LOGINKathleen Murphy is on the verge of career breakthrough, having secured a prestigious project that promises to catapult her to the top of the corporate ladder. The catch? She has to work with her billionaire ex-boyfriend, Levi Grey—the man who vanished from her life five years ago without a trace. Their first reunion is anything but warm, with tension Levi’s charm and infuriating arrogance get under Kat’s skin, sparking constant clashes. And to make it even worse, he proposes a contract to have them live together till the contract ends. When the project takes a dangerous turn, with a potential scandal threatening to drag them both into legal trouble, Levi decides to make a dangerous move - pretend to truly be in a relationship or they go to jail. With everything on the line—her career, freedom, and maybe, a chance at love—Kat must make a choice whether to risk it all or take the fall.
View MoreSekolah Elite High adalah tempat di mana hanya siswa-siswa terbaik dan terkaya yang bisa masuk. Gedung-gedungnya tinggi, dengan arsitektur modern yang berkilauan di bawah sinar matahari. Setiap pagi, deretan mobil mewah memenuhi area parkir, mengantar para siswa yang seolah hidup di dunia yang terpisah dari kebanyakan orang. Namun, meskipun setiap murid di sini memiliki latar belakang luar biasa, tak satu pun bisa menyaingi daya tarik Lima Wijaya—julukan bagi Aldo, Andre, Arga, Alan, dan Adrian Wijaya.
Mereka kembar identik yang menarik perhatian sejak hari pertama masuk sekolah. Penampilan mereka sempurna: wajah simetris dengan rahang tegas, kulit cerah, dan mata gelap yang selalu memancarkan rasa percaya diri. Namun, lebih dari sekadar wajah, aura mereka begitu kuat hingga setiap langkah mereka diikuti oleh tatapan kagum, iri, atau bahkan waspada. Pagi itu, koridor sekolah berubah riuh begitu kelima bersaudara itu berjalan masuk bersama. Meski mereka tampak identik secara fisik, kepribadian masing-masing segera terlihat dari cara mereka membawa diri. Aldo, yang selalu berjalan paling depan, mengenakan seragam dengan rapi sempurna. Dasi hitamnya diikat dengan presisi, dan langkahnya penuh wibawa. Aldo adalah sosok pemimpin yang alami, seseorang yang selalu menguasai situasi. Sebagai anak tertua di antara mereka, meskipun hanya berbeda beberapa menit, Aldo merasa bertanggung jawab untuk memastikan segalanya berjalan lancar, baik di rumah maupun di sekolah. Para guru dan kepala sekolah sering memuji kedewasaannya, tapi beberapa teman menganggapnya terlalu serius. Di sebelah Aldo, ada Andre, si pendiam yang selalu tampak menganalisis segalanya. Dia berjalan dengan postur yang santai, tetapi matanya yang tajam mengamati sekeliling dengan penuh perhitungan. Andre dikenal sebagai "otak" dari kelompok itu, dengan nilai yang selalu sempurna di setiap ujian. Sifatnya yang tenang dan rasional membuat dia jarang terlibat dalam drama sekolah, tetapi dia adalah orang pertama yang diminta pendapatnya ketika ada masalah. Di tangannya, selalu ada buku, entah itu novel klasik atau jurnal ilmiah. Di sisi lain, Arga mencuri perhatian dengan senyum lebar dan langkah riangnya. Rambutnya sedikit berantakan, dan dasinya sering tidak rapi, memberi kesan bahwa dia tidak terlalu peduli pada aturan. Arga adalah tipe orang yang bisa berteman dengan siapa saja. Suaranya yang lantang sering terdengar di lapangan olahraga atau ruang seni. Dia suka mencoba hal-hal baru dan sering menjadi pusat perhatian di acara sekolah. Tapi di balik keceriaannya, ada sisi ceroboh yang kadang membuat saudara-saudaranya pusing. Alan, di sisi lain, adalah kebalikan dari Arga. Dia selalu menjaga jarak dari keramaian, memilih untuk berjalan di belakang saudaranya. Dengan wajah tanpa ekspresi dan sikap dingin, Alan adalah teka-teki bagi banyak orang. Meskipun dia jarang berbicara, ada aura misterius yang membuat orang ingin mendekatinya. Namun, hanya sedikit yang benar-benar berani mencoba. Alan lebih suka mengamati daripada berinteraksi, menyimpan pemikiran dan rahasia yang hanya dia sendiri yang tahu. Dan terakhir, ada Adrian, si pemberontak. Dia berjalan dengan tangan dimasukkan ke dalam saku celananya, dasinya dilepas, dan ekspresi wajahnya menunjukkan bahwa dia tidak peduli pada apapun. Adrian sering terlihat melanggar aturan kecil di sekolah—seperti datang terlambat atau membawa sepeda motor tanpa izin—tapi itulah yang membuatnya menarik. Banyak siswa lain yang mengaguminya karena keberaniannya melawan aturan, tetapi hanya saudara-saudaranya yang tahu bahwa pemberontakan itu adalah caranya mengekspresikan diri di tengah tekanan keluarga. Begitu mereka melewati kerumunan siswa, bisik-bisik mulai terdengar. "Kenapa mereka selalu terlihat seperti model iklan?" seorang siswi berbisik sambil mencuri pandang. "Aku dengar mereka punya helipad di rumah mereka," seorang siswa lain menimpali. "Tapi katanya, mereka juga sangat kompetitif satu sama lain," gumam siswa yang lain. Meskipun mereka sering dianggap sebagai kelompok yang sempurna, di balik penampilan itu, kelima saudara kembar ini membawa beban masing-masing. Mereka saling mencintai sebagai saudara, tetapi juga saling bersaing secara diam-diam. Setiap dari mereka memiliki impian dan pandangan hidup yang berbeda, namun mereka selalu diikat oleh satu hal: nama besar keluarga Wijaya, yang tak pernah membiarkan mereka gagal. Hari itu, di tengah keramaian koridor, Adrian tiba-tiba berhenti. Matanya menangkap sosok seseorang di kejauhan. Seorang gadis dengan rambut hitam panjang dan mata yang tajam berdiri di dekat jendela. Dia tidak seperti gadis-gadis lain yang sibuk membicarakan mereka. Gadis ini, Clara Mahendra, berdiri dengan sikap acuh, tetapi pandangannya sedikit lebih lama tertuju pada Adrian. Adrian mengerutkan alisnya, merasa ada sesuatu yang aneh pada gadis itu. Tapi sebelum dia sempat berpikir lebih jauh, Aldo menepuk pundaknya. "Adrian, jangan melamun," kata Aldo tegas. Adrian mendengus, memasukkan tangannya ke saku lagi, dan melanjutkan langkahnya. Tapi dalam hati, ia bertanya-tanya siapa gadis itu, dan mengapa tatapannya membuatnya merasa tidak nyaman sekaligus penasaran. Di sisi lain koridor, Clara tersenyum kecil, lalu berbisik pada dirinya sendiri, "Dia pasti tidak tahu siapa aku." Sementara itu, Alan, yang berjalan di belakang, memperhatikan interaksi singkat itu. Matanya menyipit curiga, tetapi dia memilih untuk tidak mengatakan apapun. Baginya, segala sesuatu yang terlihat biasa sering menyembunyikan rahasia yang berbahaya.Wren's tiny studio apartment felt more claustrophobic than ever, suffocating her with the weight of impending doom. Clothes were scattered across the bed, half-packed into a battered backpack. She moved with frantic energy, hands shaking as she double-checked her flashlight. Her lips were pressed into a grim line, betraying the dread bubbling beneath her surface. Raya, her best friend, leaned against the doorframe, arms folded, worry etched deep into her features. “Are you sure that’s the best idea, Wren?” she asked cautiously. “I don’t know.” Wren’s voice cracked as she zipped her bag halfway. “But either way, he’s gonna have my head on a plate. I’ve tried everything, Raya. He’s not going to listen to any more excuses.” She shoved a pair of sneakers into the bag with trembling hands. “I can’t just sit here waiting for them to come. Running might be the only shot I have.” Raya sighed, moving to sit on the edge of the bed. “Wren, this isn’t just some random guy we’re talking abou
Wren's tiny studio apartment felt more claustrophobic than ever, suffocating her with the weight of impending doom. Clothes were scattered across the bed, half-packed into a battered backpack. She moved with frantic energy, hands shaking as she double-checked her flashlight. Her lips were pressed into a grim line, betraying the dread bubbling beneath her surface. Raya, her best friend, leaned against the doorframe, arms folded, worry etched deep into her features. “Are you sure that’s the best idea, Wren?” she asked cautiously. “I don’t know.” Wren’s voice cracked as she zipped her bag halfway. “But either way, he’s gonna have my head on a plate. I’ve tried everything, Raya. He’s not going to listen to any more excuses.” She shoved a pair of sneakers into the bag with trembling hands. “I can’t just sit here waiting for them to come. Running might be the only shot I have.” Raya sighed, moving to sit on the edge of the bed. “Wren, this isn’t just some random guy we’re talking about.
Wren's tiny studio apartment felt more claustrophobic than ever, suffocating her with the weight of impending doom. Clothes were scattered across the bed, half-packed into a battered backpack. She moved with frantic energy, hands shaking as she double-checked her flashlight. Her lips were pressed into a grim line, betraying the dread bubbling beneath her surface.Raya, her best friend, leaned against the doorframe, arms folded, worry etched deep into her features. “Are you sure that’s the best idea, Wren?” she asked cautiously.“I don’t know.” Wren’s voice cracked as she zipped her bag halfway. “But either way, he’s gonna have my head on a plate. I’ve tried everything, Raya. He’s not going to listen to any more excuses.” She shoved a pair of sneakers into the bag with trembling hands. “I can’t just sit here waiting for them to come. Running might be the only shot I have.”Raya sighed, moving to sit on the edge of the bed. “Wren, this isn’t just some random guy we’re talking about. Thi
His hazel eyes darted around me like a predator meeting its prey, his arms folded as he rested on the wall scanning my body with interest and attention. I swallowed hard, my heart beat was faster than normal and I felt weak in the knees. I could feel his gaze all over my body as the hairs on my body rose up pointily. I literally had goosebumps. He was deadass handsome, even a hundred times better than the pictures and tabloids of him. His physique was gallant and exactly as he was described BUT - he'll be your worst nightmare if you ever cross paths. "What is this Asia? I told you I'm not interested in little virgin girls," He didn't stop looking at my body and then his eyes rested on my chest. He bit his lower lips and scanned me down again "they make too much noise in bed." "Be respectful brother. I told you I was gonna hire you an assistant and here she is" Asia stood next to me, her hands around my shoulder as I stood stiffly in shock. I was so glad she was there with me. Th
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.