yang dulunya cantik dan membuat banyak serigala betina merasa iri, kini memiliki bekas luka mengerikan yang membentang di dahi dan satu lagi luka dalam di pipi kiri.

Damian tidak hanya menghancurkan kehidupan anakku, rahimku, tetapi dia juga melukai wajahku.

Luka ini seharusnya bisa sembuh, tetapi aku tahu itu tidak akan terjadi. Aku tidak memiliki kemampuan penyembuhan cepat seperti manusia serigala pada umumnya.

Ya, aku memang bisa sembuh, tetapi jauh lebih lambat, dan akan tetap meninggalkan bekas luka.

Aku melangkah keluar dari kamar kecil itu, lalu mendengar dokter dan serigala betina yang merawatku sedang berbicara dengan suara pelan.

Mereka sedang membahas bagaimana aku telah menggunakan terlalu banyak sumber daya klan dan kemungkinan mereka harus memintaku untuk segera pergi karena klan jarang menerima orang asing dengan mudah.

Tetapi serigala betina itu berpendapat bahwa kondisiku masih sangat buruk.

Aku menghargai perhatian dan empatinya, tetapi mereka tidak perlu repot mengusirku. Aku sudah memutuskan akan pergi malam ini.

...

Beberapa jam kemudian, aku berjalan menembus hutan gelap seperti jiwa yang tersesat, perbanku basah kuyup karena luka yang kembali terbuka dan berdarah.

Aku tidak peduli, kakiku terus bergerak melangkah ke satu arah.

Bersembunyi di balik semak-semak, aku mengamati jalur patroli dengan cermat. Aku tahu persis bagaimana cara menyelinap dan melewatinya tanpa terdeteksi karena aku sendiri yang merancang rotasi pertahanan ini untuk Damian.

Sama seperti banyak hal lain yang sudah kulakukan demi dia dan klan ini.

Aku menyelinap ke dalam bayangan malam, secepat yang bisa dilakukan tubuhku yang penuh luka.

Malam dan kegelapan adalah sekutuku. Seolah-olah mereka memperkuat kemampuan anehku.

Aku mendengar suara, gelak tawa, dan cahaya lampu di kejauhan, berasal dari halaman belakang yang menjadi rumahku selama tiga tahun ini.

Aku berjalan dalam gerakan lambat, mengenakan sepatu tua dan gaun usang yang diberikan serigala betina dari klan tadi.

"Para hadirin sekalian, saya mengumpulkan kalian semua di sini hari ini karena saya tidak bisa lagi menyembunyikan kebahagiaan saya. Akhirnya saya akan menikahi pasangan tercinta saya, wanita istimewa dalam hidup saya, Sofia, calon Luna kalian."

Aku merasa seperti jatuh ke dalam jurang es yang dingin saat melihat mereka tersenyum dan berciuman di depan orang-orang yang dulunya pernah memanggilku Luna.

Sahabatku, Sofia, dan Alpha pengkhianatku, Damian, sedang merayakan persatuan mereka. Sementara tubuhku seharusnya sudah membusuk di bawah tebing itu jika rencana mereka berhasil.

Dasar munafik!

Wanita itu bahkan mengenakan salah satu gaun malamku, berdandan dengan barang-barang milikku, mencuri hidupku tanpa sedikit pun penyesalan.

Dia telah menipuku selama ini, sama seperti aku yang buta terhadap semua orang di klan ini. Dan yang lebih buruk lagi, terhadap pria yang berbaring di sampingku setiap malam sambil memikirkan wanita lain.

Bahkan dokter yang memberitahu tentang kehamilanku pun ada di sana!

Damian pasti telah menjanjikan sesuatu padanya agar dia tetap tutup mulut.

Aku mengepalkan tangan begitu erat hingga kuku menancap di telapak tanganku, gigiku gemeretak karena menahan amarah.

Aku menunggu, menunggu seperti seorang gila, menyaksikan seluruh perayaan mereka sampai lampu-lampu dipadamkan dan semua orang pulang ke rumah masing-masing.

Aku menaiki tangga menuju lantai dua, berjalan menyusuri lorong yang remang-remang, tetapi aku dapat mendengar suara mereka yang sedang bercinta di kamar tidur utama dengan jelas.

Erangannya terdengar melalui celah pintu yang sedikit terbuka.

Aku refleks mendorong pintu itu perlahan. Cahaya bulan masuk melalui jendela besar, menerangi wanita jalang yang sedang berada di atas tubuh Damian, dan punggungnya menghadap arah pintu masuk.

"Alpha, katakan padaku kalau aku lebih baik darinya .… Mmm …. Ayolah, Damian, katakan padaku kalau aku lebih baik dari Valerie yang dingin itu."

"Kau yang terbaik, Sayang. Jangan bandingkan dirimu dengan wanita kaku itu. Ayo, bercintalah denganku di ranjangnya ini …. Bukannya itu yang selalu kau inginkan?"

Kata-kata kotor mereka terdengar di telingaku, dan itu adalah pemicu terakhir yang kubutuhkan sebelum semuanya menjadi di luar kendali dalam sekejap.

Aku langsung menerjang mereka di atas ranjang itu.
在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP

最新章節

  • Mawar Berduri untuk Raja Lycan   Bab 50: Semuanya Palsu

    Kamar tidur itu sebenarnya sangat indah, dengan ranjang, lemari, meja rias kecil, dan jendela besar yang menghadap ke danau yang indah."Ini kamarmu, dan di sana ada kamar mandi bersama dengan bak mandi yang kujanjikan tadi." Dia menunjuk ke arah pintu kecil lain di belakang."Tunggu sebentar ... jadi untuk keluar dari sini, saya harus melewati kamar Yang Mulia? Kamar ini tidak memiliki jalan keluar sendiri ke lorong. Dan … kamar mandi bersama? Raja tidak punya kamar mandi sendiri? Dia harus melewati seluruh kamar saya untuk menggunakannya?" Aku menunjukkan hal yang jelas.Siapa yang mendesain kamar-kamar yang tidak nyaman ini?"Maaf, Nona. Tidak ada kamar lain yang tersedia," jawabnya dengan wajah lebih keras daripada lantai batu."Yang Mulia!" Aku menoleh dengan marah ke arah Adrian, yang memperhatikanku dari ambang pintu di antara kamar-kamar dengan tatapan puas."Kau yang memilih untuk tinggal di sini, Valerie, jadi sekarang kita tidak bisa menyinggung Alpha Gerry. Ini kamar yang t

  • Mawar Berduri untuk Raja Lycan   Bab 49: Raja yang Licik

    "Elia, jaga ucapanmu dan pergi bawa Edwin ke kamarnya agar dia bisa beristirahat! Marvin, segera panggil dokter, dan soal ini, kita bicara lagi nanti, berdua!" Alpha mulai membentak memberi perintah.Aku tetap diam di belakang Adrian sambil mengerutkan kening karena tidak ada yang bisa kulakukan.Aku memperhatikan saat mereka membawa anak kecil itu pergi, pipinya semakin merona dan pendarahannya berhenti, itu meredakan kekhawatiranku.Sepertinya aku adalah satu-satunya yang menyaksikan kekejaman pemuda itu terhadap adiknya sendiri, dan aku tidak dalam posisi bisa ikut campur dalam urusan keluarga mereka.Aku benar-benar berharap sudah salah menafsirkan situasi tersebut."Yang Mulia, ini sambutan yang memalukan. Saya mohon maaf kepada Anda dan juga pelayan Anda. Putra bungsu saya lahir dengan kelemahan langka di kaki sehingga tidak dapat berjalan dengan baik. itu hal yang tidak biasa untuk kaum kami. Meskipun begitu, dia cukup nakal dan selalu berhasil membuat masalah. Dia akan segera p

  • Mawar Berduri untuk Raja Lycan   Bab 48: Bukan Seperti yang Terlihat

    Aku langsung berlari tanpa berpikir dua kali menuju taman kecil itu.Aku tidak mengenal siapa pun di sini, tetapi aku tidak bisa hanya berdiri diam menyaksikan nyawa seorang anak dalam bahaya tepat di depan mataku."Valerie!" Suara Adrian menggelegar di belakangku saat dia menyadari aku telah menjauh darinya.Aku sampai di tempat anak kecil itu tergeletak di tanah, darah mengalir dari luka dalam di belakang kepalanya, membuat rambut cokelatnya menjadi lengket."Bertahanlah, Nak. Tetaplah bertahan," bisikku sambil menarik saputangan dari sakuku dan menekannya dengan kuat ke luka untuk menghentikan pendarahan.Aku memeluknya di dada, mencoba membalikkan badannya sedikit. Tanganku gemetar, takut kalau dia mungkin sudah mati.Wajahnya tampak pucat dengan pipi bulat, dan hampir tidak bernapas."Edwin!" Aku mendengar suara pria pembunuh itu di dekatku dan langsung mendongak, melihatnya bergegas menuju tubuh anak itu dengan ekspresi khawatir."Jangan mendekatinya! Aku melihat persis apa yang

  • Mawar Berduri untuk Raja Lycan   Bab 47: Danau Perak

    "Katakan apakah Anda bisa memenuhi syarat itu, kalau tidak, saya akan meninggalkan pekerjaan itu sekarang juga, Raja Adrian. Saya bukan tahanan Anda." Aku menantangnya untuk pertama kali, mengangkat dagu, dan bersiap untuk menolak keinginan dan keegoisannya.Namun, Adrian hanya menatapku dalam diam.Aku bisa merasakan seluruh tubuhnya menegang, seolah-olah dia sedang berjuang melawan musuh internal, melawan dengan segenap kekuatannya.Di mata abu-abunya, binatang buas dalam dirinya berkedip, berwarna merah seperti wujud Lycan-nya."Baiklah." Akhirnya dia mengalah, mundur selangkah, lalu mengatupkan gigi begitu erat hingga aku pikir otot rahangnya mungkin akan patah. "Aku terima ... untuk saat ini."Dia menjawab, dan kami pun saling berhadapan dalam pertarungan tekad.Jika seseorang mengatakan kepadaku sebulan yang lalu bahwa aku akan melakukan hal seperti ini, aku pasti akan menganggap mereka gila."Kau butuh pakaian ini. Kau tidak punya cukup pakaian. Para wanita di klan itu sangat so

  • Mawar Berduri untuk Raja Lycan   Bab 46: Ayo Perjelas Semua

    "Iya, iya, tentu saja, Yang Mulia. Suatu kehormatan bagi saya menerima Anda di toko sederhana ini," jawab Nyonya Belinda dengan gugup, dia membungkuk dengan hormat."Terima kasih. Tolong keluar sebentar, Nyonya Belinda .... Sania sedang menunggu di bawah untuk pembayaran," jawab Adrian. Matanya tidak pernah lepas sedetik pun dariku.Aku memanfaatkan kepergian kilat penjahit itu, menutup pintu di belakangnya dan menuju ke tempat gaunku dilipat dan memakainya kembali.Namun, baru sampai di tepi meja, aku sudah mendengar langkah kaki terburu-buru, dan tubuhku menegang, merasakan dia menekan punggungku yang telanjang.Satu tangannya melingkar di pinggang dan membelai perutku, sementara tangan lainnya meluncur di atas lengan yang kugunakan untuk menutupi payudaraku.Hanya sehelai kain tipis di pinggul yang memisahkan tubuhku dari kehangatan Raja."Lepaskan saya! Apa yang sedang Anda lakukan?" Aku sedikit meronta, mencoba melepaskan diri dari cengkeramannya, tetapi lengannya tetap melingkari

  • Mawar Berduri untuk Raja Lycan   Bab 45: Baju Untuk Pelayanku

    Awalnya dia menatapku dengan sedikit terkejut, tetapi kemudian dengan cepat menyembunyikannya sebaik mungkin dan kembali bekerja.Kurasa bekas lukaku cukup untuk membuat siapa pun terkejut.Pakaian tergantung di mana-mana, dan berbagai aksesori menjahit memenuhi etalase di sepanjang dinding belakang.Aku suka menjahit dan menyulam. Di waktu luang, aku banyak berlatih dan selalu menjadi orang yang memperbaiki pakaian Damian."Valerie, ikut aku memilih setelan Yang Mulia," perintah kepala pelayan. Aku mengikutinya lebih dalam ke toko.Kami menghabiskan cukup banyak waktu memilih kain dan pakaian jadi, sapu tangan, aksesori ... semuanya.Dan hampir setiap keputusan akhirnya bergantung pada seleraku.Sepertinya Raja ingin berpakaian elegan untuk kunjungan ke Klan Danau Perak."Sepertinya ini sudah cukup," kataku kepada kepala pelayan yang mengangguk setuju.Tepat saat itu, Nyonya Belinda, Si Pemilik toko masuk."Kain-kain baru sudah tiba dan semuanya sudah siap!" serunya dengan antusias. D

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status