Share

Bab 9

Author: Luli
Kevin mengernyitkan dahi. Dia melangkah cepat ke pinggir danau, mengulurkan tangan pada Tania, lalu berkata dengan nada penuh amarah yang tertahan, "Tania! Naik!"

Tania menyentakkan tangannya dan kembali fokus mencari di dalam air.

Begitu jarinya menyentuh benda keras yang dingin, dia segera menggenggamnya seolah menemukan harta karun, lalu merangkak naik dari danau dengan tubuh basah kuyup.

Barulah saat itu Kevin melihat dengan jelas. Benda yang membuatnya rela melompat ke danau ternyata hanya sebuah kalung batu permata kecil yang tampak agak usang.

Amarah yang tak terbendung muncul di hati Kevin. Dia mencengkeram lengan Tania. "Barang seharga ratusan miliar kamu lelang begitu saja! Sekarang demi benda kecil begini, kamu sampai nggak sayang nyawa?"

Tania menyentakkan tangan Kevin dengan kuat. Tubuhnya bergetar hebat karena kedinginan dan emosi. "Kamu nggak ngerti apa-apa. Jadi jangan ngomong seolah-olah paling benar."

"Kamu yang bilang kita sudah berakhir! Jadi tolong lepasin aku! Nggak usah pedulikan aku! Dan nggak usah ajak aku bicara lagi!"

Tania menatap mata Kevin dalam-dalam, lalu mengucapkan dua kata dengan sangat jelas, "Kakak Ipar!"

Kevin seketika terpaku mendengar panggilan itu. Pupil matanya mengecil. Baru saja dia hendak bicara, Devia datang dengan nada bicara polos, tapi penuh kemenangan, "Tania, makasih ya sudah bantuin ambil barangku."

Devia mengulurkan tangan hendak merebut kalung yang digenggam erat oleh Tania.

Tania meremasnya kuat-kuat, tidak mau melepaskannya.

"Ini milikku!"

Devia menatap Kevin dengan wajah sedih. "Kevin, ini pemberian ibuku ...."

Melihat sikap keras kepala Tania dan tatapan penuh harap dari Devia, Kevin mengernyitkan dahi. Akhirnya, dia mengulurkan tangan dan mencengkeram pergelangan tangan Tania dengan kuat.

"Lepaskan." Suaranya terdengar dingin dan keras.

"Nggak!" Tania menatapnya dengan mata merah.

Kevin menggunakan tenaga yang sangat besar, dia memaksa mematahkan genggaman jari-jari Tania satu per satu!

"Aah!"

Terdengar suara retakan kecil yang diikuti rintihan kesakitan dari Tania.

Pergelangan tangannya dipatahkan secara paksa oleh pria itu!

Rasa sakit yang luar biasa seketika menyerangnya. Wajah Tania pucat pasi dengan keringat dingin bercucuran. Dia tidak percaya melihat pria di depannya bisa bersikap sekejam dan sedingin itu.

Devia memanfaatkan kesempatan itu untuk mengambil kalungnya. Dia melirik Tania dengan puas, lalu merangkul lengan Kevin. "Kevin, kita masuk ambil mantel terus pulang ya."

Kevin mengangguk. Dia melirik Tania yang meringkuk kesakitan dengan tatapan yang sulit diartikan. Akhirnya dia berbalik dan pergi bersama Devia.

Namun, tepat saat mereka masuk ke gedung klub, sebuah lampu hias dari besi yang berat mendadak longgar dan jatuh tepat ke arah Devia!

Reaksi Kevin sangat cepat. Dia segera mendorong Devia, tapi pinggiran lampu itu tetap mengenai bagian belakang kepala Devia.

"Devia!"

Wajah Kevin berubah drastis. Dia segera menggendong Devia dan bergegas menuju tempat parkir untuk membawanya ke rumah sakit.

Tania menahan pergelangan tangannya yang patah. Rasa sakitnya hampir membuatnya pingsan. Dia juga akhirnya dibawa ke rumah sakit oleh orang-orang yang iba.

Dokter yang menangani tangannya sampai terheran-heran. "Ini ... siapa yang tega berbuat kejam begini sama perempuan?"

Wajah Tania pucat dan bibirnya gemetar. Rasa sakit di hatinya jauh lebih hebat dibanding rasa sakit di tubuhnya.

Dokter bilang luka di tangannya cukup parah dan dia perlu dirawat inap selama beberapa hari untuk observasi.

Akhirnya, Tania terpaksa tinggal di rumah sakit.

Namun, belum lama dia beristirahat di kamarnya, Kevin masuk dengan aura yang sangat dingin dan menyeramkan.

Wajahnya terlihat sangat marah. Dia menatap Tania seolah ingin menghabisi wanita itu saat itu juga.

"Tania, aku sudah cek rekaman CCTV. Kamu yang menyogok staf klub untuk melonggarkan lampu itu supaya bisa mencelakai Devia, 'kan?"

Tania merasa hal itu sangat konyol. Dia menatap Kevin dengan dingin. "Aku nggak ngelakuin itu!"

"Selain kamu, siapa lagi yang punya niat sejahat itu sama Devia? Tania, aku benar-benar meremehkanmu. Kamu benar-benar nekat lakuin apa saja!"

"Aku sudah bilang aku nggak lakuin itu. Kamu nggak berhak nuduh aku!"

"Nuduh?" Mata Kevin terlihat sangat dingin. "Sepertinya kamu nggak akan jujur kalau nggak dikasih pelajaran."

Dia mengeluarkan ponselnya dan menelepon seseorang, lalu memberi perintah dengan nada dingin, "Hubungi polisi. Putri kedua Keluarga Tamara, Tania, diduga melakukan penganiayaan berencana .... Kirim orang ke sini, biar dia ditahan beberapa hari supaya otaknya sadar."

"Kevin!"

Tania menatapnya dengan penuh ketakutan. Dia tidak percaya Kevin sampai hati menggunakan kekuasaannya untuk menjebloskan Tania sendiri ke penjara!

Namun, sekeras apa pun dia meronta, menjelaskan, dan menangis, semuanya sia-sia.

Tidak lama kemudian, petugas berseragam datang ke kamar rawatnya. Tanpa memedulikan larangan dokter dan kondisinya yang cedera, mereka menyeret Tania pergi secara paksa.
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Mawar Merah Di Ujung Penyesalan   Bab 29

    Setelah selesai bicara, dia bangkit berdiri tanpa menoleh pada pria itu lagi. Dia pun berbalik dan berjalan menuju pintu bangsal."Tania ...." Kevin mengerahkan sisa tenaga terakhirnya, memanggil dengan suara lemah yang diiringi isakan keputusasaan.Langkah kaki Tania sempat terhenti di ambang pintu, tapi dia tidak menoleh.Dia mengulurkan tangan dan membuka pintu ruangan itu.Di luar pintu, Yudha berdiri di sana, menatapnya dengan pandangan yang lembut tapi teguh.Tania berjalan ke sisinya, dan Yudha secara alami menggandeng tangannya, menggenggamnya dengan erat.Mereka berdua berjalan berdampingan meninggalkan bangsal itu tanpa menoleh ke belakang, lalu menghilang di ujung lorong.Kevin terbaring di ranjang rumah sakit, menatap pintu yang kini kosong dan punggung wanita yang pergi dengan tegas itu. Air matanya akhirnya tumpah dengan deras, mengalir dari sudut mata dan membasahi bantalnya.Dia tahu bahwa kali ini, dia benar-benar ... telah kehilangan wanita itu selamanya.Kehilangan s

  • Mawar Merah Di Ujung Penyesalan   Bab 28

    Tania yang masih didekap erat oleh Yudha hanya bisa terpaku menatap pemandangan tragis di depannya. Jantungnya seolah berhenti berdetak seketika!Dia bahkan bisa melihat dengan jelas sorot mata Kevin saat pria itu terpental ....Tidak ada rasa takut, tidak ada penyesalan, yang ada hanyalah semacam perasaan lega yang rumit, seolah sedang berkata, "Lihat, kali ini ... aku duluan yang nyelamatin kamu ....""Kevin!" Yudha adalah yang pertama bereaksi. Sambil terus melindungi Tania yang gemetar hebat, dia berteriak ke arah pengawal dan petugas keamanan hotel yang berdatangan. "Cepat panggil ambulans! Cepat!!"Lokasi kejadian menjadi kacau balau.Tania menatap sosok yang terbaring tak bergerak di tengah genangan darah itu. Wajahnya pucat pasi, tubuhnya gemetar tanpa kendali. Meskipun sudah tidak cinta lagi, meskipun ada begitu banyak dendam, melihat sebuah nyawa yang tadinya begitu hidup kini mungkin lenyap di depan mata demi menyelamatkannya ....Guncangan ini membuatnya tidak bisa tetap te

  • Mawar Merah Di Ujung Penyesalan   Bab 27

    Hasil penganugerahan diumumkan, Tania berhasil menyabet mahkota Aktris Terbaik berkat sebuah film seni yang menginterpretasikan kompleksitas sisi manusia secara mendalam!Saat namanya dipanggil, seluruh penonton berdiri dan memberikan tepuk tangan meriah.Di bawah sorotan lampu, dia perlahan naik ke panggung, menerima piala yang terasa berat itu dari tangan presenter. Matanya sedikit memerah, tapi senyumnya tampak begitu cemerlang.Dia memberikan pidato kemenangan yang singkat, berterima kasih kepada sutradara dan kru film. Terakhir, pandangannya tertuju pada Yudha yang berada di bawah panggung, suaranya terdengar lembut namun mantap. "Terakhir, aku ingin berterima kasih secara khusus kepada seseorang, kekasihku, Yudha. Terima kasih karena selalu ada di sisiku, memberiku dukungan dan kekuatan. Setengah dari piala ini adalah milikmu."Kamera segera menyorot Yudha. Dia berdiri, mengirimkan sebuah ciuman jauh ke arah Tania di panggung, dengan mata yang berkaca-kaca karena bangga. Seluruh

  • Mawar Merah Di Ujung Penyesalan   Bab 26

    Akhir musim gugur. Daun-daun ketapang berguguran memenuhi tanah, membentangkan puisi berwarna keemasan.Tania mengenakan syal kasmir yang lembut, duduk di samping jendela besar yang bermandikan cahaya matahari sambil membalik-balik naskah film baru yang baru saja dikirimkan.Yudha duduk bersila di atas karpet sambil menangani urusan kantor di laptopnya. Sesekali dia mendongak menatap Tania dengan tatapan yang sangat lembut.Suasana yang tenang dan hangat itu seketika pecah oleh notifikasi berita yang muncul di tablet.[Berita Terkini! Rendy, pimpinan Grup Tamara yang merupakan perusahaan ternama di dalam negeri, diduga terlibat penggelapan dana publik dalam jumlah besar serta penyelewengan pajak, dan kini telah resmi ditangkap pihak kepolisian!][Harga saham Grup Tamara seketika anjlok parah, perusahaan dinyatakan bangkrut dan dalam proses likuidasi!][Investigasi Mendalam: Di balik runtuhnya Grup Tamara, diduga ada keterlibatan raksasa kapital misterius yang melakukan serangan secara

  • Mawar Merah Di Ujung Penyesalan   Bab 25

    Nada bicaranya terdengar sedikit sedih. "Kamu ke luar negeri tiga tahun itu, aku langsung nyusul kamu saat itu juga. Bukan karena alasan lain, tapi karena ... aku suka kamu, Tania. Dari kita masih kecil banget, aku sudah sangat menyukaimu."Ucapan itu bagaikan aliran air hangat yang perlahan mengalir masuk ke dalam hati Tania.Dia menatap Yudha dengan bimbang, melihat ketulusan dan rasa cemas yang tidak ditutup-tutupi di mata pria itu.Selama tiga tahun ini, Tania mengingat setiap kebaikan yang diberikan Yudha padanya, sedikit demi sedikit.Yudha menemaninya melewati kesepian saat pertama kali tiba di negeri asing, mendukungnya dalam diam saat kariernya terhambat, menjaganya sepanjang malam saat dia sakit, menghargai setiap keputusannya, dan tidak pernah memberinya tekanan. Kehadiran Yudha terasa hangat dan menenangkan.Yudha menggenggam tangan Tania, telapak tangannya terasa hangat dan kering. "Tania, aku tahu hatimu masih terluka dan belum sepenuhnya lepasin masa lalu. Aku nggak buru

  • Mawar Merah Di Ujung Penyesalan   Bab 24

    Waktu seolah membeku selama beberapa detik.Kevin melihat Tania berdiri di sana tanpa luka sedikit pun. Hati yang sudah terasa digantung selama berhari-hari itu akhirnya jatuh terperosok dengan rasa lega yang luar biasa!Sebuah rasa syukur yang sangat besar karena selamat dari maut dan rasa pilu yang tidak terlukiskan seketika menghancurkan akal sehatnya!Dia tidak memedulikan rasa sakit yang menusuk di lengannya, tidak memedulikan penampilannya yang sangat berantakan. Dia menerjang maju beberapa langkah, lalu di bawah tatapan semua orang yang terperangah, dia memeluk Tania dengan sangat erat! Kekuatannya begitu besar seolah-olah ingin menghancurkan wanita itu dalam dekapannya!Tubuhnya gemetaran tanpa kendali, suaranya terdengar serak dan pecah dengan nada hidung yang berat, mengulang kalimat yang sama berkali-kali. "Syukurlah ... syukurlah kamu nggak apa-apa ... syukurklah ...."Itu adalah sebuah ketakutan luar biasa yang meledak setelah berhasil mendapatkan kembali apa yang sempat d

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status