LOGINHari yang ditunggu-tunggu —entah oleh siapa— akhirnya tiba. Pukul tujuh pagi Darren menjemputku untuk kemudian berangkat bersama ke Dallas, tepatnya ke The Adolphus hotel, salah satu hotel termewah di Texas, tempat pesta pernikahan kami akan digelar.
Pemberkatan dijadwalkan pukul sembilan pagi. Lalu, dilanjutkan dengan resepsi sampai dini hari. Begitulah yang dikatakan Darren padaku selama perjalanan. Setelah hampir tiga puluh menit berkendara, BMW Darren memasuki Commerce street, dan berbelok ke arah kiri memasuki tempat parkir gedung. Darren mengambil tempat parkir bawah tanah dan menghentikan mobilnya di sudut area.
Udara dingin seketika menusuk tulang. Kueratkan coat yang kukenakan untuk menghalau hawa dingin yang berusaha menelusup masuk. Di depan lift, kami sudah di sambut oleh sepasang laki-laki dan sepasang perempuan berpakaian formal. Mereka kemudian menggiring kami ke sebuah kamar untuk berganti pakaian dan melakukan persiapan.
Darren bersama laki-laki yang tadi menjemput kami di lift meneruskan langkah ke ruangan lain, sementara aku bersama kedua wanita yang berjalan di belakangku memasuki kamar di sebelah kanan yang tak jauh dari lift.
Di dalam kamar itu sudah ada beberapa wanita lagi, mungkin pelayan. Mereka segera melakukan tugas, membantuku bersiap. Ada yang membantuku mengenakan gaun, lalu ada yang menata rambutku, ada pula yang memoleskan make up di wajahku.
Pelayan-pelayan ini sepertinya sangat profesional. Itu terlihat dari bagaimana mereka bekerja, dan hasil yang terlihat satu jam kemudian. Kulirik pantulan wajahku di cermin. Aku bahkan hampir tak mengenali diriku sendiri.
"Sudah selesai, Nona. Silakan menunggu, kami akan keluar," ucap salah satu dari pelayan itu setelah memberikan sentuhan terakhir di wajahku.
Aku hanya mengangguk sambil mengulas senyum tipis. Acara masih akan dimulai setengah jam lagi. Lalu, apa yang harus kulakukan di sini? Tidur? Ah, tentu saja tidak. Riasanku bisa-bisa rusak jika aku menempelkan wajah ke bantal sofa.
Beberapa saat kemudian, seseorang mengetuk pintu. Siapa dia? Apakah Darren?
"Masuk." Aku berseru sembari menolehkan wajah ke arah pintu.
Saat handle pintu diputar dan perlahan daun pintu terbuka, aku terperangah. Tak percaya dengan seseorang yang kulihat tengah melangkah masuk ke ruangan.
"Apa kabar, Putriku?" sapa lelaki itu, yang kini telah duduk di sofa.
Aku membuang muka. Lalu bertanya dengan nada yang kubuat setenang mungkin. "Apa yang Anda lakukan di sini, Tuan Anderson?"
"Putriku akan menikah beberapa saat lagi, lalu menurutmu apa yang sedang kulakukan?"
Aku menoleh cepat. "Bagaimana Anda tau saya akan menikah?"
Lelaki itu mengulas senyum tipis. "Calon suamimu menemuiku kemarin. Dia menginginkanku untuk menemanimu menuju altar."
Aish! Darren! Laki-laki itu sama sekali tidak pernah mendengarkan ucapanku.
"Aku bisa berjalan sendiri. Silakan Anda tinggalkan ruangan ini," sergahku.
Lelaki itu bangkit, lalu berdiri di samping tempatku duduk. Tangannya hendak menyentuh bahuku, tetapi dengan cepat kutangkis. "Jangan sentuh saya, Tuan Anderson."
"Naomi, mau sampai kapan kau bersikap seperti ini kepada Daddy?"
"Aku sudah tidak punya Daddy, dan Anda bukan Daddyku."
"Naomi ...." keluhnya. Aku melengos, enggan beradu tatap dengannya.
"Kau bukan lagi Daddyku semenjak hari itu. Hari di mana kau meninggalkan rumah untuk menikahi jalangmu! Kau yang membuat Mommyku meninggal! Kau yang membuatku harus hidup seperti ini! Kau!" Aku menarik napas demi menormalkan detak jantungku. "Jadi, kuharap sekarang kau pergilah. Aku tidak membutuhkanmu."
***
Tepat pukul sembilan, seorang pelayan memasuki ruangan tempatku menunggu. Dia membantuku bangkit dan mengajakku keluar menuju ballroom. Aku berjalan terseok karena sepatu hak yang kugunakan, ditambah gaun yang kukenakan juga terlalu panjang. Untungnya para pelayan mengerti aku kesusahan. Mereka membantuku mengangkat bagian bawah gaun bagian belakang.
Tepat di depan pintu, aku berhenti sesaat hanya untuk menormalkan detak jantung yang berkejar-kejaran. Tiba-tiba saja aku menjadi gugup. Kutarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan untuk menenangkan diri sebelum kembali melangkahkan kaki.
Pintu ruangan dibuka oleh pengawal. Seketika tepuk tangan terdengar riuh, siap menyambut langkah demi langkah yang kuayunkan. Ballroom hotel yang luas dan megah dengan interior khas Eropa klasik itu penuh dengan para tamu undangan. Sebagian besar dari mereka adalah petinggi-petinggi perusahaan, rekan kerja Darren ataupun kakeknya. Namun, tak ada satu pun yang aku kenal di antara tamu undangan itu.
Di tengah ruangan tergelar karpet merah yang akan menjadi tempatku berjalan. Aku berdiri mematung di ujung karpet. Sedangkan di ujung sana, di ujung seberang karpet ini, Darren telah menunggu dengan tuxedo putih mewahnya, bersama pendeta yang berdiri di belakang podium.
Aku mengeratkan genggaman pada gaunku. Kembali kutarik napas panjang lalu menguatkan hati untuk kembali melangkah. Sesaat sebelum langkahku terayun, seseorang tiba-tiba meraih tanganku.
Aku mendongak. Daddy?
"Apa pun yang terjadi di kehidupan kita, walau bagaimanapun aku tetap Daddymu. Aku harus menemanimu berjalan menuju altar," bisiknya.
Aku terdiam. Lalu, perlahan melangkah saat Daddy mulai menganyunkan kakinya.
Gemuruh tepuk tangan semakin ramai. Daddy mengeratkan pegangannya di lenganku. Mungkin dia takut aku terjatuh karena gugup.
Sesampainya di depan altar, Daddy memberikan tanganku kepada Darren, yang disambut dengan baik oleh laki-laki itu.
Di depan pendeta, Daddy, dan seluruh tamu yang hadir hari ini, aku dan Darren mengucapkan janji suci pernikahan. Janji yang seharusnya suci, yang dengan lancangnya kami permainkan.
Meski bagi orang lain pernikahan ini adalah sesuatu yang sakral, tetapi bagi kami pernikahan ini hanyalah sebuah kesepakatan. Masing-masing dari kami tak ada yang menganggap serius ikatan ini. Maafkan aku, Tuhan. Aku mengingkari setiap sumpah yang kuucapkan hari ini.
Setelah janji suci diucapkan oleh aku dan Darren secara bergantian, pendeta mengesahkan kami sebagai sepasang suami istri. Lalu, sebagai tanda bahwa kami telah menikah, pendeta menyuruh kami untuk berciuman.
Oh, sial! Mengapa aku sampai lupa kalau ada hal-hal seperti ini yang tak bisa kuhindari? Aku memberi isyarat tanya kepada Darren lewat tatapan mata. Namun, sialnya Darren justru tersenyum miring. Dasar licik.
Dia maju selangkah, lalu meraih daguku, sementara dia juga mendekatkan wajahnya padaku.
Kupejamkan mata erat-erat. Laki-laki ini hanya akan mengecup bibirku saja, kan? Dia tidak akan melakukan hal yang bukan-bukan? Aku berusaha meyakinkan diri.
Detik berikutnya bibir Darren telah menempel dengan begitu lekat di bibirku diiringi tepuk tangan yang kembali bergema di seluruh ruangan. Dia ternyata bukan hanya mengecup, tetapi juga menghisap dan melakukan gerakan-gerakan yang mengerikan. Oh Tuhan, betapa saat ini aku ingin mendorong wajahnya dan menyingkirkannya dariku sejauh-jauhnya.
Aku tidak tau berapa lama Darren menciumku. Aku juga tidak berani membuka mata. Jangankan membuka mata, bernapas saja aku tidak berani. Jantungku juga seperti lupa caranya memompa darah. Jika Darren mempertahankan posisi ini lebih lama lagi, mungkin aku akan mati.
Beberapa saat berlalu dengan begitu lambat, akhirnya Darren menjauhkan dirinya dariku.
Gemuruh tepuk tangan semakin keras. Aku menepuk pipiku yang terasa panas. Wajahku pasti sudah semerah tomat sekarang. Kulirik laki-laki di depanku ini. Darren menyunggingkan senyum menyebalkan di bibirnya yang basah itu. Aku segera memalingkan wajah, jengah.
Seorang pelayan membawa kue pernikahan ke depan. Tak lupa, dia juga menyerahkan pisau panjang kepada kami untuk memotong kue itu. Setelah pembawa acara memberikan instruksi, aku dan Darren membelah kue lima tingkat setinggi satu meter itu bersama-sama.
Pembawa acara kemudian membacakan acara berikutnya, sebelum akhirnya kami menyambut para tamu yang hadir. Kami hanya beristirahat satu jam saat tengah hari. Setelah itu, acara kembali dilanjutkan dengan dansa bersama, pidato beberapa kerabat Darren, lalu after party sampai menjelang pagi.
***
Pukul dua dini hari, aku dan Darren memasuki kamar yang dirancang sebagai kamar pengantin kami. Kulemparkan tubuhku yang serasa remuk ini ke atas ranjang king size berseprai putih dengan taburan kelopak mawar di atasnya. Ah, beginikah rasanya menikah? Melelahkan.
Aku memejamkan mata sebentar, hanya untuk meringankan barang sedikit rasa lelah di badan. Aku belum boleh tidur, belum berganti baju, menghapus make up, mandi. Ah, rasanya aku ingin menyelam saja di samudera sekarang juga.
Suara pintu kamar yang terkunci membuatku seketika membuka mata. Aku bangkit duduk dan memicingkan mata saat melihat Darren melepas jasnya kemudian melangkah mendekatiku.
"Apa yang kau lakukan? Menyingkirlah," ketusku sembari mendorong tubuhnya yang kini berdiri tepat di depanku.
Darren terkekeh. "Apa? Bukankah sekarang kita suami istri?"
Tubuhnya semakin merapat padaku. Ini tidak benar!
"Darren, ingat perjanjian kita!" Kudorong tubuhnya sekuat tenaga. Namun, karena tenagaku bahkan sudah hampir tak bersisa, Darren hanya mundur satu langkah.
Dia menyeringai, meraih handuk, lalu berjalan menuju kamar mandi. Aku menunggunya keluar dengan was-was. Apa yang laki-laki itu rencanakan?
Sepuluh menit kemudian Darren keluar. Hanya dengan handuk yang melilit pinggang.
Spontan, aku berteriak. "Astaga, Darreeeen! Apa yang kau lakukan?"
Lelaki itu tergelak. "Apa yang kulakukan? Aku habis mandi."
"Apa kau tidak bisa memakai baju di dalam saja?" sergahku, masih dengan memalingkan muka.
"Tidak."
Setelah itu, aku tak tau apa yang dia lakukan. Yang kudengar hanya suara resleting terbuka sesaat, lalu hening. Dia sedang memakai baju, kan?
Beberapa menit kemudian aku bertanya, "Kau sudah mengenakan bajumu?"
"Sudah," jawabnya datar.
Aku menoleh, dan seketika memalingkan muka lagi. Dia baru mengenakan celana panjang, sementara bagian atas tubuhnya masih polos.
"Darren, jangan bercanda!"
Kudengar lelaki itu kembali terkekeh. Menyebalkan.
"Aku sudah pakai baju," ucapnya setelah beberapa saat.
Aku menoleh pelan-pelan, takut dia berbohong lagi. Namun, kali ini dia tidak berbohong. Kemeja putih telah terpasang di tubuhnya. Dengan cepat tangannya menyambar jas.
"Cepat mandi, lalu tidur. Aku akan keluar. Kau, jangan tinggalkan kamar ini tanpa seizinku."
Setelah berkata begitu, dia membuka pintu dan berlalu begitu saja.
Aku mendesah lega. Entah apa yang akan dia lakukan menjelang pagi begini. Namun, yah, kepergiannya jauh lebih baik daripada aku harus tidur satu ranjang lagi dengan lelaki itu.
***
“Apa maksudmu?”Pertanyaanku terdengar lebih pelan dari yang kurencanakan. Mungkin karena di ruangan ini, segala sesuatu terasa harus dibisikkan. Bahkan kebenaran.Darren tidak langsung menjawab. Tangannya yang masih menggenggam tanganku sedikit mengencang, seolah sedang menahan sesuatu agar tidak keluar.“Bill bukan sekadar kakek,” katanya akhirnya. “Dan bukan sekadar kepala keluarga.”Aku menahan napas.“Dia adalah sistem.”Aku menatap jauh ke dalam kedua manik hazel Darren, mencoba memahami kata itu. Sistem? Aku tidak mengerti. Semua ini terlalu besar. Terlalu abstrak. Terlalu… jauh dari kehidupan normal yang kukenal.“Dan kau?” tanyaku. “Kau apa di dalam sistem itu?”Darren menarik napas panjang. Matanya menatap ke arah jendela kamar rawat, ke gelap malam di luar sana.“Aku bagian darinya.”Dadaku mencelos.“Bukan sebagai korban,” lanjutnya pelan. “Tapi sebagai roda.”Aku merasa kata itu menghantam lebih keras daripada pengakuan apa pun.“Roda?” ulangku. “Roda untuk apa?”“Untuk m
Darren tidak seharusnya berada di sini. Itu kesadaran pertama yang muncul ketika pintu lift privat terbuka di lantai tertinggi gedung administrasi pusat—lantai yang bahkan para direktur tidak memiliki akses tanpa pemindaian ganda.Namun, sistem membiarkannya masuk. Bukan karena ia masih berhak. Melainkan karena ia belum sepenuhnya dihapus.Lorong itu sunyi, lampu putih memantul di lantai marmer hitam seperti permukaan danau beku. Setiap langkahnya terasa salah. Setiap bunyi sepatu di lantai terdengar terlalu keras, seperti pengakuan bahwa dia masih ada, bahwa dia belum mati seperti yang telah direncanakan.Zach berdiri di ujung lorong. Tidak berubah banyak. Rambutnya masih hitam rapi, posturnya masih setegak biasanya, jas gelapnya masih tanpa cela. Tapi matanya…Matanya tidak lagi menyimpan kepongahan. Matanya menyimpan beban.“Kalau kamera aktif, kau sudah mati sebelum pintu lift terbuka,” kata Zach tanpa basa-basi.Darren berhenti dua langkah darinya.“Kalau kamera aktif, kau tidak
Darren menggenggam tangan wanita di hadapannya. Hangatnya terasa kontras dengan dinginnya ruangan dan dinginnya kata-kata yang baru saja dia ucapkan.“Kendali Bill?” ulang Naomi pelan dengan dahi berkerut. Lelaki itu mengangguk. Tatapannya bergeser ke langit-langit, seolah sedang menghitung sesuatu yang tak kasat mata. “Aku seharusnya tidak pernah membawamu masuk sejauh ini,” ucapnya lirih. “Tapi sekarang, semuanya sudah terlanjur. Dan terlalu terlambat untukku menyesal.”“Apa maksudmu?” Darren menoleh kembali pada wanita yang sedang memandangnya dengan raut tanya yang kentara. Matanya menatap tajam, tapi bukan tajam yang mengancam, melainkan tajam yang penuh keputusan.“Bill tahu aku akan pergi."Tubuh Naomi seketika menegang. “Pergi?! Kau akan pergi ke mana?”“Pergi darinya. Pergi dari dunia gelap itu.” Darren menarik napas panjang. “Dan Bill tidak pernah membiarkan sesuatu pergi darinya dalam keadaan utuh.”***Ruangan itu terlalu putih untuk menjadi saksi sesuatu yang sehitam in
Satu minggu berlalu dan sama sekali tidak ada kabar tentang kondisi Darren. Aku bahkan sudah hampir gila karena setiap hari yang kulakukan hanya duduk termenung sambil menatap layar ponsel, menunggu panggilan dari Zach. Aku sudah berusaha berulang kali mengirim pesan dan juga telepon, tetapi tak ada satu pun yang direspon. Entah karena lelaki itu sedang sibuk, atau Bill yang melarangnya untuk memberi kabar kepadaku tentang kondisi Darren. Para bodyguard yang ditempatkan di sekitar rumah semakin banyak, membuatku tidak punya jalan untuk menyelinap keluar barang sesaat. Padahal aku hanya ingin ke rumah sakit untuk menjenguk Darren dan melihat kondisinya, tidak lebih. Aku juga berkali-kali bertanya kepada Bibi Marry maupun Katty tentang kondisi Darren saat ini, siapa tau ada salah satu pengawal Darren yang memberinya kabar. Namun, jawaban mereka selalu sama; kita tunggu kabar dari Zach. Argh! Rasanya aku hampir gila! Aku mengacak rambut frustasi lalu melemparkan ponsel ke atas ranjan
Suara sirene ambulans meraung membelah jalanan malam. Aku duduk di bangku belakang, tepat di samping tubuh Darren yang sedang tak sadarkan diri, sementara perawat sedang berusaha menghentikan pendarahan di bagian kepala Darren. Tubuhnya terbaring penuh luka, masker oksigen menutupi hidung dan mulut, selang infus telah terpasang di punggung tangan, sementara di dadanya ditempeli alat semacam kabel yang terhubung ke monitor EKG. Aku menggenggam tangannya sembari bibir sibuk merapal doa-doa. Setelah perjalanan yang terasa sangat lama bagiku, mobil akhirnya sampai di depan rumah sakit. Beberapa perawat segera membawa brankar tempat Darren terbaring menuju UGD. Aku mengikuti di belakang dengan setengah berlari. Setibanya di dalam ruang UGD, para perawat dan dokter segera melakukan tindakan medis. Aku melihat dari luar pintu kaca yang transparan, keadaan di dalam begitu kacau, sama kacaunya dengan perasaanku saat ini. Perasaan yang bahkan tak kumengerti, perasaan yang tak mampu kuartikan.
"Untuk sementara tinggalah dulu di sini. Tempat ini jauh dari kota, Darren tidak akan mudah untuk menemukanmu—yah setidaknya dalam beberapa hari," ucap Zach saat meletakkan tas ranselku di meja. Perlahan aku melangkah masuk ke dalam kamar, mengedarkan pandangan ke sekeliling. Ruangan sederhana bernuansa putih dan cokelat tua, dengan satu ranjang queen size yang diapit dua nakas kayu di kiri dan kanan, satu buah televisi layar datar di dinding, satu buah lemari, dan satu kamar mandi lengkap dengan toiletriesnya. Kamar ini juga memiliki balkon yang mengarah pada bagian belakang hotel, sehingga aku bisa menikmati pemandangan pohon-pohon rindang di sana. Well, kurasa kamar ini lebih dari cukup sebagai tempat persembunyianku sementara, menjauh dari Darren dan orang-orangnya. "Terima kasih, Zach. Maafkan aku karena telah menempatkanmu dalam masalah besar. Apa kau baik-baik saja nanti? Aku takut Darren akan melakukan sesuatu padamu." Aku menggigit bibir. Merasa tidak enak kepada Zach yang







