Share

134. Anjing Penjaga

Author: prasidafai
last update publish date: 2026-05-18 18:05:45

‘Biarkan Nicolle bicara, aku cukup berdiri di dekatnya.’

Begitu janji yang Raiden buat saat masih berada di ruang istirahat medis tadi.

Sulit sekali menepatinya, karena genggaman tangan Dante pada pergelangan tangan Nicolle, ditambah tatapan menantang yang sesekali pria itu tujukan ke arahnya.

Dante benar-benar andal dalam mengusik sisa kesabaran Raiden yang memang sudah tipis sejak tadi.

Apalagi sekarang Dante terang-terangan menyinggun
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (3)
goodnovel comment avatar
wh1teF1sh
bener² di fase muak bgt dg drama first lead male & female. i dont give a shit both of them...
goodnovel comment avatar
wh1teF1sh
jahanam ih Raiden. sok pahlawan.... bertahun-tahun kemarin kmu yg buat Nicolle terpuruk,, Dante yg mensupport Nicolle. ngapain skrg sok jadi pahlwan.
goodnovel comment avatar
wh1teF1sh
di fase sangat muak dengan Nicolle.. tukang PHP, pick me...
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   135. Hanya Ingin Diobati oleh Nicolle

    “Brengsek!” Dante masih setengah berlutut di atas aspal ketika beberapa pria berpakaian rapi berlari menghampirinya dari arah gedung rumah sakit baru. “Tuan Dante!” “Sial, siapa yang–” Kalimat pria itu langsung terputus saat melihat Raiden berdiri beberapa langkah dari Dante dengan tangan yang masih mengepal. Tidak perlu penjelasan tambahan. Dua orang segera membantu Dante berdiri, sementara satu orang lain buru-buru membuka pintu gedung rumah sakit. “Tuan, mari masuk dulu.” Dante mengusap darah di sudut bibirnya dengan ibu jari. Tatapannya masih tajam mengarah ke Raiden. Namun Raiden sudah tidak memedulikannya lagi, meski napas pria itu masih memburu. Raiden berbalik badan, hendak menyusul Nicolle. N

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   134. Anjing Penjaga

    ‘Biarkan Nicolle bicara, aku cukup berdiri di dekatnya.’Begitu janji yang Raiden buat saat masih berada di ruang istirahat medis tadi.Sulit sekali menepatinya, karena genggaman tangan Dante pada pergelangan tangan Nicolle, ditambah tatapan menantang yang sesekali pria itu tujukan ke arahnya.Dante benar-benar andal dalam mengusik sisa kesabaran Raiden yang memang sudah tipis sejak tadi.Apalagi sekarang Dante terang-terangan menyinggung pembatalan pernikahannya.Tatapan Raiden berubah semakin dingin.Sementara Nicolle perlahan menarik napas.“Tidak ada hubungan apa-apa antara aku dan Mayor Raiden.” Nicolle menarik tangannya dari genggaman Dante.Raiden menoleh ke arah Nicolle.Dante menyeringai tipis penuh kemenangan.“Begitu pula di antara aku dan kamu, Dante,” lanjut Nicolle.Senyum di wajah Dante langsung membeku.

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   133. Menemani Nicolle

    Langkah Raiden tidak pernah melambat.Tidak ketika Dante berteriak dari balik gerbang.Tidak ketika beberapa prajurit yang berjaga di koridor markas menoleh dengan tatapan terkejut dan tidak tahu harus berbuat apa.Tidak juga ketika Nicolle di gendongannya masih belum mengucapkan sepatah kata pun.Para prajurit itu hanya menyibukkan diri memandang ke arah lain seolah-olah mereka sedang sangat tertarik pada dinding.Tidak ada yang berani bertanya.Pintu ruang istirahat medis dibuka cukup keras.Brak!Raiden masuk tanpa bicara apa pun sebelum akhirnya menutup pintu di belakang mereka.Ruangan itu langsung sunyi. Hanya suara napas mereka yang masih terdengar tidak teratur.Raiden berjalan ke arah sofa panjang di sudut ruangan, lalu menurunkan Nicolle perlahan.Begitu kedua kaki Nicolle menyentuh lantai, wanita itu segera sedikit menja

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   132. Menyadarkanmu

    “Sesuatu yang seharusnya menjadi milik saya.” Kalimat itu membuat Nicolle membeku beberapa detik. Udara di sekitar kursi peresmian terasa mendadak sempit. Nicolle bahkan bisa merasakan detak jantungnya sendiri berdentum tidak nyaman di balik tulang rusuk. Raiden menatap Nicolle tanpa berkedip. Sementara di pangkuannya, Aveline mulai memainkan ujung rambut Nicolle tanpa memahami ketegangan yang sedang terjadi di antara dua orang dewasa itu. Nicolle membuka bibir, berniat membalas sesuatu. Namun sebelum satu kata pun keluar, suara Dante dari atas panggung tiba-tiba menggema melalui pengeras suara. “Rumah sakit ini tidak akan berdiri tanpa dukungan banyak pihak.” Tepuk tangan langsung memenuhi area peresmian. Nicolle segera memalingkan wajah ke depan, memilih mengabaikan Raiden meski dadan

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   131. Peresmian RSPU II

    Berita itu menyebar lebih cepat dari api di padang rumput kering.Belum genap dua hari sejak pernikahan Raiden dan Lucy resmi dibatalkan, hampir seluruh sudut markas sudah dipenuhi bisikan. Di kantin, di lorong barak, bahkan di sela-sela jadwal patroli.“Katanya Lucy sudah balik ke Lavel.”“Wajar. Kalau aku jadi dia, aku juga malu. Dia sudah begitu percaya diri memperkenalkan dirinya sebagai calon istri Mayor ke semua orang.”“Eh, tapi kamu dengar tidak? Ada yang bilang pembatalan itu ada hubungannya dengan Dokter Nicolle.”“Masa? Memangnya mereka sedekat itu?”Nicolle mendengar bisikan itu ketika melintas di koridor klinik, tetapi langkahnya tidak melambat sedikit pun. Wanita itu tetap sibuk dengan map rekam medis di tangannya.Nicolle sudah terbiasa menjadi bahan perbincangan, dan dia tidak punya waktu untuk itu.Satu bulan berlalu.Tidak ada

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   130. Pria yang Tepat

    “Mama akan mencarikan pria yang tepat untuk menikahi Lucy.”Suara Tasya terdengar lembut.Lucy yang berdiri di balik pintu setengah terbuka langsung membeku.Di halaman belakang itu, Tasya sedang duduk di kursi rotan sambil mengusap rambut panjang Sera dengan penuh kasih sayang.Matahari pagi menembus sela dedaunan dan jatuh di wajah keduanya dengan damai.Berbanding terbalik dengan dada Lucy yang terasa seperti diremas.“Kasihan Lucy kalau terus berharap pada kakakmu,” lanjut Tasya pelan. “Raiden itu keras kepala. Kalau dia sudah memilih sesuatu, sulit diubah.”“Tapi Lucy benar-benar mencintai Kak Raiden, Ma.” Sera tampak ragu.Tasya mengembuskan napas. “Cinta saja tidak cukup untuk mempertahankan pernikahan, apalagi yang bertepuk sebelah tangan.”Kalimat itu menghantam Lucy telak. Wanita itu buru-buru mundur sebelum keberadaannya ketahuan.Air matanya mulai jatuh satu per satu. Lucy berjalan cepat kembali ke kamarnya sambil menahan napas yang terasa sesak.Begitu pintu kamar tertutu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status