Share

Melati di Kubangan
Melati di Kubangan
Author: Rifval

bab 1

Author: Rifval
last update publish date: 2025-12-21 10:16:43

Ratih terpekik ngeri melihat tubuh pria itu tiba-tiba oleng dan jatuh terjerembah, terkapar di lantai menangkup perutnya yang robek bersimbah darah ! Darah pekat yang segera meluber menggenangi lantai.

Mestinya ia segera memburu ke sana dan memberi pertolongan. Namun ia terlalu heran dan sok melihat kemunculan pria itu. Pria yang berdiri dengan wajah beringas, dengan tangan mencekal belati bermandikan darah.

Pria itu balas menatapnya dengan dingin. Di kedalaman matanya pun ada robekan luka.

Mengapa ...?! Mengapa Kau melakukan ini?!

Kalimat ini menggaung keras dalam bathin keduanya. Oleh Ratih, dan oleh pria itu.

***

Satu tahun sebelumnya.

Daun pintu pintu yang menguak ke dalam itu dari bahan tripleks, bercat putih usang, bolong-bolong dan dipenuh garis melintang di sana - sini. ia tampak tua dan terabai. Demikian pula rak kayu kecil tempat sandal sepatu yang menyender lunglai di pojokan. Catnya juga sudah usang dan mengelupas dengan pinggiran mulai melapuk. Semua yang tampak terkesan tua dan rapuh.

Namun tidak demikian dengan sepasang tungkai yang tengah melepas sepatu di ambang pintu sana. Sepasang tungkai itu amat sempurna, putih jenjang dengan jari jemari kaki yang mungil dan terawat bersih.

Sepasang tungkai indah itu diseret menuju sofa tua di pojok ruangan. Sofa malang yang setelah ditimpuk tas kerja yang dibuang asal-asalan, menyusul dihenyaki sebongkah pinggul montok hingga si tua menguik kesakitan.

Terdengar hempasan nafas panjang yang membawa rasa letih, menyusul satu seruan malas.

"Ibu, saya pulang."

Gadis itu berusia awal dua puluh-an, beraut wajah elok rupawan dengan tubuh indah menggiurkan, berbalut kemeja putih dan rok hitam selutut. Saat itu sepasang bulu matanya yang lentik ditautkan ke bawah, kaki berselonjor di bawah meja sambil menyender dengan lesu.

"Tuhanku, telah begitu lama. Masihkah tidak tergerak hatiMU mengubah nasib hambaMu ini? Kapan Engkau berhenti menjadikanku sapi perah di kantor kelurahan? Berkutat tumpukan kertas tak habis-habis, mondar-mandir seduh kopi, diperintah sana sini, tubuh pegal, kaki kesemutan, dan... Aih, Tuhan, berilah pekerjaan yang layak dikerjakakan wanita lemah sepertiku ini. Berbelas kasihlah. Aku..."

"Aduh, anak perempuanku kenapa begini sembrono? Duduk selonjoran seperti anak laki-laki di ruang tamu. Tak patut bertingkah demikian, Sayang."

Suara yang memutus curhatan bathin si gadis datang dari satu nyonya berpenampilan bersahaja, namun dengan raut masih menyisakan keelokan masa muda. Ia mengamit lengan si gadis dan berkata lembut.

"Ayo bangun dan masuk ke dalam."

"Biar saja, Bu, toh tidak ada yang lihat," Sahut si gadis tanpa membuka mata.

"Tapi tidak baik, sayang. Nanti jadi kebiasaan. Ayo, kedalam dulu ganti pakaian. Di meja sudah ibu siapkan makanan,"

Gadis itu ogah - ogahan bangkit berdiri dan mengikuti tarikan ibunya. "Tapi, Bu, temani," ujarnya kolokan.

"Iya, nanti ibu temani,"

Setelah menghalau tubuh putrinya ke arah dalam, nyonya itu berjalan ke ambang pintu dan merapikan sepatu sang putri yang teronggok asal-asalan di atas lantai.

Ratih, nama gadis rupawan itu, duduk di depan meja makan dan sesaat hanya mematung memandangi hidangan yang tersaji di depannya. Lauk pauk yang amat sederhana dan sama sekali tak mampu menggugah selera. Hanya terdiri dari tempe, tahu, dan sayuran kering. Tetapi demi tak membuat sang ibu kecewa, ia memaksa diri mengisi piringnya dan mulai makan perlahan.

"Om Jamal di mana, Bu?" Ia menyempatkan bertanya sebelum menyuapkan sesendok kecil nasi ke dalam mulutnya.

"Ada di belakang. Dari pagi sibuk main gergaji," sahut nyonya itu yang duduk di samping putrinya sambil melanjutkan sulaman.

"Dia sudah makan, Bu?"

"Tadi sudah Ibu panggil, tapi katanya lagi tanggung,"

Ratih hanya manggut kecil. Sejak pulang dari rantau, pamannya itu lebih banyak menghabiskan waktu di rumah dan menyibukkan diri membenahi segala perabotan tua.

Belum ada semenit, kegiatan nyonya itu terhenti oleh tindakan sang putri yang tiba-tiba menggeser kursi dan bangkit berdiri.

"lho kok sudahan makannya?" tegurnya sambil mengamati hidangan di atas meja yang hampir tak tersentuh.

"Tadi di kantin habis ditraktir teman, Bu. Masih kenyang rasanya," sahut Ratih sambil beranjak ke kamar.

Nyonya itu termangu di tempat, lalu tampak menghela nafas. Ia tidak tahu apakah putrinya berkata sebenarnya atau hanya beralasan. Hanya belakangan ini Ia seringkali mendapati anak gadisnya itu tak berselera di meja makan. Meski jika dipikir, memang juga sudah sewajarnya. Setiap hari melulu disuguhi lauk pauk yang itu-itu saja, tentulah membuat lidah sang putri jadi tawar. Bathin nyonya itu dengan hati pilu.

Keadaan memprihatinkan ini sudah mereka lakoni semenjak ditinggal mati sang suami beberapa tahun lalu. Mereka keluarga sederhana, dan kecuali rumah, boleh dikata sang suami tidak meninggalkan harta benda apa-apa. Ia hanya seorang ibu rumah tangga biasa yang hanya tahu urusan dapur dan sama sekali tidak punya pengalaman mencari nafkah. Jadi sepeninggal sang suami, kehidupan yang mereka lalui ibu dan anak, amatlah sulitnya. Tidak jarang sebagai seorang ibu, hatinya tersayat pedih manakala Ia hanya sanggup menyajikan sepotong ubi rebus di atas meja untuk putri semata wayangnya. Pengganjal perut untuk beberapa hari sebelum mereka punya uang untuk beli beras.

Keadaan mereka baru sedikit mendingan sewaktu Ratih - yang syukurnya sempat menamatkan SMA itu - oleh pihak kelurahan, bersedia diterima sebagai tenaga pembantu. Sudah tentu gajinya juga tidak seberapa. Tapi setidaknya dengan penghasilan tersebut, mereka sudah boleh berharap ketemu nasi setiap hari.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Melati di Kubangan   bab 76

    Nun di sana, di dalam kantor kelurahan, di ruangan kerja Lurah, Rasak berdiri di sisi jendela dan memandang keluar halaman. Suara mesin ketik dan dengung percakapan ramai terdengar di sekitar, namun Rasak seolah berada di dunianya sendiri. Setelah kematian pak bahar, ia langsung naik pangkat menggantikan posisinya sebagai Lurah. Kini ia menduduki jabatan yang sejak dulu diidamkannya. Namun anehnya, ia sedikit pun tidak merasa bahagia. Mungkin karena kedudukan itu datang berbareng dengan perginya orang - orang yang selama ini dekat dengannya. Ia merasa kesepian. Merasa ditinggalkan. Kematian pak Bahar yang tragis membuatnya hatinya disentil iba dan dihinggapi sedikit rasa bersalah. Ia memang menginginkan kedudukan atasannya itu, tetapi ia tidak pernah mengharapkan kematiannya. Ia harus mengakui, kepergian pak Bahar meninggalkan kekosongan yang besar di kelurahan itu seolah ada bagian gedung itu yang ikut menghilang. Namun kehampaan itu tidak akan begitu mencekik jika saja tidak te

  • Melati di Kubangan   bab 75

    Beberapa saat kemudian. "Baiklah, Om. Aku akan cari waktu berbicara dengan Ibu. Tapi saat itu, Om tidak perlu ikut dulu," ujar gadis itu akhirnya. "Kenapa? Bukankah lebih baik kalau aku ikut? Jadi kamu tidak mesti sendirian menerima cercaran?" "Itu agak...canggung," ucap Ratih likat. Tetapi ia lantas menyambung agak manja. "Ah, pokoknya, Om turut saja perkataanku." 'Baiklah, Sayang. Kalau kau bilang begitu, tentu aku menurut.' Jamal menyahut tertawa. Ratih lalu bangkit berdiri. Berjalan ke kapstok di sudut kamar sambil melepas kancing bajunya. "Aku merasa gerah, hendak mandi. Om sebaiknya cepat keluar. Sebentar Ibu mungkin kembali dari ruang depan." Jamal bangkit perlahan dan beranjak meninggalkan sisi tempat tidur. Tetapi bukannya berjalan ke arah pintu, melainkan ke arah Ratih yang saat itu baru saja meloloskan pakaian dan mengungkap tubuh atasnya yang tertutup BH. "Ah, Om sungguh nekat. Nanti ketahuan Ibu," Bisih Ratih ketika tubuhnya tiba - tiba direngkuh lengan kekar sang

  • Melati di Kubangan   bab 74

    Ratih membuka kisi nako di jendela dalam kamarnya dan membiarkan angin menerobos masuk. Ia memgambil kursi dan duduk di sana mengusir rasa penat dan gerah. Siang ini Ratih baru saja pulang dari tempat pemakaman. Sudah tiga hari ini dia dan para pegawai lain secara berturut - turut nyekar di kuburan pak Bahar. Hari itu, setelah dilarikan ke rumah sakit, pak Bahar hanya mampu bertahan dua jam di sana. Lukanya sangat parah dan kehilangan terlalu banyak darah sehingga nyawanya tidak bisa diselamatkan. Sementara itu Tono sudah ditangani pihak kepolisian dan kasusnya sedang di proses. Pemuda itu datang sendiri ke kantor polisi dan mengakui perbuatannya. Ia mengatakan bahwa alasan perbuatannya adalah atas dendam keluarga yang sudah berlarut - larut. Karena pernyataannya, kini kasus Suriati, kakak perempuan Tono, terpaksa kembali diangkat ke permukaan. Sampai sekarang Ratih masih belum sepenuhnya bisa memahami tragedi berdarah di depan toko kelontong tempo hari. Ia tentu saja tahu Tono

  • Melati di Kubangan   bab 73

    Selama beberapa detik, hening yang mati membungkam suasana di tempat itu. Pak Bahar menatap langsung ke dalam bola mata pemuda itu, lalu menunduk melihat perutnya, tak percaya! Ujung mulutnya berkedutan tanpa henti. Matanya melotot besar. Tubuhnya yang gemetar lantas limbung dan jatuh terpuruk ke bawah. Kedua telapak tangannya mendekap perutnya. Perut yang robek besar dan terus - menerus menyumpitkan cairan merah pekat! Suasana gempar seketika! Teriakan ngeri serentak pecah ke udara! Orang - orang berlarian panik! Ratih berdiri terperangah di tempatnya. Barang belanjaan berserakan di bawahnya. Kedua telapak tangannya membekap mulutnya yang baru saja melepaskan pekikan syok! Matanya terbelalak menatap pemuda itu. Pemuda yang berdiri di sana dengan tangan mencekal belati bersimbah darah. Belati berkilau dengan ujung yang masih menetes - neteskan darah. Wajah pemuda itu pucat, namun tampak beringas! Pemuda itu adalah Tono. Dan pemuda itu balas menatap si gadis dengan dingin.

  • Melati di Kubangan   bab 72

    "Ti..dak ada. Aku tidak menjalin hubungan dengan siapa pun." Ratih menganggap madsud pertanyaan pak Bahar adalah seorang kekasih. Jadi ia tidak merasa sedang berbohong. Hubungannya dengan pamannya toh memang tidak dalam kategori demikian. Lurah itu masih mengawasi si gadis beberapa lamanya, lalu katanya, "Baiklah. Aku bersedia tetap menunggu. Tapi jika kau ingin aku percaya kau tidak sedang memiliki hubungan dengan pria lain, kau tidak boleh menolak ajakanku dan membuatku curiga." Ratih mengerling ke arah Lurah itu. Setelah menarik nafas, akhirnya ia berkata pelan, "Baiklah. Lusa aku akan menemani Bapak." "Nah, begitu baru menjadi anak manis," seringai Lurah itu. Tangannya melingkari pinggang si gadis. Mengelus turun dan meremas buah pantatnya. Saat itu mereka berada di sudut ruangan dan teraling oleh rak - rak jualan. Ratih melihat tidak ada siapa pun di sekitar mereka. Maka ia membiarkannya saja. Namun Ratih dan pak Bahar sama sekali tidak sadar bahwa dari balik rak jualan ta

  • Melati di Kubangan   bab 71

    Jamal mengangguk. "Terima Kasih.' "Abang tak perlu sungkan. Itu sudah menjadi tugasku. Bahkan kalau masih ada pekerjaan lain, Abang tinggal bilang saja." "Memang tujuan utamaku datang malam ini adalah hendak kembali merepotkanmu." "Bilang saja, Bang. Tugas apa kali ini dan di mana?" Doni tampak bersemangat. "Sama seperti sebelumnya. Hanya kali ini lebih ringan karena orangnya ada di sini. Sebenarnya hal ini bisa kukerjakan sendiri. Tapi seperti kau tahu, aku sedang diawasi orang belakangan ini." "Tentu saja Abang tak perlu mengerjakannya sendiri. Apa lagi hanya tugas sepele begini." "Meskipun ringan, tapi kali ini aku tidak ingin kau terlibat secara langsung. Suruh anak - anak atau siapa saja yang tidak terlalu menarik perhatian." "Saya mengerti, Bang. Abang tenang saja. Aku bisa mendatangkan orang luar untuk mengerjakannya," kata Doni meyakinkan. "Tapi siapa orang ini, Bang?" Jamal merogoh saku jaketnya dan meletakkan selembar amplop putih di atas meja. Di atas amplop itu ter

  • Melati di Kubangan   bab 70

    Wajah Atika memerah. Mulutnya terbuka untuk menanggapi, tetapi yang keluar dari sana kembali hanya suara lenguh dan desis seperti orang kepedasan, bersama ringisan dan sesekali gigitan di ujung bibir. Satu tangannya mencengkeram apa saja yang ada di sekitarnya, sementara jemari yang lain meremas l

  • Melati di Kubangan   bab 69

    "Ya, aku juga berpikir begitu. Aku bahkan sempat menduga orang ini adalah adalah orang suruhan pak Bahar. Makanya beberapa hari aku amat hati - hati terhadapnya." "Tidak. Aku pasti tahu kalau dia memiliki pembantu lain." Rasak menggeleng tegas. "Aku sangat yakin tentang ini. Jika tidak, aku tidak

  • Melati di Kubangan   bab 68

    Ia bertanya - tanya, apa yang membuat cintanya memudar begitu cepat terhadap Restu. Apa karena penghianatan pemuda itu, atau karena kedekatannya dengan pamannya, Jamal? Mungkin saja hal - hal itu bisa menjadi pemicunya, tetapi rasanya bukanlah penyebab utama. Kecuali sedikit marah, tidak ada ra

  • Melati di Kubangan   bab 67

    Hening beberapa lama. Atika ikut tenggelam dalam pikiran. "Kamu yang cukup sering bersamanya di luar jam kantor, apakah tidak ada seorang pun yang kau curigai?" Lurah itu kembali berkata. "Aku hanya tahu, ada beberapa pemuda di kampung ini yang mencoba mendekatinya. Namun tampaknya di antara mer

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status