LOGINUjian masuk perguruan tinggi akhirnya selesai. Saat acara perayaan kelulusan, wali kelas menerima sebuah telepon. Setelah menutup telepon, dia memasang wajah serius dan memberi tahu semua orang bahwa ada seorang siswa di kelas kami yang seluruh lembar jawabannya kosong untuk semua mata pelajaran. Teman-teman sekelas langsung ramai membicarakannya. Semua menebak-nebak siapa orang itu. Saat semua orang masih kebingungan, ketua kelas, Sheva, menghampiriku dengan mata memerah dan terus meminta maaf. Dia mengatakan bahwa di antara pensil ujian yang dibelinya, ternyata ada satu yang cacat. Bekas arsiran dari pensil itu akan menghilang sepenuhnya setelah tiga jam dan kebetulan pensil itulah yang diberikan kepadaku. Dengan kata lain, orang yang dianggap mengumpulkan lembar jawaban kosong itu adalah aku. Sebelum aku sempat bicara, Rico langsung menarik Sheva ke belakangnya untuk melindunginya. "Mikha, Sheva nggak sengaja. Dia cuma ceroboh. Toh kamu juga memang dasarnya sudah pintar, sekalipun harus mengulang setahun, tahun depan kamu tetap bisa masuk universitas. Jangan terus nyalahin dia." Melihat Rico membelanya seolah itu hal yang sudah sewajarnya, dadaku terasa sesak dan getir. Hanya saja, Rico mungkin sudah lupa. Sebelum memasuki ruang ujian, aku dan dia sempat bertukar pensil ujian.
View MoreBaru sebulan berlalu, tetapi penampilan Rico sudah berubah total.Rambutnya berantakan, wajahnya dipenuhi cambang yang tidak terurus, matanya cekung dan dipenuhi urat merah. Tubuhnya juga menjadi sangat kurus. Dia masih mengenakan pakaian lama yang kusut.Sosoknya yang dulu selalu angkuh, penuh percaya diri, dan dianggap sebagai siswa berbakat sudah lenyap sepenuhnya. Kini yang tersisa hanyalah seseorang yang tampak terpuruk dan berantakan.Begitu melihatku, dia segera bertumpu pada lututnya untuk berdiri, lalu bergegas mengejarku."Mikha, aku tahu aku salah. Aku tahu aku sudah mengecewakanmu .... Bisa nggak kamu kasih aku satu kesempatan lagi? Kita mulai semuanya dari awal lagi, ya?"Aku menghentikan langkah dan menatapnya dengan tenang. "Rico, hubungan kita sudah lama berakhir. Mulai sekarang, jangan datang cari aku lagi. Jalani hidup kita masing-masing dan jangan saling mengganggu."Setelah berkata demikian, aku berbalik dan masuk ke gedung apartemen tanpa menoleh lagi.Sejak hari i
Aku memapah Ibu yang emosinya perlahan mulai tenang, lalu berbalik dan berjalan keluar."Mikha, tunggu! Kumohon, tunggu aku!"Rico berusaha keras untuk bangkit, tetapi kedua lututnya lemas. Berkali-kali dia mencoba berdiri, tetapi selalu gagal. Dia tergeletak di lantai sambil menangis penuh penyesalan."Maaf .... Aku salah. Aku benar-benar salah! Maafkan aku kali ini saja, ya ...."Langkahku sama sekali tidak berhenti. Aku bahkan tidak menoleh ataupun meliriknya sedikit pun. Aku menggandeng Ibu dan langsung berjalan keluar dari kantor polisi.Baru saja kami keluar dari pintu utama kantor polisi, dua perwira berseragam militer dengan postur tegap berjalan cepat menghampiri kami.Ekspresi mereka serius dan pembawaan mereka tenang. Sekilas saja sudah terlihat bahwa mereka adalah prajurit yang telah menjalani pelatihan ketat."Apakah Anda Mikha? Kami adalah penanggung jawab penerimaan khusus akademi militer.""Setelah melakukan verifikasi informasi melalui dinas pendidikan, kami mengetahui
Rico tiba-tiba tersadar. Semua kejadian dari awal hingga akhir seketika menjadi jelas dan membuat amarahnya langsung memuncak. Dia melangkah cepat menghampiri Sheva, mencengkeram kerah bajunya, lalu menariknya dengan kasar dari lantai."Kamu yang melakukannya! Ternyata benar-benar kamu! Kenapa kamu sejahat ini?!"Sheva ketakutan sampai seluruh tubuhnya gemetar. Wajahnya pucat pasi dan air matanya terus menetes saat dia membela diri dengan panik."Aku nggak bermaksud mencelakaimu, aku benar-benar nggak ingin mencelakaimu! Dari awal, orang yang ingin kucelakai adalah Mikha! Universitas Primadana hanya menerima satu siswa laki-laki dan satu siswa perempuan dari provinsi kita.""Aku ingin masuk ke sana bersamamu. Aku cuma ingin menyingkirkan Mikha, makanya aku ngasih pensil itu ke dia! Mikha yang terlalu licik. Dia sengaja menukar pensilnya denganmu. Kalau bukan karena dia, semua ini nggak akan terjadi!""Nggak usah lempar tanggung jawab!" Rico gemetar hebat karena marah dan berkata sambil
Rekaman CCTV segera didapatkan.Dalam rekaman di luar lokasi ujian sebelum ujian dimulai, pensil ujian milik Rico terlihat tidak sengaja jatuh ke tanah dan terinjak pejalan kaki hingga patah. Dia berdiri dengan kebingungan dan tidak tahu harus berbuat apa.Akulah yang berinisiatif menghampirinya, menyerahkan pensil ujianku yang masih bagus kepadanya, lalu mengambil pensilnya yang sudah terinjak dan patah.Sepanjang kejadian tidak ada perebutan sedikit pun. Aku sendiri yang mengulurkan tangan, sementara Rico menerima pensil itu begitu saja.Rekamannya sangat jelas. Setiap gerakan terlihat dengan gamblang. Sama sekali tidak ada bukti bahwa aku diam-diam menukar pensil untuk sengaja menjebaknya.Setelah melihat rekaman tersebut, polisi langsung berkata, "Rekaman CCTV menunjukkan seluruh kejadian dengan jelas. Mikha secara sukarela memberikan pensilnya yang masih bagus kepada Rico untuk membantunya. Ini merupakan tindakan dengan niat baik, bukan pertukaran yang dilakukan dengan niat jahat.






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.