Share

Bab 8

Author: Luli
Tania meronta sekuat tenaga. "Sana pergi!"

Namun, pria itu sangat kuat dan hampir saja berhasil melecehkannya. Tiba-tiba, lampu ruangan kembali redup, lalu terdengar suara pria mabuk itu tersungkur ke lantai setelah ditendang dengan keras.

Kemudian, beberapa orang langsung menyeretnya keluar dari lokasi.

Jantung Tania berdegup kencang. Dia mengenali orang yang baru saja bertindak, dia adalah pengawal pribadi Kevin.

Dia refleks menoleh ke arah Kevin. Di dalam kegelapan, dia tidak bisa melihat ekspresi pria itu, hanya siluet Kevin yang masih merangkul Devia.

Saat lampu kembali menyala, Kevin tampak tenang seolah kejadian tadi sama sekali tidak ada hubungannya dengan dia.

Hati Tania bergetar, kemudian muncul rasa sinis yang luar biasa.

Apa maksudnya ini? Di satu sisi dia melindungi pujaan hatinya, tapi di sisi lain dia malah membantu Tania? Bukankah itu konyol?

Belum sempat dia berpikir lebih jauh, acara lelang pun resmi dimulai.

Barang lelang pertama adalah tumpukan besar "hadiah" pemberian Kevin yang disumbangkan Tania, dengan harga pembukaan yang langsung dipatok 200 miliar rupiah.

Seluruh ruangan langsung riuh.

Tatapan Kevin seketika menajam. Dia memicingkan mata ke arah Tania, jelas sekali dia mengenali dari mana asal barang-barang tersebut.

Orang-orang yang mengenalnya tahu betul bahwa itu adalah tanda kalau dia sedang marah besar.

Tania justru membalas tatapannya dengan tenang, bahkan sudut bibirnya menunjukkan senyum mengejek yang tipis.

Penawaran mulai bermunculan satu demi satu. Devia menarik lengan baju Kevin dan berbisik, "Kevin, yang berlian biru itu cantik banget, aku suka ...."

Kevin sempat terdiam beberapa detik sebelum akhirnya mengangkat papan tawarnya.

Akhirnya, tumpukan barang itu terjual dengan harga fantastis yaitu dua triliun rupiah kepada Kevin, yang kemudian langsung dia berikan kepada Devia yang tersenyum sangat bahagia.

Tania merasa sangat ironis di dalam hati. Bukankah ini namanya mengembalikan barang kepada pemilik aslinya dengan cara yang berbeda?

Saat jam istirahat, dia pergi ke kamar mandi untuk memperbaiki riasan wajahnya.

Begitu keluar dari kamar mandi, dia melihat Kevin sedang bersandar di dinding koridor sambil merokok. Asap yang mengepul membuat garis wajahnya yang tegas terlihat samar, tapi tidak bisa menutupi tatapannya yang tajam tertuju pada Tania.

Tania tetap berjalan lurus tanpa menoleh, tapi pergelangan tangannya langsung dicengkeram Kevin.

"Kenapa kamu lelang barang-barang itu?"

Tania tidak menjawab, dia justru mendongak, balik bertanya dengan nada sinis, "Kenapa tadi kamu bantuin aku?"

Kevin sedikit mengernyit dan baru saja hendak bicara.

Tania mendahuluinya dengan nada mengejek, "Mau bilang lagi kalau ini karena aku sahabatnya Yumna? Dia yang titip aku ke kamu buat dijagain?"

Tania melangkah maju mendekatinya, menatap wajah tegas pria itu dengan senyum dingin. "Apa dia juga titip ke kamu buat jagain urusan asmaraku, Pak Kevin?"

Kevin memijat pangkal hidungnya seolah merasa lelah, lalu akhirnya dia berkata, "Tania, kamu selalu seperti landak, penuh dengan duri. Apa untungnya buat dirimu sendiri bersikap begini?"

Untung?

Memang tidak ada untungnya, tapi kalau dia tidak bersikap seperti landak, dia sudah habis dimakan oleh keluarganya dan Devia tersayang pria itu sampai ke tulang-tulangnya.

Tania baru saja mau bicara, tapi Kevin melanjutkan, "Laki-laki terakhirmu itu aku. Berikutnya, nggak boleh lebih buruk dariku. Orang kayak tadi nggak pantas buatmu. Kalau kamu butuh laki-laki, aku bisa kenalin."

Tania sempat tertegun sebelum akhirnya tertawa sampai mengeluarkan air mata karena merasa itu adalah lelucon paling lucu sedunia.

Dia pikir dia siapa? Setelah menusuk hati Tania paling dalam, sekarang dia malah mau mengatur standar pasangannya?

Apa karena dia punya rasa memiliki yang posesif, atau cuma karena merasa Tania bakal bikin malu nama besar Pak Kevin sang CEO terhormat?

"Kevin." Tania menghentikan tawanya dengan tatapan mata yang dingin sekaligus hancur. "Urusanku nggak ada hubungannya sama kamu. Kamu nggak perlu ikut campur."

"Soal laki-laki ...." Nadanya terdengar genit sekaligus mengejek dirinya sendiri. "Aku bisa punya sebanyak apa pun yang aku mau. Nanti kalau jarak kita udah jauh, kamu juga nggak bakal bisa ngatur aku lagi."

Kevin menangkap poin penting itu dan nadanya berubah menjadi berat. "Apa maksudnya jarak sudah jauh? Kamu mau pergi ke mana?"

Tania tidak mengatakan apa pun. Dia menyentakkan tangan pria itu sekuat tenaga lalu pergi meninggalkan Kevin.

Setelah kembali ke tempat duduk, dia hanya ingin segera pergi dari tempat penuh drama ini.

Namun, saat barang lelang berikutnya dipajang, tatapan mata Tania seketika membeku!

Itu adalah kalung safir dengan model klasik yang elegan, barang peninggalan paling berharga milik mendiang ibunya!

Dia langsung menoleh ke arah Devia dan melihat tatapan mata wanita itu yang penuh kemenangan. Dia sadar kalau ayahnya, Rendy, pasti memberikan barang milik ibunya kepada Devia secara diam-diam. Devia malah berani melelangnya di depan umum!

Tania terpaksa duduk kembali dan menenangkan diri untuk mengikuti lelang tersebut.

Dia tidak mungkin membiarkan barang peninggalan ibunya jatuh ke tangan orang lain.

Setelah beberapa putaran penawaran yang sengit, Tania akhirnya memenangkan kalung itu dengan harga berkali-kali lipat dari harga pasar.

Dia merasa lega dan baru saja mau naik ke panggung untuk mengambilnya, tiba-tiba Devia berdiri.

"Tunggu sebentar." Suara Devia terdengar lembut tapi mengandung niat jahat. "Pembawa acara, maaf, aku salah memberikan barang lelang. Kalung ini nggak jadi aku lelang, ini koleksi pribadiku yang nggak sengaja terbawa."

Selesai bicara, dia memegang kalung itu sambil tersenyum penuh kemenangan kepada Tania, lalu berbalik jalan keluar.

Tania segera mengejarnya dan mencegatnya di luar gedung klub.

"Devia! Kembalikan kalungnya! Kamu mau uang berapa pun pasti aku kasih!" ujar Tania dengan sangat mendesak.

Devia memainkan kalung di tangannya sambil tersenyum jahat. "Aku nggak kurang uang."

Dia berjalan ke pinggir danau buatan di dekat sana, menatap air danau yang keruh, lalu menoleh ke arah Tania. "Bukannya kamu paling suka tampil cantik dan punya harga diri tinggi? Kalau kamu mau, ambil saja sendiri di bawah."

Setelah berkata demikian, dia langsung melemparkan kalung itu ke dalam danau tanpa ragu sedikit pun!

Tanpa pikir panjang dan di tengah tatapan kaget orang-orang di sekitar, Tania langsung terjun ke dalam air danau yang dingin!

Dia berusaha keras mencari di tengah air yang keruh. Lumpur mulai mengotori gaun mahalnya dan merusak riasan wajahnya yang cantik.

Kevin yang baru saja selesai merokok dan keluar dari gedung, langsung melihat pemandangan tersebut.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Mawar Merah Di Ujung Penyesalan   Bab 29

    Setelah selesai bicara, dia bangkit berdiri tanpa menoleh pada pria itu lagi. Dia pun berbalik dan berjalan menuju pintu bangsal."Tania ...." Kevin mengerahkan sisa tenaga terakhirnya, memanggil dengan suara lemah yang diiringi isakan keputusasaan.Langkah kaki Tania sempat terhenti di ambang pintu, tapi dia tidak menoleh.Dia mengulurkan tangan dan membuka pintu ruangan itu.Di luar pintu, Yudha berdiri di sana, menatapnya dengan pandangan yang lembut tapi teguh.Tania berjalan ke sisinya, dan Yudha secara alami menggandeng tangannya, menggenggamnya dengan erat.Mereka berdua berjalan berdampingan meninggalkan bangsal itu tanpa menoleh ke belakang, lalu menghilang di ujung lorong.Kevin terbaring di ranjang rumah sakit, menatap pintu yang kini kosong dan punggung wanita yang pergi dengan tegas itu. Air matanya akhirnya tumpah dengan deras, mengalir dari sudut mata dan membasahi bantalnya.Dia tahu bahwa kali ini, dia benar-benar ... telah kehilangan wanita itu selamanya.Kehilangan s

  • Mawar Merah Di Ujung Penyesalan   Bab 28

    Tania yang masih didekap erat oleh Yudha hanya bisa terpaku menatap pemandangan tragis di depannya. Jantungnya seolah berhenti berdetak seketika!Dia bahkan bisa melihat dengan jelas sorot mata Kevin saat pria itu terpental ....Tidak ada rasa takut, tidak ada penyesalan, yang ada hanyalah semacam perasaan lega yang rumit, seolah sedang berkata, "Lihat, kali ini ... aku duluan yang nyelamatin kamu ....""Kevin!" Yudha adalah yang pertama bereaksi. Sambil terus melindungi Tania yang gemetar hebat, dia berteriak ke arah pengawal dan petugas keamanan hotel yang berdatangan. "Cepat panggil ambulans! Cepat!!"Lokasi kejadian menjadi kacau balau.Tania menatap sosok yang terbaring tak bergerak di tengah genangan darah itu. Wajahnya pucat pasi, tubuhnya gemetar tanpa kendali. Meskipun sudah tidak cinta lagi, meskipun ada begitu banyak dendam, melihat sebuah nyawa yang tadinya begitu hidup kini mungkin lenyap di depan mata demi menyelamatkannya ....Guncangan ini membuatnya tidak bisa tetap te

  • Mawar Merah Di Ujung Penyesalan   Bab 27

    Hasil penganugerahan diumumkan, Tania berhasil menyabet mahkota Aktris Terbaik berkat sebuah film seni yang menginterpretasikan kompleksitas sisi manusia secara mendalam!Saat namanya dipanggil, seluruh penonton berdiri dan memberikan tepuk tangan meriah.Di bawah sorotan lampu, dia perlahan naik ke panggung, menerima piala yang terasa berat itu dari tangan presenter. Matanya sedikit memerah, tapi senyumnya tampak begitu cemerlang.Dia memberikan pidato kemenangan yang singkat, berterima kasih kepada sutradara dan kru film. Terakhir, pandangannya tertuju pada Yudha yang berada di bawah panggung, suaranya terdengar lembut namun mantap. "Terakhir, aku ingin berterima kasih secara khusus kepada seseorang, kekasihku, Yudha. Terima kasih karena selalu ada di sisiku, memberiku dukungan dan kekuatan. Setengah dari piala ini adalah milikmu."Kamera segera menyorot Yudha. Dia berdiri, mengirimkan sebuah ciuman jauh ke arah Tania di panggung, dengan mata yang berkaca-kaca karena bangga. Seluruh

  • Mawar Merah Di Ujung Penyesalan   Bab 26

    Akhir musim gugur. Daun-daun ketapang berguguran memenuhi tanah, membentangkan puisi berwarna keemasan.Tania mengenakan syal kasmir yang lembut, duduk di samping jendela besar yang bermandikan cahaya matahari sambil membalik-balik naskah film baru yang baru saja dikirimkan.Yudha duduk bersila di atas karpet sambil menangani urusan kantor di laptopnya. Sesekali dia mendongak menatap Tania dengan tatapan yang sangat lembut.Suasana yang tenang dan hangat itu seketika pecah oleh notifikasi berita yang muncul di tablet.[Berita Terkini! Rendy, pimpinan Grup Tamara yang merupakan perusahaan ternama di dalam negeri, diduga terlibat penggelapan dana publik dalam jumlah besar serta penyelewengan pajak, dan kini telah resmi ditangkap pihak kepolisian!][Harga saham Grup Tamara seketika anjlok parah, perusahaan dinyatakan bangkrut dan dalam proses likuidasi!][Investigasi Mendalam: Di balik runtuhnya Grup Tamara, diduga ada keterlibatan raksasa kapital misterius yang melakukan serangan secara

  • Mawar Merah Di Ujung Penyesalan   Bab 25

    Nada bicaranya terdengar sedikit sedih. "Kamu ke luar negeri tiga tahun itu, aku langsung nyusul kamu saat itu juga. Bukan karena alasan lain, tapi karena ... aku suka kamu, Tania. Dari kita masih kecil banget, aku sudah sangat menyukaimu."Ucapan itu bagaikan aliran air hangat yang perlahan mengalir masuk ke dalam hati Tania.Dia menatap Yudha dengan bimbang, melihat ketulusan dan rasa cemas yang tidak ditutup-tutupi di mata pria itu.Selama tiga tahun ini, Tania mengingat setiap kebaikan yang diberikan Yudha padanya, sedikit demi sedikit.Yudha menemaninya melewati kesepian saat pertama kali tiba di negeri asing, mendukungnya dalam diam saat kariernya terhambat, menjaganya sepanjang malam saat dia sakit, menghargai setiap keputusannya, dan tidak pernah memberinya tekanan. Kehadiran Yudha terasa hangat dan menenangkan.Yudha menggenggam tangan Tania, telapak tangannya terasa hangat dan kering. "Tania, aku tahu hatimu masih terluka dan belum sepenuhnya lepasin masa lalu. Aku nggak buru

  • Mawar Merah Di Ujung Penyesalan   Bab 24

    Waktu seolah membeku selama beberapa detik.Kevin melihat Tania berdiri di sana tanpa luka sedikit pun. Hati yang sudah terasa digantung selama berhari-hari itu akhirnya jatuh terperosok dengan rasa lega yang luar biasa!Sebuah rasa syukur yang sangat besar karena selamat dari maut dan rasa pilu yang tidak terlukiskan seketika menghancurkan akal sehatnya!Dia tidak memedulikan rasa sakit yang menusuk di lengannya, tidak memedulikan penampilannya yang sangat berantakan. Dia menerjang maju beberapa langkah, lalu di bawah tatapan semua orang yang terperangah, dia memeluk Tania dengan sangat erat! Kekuatannya begitu besar seolah-olah ingin menghancurkan wanita itu dalam dekapannya!Tubuhnya gemetaran tanpa kendali, suaranya terdengar serak dan pecah dengan nada hidung yang berat, mengulang kalimat yang sama berkali-kali. "Syukurlah ... syukurlah kamu nggak apa-apa ... syukurklah ...."Itu adalah sebuah ketakutan luar biasa yang meledak setelah berhasil mendapatkan kembali apa yang sempat d

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status