INICIAR SESIÓNNyala lilin kecil di atas meja kayu bergetar pelan, memantulkan bayangan yang menari di dinding rumah singgah.
Di luar, hujan masih turun tanpa belas kasihan. Nicolle dan Raiden kini duduk berdampingan di sofa panjang yang sempit, hanya dipisahkan oleh jarak beberapa inci yang terasa jauh lebih dekat dalam gelap seperti ini. Nicolle memandangi api lilin yang meliuk-liuk, seolah mencoba menenangkan pikirannya yang tidak juga berhenPukul 10 tepat.Ketika pintu ruangan 112 terbuka, udara di dalam langsung terasa berbeda.Nicolle melangkah masuk dengan wajah dingin dan punggung tegak. Namun, begitu matanya bertemu Raiden, suasana mendadak menjadi canggung.Bayangan kemarin siang muncul begitu saja di kepalanya. Nicolle buru-buru membuang pandangan.Sementara itu, Raiden duduk santai di sofa dengan beberapa kancing atas seragam militernya terbuka.Lengan kemeja Raiden tergulung sampai siku, memperlihatkan urat-urat tegas di lengannya.Raiden menatapnya lekat sejak Nicolle masuk, tatapan gelap itu seolah menelusuri setiap inci tubuh wanita itu.Sebaliknya, Nicolle sengaja menjaga jarak. Dia berdiri dekat meja pemeriksaan sambil pura-pura memeriksa map medis.“Dokter benar-benar datang,” ujar Raiden membuka percakapan.“Mayor yang bilang kalau kita butuh bicara di ruangan yang lebih privat.”
Nicolle sesaat membeku. Udara malam yang dingin tiba-tiba terasa lebih menusuk, seolah seluruh darahnya berhenti mengalir.Lucy mengenalinya.Dari semua orang di masa lalu, justru wanita yang dulu selalu menempel di rumah mereka ini yang berhasil menembus samaran wajah barunya.Pikiran Nicolle berputar cepat. Potongan-potongan masa lalu bermunculan tanpa diminta.Dulu, Lucy selalu memuji pakaian Naomi, parfum yang dipakai, bahkan meminta izin untuk mencoba lipstik yang sama.Potongan rambut Lucy sekarang, persis seperti yang Naomi pakai dulu. Bedanya, rambut asli Nicolle sedikit bergelombang. Lucy pasti sangat memperhatikan Naomi untuk meniru apa pun yang bisa ditiru dari wanita itu.Kini, perhatian obsesif itulah yang membuat Lucy menjadi orang pertama yang benar-benar mengenali wajah Nicolle.“Dokter Nicolle?” Lucy menyeringai kecil, menikmati keheningan itu.Lucy mengangkat tangan, menelusuri garis
‘Permen favorit?’ Nicolle mengulang kata-kata itu dalam hati saat napasnya masih tersengal-sengal.Nicolle menyipitkan mata, campuran antara hasrat dan amarah yang mulai menyala.Dulu Raiden juga mengatakan hal serupa saat pertama kali mencium Naomi.Jantung Nicolle berdegup keras. Jadi begini caranya Raiden memperlakukan wanita yang dia cium?Memberi kalimat manis yang sama seolah itu sesuatu yang istimewa? Atau memang hanya itu yang pria ini tahu untuk diucapkan?Tatapan Nicolle sedikit berubah.Namun Raiden tidak memberinya waktu untuk berpikir terlalu jauh.Raiden menatap Nicolle lekat, bibirnya yang masih basah melengkung tipis. Tangannya yang besar meraba punggung Nicolle, menyusuri garis tulang belakang melalui kain baju yang tipis.Sentuhan itu membuat Nicolle menggigil.Nicolle menggigit bibir bawahnya sendiri. Sudah lama sekali Nicolle tidak merasak
Lucy sedikit tersentak. Namun wanita itu cepat-cepat kembali memasang senyum lembutnya. “Ya … aku akan mengajar di sini,” jawab Lucy tanpa ragu. “Aku dengar mereka juga butuh tenaga pendidik.” Raiden tidak langsung menanggapi. Pria itu hanya menatap Lucy dalam diam selama beberapa detik. Tatapan yang membuat senyum Lucy perlahan mulai goyah. “Iya,” ujar Raiden akhirnya. “Itu betul.” Lucy tampak sedikit lega. “Tapi, Lucy,” lanjut Raiden tajam, “aku dan kamu tahu kalau pendidikan bukan hal yang kamu sukai.” Wajah Lucy membeku. Raiden perlahan berdiri dari kursinya. Tubuh tinggi pria itu membuat tekanan di ruangan mendadak berubah. “Daripada mengajar di kelas,” sambung Raiden dingin, “kamu lebih suka membuat konten media sosial bersama murid-muridmu tanpa izin orang tua mereka dan mengabaikan pelajaran.” “Kakak ….” Lucy menatap Raiden tidak percaya. “Itu fakta.” Lucy menggigit bibir bawahnya. “Itu bagian dari pelajaran juga. Sekarang anak-anak tidak akan suka jika hanya duduk
“Tunggu!” Langkah Nicolle berhenti. Selama sepersekian detik, Nicolle mengira topeng Lucy akhirnya retak. Wanita itu pasti akan marah, mencakar, atau setidaknya menunjukkan ekspresi asli yang dulu berkali-kali Nicolle lihat saat tidak ada orang lain di sekitar mereka. Namun saat Nicolle menoleh, Lucy justru tersenyum manis. “Terima kasih sudah memperhatikan calon suami saya dengan baik.” Suara lembut itu meluncur ringan, seolah tidak ada bara apa pun di baliknya. Lucy bahkan melangkah mendekat sambil mengulurkan tangan. “Perkenalkan,” ucap Lucy hangat, “saya Lucy Miller. Sebentar lagi akan menjadi Lucy Vargas.” Nicolle sedikit tertegun. Senyum, uluran tangan, dan tatapan mata polos yang tampak begitu tulus itu sama persis seperti gadis muda yang menjadi awal penderitaan Nicolle lima tahun lalu. Lucy yang berdiri di depan rumah Naomi sambil mengulurkan tangan dengan ceria, menyebarkan cerita bahwa Naomi menerima tamu laki-laki saat Raiden tidak dirumah, dan mengenakan jubah ke
“Mayor Raiden bicara apa?” sahut Nicolle ketus.Raiden justru terkekeh pelan.Nicolle mengernyitkan dahi melihat reaksi pria yang selama ini bahkan jarang menunjukkan senyum.Lagipula pria itu seharusnya tidak tertawa karena tidak ada yang lucu.Nicolle mengalihkan pandangan ke Aveline di sebelahnya.“Aveline duduk yang benar,” perintah Nicolle tegas. “Mama masih bisa percaya pada Ave, kan?”Aveline menoleh.“Hari ini Ave sudah meminta maaf. Walaupun Mama memaafkan Aveline, bukan berarti Ave bisa sengaja membuat kesalahan lagi,” sambung Nicolle.“Iya, Ma ….”Aveline memanyunkan bibir. Namun dia menurut dengan menggeser duduknya ke posisi yang benar dan melipat kedua tangan di depan dada.Dari kaca spion tengah, Raiden melirik sekilas ke belakang.Nicolle langsung membalasnya dengan tatapan yang cukup tajam untuk membuat pria itu mengalihkan pandangannya kembali ke jalan.Aveline tiba di depan rumah beberapa menit sebelum jadwal kelasnya dimulai.Mia sudah menunggu di depan pagar. Kete







