Home / Rumah Tangga / Me Versus Gundik Suamiku / Bab 23. Pembicaraan Kedua Pria

Share

Bab 23. Pembicaraan Kedua Pria

Author: Pisces Man
last update Huling Na-update: 2025-10-03 23:54:18

Keesokan paginya, Erika keluar dari kamar dari kamar sembari menggendong Kayla. Di meja makan Toni dan Yuni baru saja memulai sarapan.

Erika mendudukkan Kayla di kursi khusus bayi.

"Mama udah masakin Kayla bubur. Kamu ambil aja di dapur," ucap Yuni setelah selesai mengunyah.

"Terima kasih, Mah." Erika segera berlalu ke dapur dan beberapa menit kemudian, dia kembali dengan mangkuk berisikan bubur.

Kayla yang mencium aroma harum bubur segera mengeluarkan rengekannya. Meminta agar Erika segera menyuapinya. Tingkah menggemaskan bayi itu tak pelak menimbulkan gelak tawa bagi ketiganya.

Baik Toni maupun Erika yang merasa beban yang menghimpit dada, perlahan terangkat dan menguap di udara saat melihat Kayla.

"Kayla sepertinya sudah lapar, kalau makannya banyak bisa jadi dia montok kayak kamu dulu waktu masih kecil," ucap Yuni.

Erika dan mulai menyuapi sang putri, tak sampai 10 menit bubur yang ada di dalam mangkok sudah tidak tersisa.

"Sekarang waktunya kamu makan, biarin aja Kayla duduk d
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Me Versus Gundik Suamiku   113

    "Cukup! Aku mau makan dengan tenang. Jadi cepat keluar dari sini."Namun bukannya pergi, Kennan justru berdiri dan berjalan memutari meja. Dia berhenti tepat di samping kursi Amanda. Tangan pria itu bergerak ragu, tapi pada akhirnya mendarat di sandaran kursi Amanda, mengurung wanita itu secara halus."Kenapa Mbak harus marah? Apa karena apa yang saya katakan itu benar?" bisik Kennan di dekat telinga Amanda. Amanda terpaku saat hembusan napas Kennan mengenai kulit lehernya. Ditambah dengan aroma parfum Kennan yang maskulin justru membuatnya pening. Perasaan tidak nyaman yang dia keluhkan sejak tadi kini bermuara pada satu titik, ketakutan bahwa perkataan Kennan benar."Ken, jangan begini ...," lirih Amanda, keberaniannya menguap entah ke mana."Lihat saya, Mbak Manda," pinta Kennan lembut.Tangan Kennan kini beralih menyentuh dagu Amanda, memaksa gadis itu untuk berpaling dan menatap matanya.Saat mata mereka bertemu, Amanda melihat kilat gairah dan rasa kagum yang tertahan. Suasan

  • Me Versus Gundik Suamiku   112

    "Sial! Kenapa semakin lama, aku nggak nyaman sama Kennan?" gerutu Amanda saat sudah berada di dalam kamarnya.Rasa lelah membuat Amanda ingin tidur, tapi rupanya pasukan cacing kelaparan yang ada di dalam perutnya lebih dominan.Dia menghela napas kasar dan memaksakan diri keluar dari kamar untuk mandi sebelum memasukkan makanan ke dalam perutnya.Terlalu banyak pikiran membuat Amanda lupa mengunci pintu kamar mandi, sampai terjadi hal yang tak terduga. Seseorang membuka pintu kamar mandi saat dia sedang membilas rambutnya.Amanda membeku saat bertatapan dengan Kennan yang melihatnya tak berpakaian. Waktu seolah berhenti berputar. Suara gemericik air dari shower yang tadinya menenangkan, kini terdengar seperti dentum genderang perang di telinga Amanda.Matanya membelalak sempurna, kontras dengan wajahnya yang memerah padam hingga ke leher. Di ambang pintu, Kennan berdiri mematung dengan tangan yang masih memegang gagang pintu. Ekspresi pria itu sulit diartikan. Antara terkejut, bing

  • Me Versus Gundik Suamiku   111

    "Untung saja tekanan Bapak normal, karena saya tidak bisa membayangkan apa jadinya kalau sampai tekanan darah Bapak di atas 150."Keenan segera membereskan alat pengukur tensi ke dalam tas ransel yang selalu dia bawa."Terima kasih karena kamu sudah bertindak cepat," ucap Hosea setelah menghela napas lega."Sama-sama, Pak," sahut Kennan sembari tersenyum lebar."Loh. Ada apa sama kamu, Hosea?" tanya Yuni yang baru saja kembali dari arisan."Mas Hosea sempat marah-marah saat aku cerita tentang Gerry yang mengancamku, Mah. Untung saja tekanan darahnya tidak melonjak tinggi," jelas Erika yang membuat Yuni mengangguk."Nak Hosea. Sepertinya sekarang mudah marah, ya?" tanya Yuni sembari menatap iba pria yang duduk di kursi roda itu."Iya, Tante. Dan saya juga tidak tahu kenapa gampang sekali marah-marah," jawab Hosea dengan wajah lesu."Itu hal yang wajar karena Nak Hosea sedang sakit. Nanti kalau sudah sembuh mood kamu juga bakal membaik," ucap Yuni memberi dukungan."Bagaimana kalau seka

  • Me Versus Gundik Suamiku   110

    Melihat ketegangan yang jelas pada wajah keduanya, membuat Keenan membuka suara. "Pak. Biar saya tutup pintunya."Toni mengangguk dan mendahului keduanya memasuki rumah."Sepertinya Erika ada di dapur, sedang menyuapi Kayla," ucap Toni."Boleh kami ke dapur, Pak?" tanya Hosea sopan."Tentu boleh. Kalian juga boleh ikut makan siang. Saya permisi ke kamar mandi dulu," jawab Toni yang langsung menaiki tangga.Kennan langsung mendorong kursi roda Hosea ke dapur. Keduanya melihat Erika yang sedang menyuapi Kayla di kursi khusus bayi."Er. Apa kamu dan Kayla baik-baik saja?" tanya Hosea dengan nada panik."Aku baik-baik saja, Mas. Karena kebetulan ada Mas Revan, jadi Gerry tidak dapat mengancamku lebih jauh," jawab Erika yang masih menyuapi Kayla."Sebenarnya kenapa tiba-tiba Gerry mengancammu, Er?" tanya Hosea."Aku juga nggak tahu, Mas. Tadi aku lagi di supermarket mau belanja, tiba-tiba Gerry ngamuk-ngamuk nggak jelas," jawab Erika yang kini mengelap mulut Kayla yang belepotan."Tapi ke

  • Me Versus Gundik Suamiku   109

    Tak terasa sudah tiga minggu Kennan menjadi perawat Hosea, dan selama itu juga tidak ada masalah besar yang terjadi.Kemampuan Kennan dalam mengurus Hosea ternyata melebihi ekspektasi semua orang. Hosea bahkan merasa nyaman yang berakibat juga pada proses kesembuhan dirinya."Sejauh ini perkembangannya cukup bagus, dan kalau terus seperti ini Pak Hosea mulai bisa melakukan terapi di minggu keenam," jelas dokter ortopedi dengan senyum mengembang."Terima kasih banyak, Dok. Saya merasa lega saat mendengarnya," jawab Hosea dengan mengulas sebuah senyum."Tapi mesti perkembangannya bagus, Bapak jangan memaksakan diri untuk bekerja, apalagi jika Bapak sampai ingin memaksakan diri ingin mengikuti jalannya persidangan klien Bapak."Hosea menggeram kecil saat dokter ortopedi itu memberikan peringatan. Padahal dia sudah berniat untuk menghadiri persidangan Erika. Dia melirik ke arah Kennan yang tak menampilkan ekspresi apapun, tapi Hosea tahu jika pria itu pasti akan melakukan apa yang diper

  • Me Versus Gundik Suamiku   108

    "Mah. Mas Hosea itu laki-laki dengan postur tubuh yang tinggi dan tegap. Sementara Mama dan aku itu perempuan, kita berdua tak mungkin kuat jika harus mengangkatnya. Memangnya Mas Hosea tidak butuh ke kamar mandi?"Deborah mengusap kasar wajahnya saat menyadari kebenaran ucapan Amanda, dia segera duduk karena merasa tegang. Dia bahkan menuang air dari dalam teko ke sebuah gelas bermotif bola."Kamu benar. Kita harus segera mencari perawat pria untuk Hosea," ucap Deborah setelah menghabiskan segelas air."Aku akan segera membuat iklan dan memasukkan beberapa syarat," sahut Amanda.Deborah terdiam, seperti teringat akan sesuatu. Tak lama dia memandang Amanda penuh arti. "Manda. Mama baru sadar kalau kamu tidak berangkat ke kantor sejak Hosea masuk rumah sakit. Memangnya atasanmu mengizinkan kamu libur?"Amanda tertawa kecil. "Mamah nggak usah khawatir, aku sudah bilang atasanku untuk bekerja dari rumah selama tiga minggu. Makanya Mama lihat aku yang bawa laptop ke rumah sakit.""Ah begi

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status