Beranda / Urban / Membagi Jatah Untuk Ipar dan Mertua / Bab 567: Mau Jadi Bos Preman

Share

Bab 567: Mau Jadi Bos Preman

Penulis: mrd_bb
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-04 09:12:15
“Bangsaaat, anak-anak, bunuh bocah banyak mulut ini, buang mayatnya ke hutan, biar jadi makanan anjing liar,” bentak Garung saking emosinya mendengar tantangan nekat Mante ini.

Sratt…ke 6 orang serentak maju dan mencabut belatinya di pinggang masing-masing, beberapa penghuni kos gemetaran berteriak kaget, bahkan Linda sampai terkencing di celana saking takutnya.

Namun Mante yang sejak tadi sudah marah dan membuat lengan nya terluka akibat menahan pukul balok kayu dari anak buah Garung bukannya m
mrd_bb

Eheeem...apa yang terjadi selanjutnya, cikidot terus yaaah

| 16
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Membagi Jatah Untuk Ipar dan Mertua   Bab 649: Razak Corporation di ‘Bajak’

    Hampir syok juga Mante melihat saldo dari kartu premium ini saat dia cek ke ATM terdekat, bahkan sudah atas nama dia, yang entah darimana ayahnya tahu KTP-nya.Padahal KTP-nya pernah di pinjam Raka, saat mengurus pembelian rumah dan KTP ini lalu di perlihatkan Raka pada Mamon.“Gileee….nggak tanggung-tanggung papa kasih duit, 7,5 triliun?” batin Mante, sampe mau pingsan dia melihat angka di nolnya.Om Par menatap wajah Mante, pria muda bertubuh kekar ini menawar lahan kebun dan hutan miliknya, yang sudah lebih 3 tahunan tidak laku-laku.Dari 35 miliar yang ia tawarkan, Mante menawar 25 miliar, tapi setelah saling tawar-tawaran, disepakati harganya adalah 28,5 miliar rupiah.Dan tanpa ragu Mante langsung bayar 25 miliar, sisanya sambil nunggu balik nama di SHM dan setelah itu beres baru yang 3,5 miliar di bayarkan."Paling lama 2 bulan, beres surat-suratnya," kata Om Par sambil salami Mante dengan wajah berbinar.Mante lalu meminta mencari seorang kontraktor untuk membangun sebuah ruma

  • Membagi Jatah Untuk Ipar dan Mertua   Bab 648: Pesan Aneh dari Kakek Tua

    Di sebuah jalan sepi , Mante kaget mobilnya tiba-tiba mogok!“Ahh sial ni mobil tua ini, mana aku ngga bawa alat-alat bengkel lagi, masa aku harus bermalam di jalan yang sepi ini,” batin Mante jengkel bukan main, mana ini sudah pukul 3 dinihari lagi, batinya.Mante lalu keluar dari mobil ini dan menatap jalanan yang sepi, dia sama sekali tidak takut, pengalaman di alam masalalu membuat batinnya sudah teruji kuat dan mau mogok di tempat angker sekalipun hatinya bisa saja.Saat dari kejauhan melihat ada nyala lampu pelita yang menandakan itu sebuah rumah, Mante tanpa ragu ke sanalah ia menuju.Dan memang benar, ada gubuk tua yang ada pelitanya di depan rumah.“Siapa di luar?” terdengar suara dari rumah saat Mante mengetuknya, lau terdengar pintu rumah ini di buka.Mante menatap si tuan rumah yang wajahnya teduh dan menyenangkan, seorang pria tua kurus dengan kopiah yang sudah agak pudar warnanya, bajunya koko putih yang juga agak kekuningan termakan usia .“Siapa di luar kek?” terdengar

  • Membagi Jatah Untuk Ipar dan Mertua   Bab 647: Kembali ke Alam Masa Depan

    Raka benar-benar membuktikan ucapan Ki Puji, selain bersama Putri Moana dia juga dengan Putri Arumi dan dua dayangnya.Ketiga wanita cantik dengan tubuh menggiurkan berhasil dia taklukan dan kini tertidur kelelahan setelah mengarungi percintaan yang tiada puasnya malam lanjut siang dan malam lagi dan ini sudah hari ke 6, bukan main daaahh. Hanya Mante yang tetap setia dengan Maharatu Dyah, terlebih bibit-bibit cinta sudah tumbuh di hatinya, uhuiiii .Beda dengan Raka, seolah tak kenal puas dan tanpa dia sadari itu semua gara-gara…kalung mestika yang masih pakai Raka dan anehnya Mante sama sekali tidak keberatan dengan ulah adiknya ini.Hari ke tujuh...Prabu Rangkabhumi geleng-geleng kepala menatap salah satu cucutnya ini, yang terlihat kelelahan dan ketiduran dengan dalam pelukan Putri Arumi dan di dekat kakinya ada dua dayang jelita yang juga terlihat kecapekan dan lagi enak-enakan molor.Lalu si roh sakti ini membaca mantera – mantera dan meniupkan ke wajah Raka.Tranggg….Raka da

  • Membagi Jatah Untuk Ipar dan Mertua   Bab 646: Dayangpun di Embat!

    “Asyik benar kalian di sini, apakah mau selamanya di sini,” tegur si pria parobaya yang masih tampan dan berpakaiaa santai, walaupun terlihat tetap elegan ini.“Kakek leluhur….nggaklah, mau pulang lagi, tapi minta waktu bolehkah,” sahut Raka cepat, sambil menahan kekagetan hatinya.Si kakek leluhur yang tak lain adalah Prabu Rangkabhumi menatap kedua keturunannya ini bergantian.“Raka…jadi inikah kakek leluhur kita, wajahnya mirip papa kita?” bisik Mante dengan suara bergetar, sebab baru pertama kalinya bertemu roh Prabu Rangkabhumi.“Iya Bang, inilah Prabu Rangkabhumi kakek lelulur kita, yang kesohor miliki banyak haremm cantik-cantik …aduhhh!”Raka kaget kepalanya kena kemplang kakek leluhurnya, Mante ikutan kaget, getukan di kepala Raka bikin nyalinya seketika ciut, padahal jaraknyaa 2 meteran dari Raka, tapi secara hebat mampu menggetuk kepala Raka.“Ku beri waktu seminggu dari sekarang, pulang kembali ke masa depan, atau kalian bertahan selamanya di sini, nggak ada lagi tawar men

  • Membagi Jatah Untuk Ipar dan Mertua   Bab 645: Sama Ajee Kelakuan

    Sampai putar-putar satu kadipaten, Raka dan Putri Moana gagal menemukan dua orang borunan kakap ini.Akhirnya mereka pun balik lagi ke istana kadipaten yang kini sudah di kuasai pasukan Kerajaan Bhumi Salak, dan Ki Barudak si komandan pasukan yang memimpin pasukan ini di tugaskan sebagai pejabat Adipati sementara.Dia langsung bawa Raka dan Putri Moana masuk ke dalam ruangan utama kadipaten ini dan dengarkan laporan Raka dan Moana tentang kedua pelarian ini.“Pasti kelak mereka akan di temukan di manapun bersembunyi, sebelum pangeran dan tuan putri balik ke kotaraja, apakah ingin bertahan di sini dulu beberapa hari?” tawar Ki Barudak.Tapi Raka dan Moana izin pamit sambil cari info keberadaan kedua buronan paling di cari ini, apalagi mereka sudah lumayan lama meninggalkan kotaraja.Sepanjang jalan keduanya tetap menikmati bulan madu yang tiada puasnya, apalagi kalau ada air terjun di sebuah hutan keduanya asyik mandi-mandi di sana.Tanpa keduanya sadari, seseorang menonton ulah keduany

  • Membagi Jatah Untuk Ipar dan Mertua   Bab 644 : Kejar Raja Aron

    Yang namanya enak, nggak bakalan berhenti hanya satu hari, keduanya terus ulang percintaan ini hingga 7 hari 7 malam.“Gileeee…nafsu kamu benaran deeh, kayak minum obat puyer, minta terus, capek akuuuh ngangkang saban hari,” sungut Putri Moana yang saban hari di bawa olahraga asoiii oleh suaminya ini.“Maaf...abisnya enak sihh,” sahut Raka terkekeh sambil memeluk tubuh denok bininya, tapi di tepis Moana.“Haduehh…bisa ngesot aku, udah ambil ajah selir sebanyak yang kamu suka kelak,” gerutu Putri Moana dan saat membuka jendela penginapan, Moana kaget bukan main, ratusan parjuri terlihat berlalu lalu di kota ini.“Raka apa yang terjadi, kenapa ratusan prajurit berseleweran.” seru Moana kaget.Mendengar Raka seolah baru nyadar dengan tugasnya, dia bangkit dari ranjang dan menatap ke jalanan.Plakk…Raka tepuk jidatnya.“Sayang, cepatan berpakaian, aku lupa dulu ayahanda Panglima bilang bila dalam 2 minggu tidak ada kabar, maka dia akan kirim pasuka besar ke sini. Dueeh pasti terjadi sudah

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status