Short
Sebatang Pensil Hampir Membawa Petaka

Sebatang Pensil Hampir Membawa Petaka

By:  CocoCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
10Chapters
5views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Ujian masuk perguruan tinggi akhirnya selesai. Saat acara perayaan kelulusan, wali kelas menerima sebuah telepon. Setelah menutup telepon, dia memasang wajah serius dan memberi tahu semua orang bahwa ada seorang siswa di kelas kami yang seluruh lembar jawabannya kosong untuk semua mata pelajaran. Teman-teman sekelas langsung ramai membicarakannya. Semua menebak-nebak siapa orang itu. Saat semua orang masih kebingungan, ketua kelas, Sheva, menghampiriku dengan mata memerah dan terus meminta maaf. Dia mengatakan bahwa di antara pensil ujian yang dibelinya, ternyata ada satu yang cacat. Bekas arsiran dari pensil itu akan menghilang sepenuhnya setelah tiga jam dan kebetulan pensil itulah yang diberikan kepadaku. Dengan kata lain, orang yang dianggap mengumpulkan lembar jawaban kosong itu adalah aku. Sebelum aku sempat bicara, Rico langsung menarik Sheva ke belakangnya untuk melindunginya. "Mikha, Sheva nggak sengaja. Dia cuma ceroboh. Toh kamu juga memang dasarnya sudah pintar, sekalipun harus mengulang setahun, tahun depan kamu tetap bisa masuk universitas. Jangan terus nyalahin dia." Melihat Rico membelanya seolah itu hal yang sudah sewajarnya, dadaku terasa sesak dan getir. Hanya saja, Rico mungkin sudah lupa. Sebelum memasuki ruang ujian, aku dan dia sempat bertukar pensil ujian.

View More

Chapter 1

Bab 1

Hari itu, sebelum masuk ke ruang ujian, pensil ujian milik Rico tidak sengaja jatuh di tengah jalan dan terinjak oleh pejalan kaki yang sedang terburu-buru. Pensilnya retak dan sama sekali tidak bisa digunakan lagi.

Rico panik sampai keningnya berkeringat. Tinggal beberapa menit lagi semua peserta harus masuk, jadi sudah tidak sempat membeli pensil yang baru.

Tanpa berpikir panjang, aku langsung menyelipkan pensil ujian baru yang baru saja dibagikan Sheva kepadaku ke tangan Rico, lalu mengambil pensilnya yang sudah rusak parah.

"Aku masih punya satu lagi. Pakai saja, tenang."

Rico langsung mengembuskan napas lega dan berkata, "Makasih. Setelah ujian selesai, aku traktir makan."

Setelah berkata demikian, dia langsung masuk ke ruang ujian tanpa menoleh lagi.

Namun, mana mungkin aku punya pensil cadangan?

Aku terpaksa nekat mengeluarkan isi pensil yang bengkok sedikit demi sedikit, lalu menjepit batang grafit tipis itu dengan tangan dan mengarsir setiap jawaban dengan sangat hati-hati.

Sepanjang ujian, telapak tanganku penuh noda hitam. Keringat juga terus membasahi tanganku, tetapi akhirnya aku berhasil mengarsir semua jawaban dengan susah payah.

Setelah ujian selesai, aku menunggunya di gerbang sekolah sejak sore hingga hari benar-benar gelap. Bahkan lampu jalan sudah menyala, tetapi dia tetap tidak datang menepati janjinya.

Belakangan dari obrolan teman-teman, aku baru tahu bahwa dia langsung mengajak Sheva pergi berkaraoke untuk merayakannya begitu keluar dari ruang ujian. Dia sudah melupakan janjinya denganku sama sekali.

Melihat sikapnya sekarang yang seolah paling benar dan terang-terangan membela Sheva, jelas sekali dia sudah benar-benar lupa bahwa kami pernah bertukar pensil ujian.

Aku pun teringat masalah pengumpulan uang kas kelas untuk membeli perlengkapan ujian beberapa waktu lalu.

Saat itu, dengan alasan melakukan pembelian bersama untuk seluruh kelas, Sheva mengumpulkan uang kas dari semua murid. Namun, khusus untuk pembelian pensil ujian, catatannya selalu tidak jelas. Dia hanya mengatakan barang itu didapat dari kenalannya. Siapa pun yang bertanya, dia tidak pernah bisa menunjukkan struk belanja ataupun bukti pembelian.

Sejak saat itu aku sudah merasa ada yang tidak beres, hanya saja aku tidak ingin membongkarnya di depan semua orang.

Aku tahu betul bahwa pensil bermasalah itu sama sekali tidak ada padaku. Sebelum masuk ke ruang ujian, aku sudah menyerahkannya sendiri kepada Rico sebagai pengganti pensilnya yang rusak.

Melihatku terus diam, wajah Rico semakin muram dan nada bicaranya makin tidak sabar, "Kamu mau apa lagi sebenarnya? Toh cuma ujian biasa, 'kan? Memangnya perlu sampai terus memasang wajah begitu?"

Aku sampai tertawa karena kesal mendengar dia memutarbalikkan keadaan seperti itu.

"Kamu bilang, ini cuma ujian biasa? Ini ujian masuk perguruan tinggi, kesempatan yang cuma datang sekali seumur hidup! Kalau bukan karena Sheva ceroboh dalam membeli perlengkapan dan memalsukan laporan pembelian, mana mungkin hal seperti ini bisa terjadi?"

"Bisa nggak kamu berhenti mendesak seperti ini?" Rico mengernyit. "Sheva sudah susah payah mengurus keperluan seluruh kelas. Dia juga nggak sengaja. Kamu sendiri yang sial kebagian pensil itu. Terima saja nasibmu, selesai, 'kan?"

Teman-teman di sekitar kami langsung ikut berbisik.

"Ketua kelas juga nggak sengaja. Dia sudah capek mengurus semuanya."

"Benar. Nggak ada yang menginginkan kejadian seperti ini. Nggak perlu terus mempermasalahkannya, 'kan?"

Aku mengangkat kepala dan menatap lurus ke arah Rico, lalu bertanya dengan tegas, "Kalau kejadian ini menimpamu, apa kamu juga bisa menganggapnya selesai begitu saja?"

Rico mencibir dengan wajah penuh meremehkan. "Memangnya harus gimana lagi? Apa aku harus seperti kamu, terus menyalahkan orang yang nggak bersalah?"

Aku tertawa sinis dalam hati.

Bagus.

Bagus sekali ucapanmu.

Aku ingin melihat apakah kamu masih bisa bermurah hati seperti ini setelah tahu bahwa orang yang mengumpulkan lembar jawaban kosong itu sebenarnya adalah dirimu sendiri.

Perdebatan kami semakin keras. Wali kelas akhirnya menyadari ada yang tidak beres dan segera menghampiri.

"Ada apa ini? Kita sedang merayakan selesainya ujian. Kenapa malah bertengkar begini?"

Begitu melihat wali kelas datang, Sheva langsung maju dengan mata memerah. Dengan suara tercekat, dia berinisiatif mengakui kesalahannya.

"Pak, maaf. Semua ini salah saya .... Di antara pensil ujian yang saya beli untuk teman-teman, ternyata ada satu yang cacat. Bekas arsirannya bisa menghilang. Gara-gara itu, semua lembar jawaban Mikha jadi nggak terbaca ...."

Sambil menyeka air mata, dia terus menyalahkan dirinya sendiri. Wajahnya tampak penuh rasa bersalah sekaligus tak berdosa. Bukannya marah, wali kelas malah menepuk bahunya dengan lembut.

"Ini bukan salahmu. Kamu juga berniat baik membantu mengurus keperluan kelas. Kamu beli pensil itu di toko mana? Biar kuhubungi penjualnya untuk meminta ganti rugi."

Mendengar itu, Sheva tampak sedikit gugup. Dia menggeleng, lalu dengan ragu-ragu mengeluarkan beberapa keping uang logam dari sakunya.

"Nggak usah cari penjualnya. Dia harus menghidupi seluruh keluarganya, hidupnya juga nggak mudah .... Semua ini salah saya. Biar saya sendiri yang mengganti kerugian Mikha."

Teman-teman di sekitar kami langsung memujinya.

"Ketua kelas baik banget. Sudah begini pun masih memikirkan orang lain."

"Iya. Dia baik dan pengertian. Jadi kasihan lihatnya."

Sheva menangkup beberapa keping uang logam dengan kedua tangan, lalu dengan hati-hati hendak meletakkannya di telapak tanganku. Namun detik berikutnya, jemarinya tiba-tiba terlepas. Uang-ugan logam itu jatuh menghantam lantai dengan suara nyaring, lalu menggelinding ke segala arah.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
10 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status