Dia bilang, dia nggak punya perasaan apa-apa.Jadi, selama tiga tahun ini, hanya Tania sendiri yang seperti orang bodoh, terjebak dalam sandiwara yang pria itu sutradarai dan menumpahkan seluruh perasaan tulusnya.Tania mematung di tempatnya, menatap tangannya yang terasa kosong. Sisa kehangatan dari pergelangan tangan pria itu masih tertinggal, tapi, detik ini rasanya justru membakar kulitnya bagaikan besi panas.Detik berikutnya, dia mendadak menyambar botol minuman mahal di atas meja dan membantingnya keras-keras ke lantai!Semua yang ada dalam pandangannya, mulai dari gelas, piring buah, hingga hiasan ruangan, menjadi sasaran pelampiasan rasa sakitnya yang luar biasa.Orang-orang di dalam ruangan itu sontak ketakutan, tidak ada satu pun yang berani maju untuk menghentikannya.Entah berapa lama berlalu, Tania akhirnya kehabisan tenaga. Pandangannya kosong, wajahnya penuh air mata, tetapi bibirnya masih tertarik dalam tawa rendah.Dia bahkan tidak tahu bagaimana dia bisa keluar dari
Read more