แชร์

Bab 26

ผู้เขียน: Hanna Aisha
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2026-01-26 03:22:41

“Apa maksudmu?”

Pertanyaanku terdengar lebih pelan dari yang kurencanakan. Mungkin karena di ruangan ini, segala sesuatu terasa harus dibisikkan. Bahkan kebenaran.

Darren tidak langsung menjawab. Tangannya yang masih menggenggam tanganku sedikit mengencang, seolah sedang menahan sesuatu agar tidak keluar.

“Bill bukan sekadar kakek,” katanya akhirnya. “Dan bukan sekadar kepala keluarga.”

Aku menahan napas.

“Dia adalah sistem.”

Aku menatap jauh ke dalam kedua manik hazel Darren, mencoba memahami
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Mawar Merah Sang CEO   Bab 26

    “Apa maksudmu?”Pertanyaanku terdengar lebih pelan dari yang kurencanakan. Mungkin karena di ruangan ini, segala sesuatu terasa harus dibisikkan. Bahkan kebenaran.Darren tidak langsung menjawab. Tangannya yang masih menggenggam tanganku sedikit mengencang, seolah sedang menahan sesuatu agar tidak keluar.“Bill bukan sekadar kakek,” katanya akhirnya. “Dan bukan sekadar kepala keluarga.”Aku menahan napas.“Dia adalah sistem.”Aku menatap jauh ke dalam kedua manik hazel Darren, mencoba memahami kata itu. Sistem? Aku tidak mengerti. Semua ini terlalu besar. Terlalu abstrak. Terlalu… jauh dari kehidupan normal yang kukenal.“Dan kau?” tanyaku. “Kau apa di dalam sistem itu?”Darren menarik napas panjang. Matanya menatap ke arah jendela kamar rawat, ke gelap malam di luar sana.“Aku bagian darinya.”Dadaku mencelos.“Bukan sebagai korban,” lanjutnya pelan. “Tapi sebagai roda.”Aku merasa kata itu menghantam lebih keras daripada pengakuan apa pun.“Roda?” ulangku. “Roda untuk apa?”“Untuk m

  • Mawar Merah Sang CEO   Bab 25

    Darren tidak seharusnya berada di sini. Itu kesadaran pertama yang muncul ketika pintu lift privat terbuka di lantai tertinggi gedung administrasi pusat—lantai yang bahkan para direktur tidak memiliki akses tanpa pemindaian ganda.Namun, sistem membiarkannya masuk. Bukan karena ia masih berhak. Melainkan karena ia belum sepenuhnya dihapus.Lorong itu sunyi, lampu putih memantul di lantai marmer hitam seperti permukaan danau beku. Setiap langkahnya terasa salah. Setiap bunyi sepatu di lantai terdengar terlalu keras, seperti pengakuan bahwa dia masih ada, bahwa dia belum mati seperti yang telah direncanakan.Zach berdiri di ujung lorong. Tidak berubah banyak. Rambutnya masih hitam rapi, posturnya masih setegak biasanya, jas gelapnya masih tanpa cela. Tapi matanya…Matanya tidak lagi menyimpan kepongahan. Matanya menyimpan beban.“Kalau kamera aktif, kau sudah mati sebelum pintu lift terbuka,” kata Zach tanpa basa-basi.Darren berhenti dua langkah darinya.“Kalau kamera aktif, kau tidak

  • Mawar Merah Sang CEO   Bab 24

    Darren menggenggam tangan wanita di hadapannya. Hangatnya terasa kontras dengan dinginnya ruangan dan dinginnya kata-kata yang baru saja dia ucapkan.“Kendali Bill?” ulang Naomi pelan dengan dahi berkerut. Lelaki itu mengangguk. Tatapannya bergeser ke langit-langit, seolah sedang menghitung sesuatu yang tak kasat mata. “Aku seharusnya tidak pernah membawamu masuk sejauh ini,” ucapnya lirih. “Tapi sekarang, semuanya sudah terlanjur. Dan terlalu terlambat untukku menyesal.”“Apa maksudmu?” Darren menoleh kembali pada wanita yang sedang memandangnya dengan raut tanya yang kentara. Matanya menatap tajam, tapi bukan tajam yang mengancam, melainkan tajam yang penuh keputusan.“Bill tahu aku akan pergi."Tubuh Naomi seketika menegang. “Pergi?! Kau akan pergi ke mana?”“Pergi darinya. Pergi dari dunia gelap itu.” Darren menarik napas panjang. “Dan Bill tidak pernah membiarkan sesuatu pergi darinya dalam keadaan utuh.”***Ruangan itu terlalu putih untuk menjadi saksi sesuatu yang sehitam in

  • Mawar Merah Sang CEO   Bab 23

    Satu minggu berlalu dan sama sekali tidak ada kabar tentang kondisi Darren. Aku bahkan sudah hampir gila karena setiap hari yang kulakukan hanya duduk termenung sambil menatap layar ponsel, menunggu panggilan dari Zach. Aku sudah berusaha berulang kali mengirim pesan dan juga telepon, tetapi tak ada satu pun yang direspon. Entah karena lelaki itu sedang sibuk, atau Bill yang melarangnya untuk memberi kabar kepadaku tentang kondisi Darren. Para bodyguard yang ditempatkan di sekitar rumah semakin banyak, membuatku tidak punya jalan untuk menyelinap keluar barang sesaat. Padahal aku hanya ingin ke rumah sakit untuk menjenguk Darren dan melihat kondisinya, tidak lebih. Aku juga berkali-kali bertanya kepada Bibi Marry maupun Katty tentang kondisi Darren saat ini, siapa tau ada salah satu pengawal Darren yang memberinya kabar. Namun, jawaban mereka selalu sama; kita tunggu kabar dari Zach. Argh! Rasanya aku hampir gila! Aku mengacak rambut frustasi lalu melemparkan ponsel ke atas ranjan

  • Mawar Merah Sang CEO   Bab 22

    Suara sirene ambulans meraung membelah jalanan malam. Aku duduk di bangku belakang, tepat di samping tubuh Darren yang sedang tak sadarkan diri, sementara perawat sedang berusaha menghentikan pendarahan di bagian kepala Darren. Tubuhnya terbaring penuh luka, masker oksigen menutupi hidung dan mulut, selang infus telah terpasang di punggung tangan, sementara di dadanya ditempeli alat semacam kabel yang terhubung ke monitor EKG. Aku menggenggam tangannya sembari bibir sibuk merapal doa-doa. Setelah perjalanan yang terasa sangat lama bagiku, mobil akhirnya sampai di depan rumah sakit. Beberapa perawat segera membawa brankar tempat Darren terbaring menuju UGD. Aku mengikuti di belakang dengan setengah berlari. Setibanya di dalam ruang UGD, para perawat dan dokter segera melakukan tindakan medis. Aku melihat dari luar pintu kaca yang transparan, keadaan di dalam begitu kacau, sama kacaunya dengan perasaanku saat ini. Perasaan yang bahkan tak kumengerti, perasaan yang tak mampu kuartikan.

  • Mawar Merah Sang CEO   Bab 21

    "Untuk sementara tinggalah dulu di sini. Tempat ini jauh dari kota, Darren tidak akan mudah untuk menemukanmu—yah setidaknya dalam beberapa hari," ucap Zach saat meletakkan tas ranselku di meja. Perlahan aku melangkah masuk ke dalam kamar, mengedarkan pandangan ke sekeliling. Ruangan sederhana bernuansa putih dan cokelat tua, dengan satu ranjang queen size yang diapit dua nakas kayu di kiri dan kanan, satu buah televisi layar datar di dinding, satu buah lemari, dan satu kamar mandi lengkap dengan toiletriesnya. Kamar ini juga memiliki balkon yang mengarah pada bagian belakang hotel, sehingga aku bisa menikmati pemandangan pohon-pohon rindang di sana. Well, kurasa kamar ini lebih dari cukup sebagai tempat persembunyianku sementara, menjauh dari Darren dan orang-orangnya. "Terima kasih, Zach. Maafkan aku karena telah menempatkanmu dalam masalah besar. Apa kau baik-baik saja nanti? Aku takut Darren akan melakukan sesuatu padamu." Aku menggigit bibir. Merasa tidak enak kepada Zach yang

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status