Seminggu lamanya aku merenung, dan inilah keputusanku. Aku akan bertanggung jawab dan menikahi Anjel. Sebelum aku ke Surabaya untuk menemui Anjel aku terlebih dahulu menemui kedua orangtuaku. Terlalu banyak dosa yang telah aku lakukan terhadap mereka. Aku yakin mereka pasti sedih dengan sikapku yang menyebalkan ini. "Assalamualaikum," sapaku sontak kedua orangtuaku dan adikku menoleh padaku. "Waalaikumsalam," jawab serentak mereka. Tapi aku melihat wajah keheranan mereka. Aku yakin mereka pasti kaget atas kedatanganku, apalagi datang dengan mengucapkan salam. Biasanya aku main nyelonong masuk. "Bagaimana kabar kalian?" Aku langsung bertanya saat sudah berada di dekat mereka. Mereka masih terdiam. "Bu, Ayah," panggilku hingga Sinta pun membuka suara. "Apa tadi aku tidak salah dengar? Kakak masuk rumah mengucap salam?" ucap Sinta, dia sepertinya belum percaya. "Tidak, karena Adam yang berdiri dihadapan kalian adalah Adam yang baru. Adam yang dulu sudah tiada," ujarku sungguh
Aku tidak bisa tidur memikirkan perkataan Anjel. Apa benar dia mengandung bayiku? Tapi anehnya antara nalar dan hati nuraniku saling bertentangan. Nalarku tak mau percaya jika itu bayi milikku, tapi hati nurani ini menginginkan agar aku percaya. Karena pada dasarnya dia tidak pernah berhubungan dengan pria manapun selain aku. Tapi.... lagi-lagi nalarku menepis. Jika Anjel wanita yang pintar bermain pria tentunya hal mudah untuk berhubungan dengan pria lain saat bersamaku. Di tengah kebingungan itu, terdengar suara notif pesan masuk. Itu dari Sinta adik Perempuanku. ("Pulang! Jangan bersembunyi terus! Sebelum Ayah dan ibu benar-benar mencoretmu sebagai anak mereka,") Seperti itu pesan yang dikirim Sinta padaku. Aku tidak peduli meskipun mereka menganggap ku mati sekalipun. Aku tidak membenci mereka, bahkan aku tidak punya niat untuk memutuskan hubungan kami. Tapi, saat ini aku memang sedang ingin sendiri. Tapi, jika mereka memang mengambil keputusan demikian maka tidak masala
Di saat aku mulai berangsur melupakan Khansa, tiba-tiba dia menghubungiku. Dia terus menerorku dengan panggilan yang tidak pernah aku angkat satu pun. Aku sedang menata hatiku, jangan sampai karena dia ada meneleponku membuat aku kembali runtuh. Lalu aku pun kepikiran untuk memblokir sementara nomornya. Jangankan pada Khansa, pada keluarga sendiri saja aku sengaja menjaga jarak dan selalu menghindar panggilan mereka. Tiga hari kemudian, saat kepalaku dipusingkan oleh Anjel. wanita itu terus menelponku menggunakan nomor baru. Aku seolah sedang ditagih hutang oleh para rentenir. Terpaksa aku pun angkat panggilan telepon darinya. Saat panggilan itu baru aku angkat, Anjel langsung mencecarku serta memakiku. "pria si*lan, kau harus bertanggung jawab! Kenapa kamu malah menghindariku? apa kamu mau jadi pria tidak bertanggungjawab?" Anjel bicara seperti itu setelah ia berhasil mencecar dan memaki. Aku, diam. Aku sama sekali tidak menjawab ucapan Anjel. Bagaimana aku akan menjawab
Aku berpikir semalaman, berpikir bagaimana caranya agar Khansa mau kembali padaku. saking berpikir terlalu keras penampilanku sudah seperti orang gila. Tidak ingat makan, mandi bahkan urusan pekerjaan pun mendadk aku lupakan. Hasil dari itu semua, aku tarik kesimpulan. Kelemahan Khansa adalah anaknya lalu terlintas di kepalaku bagaimana jika menjadikan Salma alasan untuk membuat Khansa mau kembali padaku. Aku akan menculiknya, aku akan jadikan Salma pemancing agar Khansa mau kembali. Setiap hari tanpa sepengetahuan siapapun, aku selalu mengawasi kediaman Khansa. Aku sedang mencari waktu yang tepat. sial! sial! pria itu tidak pernah memberikan aku celah untuk mengambil Salma dari Khansa. aku benci padanya. Pada akhirnya aku mengalami lagi kegagalan. Karena merasa percuma karena ada pria itu,. aku memutuskan untuk pulang. Tapi besok, aku akan kembali. Aku tidak akan menyerah sampai apa yang aku mau terwujud. Keesokan harinya aku kembali, seperti biasa aku sembunyi di tempat
Setelah keluargaku tahu aku sudah bercerai dengan Khansa, mereka marah dan menjauhiku. Mereka bilang aku adalah pria bodoh yang melepaskan wanita sebaik Khansa. Pria tidak tahu diri yang sudah menyakiti wanita yang sudah banyak berdedikasi padaku. Dan aku akui, aku memang bodoh. Aku terlalu cepat mengambil keputusan. Hingga tidak bisa memikirkan dengan matang-matang Sebab akibat jika aku menceraikan Khansa. Tapi, akan aku pastikan dia jadi milikku lagi. Aku akan membuat dia kembali padaku sampai dirinya sendiri yang memohon mohon padaku. Di saat aku ingin sendiri, tiba-tiba Anjel datang. Dia adalah wanita yang sudah membuat aku bercerai dengan Khansa. Berkat hasudan darinya aku malah memilih bercerai. Andai saat itu pikiranku jernih, ah, sudahlah semuanya sudah terjadi. "Mau apa kamu ke sini?" Tanyaku dengan malas-malasan saat melihat Anjel masuk ruanganku. Brak... Anjel mengebrak meja kerjaku, aku sampai kaget dibuatnya. Aku tidak tahu apa yang membuat wanita ini terlihat be
Di acara makan malam itu, aku terus curi-curi pandang pada Khansa. Keberuntungan bagiku karena Khansa duduk bersebelahan denganku. Mereka pikir kami masih berstatus suami istri.Aku bahkan berusaha untuk meraih tangan Khansa, aku ingin menggenggamnya. Belum juga aku raih tangannya tiba-tiba sup yang masih panas itu tumpah dan hampir mengenai tubuhku. Beruntung aku langsung menghindar. Tapi sayang sup panas itu malah mengenai paha Khansa.Sialan! Dasar anak bod*h! Inilah alasan aku memilih ingin childfree. Punya anak sangat menyebalkan. Pusing. Ingin rasanya aku cekik anak itu. Dia sudah melukai wanitaku.Aku hendak menolong khansa, tapi dia menolak. Hingga akhirnya aku memilih diam menyaksikan Khansa yang terus mengaduh kesakitan. Hingga ia pun menghilang dari pandanganku kala Khansa dibawa pemilik rumah ini. Sedangkan anak sialan itu diambil alih Sinta Adikku.Entah kenapa aku malah punya perasaan kasihan padanya. Padahal dulu, aku sama sekali tidak memiliki perasaan ini. Aku bersika
Anjel terus saja mendesakku untuk secepatnya menikahi dia. Padahal aku sama sekali belum kepikiran untuk menikah lagi. Belum kepikiran untuk terikat dengan yang namanya pernikahan. Bagiku hidup menduda justru lebih nyaman.Apalagi semenjak menjalin hubungan dengan Anjel, tidak ada terbersit untuk menikahinya. Hubunganku dengan Anjel hanya sebatas partner di atas ranjang. Selain itu kami juga sama-sama memiliki keuntungan. Jika aku keuntungannya mendapatkan sesuatu yang tidak pernah aku dapat dari Khansa, apalagi urusan ranjang. Sedangkan Anjel, ia mendapatkan segala yang ia mau. Mulai dari fasilitas mewah, barang branded dan pekerja layak. Bukankah itu sudah lebih dari cukup? Jadi, untuk apa lagi ia mendesakku untuk menikahinya?Karena sekeras apa dia memintanya, aku akan menolak dengan terang-terangan. Karena tujuan awal dengannya pun bukan untuk menikahinya, tapi hanya untuk mencari kesenangan. Namum, dia tidak boleh tahu. Aku yakin jika dia tahu maka ia akan marah besar padaku. M
Gawai milikku terus saja bergetar, sengaja enggak aku angkat karena saat ini aku berada di ruang meeting. Karena mengganggu terpaksa aku menyerahkan gawai milikku pada asistenku.Setelah selesai meeting, asistenku langsung memberikan gawaiku. Dia terlihat pucat. Apa dia sakit?"Kamu kenapa? Sakit?" Tanyaku pada asisten saat aku meraih gawaiku."Enggak Tuan.""Lalu kenapa kamu begitu terlihat pucat?' tanyaku lagi.Dia tertunduk, ia seperti ragu untuk mengatakannya."Ada apa? Bicara saja," tuturku."Itu, tuan mmm. Nyonya telepon dan marah. Nyonya tahu perihal hubungan dengan wanita tuan," ujar asistenku.Sudah aku duga hal seperti ini akan terjadi. Dan kini aku tahu kenapa asistenku terlihat pucat. Dia habis kena marah ibuku."Ngomong apa aja ibuku?" Tanyaku seraya berjalan ke ruanganku."Nyonya marah karena Tuan bersekingkuh lalu nyonya titip pesan agar Tuan telepon balik saat acara meeting selesai.""Baiklah. Setelah ini apa aku punya jadwal lain?" Tanyaku. Karena aku berniat pulang l
Masa sekarang.....Selama kurang-lebih dua tahun dari dia mengandung dan kini anaknya sudah berusia satu tahun lebih, sudah berpuluhan cara aku lakukan untuk membuat anak itu lenyap. Hingga Khansa mau berubah kembali. Tapi, Semakin ke sini aku justru semakin ilfiil padanya. .Aku bahkan enggak pernah lagi menyentuhnya. Bagaimana aku mau menyentuhnya, melihat dirinya saja membuat bir4hiku hilang. Sudah tidak ada lagi selera untuk menyentuhnya.Tanpa sepengetahuan Khansa. Aku bermain api dengan sekretarisku. Dia cantik, tubuhnya mmmm tidak bisa diungkapkan saking indahnya. Dia dengan Khansa ibarat langit dan bumi. Hubunganku dengannya sudah berjalan hampir satu tahun.Selama satu tahun itu, Khansa sama sekali tidak curiga dengan hubungan kami. Dia seperti biasa melayaniku. Bukan melayani di atas ranjang melainkan melayaniku dalam urusan perut dan pakaianku. .Meskipun demikian aku tidak luluh, aku menganggap apa yang dilakukan Khansa sebatas pelayanan yang memang harus dilakukan oleh