LOGINLima tahun pernikahan tanpa buah hati tak pernah menggoyahkan cinta Evelyn kepada suaminya, seorang pria yang selama ini ia percaya sepenuh hati. Bahkan ketika sang daddy memperingatkan, Evelyn tetap memilih cinta. Ia menyerahkan seluruh warisan, kekuasaan, dan bahkan nama besar keluarganya kepada sang suami. Tak banyak yang tahu, Daddy Evelyn atau yang kerap di sapa Tuan Damien adalah pewaris sekaligus pemimpin dunia bawah yang disegani. Tapi Evelyn telah meninggalkan semua itu. Ia hanya ingin hidup damai sebagai istri yang setia, jauh dari bayang-bayang mafia. Namun semuanya berubah setelah kepergian sang Daddy. Sikap suaminya tak lagi sama, keluarga sang suami mulai menunjukkan wajah aslinya. Evelyn menepis semua prasangka… hingga kenyataan yang jauh lebih menyakitkan menghantamnya tanpa ampun. Pernikahan yang selama ini ia jaga ternyata hanyalah bagian dari rencana licik yang tersusun rapi. Dan pria yang ia panggil suami… menyimpan rahasia paling kejam dari apa yang ia bayangkan. Kini, Evelyn memilih diam. Tapi di balik diamnya… Ada luka yang tak termaafkan dan ada dendam yang akan menghancurkan mereka semua. Apakah Evelyn mampu membalaskan semua pengkhianatan itu? Ataukah luka lama akan menyeretnya kembali ke dunia yang telah ia tinggalkan?
View More"Tiit..Tiit...Tiiiiiit–"
Detaknya makin lambat. "Tit..." Masih ada, tapi lemah. Garis hijau di layar mulai bergetar malas, turun naik seperti enggan bertahan. Tuan Damien tergeletak tak berdaya di atas brankar pasien, wajahnya yang biasanya begitu tegar, dingin dan tegas kini pucat. Evelyn berdiri di sampingnya, jemarinya menggenggam erat tangan sang Daddy yang semakin dingin. “Daddy…?” Suaranya bergetar, seolah masih berharap ini hanya mimpi buruk. Tapi tidak ada jawaban. Kali ini tak sanggup jika harus kehilangan lagi anggota keluarganya, ia sudah cukup sabar kehilangan mendiang sang mommy empat tahun yang lalu. Selama ini hanya sang daddy dan keluarga dari suaminya yang berada di samping Evelyn. Namun malam ini, semuanya tampak berbeda dari biasanya, ia hanya seorang diri didalam ruangan VVIP menjaga sang daddy, sementara di luar beberapa anggota di tugaskan untuk berjaga-jaga jika ada sesuatu yang terjadi. "Daddy..... " Panggil Evelyn sekali lagi, kini suaranya nyaris tak terdengar matanya mulai mengeluarkan cairan bening. Ceklekkk! Pintu ruangan terbuka menampilkan seorang pria berusia 50-an dengan kacamata tebal, memakai jaz warna putih di lengkapi dengan nametag dan stetoskop di tangannya. Evelyn langsung memberikan jalan kepada sang dokter, beberapa suster juga berlarian masuk. Walaupun kali ini ia kebingungan mengapa buka dokter Meta yang datang. Dokter Meta adalah seorang dokter perempuan berusia 40 tahun, ia adalah dokter kepercayaan keluarganya. Sementara di sisi lain dokter Richard adalah dokter kepercayaan keluarga sang suami. Walaupun begitu Evelyn juga tetap membiarkan dokter Richard untuk melanjutkan pekerjaannya. "Nona muda bagaimana keadaan tuan?" Tanya salah satu anggota yang berdiri tegak di depan pintu ruangan. Evelyn hanya menggeleng diiringi dengan air mata yang mengalir deras. Sementara itu di dalam ruangan! Ruang yang remang-remang, mesin-mesin medis berbunyi monoton. Tuan Damien terbaring tak sadarkan diri, selang infus dan ventilator menembus tubuhnya yang semakin lemah. Dokter Richard memeriksa monitor EKG dengan wajah suram. Suster Maya, perawat muda yang masih baru, membantu dengan tangan gemetar. Suster Maya berbisik panik "Tekanan darahnya terus turun, Dok. 70/40... jantungnya tidak stabil." Dokter Richard menghela napas, menekan stetoskop lebih keras di dada Tuan Damien. "Paru-parunya sudah penuh cairan. Organ-organnya mulai gagal. Ini bukan serangan jantung biasa..." Dokter Richard menoleh ke arah suster Maya dan dua suster lainnya. "Ada tanda-tanda keracunan. Lihat pupilnya kontraksi tidak wajar. Dan bau ini... amandel pahit di napasnya. Arsenik." Bisiknya tegas Suster Maya dan lainnya membelalak sempurna. "Kita...." Dokter Richard cepat memotong, tatapan waspada ke arah pintu. "Diam! Nggak usah berisik atau ikut campur. Kita hanya menjalankan tugas, paham?" " Apakah anda lupa dengan sumpah dokter yang telah anda ucapkan" Balas suster Maya tak tega melihat sang pasien di depannya. BEEEEEPPP Monitor EKG tiba-tiba mendatar. Bunyi panjang memenuhi ruangan. Suster Maya tersentak, tangannya menekan tombol darurat. "Flatline! Tolong, kita kehilangan dia..." Dokter Richard langsung memulai CPR, tapi gerakannya setengah hati. "Sudah, Maya. Ini sudah terlambat." Dia menarik napas, melihat jam dinding. "Waktu kematian... 23.17. Catat sebagai 'gagal jantung akut'." Suster Maya dan kedua suster lainnya berlinang air mata, memandang wajah Tuan Damien yang sudah pucat pasih. "Tapi Dokter... kita tidak boleh menutupi ini. Ini sama saja pembunuhan!" Suara suster Maya bergetar Dokter Richard menatapnya tajam, menariknya ke sudut ruangan. " Dengar baik-baik. Dia adalah Tuan Damien mertua pak Adrian, dan sekarang dia sudah meninggal kalau malam ini kita berpihak kepada dia itu artinya kita siap kehilangan pekerjaan" Suster Maya mengangguk pelan, menatap mayat Tuan Damien dengan ekspresi bersalah. "𝘔𝘢𝘢𝘧𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘮𝘪, 𝘛𝘶𝘢𝘯." Layar EKG tetap datar. Bunyi tetesan infus yang tersisa seperti detak jam kematian. Sementara dua suster yang sedari tadi berada di sana hanya bisa diam, mereka juga merasa bersalah namun di sisi lain mereka bekerja di bawah kekuasaan dan tekanan. Jika melawan itu sama saja siap kehilangan pekerjaan dan akan lebih sulit mendapatkan pekerjaan.Malam ini, aula megah di kawasan tersembunyi kota berubah menjadi medan pertemuan para penguasa dunia bawah. Puluhan pemimpin klan mafia dari berbagai penjuru negeri bahkan dari luar negeri telah berkumpul. Mereka datang dengan pakaian terbaik, ditemani para pengawal setia, siap untuk malam tahunan yang selalu penuh intrik dan bahaya.Lampu kristal berkilauan di langit-langit tinggi, meja-meja panjang dipenuhi hidangan mewah dan minuman termahal. Tapi di balik kemewahan itu, udara dipenuhi ketegangan. Semua orang saling mengawasi, semua orang saling curiga.Di sudut aula, beberapa pemimpin klan peringkat bawah berkumpul sambil menyesap wiski."Selama bertahun-tahun aku belum pernah bertemu atau melihat langsung pemimpin Crimson Fang," ujar salah satu dari mereka, pria paruh baya dengan bekas luka di pelipis."Seperti tahun-tahun sebelumnya, dia tidak akan hadir," sahut yang lain, pria bertubuh tambun dengan cincin emas di setiap jari. "Malam ini kita akan memanfaatkan peluang ini. Per
Pagi itu, kediaman Montgomery yang megah tampak tenang. Matahari bersinar cerah, menerangi taman luas yang dirawat dengan sempurna. Namun ketenangan itu hanya bertahan sampai sebuah paket kecil di titip kepada salah satu satpam. Seorang kurir berpakaian biasa mengantarkannya, lalu pergi begitu saja tanpa meminta tanda tangan atau konfirmasi penerima, tidak ada nama pengirim, tidak ada alamat kembali. Hanya sebuah kotak berukuran sedang, dibungkus kertas hitam polos, dan di atasnya dihiasi setangkai bunga mawar hitam yang kering mawar hitam asli, bukan buatan.Nyonya Sinta menerima paket itu dari tangan seorang satpam. Ia hanya memandangi benda itu dengan perasaan aneh. Jantungnya berdebar tak karuan, meskipun ia belum tahu apa isinya."Bawa masuk," perintahnya pada satpam itu.Setelah satpam itu pergi, Nyonya Sinta duduk di sofa ruang keluarga, menatap paket itu dengan intens. Bunga mawar hitam bukan simbol yang baik. Tuan Deren yang sedang bermain ponsel di sebelahnya, menyadari p
Pagi itu, Adrian tiba di apartemen Clara dengan perasaan ringan. Langkahnya riang, senyumnya mengembang, tak sabar untuk segera terbang ke luar negeri dan bertemu dengan putra kecilnya yang sudah lama tak ia peluk."Ayo sayang, aku sudah sangat tidak sabar untuk bertemu Kevin!" gegas Adrian begitu Clara membuka pintu.Clara hanya mengangguk cepat, tapi wajahnya sedikit pucat. Semalam ia tak bisa tidur memikirkan masa depannya dengan Adrian. Tapi melihat kekasihnya begitu bersemangat, ia memaksakan senyum dan menarik kopernya keluar dari kamar."Sebentar, Sayang. Aku cuma mau pastikan semua dokumen Kevin sudah lengkap."beberapa menit kemudian, mereka sudah berada di dalam mobil. Adrian menyetir dengan kecepatan stabil, sesekali menggenggam tangan Clara yang duduk di sampingnya. Di kursi belakang, dua koper besar tergeletak tanda bahwa mereka berencana untuk tinggal cukup lama di sana.Sesampainya di bandara, mereka langsung menuju terminal keberangkatan internasional. Di sana, Evan su
Matahari mulai merangkak naik di ufuk timur, menerangi Mansion yang megah dengan cahaya keemasan. Namun pagi itu, mansion yang biasanya hangat dan ramai terasa berbeda, sunyi, dingin. Seperti rumah kosong yang kehilangan jiwanya.Adrian melangkah masuk melalui pintu utama setelah semalaman beristirahat di kediaman orang tuanya. Biasanya, begitu pintu terbuka, akan ada Evelyn yang menyambutnya dengan senyuman manis, tangan terbuka, dan pertanyaan-pertanyaan penuh perhatian. Biasanya, ada kehangatan yang menyambutnya.Tapi pagi ini, hanya ada kehampaan.Matanya menyapu ruang tamu luas yang tertata rapi. Para maid berlalu lalang dengan pekerjaan mereka masing-masing, membersihkan debu, merapikan vas bunga, mengepel lantai marmer yang mengilap. Mereka menunduk hormat saat melihatnya, tapi tak ada satu pun yang menyapanya lebih dulu."Evelyn kemana?" gumam Adrian, keningnya berkerut. "Tumben banget."Ini pertama kalinya dalam lima tahun pernikahan mereka, Evelyn tidak ada di rumah saat ia


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.