Short
Meminjam Sorot Matamu untuk Menyeberangi Masa Muda

Meminjam Sorot Matamu untuk Menyeberangi Masa Muda

By:  KailaCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
9Chapters
74views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Pada hari pemotretan foto kelulusan sebelum ujian masuk perguruan tinggi, seperti biasa, aku berdiri di samping teman masa kecilku. Beberapa teman sekelas pun menggoda kami. "Ah, cepat, suruh mereka berdiri bersama seperti pasangan suami istri!" Meskipun sudah tak terhitung berapa kali aku mendengar ucapan seperti itu, aku tetap memerah karena sebuah rahasia yang tersimpan di dalam hati. Olivia Turangan tidak berkata apa-apa. Namun, ketika fotografer menekan tombol kamera dan teman-teman sekelas berseru, "Cheese!" Terdengar suara tertahan dan kesal dari sampingku. "Menyebalkan sekali! Bisa nggak, menjauh dariku!" Itu suaranya. Mungkin karena sejak lahir penglihatanku lemah, pendengaranku justru sangat baik, jadi aku tidak mungkin salah mendengarnya. Saat melewati papan harapan di luar kelas, aku mengulurkan tangan dan mencabut kertas harapan yang kutulis dengan "pilihan universitas yang sama dengannya".

View More

Chapter 1

Bab 1

Kembali ke tempat duduk, Olivia sedang berbicara dengan teman sekelas di sebelahnya.

Melihatku kembali, dia berbicara kepadaku seperti biasa, "Kacamata kamu mana?"

Aku mengusap mataku yang terasa agak perih dan kering karena silau matahari.

"Hilang."

Dia menghela napas, lalu mengulurkan tangan untuk menutup tirai di samping hingga rapat.

"Malam ini, aku temani kamu pulang."

Seolah-olah kalimat yang kudengar saat pemotretan tadi hanyalah khayalanku.

Saat jam sekolah usai, seseorang memanggilnya pergi. Dia menyuruhku menunggu di kelas.

Namun, penantian ini ....

Berlangsung selama dua jam.

Aku ingin meneleponnya. Namun, ponselku sudah kehabisan daya dan mati.

Sampai akhirnya guru yang kebetulan melewati kelas melihatku.

"Samuel, kenapa belum pulang?"

Dia tahu penglihatanku kurang baik dan hendak mengantarku pulang.

Aku menolaknya. Aku tidak ingin Olivia kembali dan tidak menemukanku.

Melihat ponselku kehabisan daya, dia membantuku menelepon.

Dua puluh menit kemudian.

Olivia muncul di depan pintu dengan napas terengah-engah.

"Aku sudah mengirimimu pesan, menyuruhmu pulang dulu."

"Aku nggak melihatnya."

Aku mengangkat ponselku dengan canggung. "Ponselku kehabisan daya."

Dia menatapku dengan tatapan yang rumit selama beberapa saat. Namun, pada akhirnya dia tidak mengatakan apa-apa.

"Ayo."

Sepanjang perjalanan, dia tidak berbicara sepatah kata pun. Dia terus membalas pesan di ponselnya.

Aku mencium aroma tumbuhan yang agak getir dari tubuhnya.

Padahal, tadi siang aroma itu belum ada.

Dia baru saja pergi ke mana?

Sesampainya di depan kompleks perumahanku, tiba-tiba seseorang memanggilnya.

Ada beberapa orang berdiri di depan pintu masuk, tetapi aku tidak dapat melihat mereka dengan jelas.

Namun, dari antara orang-orang itu, aku mencium aroma yang sama seperti yang tercium dari tubuhnya.

Olivia mempercepat langkahnya, sementara aku tetap berdiri di tempat.

"Kalian kenapa datang ke sini?"

"Restoran yang bakal kita datangi ada di sekitar sini. Kami datang buat menjemputmu supaya bisa pergi bersama."

Suara yang jernih dan berat itu pernah kudengar di siaran sekolah.

Dia adalah siswa paling populer di sekolah kami, Adrian Nasution.

"Oke, kalian tunggu sebentar. Aku antar dia masuk dulu."

"Tunggu, kita sudah sampai di depan kompleks. Memangnya masih perlu diantar?" Salah satu anak laki-laki berkata dengan agak tidak sabar.

Teman Olivia buru-buru menjelaskan, "Samuel penglihatannya kurang baik. Di malam hari dia nggak bisa melihat dengan jelas."

Orang itu mendecakkan lidah. "Selama ini dia kelihatan baik-baik saja. Siapa tahu itu benar atau nggak?"

"Hari ini ulang tahun Adrian, tapi dia malah bikin kita repot datang ke sini. Menurutku, dia memang sengaja. Benar-benar merusak suasana!"

Aku berdiri dengan kikuk sambil mengepalkan tangan.

Saat Olivia mendekat, aku berkata pelan, "Kamu pergi saja bersenang-senang. Aku bisa pulang sendiri."

Dia tampak ragu.

"Kamu ... bisa?"

"Aku bisa."

Aku berbalik dan masuk ke dalam kompleks.

Dari belakang terdengar suara mereka mengobrol.

"Eh? Olivia, kenapa kamu nggak mengantar suami lemahmu yang manja itu sampai ke rumah?"

"Dia temanku, jangan asal bicara!"

Langkahku terhenti sejenak.

Selama bertahun-tahun, baru kali ini dia membantah dengan suara keras.

Lampu jalan di dalam kompleks cukup terang. Namun, itu hanya cukup untuk membantuku membedakan arah secara garis besar.

Aku meraba-raba jalan ke depan, sementara dadaku terasa seperti dicengkeram sesuatu.

Dulu, Olivia tidak menjelaskan karena dia tidak peduli.

Sekarang dia menjelaskan, apa alasannya?

Adrian?

Kakiku entah terbentur apa, aku langsung jatuh tersungkur.

Rasa perih yang menjalar dari telapak tanganku membuatku sempat kebingungan.

Dulu, Olivia tidak seperti ini.

Dulu, rumah kedua keluarga kami berhadapan.

Dia akan menggandeng tanganku pergi dan pulang sekolah bersama.

Dia juga akan berinisiatif meminta kepada guru agar duduk sebangku denganku.

Saat teman-teman sekolah mengejekku, dia juga selalu berdiri di depanku untuk melindungiku.

Sejak kapan dia ....

Mulai merasa aku menyebalkan?

"Samuel!"

Terdengar langkah kaki tergesa-gesa dari belakang.

Olivia menarikku bangkit dari tanah.

"Ini yang kamu bilang bisa?"

Nada bicaranya terdengar ketus.

Namun, dia dengan teliti memeriksa apakah aku terluka.

Dia menggandengku pulang, seperti yang pernah dilakukannya dulu.

Api kecil di dalam hatiku kembali menyala.

Olivia … ternyata masih peduli padaku.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
9 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status