Share

Bab 8

Author: Ningresia
Tatapan para tamu tertuju ke arah mereka.

Ayla mengangkat mata yang basah, mundur setengah langkah dengan ragu. Dia seperti rusa kecil yang ketakutan.

"Berlutut!" Oscar mengucapkan kata demi kata, "Minta maaf pada Ayla! Katakan kamu nggak akan pernah menindasnya lagi!"

Emma menatap foto mendiang Sandra. Wanita tua itu seolah-olah sedang memandangnya dari balik bingkai, dengan tatapan lembut.

"Maaf." Emma memalingkan kepala ke arah Ayla. Suaranya pelan, tetapi jelas. "Setelah kamu menyuruh orang merekamku dan menggunakan video itu untuk membuat Nenek marah sampai meninggal ...."

"Emma!" sela Oscar dengan keras.

Emma tidak berhenti, tetap menatap Ayla. "Aku nggak seharusnya masih muncul di depanmu."

Wajah Ayla langsung pucat.

"Permintaan maaf sudah selesai." Emma menoleh ke Oscar. "Sekarang boleh aku bersujud pada Nenek?"

Di dalam ruang duka, suasana sunyi senyap. Hanya terdengar musik duka yang mengalun pelan.

Oscar menatapnya, amarah bergolak di mata. Sementara Emma hanya berbalik, menghadap foto Sandra, lalu berlutut dengan tegak dan bersujud tiga kali. Setiap sujud dilakukan dengan keras.

Tatapan Oscar langsung menjadi suram. Dia mencengkeram rambut Emma dengan kasar sampai kulit kepalanya terasa sangat sakit.

"Kamu cari mati!" Oscar menekan leher Emma dan menghantamkannya ke lantai.

Brak! Benturan pertama, dahi Emma menghantam lantai dengan keras. Suara tumpul itu terdengar sangat jelas di ruang duka yang sunyi.

"Minta maaf pada Ayla." Setiap kata keluar dari sela giginya. Tangannya menekan lagi.

Brak! Benturan kedua lebih keras. Pandangan Emma menghitam, cairan hangat mengalir dari pelipisnya. Dia mendengar seruan tertahan dari para tamu dan isak pelan Ayla.

"Apa aku salah?" Suara Emma serak, tetapi dia masih tersenyum. "Kapan aku memfitnahnya?"

Oscar benar-benar kehilangan kendali. Dia menarik rambut Emma, lalu menghantamkannya untuk ketiga kalinya.

Brak! Suara itu begitu berat hingga membuat orang bergidik. Bintik-bintik darah merah gelap terciprat di lantai.

Emma tergeletak di lantai. Darah dari dahinya menutupi mata. Melalui pandangan merah itu, dia melihat foto Sandra. Wanita tua itu masih tersenyum lembut, seolah-olah sedang menyaksikan sebuah sandiwara yang konyol dan menyedihkan.

Oscar terengah-engah, lalu melepaskan tangannya. Dia berdiri di depan Emma. Ujung celananya terkena darah Emma.

Ayla menangis sambil berlari mendekat menariknya. "Kak Oscar, jangan seperti ini .... Kak Emma berdarah ...."

Oscar menepis tangannya, menunjuk ke arah Emma. "Sekarang berlutut dengan benar. Bersujud dan minta maaf pada Ayla sampai dia puas."

Ruang duka hening total. Semua orang menahan napas.

Emma menopang tubuhnya dengan tangan yang gemetar. Darah menetes dari dagunya ke mantel hitamnya.

Ayla menutupi wajahnya, tetapi mata yang terlihat di sela jari-jarinya bersinar terang, penuh kepuasan yang tak disembunyikan.

Darah di dahi Emma menetes ke lantai satu per satu. Dia mengulurkan tangan. Dengan jari yang berlumuran darah, dia tiba-tiba mencengkeram betis Ayla.

Ayla menjerit ketakutan.

Emma mengangkat kepala. Wajahnya yang penuh darah pun tersenyum. "Ayla, kamu nggak perlu mimpi buruk lagi. Mulai hari ini ... orang yang akan mimpi buruk adalah aku."

Dia melepaskan tangan, kembali menghadap foto Sandra, lalu bersujud untuk terakhir kalinya. Kemudian, dia berdiri, berjalan terhuyung keluar dari ruang duka.

Oscar berdiri di tempat, menatap punggungnya yang kurus. Tiba-tiba, dia merasa ada suatu bagian di hatinya yang kosong.

Emma berdiri di tengah angin dingin, mengeluarkan ponsel. Layar sudah retak, memantulkan wajahnya yang penuh darah.

Dengan tenang, dia menelepon Ruben. "Nenek sudah pergi."

Dia melepas cincin berlian merah muda di jari manisnya yang berlumuran darah, lalu melemparkannya ke selokan di pinggir jalan.

"Katakan padanya, setelah urusan pemakaman selesai, kita bertemu di pengadilan negeri."

Telepon ditutup. Angin meniup ujung mantelnya yang terkena darah. Emma mengangkat kepala, menatap langit yang kelabu.

Cahaya terakhir di dalam hatinya akhirnya benar-benar padam. Tidak apa-apa. Sekarang dia bisa pergi dengan tenang.
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Membuang Bulan Demi Batu Biasa   Bab 18

    Setelah kembali ke dalam negeri, Oscar membeli semua lukisan Emma dengan harga tinggi. Karya-karya awalnya serta seluruh seri "Malam Kutub". Total 14 lukisan. Semuanya disumbangkan tanpa imbalan kepada museum seni.Dalam perjanjian donasi hanya ada satu syarat tambahan. Dipamerkan secara permanen, tetapi tidak boleh mengungkap identitas penyumbang.Kurator menanyakan alasannya.Saat itu, Oscar sudah sangat kurus dan wajahnya pucat. Suaranya sangat pelan saat menyahut, "Lukisan-lukisan ini seharusnya dilihat, tapi nggak perlu diketahui siapa yang membuatnya bisa dilihat."Pada hari penandatanganan, cuacanya cerah. Pena menggores kertas, mengeluarkan suara halus.Setelah menulis huruf terakhir, Oscar mendongak dan melihat ke luar jendela. Musim semi di ibu kota telah tiba, bunga magnolia bermekaran.Dia memandang lama, lalu berkata pelan, "Seperti ini sudah cukup."Emma membeli sebuah rumah tua di Provence. Bangunannya sangat tua, tetapi tamannya luas, dipenuhi lavender dan pohon zaitun.

  • Membuang Bulan Demi Batu Biasa   Bab 17

    Di luar jendela, hujan turun. Di dalam negeri, hujan akhir musim gugur turun deras, udara dingin menusuk.Oscar teringat lama sekali dulu, juga di hari hujan seperti ini, Emma meringkuk di sofa menggambar sketsa. Saat dia pulang dalam keadaan basah, Emma meletakkan pensilnya dan mendekat, lalu menggunakan handuk untuk mengeringkan rambutnya.Gerakannya sangat lembut. Ujung jarinya sesekali menyentuh dahinya, terasa hangat. Waktu itu, apa yang dia katakan? Sepertinya dia mengeluh bahwa Emma membuang-buang waktunya, lalu mendorongnya dan masuk ke ruang kerja.Sekarang dipikir-pikir, momen seperti itu tak akan pernah ada lagi seumur hidup.Oscar berdiri lama. Suara hujan berderai, seperti hitungan mundur yang panjang.Ayla sudah gila, neneknya telah meninggal, Emma telah pergi. Dia tetap tinggal di sini, menjaga rumah yang penuh dengan kenangan dan dosa, seperti menjaga sebuah makam besar yang sunyi.Oscar tiba di Norwegia saat malam kutub. Dia menyewa sebuah apartemen, setiap hari memand

  • Membuang Bulan Demi Batu Biasa   Bab 16

    Pada hari persidangan, kursi pengunjung cukup penuh.Ayla mengenakan seragam tahanan yang tidak pas di tubuhnya. Rambutnya dipotong pendek secara asal-asalan, memperlihatkan dagu yang runcing dan kurus.Hakim membacakan satu per satu dakwaan. Menghasut untuk melukai, pemerasan, pencemaran nama baik, pelanggaran privasi ....Saat itu, Ayla tiba-tiba berdiri, mencengkeram pagar sambil berteriak, "Aku melakukan semua ini demi cinta! Aku mencintainya sampai gila! Emma itu siapa? Dia pura-pura angkuh, pura-pura suci, padahal dalam hatinya ...."Petugas menahannya. Ayla meronta, matanya merah, seperti binatang yang terjebak.Dokumen putusan sangat panjang. Karena beberapa kejahatan digabungkan, hukuman penjara menjadi 12 tahun.Saat mendengar 12 tahun, Ayla tertegun sejenak, lalu mulai tertawa terbahak-bahak. Dia tertawa sampai batuk, sampai air mata keluar.Dia menatap ke arah kursi kosong di barisan belakang, lalu bergumam, "Dia bahkan nggak pernah datang menemuiku."Ruang kunjungan tahana

  • Membuang Bulan Demi Batu Biasa   Bab 15

    Oscar menyewa tim humas s terbaik, memantau seluruh internet selama 24 jam. Semua kata kunci negatif terkait "Emma" dan "mantan istri Tuan Muda Keluarga Demetrius", dalam waktu tiga menit setelah muncul akan ditekan ke bawah atau diganti dengan cara teknis.Beberapa akun pemasaran yang selama ini mencari keuntungan dari membocorkan privasi selebritas pun langsung diblokir dalam semalam.Masalah yang ditimbulkan Ayla lebih banyak. Setelah usahanya memeras ibu Oscar gagal, dia kembali mengalihkan target ke mitra kerja Keluarga Demetrius, mengirim email massal dengan klaim bahwa dia memegang rahasia bisnis Keluarga Demetrius.Oscar langsung menyuruh orang mengumpulkan seluruh rantai bukti, beserta laporan lengkap insiden di arena balap, lalu menyerahkannya ke polisi.Hari ketika pemberitahuan pembukaan kasus turun, Ayla sedang makan mi instan di kamar sewaannya. Saat polisi mengetuk pintu, dia menjatuhkan mangkuknya. Kuah panas tumpah ke seluruh tubuhnya. Dia melarikan diri.Ponselnya ter

  • Membuang Bulan Demi Batu Biasa   Bab 14

    Pada malam pembukaan pameran di Milan, galeri dipenuhi orang. Emma berdiri di sudut ruang pameran, melihat kerumunan berdiri di depan lukisan.Lukisan berukuran dua kali tiga meter itu memenuhi satu dinding penuh. Di sisi kiri adalah aliran merah gelap yang bergolak. Lapisan cat tebal menciptakan tekstur yang menyesakkan. Di sisi kanan adalah warna putih murni, rata seperti salju pertama.Emma mengenakan gaun panjang hitam sederhana. Rambut panjangnya disanggul longgar, memperlihatkan garis rahang yang tegas.Hans berjalan mendekat dan berbisik, "Art Times ingin mengatur wawancara eksklusif.""Tolak saja, karya ini sudah menyampaikan semua yang perlu dikatakan.""Kamu yakin? Ini kesempatan bagus ...."Emma menoleh menatapnya. Tatapannya tenang di bawah cahaya lampu galeri. "Hans, aku sudah cukup bernilai. Aku nggak butuh itu."Di kejauhan, orang-orang sedang membicarakan identitas pelukisnya."Katanya perempuan, masih muda.""Gaya sekeras ini nggak seperti lukisan perempuan."Emma diam

  • Membuang Bulan Demi Batu Biasa   Bab 13

    Gelombang besar yang terjadi di internet sama sekali tidak dipedulikan oleh Emma. Dia baru saja menyelesaikan sapuan terakhir lukisan barunya.Dalam wawancara majalah bulanan, ada pertanyaan pribadi yang pernah diajukan. "Setelah melewati badai seperti itu, apakah Anda masih percaya pada cinta?"Emma menatap layar lama sekali. Di luar jendela adalah pemandangan pegunungan kota kecil Swiss di akhir musim gugur. Daun pohon ek sudah berubah menjadi kuning keemasan.Dia teringat bertahun-tahun lalu, ada yang pernah menanyakan pertanyaan serupa. Saat itu, bagaimana dia menjawab? Sepertinya dia tersipu, lalu berkata pelan, "Percaya."Dia mengetik sesuatu.[ Pernah percaya. Kemudian lebih percaya pada cat dan kanvas. Mereka nggak akan mengkhianati, hanya diam menampung semua warna. ]Setelah email terkirim, dia menutup komputer dan masuk ke studio lukis.Di dalam negeri, di rumah Keluarga Demetrius.Ayla yang diserang balik oleh opini publik akhirnya nekat mencari ibu Oscar karena sudah buntu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status