MasukWajah Atika memerah. Mulutnya terbuka untuk menanggapi, tetapi yang keluar dari sana kembali hanya suara lenguh dan desis seperti orang kepedasan, bersama ringisan dan sesekali gigitan di ujung bibir. Satu tangannya mencengkeram apa saja yang ada di sekitarnya, sementara jemari yang lain meremas lengan Rasak yang tengah mengobok - obok dirinya di bawah sana. Permainan jemari nakal pria itu sungguh - sungguh sangat liar, membuatnya blingsatan menahan gelenyar rasa ngilu dan geli di sekujur tubuhnya. Tumit - tumitnya beradu keras dengan permukaan tikar, demikian pula pinggulnya yang tak henti menggeliat seperti tengah memperagakan tarian perut. Sekali waktu pinggul besar itu menggelinjang keras sekali, terus mundur ke atas seperti hendak melarikan diri, namun jemari itu tak membiarkannya lolos dan langsung mengejarnya. Bahkan lalu didesak lebih rapat, lebih kencang, lebih menggila! Atika mengerang tersendat - sendat. Kedua batang pahanya bergetar, kaki - kakinya menjejak lebih kuat,
"Ya, aku juga berpikir begitu. Aku bahkan sempat menduga orang ini adalah adalah orang suruhan pak Bahar. Makanya beberapa hari aku amat hati - hati terhadapnya." "Tidak. Aku pasti tahu kalau dia memiliki pembantu lain." Rasak menggeleng tegas. "Aku sangat yakin tentang ini. Jika tidak, aku tidak akan berani membantumu menyusup ke kantor keluahan tempo hari itu dan membahayakan diriku sendiri." "Ya, untungnya memang bukan. Maka sekarang kita hanya perlu mengarahkan mata ke luar, pada orang - orang berpotensi terlibat dalam urusan ini. Dan orang - orang di sekitar Ratih tentulah yang pertama harus kita selidiki. Jadi apa kau sudah mendapatkan informasi penting mengenai si Jamal itu?" Atika mengulang pertanyaan ini. Suaranya bergetar membawa rasa tidak sabar. "Ada. Tapi tentunya ini harus dilaporkan kepada pak Bahar lebih dulu karena dialah yang menyuruhku," ujar Rasak kembali dengan sikap santainya. "Kau masih bersetia kepada Bandot tua itu?" "Itu tak terhindarkan. Bagaimana p
Ia bertanya - tanya, apa yang membuat cintanya memudar begitu cepat terhadap Restu. Apa karena penghianatan pemuda itu, atau karena kedekatannya dengan pamannya, Jamal? Mungkin saja hal - hal itu bisa menjadi pemicunya, tetapi rasanya bukanlah penyebab utama. Kecuali sedikit marah, tidak ada rasa sakit hati yang berarti saat ia dikhianati. Sementara hubungannya dengan Pamannya, ia yakin hubungan itu lebih condong pada ketertarikan lahiriah daripada cinta asmara. Meski kehausan sahwat antara mereka satu sama lain begitu besar, itu bukanlah cinta. Jadi sebenarnya sumbernya datang dari dirinya sendiri. Dengan kata lain, dirinyalah yang telah berubah. Mungkin karena ia kini telah jauh lebih dewasa. Bukan oleh usia, tetapi oleh pengalaman. Ia kini telah sampai pada pemahaman yang lebih mendalam tentang hubungan laki - laki dan perempuan. Atau mungkin lebih tepat dikatakan ia telah menginjak area tergelapnya, tempat di mana cinta asmara tampak seperti sesuatu yang konyol. ***
Hening beberapa lama. Atika ikut tenggelam dalam pikiran. "Kamu yang cukup sering bersamanya di luar jam kantor, apakah tidak ada seorang pun yang kau curigai?" Lurah itu kembali berkata. "Aku hanya tahu, ada beberapa pemuda di kampung ini yang mencoba mendekatinya. Namun tampaknya di antara mereka itu tidak ada yang mendapat tanggapan serius dari gadis itu." "Ya, aku juga tahu pemuda - pemuda itu. Bahkan salah satunya ada yang bekerja di kantor ini. Dan menurutku, dibanding yang lain, pemuda ini memiliki peluang lebih besar karena dia juga adalah salah satu teman dekat Ratih. Namanya Tono. Kamu juga tentu mengenal anak itu." Deg! Jantung Atika berdebar mendengar nama keponakannya tiba - tiba disebut. Diam - diam ia mengawasi wajah lurah itu juga nada suaranya. Dan ia lega setelah yakin bahwa Lurah itu hanya menyebutnya secara wajar. "Mengenai pemuda itu..., semua pegawai di sini juga tahu betapa dia tergila - gila kepada Ratih dan bagamana sampai sekarang ia hanya menyimpa
"Dia.. itu, Bu . Dia belum siap diperkenalkan pada Ibu. Katanya mau tunggu waktu yang tepat, " ujar Ratih akhinya melontarkan alasan sekenanya. "Waktu tepat bagaimana lagi? Tidak baik berpacaran terlalu lama. Bisa - bisa malah putus di tengah jalan sebelum menginjak pelaminan. Coba desak kekasihmu itu. Apa lagi usiamu kini sudah semakin menanjak. Sudah jauh melewati usia rata - rata anak gadis saat dipersunting. Kalau dia terus ragu - ragu, putuskan saja. Cari laki - laki lain yang lebih serius, ' kata nyonya itu dengan nada tanpa kompromi. Tetapi sambungnya pula. "Coba beritahukan kepada ibu, apa sebenarnya yang membuat kekasihnmu itu belum siap? Toh, dia tentunya sudah memiliki pekerjaan bukan? Atau.. jangan - jangan kekasihmu itu pengangguran, ya? "mata nyonya itu tiba - tiba berkilat curiga. "Tidak, Bu. Dia memiliki pekerjaan. "Ratih menjelaskan setengah hati. Namun sejurus kemudian sesuatu tiba - tiba melintas dalam kepalanya. Ia kembali melempar lirikan ke arah sang paman
Meski begitu, sebenarnya Jamal tidak akan berani bertindak demikian jika tidak melihat lampu hijau dari si gadis. Pada kenyataannya, makin rapat hubungan mereka, makin menipis pula pula rasa canggung dan malu-malu yang membuat mereka lebih berani mengekspresikan gairah dan segala pikiran lucah. Sudah biasa sewaktu berhubungan intim, mereka berbagi fantasi dan beromong agak vulgar. Jamal tidak ragu melakukannya karena ia tahu sang keponakan diam-diam menyukainya. "Om, tadi aku lupa bertanya. Temanmu itu bekerja di perusahaan apa dan dia menawari Om pekerjaan seperti apa?" tanya Ratih beberapa saat kemudian. "Perusahaan makanan kemasan. Dia salah satu manager di sana. katanya dia punya posisi kosong di kantornya yang cocok untukku." Ratih diam sejenak. Katanya agak sangsi: "Apakah dia... bisa dipercaya? " Jamal tidak langsung menjawab. Tangannya berhenti mematahkan tangkai sayuran. Ia sedikit merubah posisi menghadap ke arah Ratih. "Sebenarnya ada yang belum aku ceritakan t







