Compartir

Bab 7 - Rayuan

Autor: Aleenaaaa
last update Fecha de publicación: 2026-09-17 14:04:40

Besok harinya dirasa sudah cukup tenang, Evanzo pun menghampiri Keia yang masih mengurung dirinya dalam kamar. Sakit hatinya akibat kebohongan Evanzo masih terasa dalam relungnya. Namun Evanzo tidak sedikitpun merasa bersalah atas perbuatan yang keji. Dia telah mempermainkan perasaan bahkan jiwanya pun dia rusak begitu parah. Jelas, membuat trauma itu hadir. Langkah kakinya semakin membawa dia berada di kamar Keia.

Keia terduduk merenung di ujung tempat tidur, matanya sedikit memerah dan beng
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Memuaskan Tanpa Rasa Gairah   Bab 10 - Berpisah

    “Boleh nanti saja pulangnya? Aku masih rindu, Babe. Tolong berikan waktu beberapa jam lagi,” rengek wanita itu dengan tatapan memohon. “Nggak bisa aku masih ada urusan, Babe. Nanti kalau sudah waktunya kita akan bertemu kembali, mohon gunakan rasa sabar kamu, ya,” jawab Evanzo membuat wanitanya merasa sedikit sakit hati. Mendengar tanggapan Evanzo wanita itu mempercepat pergerakannya supaya bisa rapi lebih awal, sedikit rasa kecewa namun dia harus menerima kenyataan yang sebenarnya terjadi. Dilakukan meskipun sedikit terpaksa karena dia masih ingin bersama kekasihnya. Dengan raut wajah cemberut dia masih mempersiapkan barang-barangnya agar tersusun dalam tas yang dia pakai. Sementara Evanzo masih dalam posisi yang sama, sesekali dia memperhatikan wanitanya. Evanzo pun sadar dengan tingkah lakunya, namun jika diteruskan akan terjadi pertengkaran hebat akibat dirinya tidak ingin ditinggal berpisah. “Babe.” “Masih ada lain waktu untuk berjumpa, Babe. Sudah siap? Sekarang kita b

  • Memuaskan Tanpa Rasa Gairah   Bab 9 - Bertemu Kembali

    Evanzo sudah berada di kafe untuk menunggu seseorang yang sudah berjanji bertemu beberapa waktu lalu. Pakaian rapi membuat dia kelihatan lebih berwibawa, baju putih dengan setelan levis. Sesekali dia menyeruput es kopi untuk menemani dalam waktu sendirinya. Habis setengah cup, ternyata seorang wanita datang langsung menghampiri Evanzo, tanpa diperintah dia segera duduk. “Babe, maaf sudah membuat menunggu lama. Apa kabar? Kita sudah lama nggak jumpa,” ucap wanita itu, kemudian dia mengecup bibir Evanzo. “Kabar baik, Babe. Pesan makanan yang kamu inginkan, mengganti semua waktu yang telah kamu lewati sendiri. Aku minta maaf untuk semuanya, karena banyak faktor yang mengharuskan kita jaga jarak,” balas Evanzo. Jarinya mengelus rambut panjang dan halus. Makanan pun langsung dipesan, beberapa waktu makanan mulai terisi di atas meja penuh. Canda tawa mengisi ruangan yang bernuansa aesthetic. Dingin berwarna coklat muda semakin membuat hati jatuh cinta dengan seisinya. Dua sejoli tam

  • Memuaskan Tanpa Rasa Gairah   Bab 8 - Menenangkan Diri

    Malam hari tiba, Keia melangkah kaki keluar dari perumahan yang ditempati oleh Evanzo. Mencari angin malam untuk sejenak membuat pikiran tenang. Dia keluar pun tanpa sepengetahuan Evanzo karena benar-benar ingin merasa sendiri. Dia pun masih kepikiran akan kejadian tadi pagi yang justru membuatnya semakin menyesali segala perbuatan tersebut. Angin mulai berhembus membuat rambut sepanjang bahu ikut beterbangan. Sepanjang jalan cukup ramai kendaraan bermotor ataupun mobil. Mereka melaju dengan tenang hingga membuat Keia semakin menikmati sekitar. Langkahnya menjauh hingga berada di luar perumahan, matanya mencari kenan ke kiri. Banyak tukang jualan berjajar dengan rapi, satu persatu dia telusuri hingga menemukan satu makan yang dia pengen. “Pesan satu porsi, ya,” ucap Keia kepada pedagang pecel lele. Pesanan sudah Keia dapat dia pun segera melanjutkan perjalanan, masih mencari makanan yang dia inginkan lagi. Malam semakin kelabu dia pun memilih untuk duduk sejenak di depan warung

  • Memuaskan Tanpa Rasa Gairah   Bab 7 - Rayuan

    Besok harinya dirasa sudah cukup tenang, Evanzo pun menghampiri Keia yang masih mengurung dirinya dalam kamar. Sakit hatinya akibat kebohongan Evanzo masih terasa dalam relungnya. Namun Evanzo tidak sedikitpun merasa bersalah atas perbuatan yang keji. Dia telah mempermainkan perasaan bahkan jiwanya pun dia rusak begitu parah. Jelas, membuat trauma itu hadir. Langkah kakinya semakin membawa dia berada di kamar Keia. Keia terduduk merenung di ujung tempat tidur, matanya sedikit memerah dan bengkak. Keia terdiam dalam lamunan yang begitu terasa hampa. Evanzo meletakkan tubuhnya samping Keia sambil merangkul wanita itu dari belakang. Tidak ingin berbicara Keia memilih bungkam dan seolah tanpa kehadiran Evanzo samping dirinya. “Keia, maafin aku, ya. Kemarin seolah aku nggak menghargai keberadaanmu. Itu cuma teman doang, kan kamu kekasihku,” ucapnya sedikit bercanda. Evanzo mengusap air mata yang sedikit demi sedikit mulai turun membasahi pipinya. “Lihat aku, Keia.” “Aku mohon, Keia

  • Memuaskan Tanpa Rasa Gairah   Bab 6 - Tak Terduga

    Merasa jengah di dalam kamar, pertama kalinya Keia berani datang ke kamar Evanzo. Sedikit terkejut dia mendapati Evanzo sedang melakukan video call bersama dengan wanita lain. Bukannya selama ini dia mengakui tidak mempunyai pacar ataupun istri. Namun berbeda dengan ucapan yang pernah dia lontarkan ke Keia. “Evanzo, siapa?” tanyanya sedikit bergetar. Kedua matanya terasa panas. Bukan karena cemburu dia hanya takut Evanzo tidak bertanggung jawab atas apa yang pernah dilakukan. Buru-buru Evanzo mematikan ponselnya kemudian dia melempar sembarang di atas kasur. Laki-laki itu terlihat sedikit gugup. Entah jantungnya terasa berdegup kencang, “S—siapa?” Dia justru bertanya kembali kepada Keia. Keia segera pergi dari kamar, namun sebelum dia beranjak tangannya digapai terlebih dahulu. Sontak wanita itu menghentikan langkahnya, lalu menatap Evanzo sembari melotot. “Sejak awal aku sudah nggak percaya sama kamu, terbukti semuanya hari ini.” “Salah paham, Keia. Kamu hanya salah melih

  • Memuaskan Tanpa Rasa Gairah   Bab 5 - Awal Pertemuan

    Bermula chatting di sosial media, berujung menjadi pertemuan tatap muka antara Keia dan Evanzo. Mereka memutuskan untuk bertemu pada hari berikutnya, Evanzo mengajak Keia bertemu di taman yang berada pada pusat kota. Sebelumnya Keia hidup sebatang kara di kerasnya Ibukota Jakarta. Dia memilih ngekos di tempat yang kumuh hanya karena harganya terjangkau. Menunggu besok harinya, mereka datang tepat waktu sesuai perjanjian. Waktu masih menunjukan pukul 4 sore, di mana orang-orang ikut serta memenuhi taman yang menjadi tempat pertemuan mereka. Paras cantik dan rupawan, itulah yang menggambarkan mereka berdua. “Kamu tinggal sama siapa di sini?” tanya Evanzo dengan tatapan lekat. Keia merespon dengan senyuman manis. “Sendiri saja, kedua orang tua aku sudah tiada. Aku juga nggak punya keluarga dekat untuk numpang singgah,” jawabnya sedikit mendatarnya nada bicaranya. Sudut bibir Evanzo menyinggung, tentu saja ada hal yang dia sedang rencanakan. Bukan tanpa sebab, melainkan ada banyak

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status