Me, You and Forever

Me, You and Forever

last updateLast Updated : 2025-01-05
By:  Robyn Blue Ongoing
Language: English
goodnovel16goodnovel
10
0 ratings. 0 reviews
51Chapters
1.1Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Kathleen Murphy is on the verge of career breakthrough, having secured a prestigious project that promises to catapult her to the top of the corporate ladder. The catch? She has to work with her billionaire ex-boyfriend, Levi Grey—the man who vanished from her life five years ago without a trace. Their first reunion is anything but warm, with tension Levi’s charm and infuriating arrogance get under Kat’s skin, sparking constant clashes. And to make it even worse, he proposes a contract to have them live together till the contract ends. When the project takes a dangerous turn, with a potential scandal threatening to drag them both into legal trouble, Levi decides to make a dangerous move - pretend to truly be in a relationship or they go to jail. With everything on the line—her career, freedom, and maybe, a chance at love—Kat must make a choice whether to risk it all or take the fall.

View More

Chapter 1

Chapter One: Ex Marks the Spot

Sekolah Elite High adalah tempat di mana hanya siswa-siswa terbaik dan terkaya yang bisa masuk. Gedung-gedungnya tinggi, dengan arsitektur modern yang berkilauan di bawah sinar matahari. Setiap pagi, deretan mobil mewah memenuhi area parkir, mengantar para siswa yang seolah hidup di dunia yang terpisah dari kebanyakan orang. Namun, meskipun setiap murid di sini memiliki latar belakang luar biasa, tak satu pun bisa menyaingi daya tarik Lima Wijaya—julukan bagi Aldo, Andre, Arga, Alan, dan Adrian Wijaya.

Mereka kembar identik yang menarik perhatian sejak hari pertama masuk sekolah. Penampilan mereka sempurna: wajah simetris dengan rahang tegas, kulit cerah, dan mata gelap yang selalu memancarkan rasa percaya diri. Namun, lebih dari sekadar wajah, aura mereka begitu kuat hingga setiap langkah mereka diikuti oleh tatapan kagum, iri, atau bahkan waspada.

Pagi itu, koridor sekolah berubah riuh begitu kelima bersaudara itu berjalan masuk bersama. Meski mereka tampak identik secara fisik, kepribadian masing-masing segera terlihat dari cara mereka membawa diri.

Aldo, yang selalu berjalan paling depan, mengenakan seragam dengan rapi sempurna. Dasi hitamnya diikat dengan presisi, dan langkahnya penuh wibawa. Aldo adalah sosok pemimpin yang alami, seseorang yang selalu menguasai situasi. Sebagai anak tertua di antara mereka, meskipun hanya berbeda beberapa menit, Aldo merasa bertanggung jawab untuk memastikan segalanya berjalan lancar, baik di rumah maupun di sekolah. Para guru dan kepala sekolah sering memuji kedewasaannya, tapi beberapa teman menganggapnya terlalu serius.

Di sebelah Aldo, ada Andre, si pendiam yang selalu tampak menganalisis segalanya. Dia berjalan dengan postur yang santai, tetapi matanya yang tajam mengamati sekeliling dengan penuh perhitungan. Andre dikenal sebagai "otak" dari kelompok itu, dengan nilai yang selalu sempurna di setiap ujian. Sifatnya yang tenang dan rasional membuat dia jarang terlibat dalam drama sekolah, tetapi dia adalah orang pertama yang diminta pendapatnya ketika ada masalah. Di tangannya, selalu ada buku, entah itu novel klasik atau jurnal ilmiah.

Di sisi lain, Arga mencuri perhatian dengan senyum lebar dan langkah riangnya. Rambutnya sedikit berantakan, dan dasinya sering tidak rapi, memberi kesan bahwa dia tidak terlalu peduli pada aturan. Arga adalah tipe orang yang bisa berteman dengan siapa saja. Suaranya yang lantang sering terdengar di lapangan olahraga atau ruang seni. Dia suka mencoba hal-hal baru dan sering menjadi pusat perhatian di acara sekolah. Tapi di balik keceriaannya, ada sisi ceroboh yang kadang membuat saudara-saudaranya pusing.

Alan, di sisi lain, adalah kebalikan dari Arga. Dia selalu menjaga jarak dari keramaian, memilih untuk berjalan di belakang saudaranya. Dengan wajah tanpa ekspresi dan sikap dingin, Alan adalah teka-teki bagi banyak orang. Meskipun dia jarang berbicara, ada aura misterius yang membuat orang ingin mendekatinya. Namun, hanya sedikit yang benar-benar berani mencoba. Alan lebih suka mengamati daripada berinteraksi, menyimpan pemikiran dan rahasia yang hanya dia sendiri yang tahu.

Dan terakhir, ada Adrian, si pemberontak. Dia berjalan dengan tangan dimasukkan ke dalam saku celananya, dasinya dilepas, dan ekspresi wajahnya menunjukkan bahwa dia tidak peduli pada apapun. Adrian sering terlihat melanggar aturan kecil di sekolah—seperti datang terlambat atau membawa sepeda motor tanpa izin—tapi itulah yang membuatnya menarik. Banyak siswa lain yang mengaguminya karena keberaniannya melawan aturan, tetapi hanya saudara-saudaranya yang tahu bahwa pemberontakan itu adalah caranya mengekspresikan diri di tengah tekanan keluarga.

Begitu mereka melewati kerumunan siswa, bisik-bisik mulai terdengar.

"Kenapa mereka selalu terlihat seperti model iklan?" seorang siswi berbisik sambil mencuri pandang.

"Aku dengar mereka punya helipad di rumah mereka," seorang siswa lain menimpali.

"Tapi katanya, mereka juga sangat kompetitif satu sama lain," gumam siswa yang lain.

Meskipun mereka sering dianggap sebagai kelompok yang sempurna, di balik penampilan itu, kelima saudara kembar ini membawa beban masing-masing. Mereka saling mencintai sebagai saudara, tetapi juga saling bersaing secara diam-diam. Setiap dari mereka memiliki impian dan pandangan hidup yang berbeda, namun mereka selalu diikat oleh satu hal: nama besar keluarga Wijaya, yang tak pernah membiarkan mereka gagal.

Hari itu, di tengah keramaian koridor, Adrian tiba-tiba berhenti. Matanya menangkap sosok seseorang di kejauhan. Seorang gadis dengan rambut hitam panjang dan mata yang tajam berdiri di dekat jendela. Dia tidak seperti gadis-gadis lain yang sibuk membicarakan mereka. Gadis ini, Clara Mahendra, berdiri dengan sikap acuh, tetapi pandangannya sedikit lebih lama tertuju pada Adrian.

Adrian mengerutkan alisnya, merasa ada sesuatu yang aneh pada gadis itu. Tapi sebelum dia sempat berpikir lebih jauh, Aldo menepuk pundaknya.

"Adrian, jangan melamun," kata Aldo tegas.

Adrian mendengus, memasukkan tangannya ke saku lagi, dan melanjutkan langkahnya. Tapi dalam hati, ia bertanya-tanya siapa gadis itu, dan mengapa tatapannya membuatnya merasa tidak nyaman sekaligus penasaran.

Di sisi lain koridor, Clara tersenyum kecil, lalu berbisik pada dirinya sendiri, "Dia pasti tidak tahu siapa aku."

Sementara itu, Alan, yang berjalan di belakang, memperhatikan interaksi singkat itu. Matanya menyipit curiga, tetapi dia memilih untuk tidak mengatakan apapun. Baginya, segala sesuatu yang terlihat biasa sering menyembunyikan rahasia yang berbahaya.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.

No Comments
51 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status