共有

Bab 5 - Awal Pertemuan

作者: Aleenaaaa
last update 公開日: 2026-09-02 10:13:06

Bermula chatting di sosial media, berujung menjadi pertemuan tatap muka antara Keia dan Evanzo. Mereka memutuskan untuk bertemu pada hari berikutnya, Evanzo mengajak Keia bertemu di taman yang berada pada pusat kota. Sebelumnya Keia hidup sebatang kara di kerasnya Ibukota Jakarta. Dia memilih ngekos di tempat yang kumuh hanya karena harganya terjangkau.

  Menunggu besok harinya, mereka datang tepat waktu sesuai perjanjian. Waktu masih menunjukan pukul 4 sore, di mana orang-orang ikut serta memenuhi taman yang menjadi tempat pertemuan mereka. Paras cantik dan rupawan, itulah yang menggambarkan mereka berdua.

  “Kamu tinggal sama siapa di sini?” tanya Evanzo dengan tatapan lekat. Keia merespon dengan senyuman manis.

  “Sendiri saja, kedua orang tua aku sudah tiada. Aku juga nggak punya keluarga dekat untuk numpang singgah,” jawabnya sedikit mendatarnya nada bicaranya.

  Sudut bibir Evanzo menyinggung, tentu saja ada hal yang dia sedang rencanakan. Bukan tanpa sebab, melainkan ada banyak kegiatan yang akan dilakukan ketika sudah memiliki persetujuan wanita itu.

  “Bagaimana, jika kamu tinggal bersamaku. Tidak perlu mengeluarkan biaya untuk bertahan hidup, hanya menemaniku setiap harinya, lagipula kita sudah kenal sebulanan dari sosial media itu.” Evanzo menawarkan dengan amat senang hati. Kebimbangan yang sangat menggambarkan raut wajahnya keia.

  “Tetapi kita baru bertemu, masa iya langsung percaya sama aku. Kita sama-sama orang asing yang baru saja bertatapan. Seperti masih banyak pertimbangan, kita lawan jenis mungkin orang lain menganggapnya seperti apa kita berdua tinggal bersama,” jelas Keia dengan tegas. Betul, apa yang diucapkan Keia ada benarnya juga tetapi Evanzo tidak peduli terhadap semua itu.

  Suara teriakan saling bersahutan, bahkan banyak anak kecil yang berlari ke sana kemari. Setelah menjelaskan, Keia justru mematung dalam lamunannya. Evanzo pun semakin terpancing untuk membawa wanita ini pergi untuk tinggal bersama. Merupakan santapan lezat untuk dia cicipin seluruh area tubuhnya.

  “Aku tinggal sendiri, jauh dari orang tua. Tenang saja, Keia, kamu aman bersamaku,” ucap Evanzo kembali meyakini Keia yang semakin kebingungan. Dari raut wajahnya pun sudah terlihat jelas. Entah apa yang dia pikirkan hingga begitu tertekan, padahal dia berniat baik agar sisa uangnya bisa disimpan.

  Keia hanya pelayan toko yang gajinya tidak seberapa, cukup untuk membayar kost dan membeli beberapa bahan makanan pokok. Selama ngekost Keia sama sekali tidak pernah jajan apalagi membeli makanan yang dia suka, demi keberlangsungan hidup dia menahan semua keinginan untuk mencapai impiannya. Meski hidup tanpa keluarga, Keia justru lebih tertata jalan hidupnya dibanding Evanzo.

  Mereka dua manusia berbeda dengan latar hidup berbanding terbalik. Evanzo hanya menadah kepada orang tuanya untuk segala kebutuhan, sementara Keia hasil usaha serta kerja kerasnya.

  “Keputusan kamu jadinya gimana?”

  “Entahlah.”

  Daripada membuang waktu untuk mendengar jawaban Keia, Evanzo mengajaknya pergi mengelilingi taman. Banyak jajanan yang berjejer di salah satu tempat yang sudah disediakan. Sebagai laki-laki, dia pun inisiatif membelikan beberapa jajanan yang menurutnya semua wanita suka. Setelah semuanya kebeli, Evanzo justru mengajak Keia menaiki mobil pribadinya.

  Keia memiliki banyak pertanyaan, tetapi tidak satupun dijawab oleh Evanzo. Perasaannya mulai bergetar dah terasa tidak enak. Lagi-lagi pertanyaannya itu terlontar, “Kamu mau mengajak aku ke mana, Evanzo! Jangan hanya diam aku ini bertanya loh!” ketusnya begitu berdengung di gandeng telinganya Evanzo.

  “Ke rumahku,” jawabnya singkat.

  “Sial! Kenapa tanpa persetujuan aku. Bagaimana nanti aku pulang, ini sangat jauh dari lokasi taman. Evanzo, kenapa sih kamu nggak mau mendengarkan aku, untuk sekedar menghargai,” jelas Keia begitu terbawa emosi.

  Evanzo masih melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, tatapan lurus ke depan enggan menatap wanita yang sedang dia bawa. Perasaannya sedikit senang, karena dia mampu membawa wanita ini untuk tinggal bersamanya. Laki-laki dengan pikiran brengsek ini hanya tersenyum dengan rasa tenang. 

  Sementara berbeda dengan Keia, dia justru ketakutan bersama rasa khawatirnya. Mana peduli Evanzo hanya memikirkan egonya saja untuk mendapat kepuasan. “Kamu tinggal duduk manis, sebentar lagi kita sampai di rumahku. Hanya kita berdua saja, tidak ada orang lain apalagi mereka yang akan mengganggu.”

  “Menyesal aku bertemu kamu, bukannya berterima kasih ini membuat aku trauma seumur hidup. Kamu itu hanya laki-laki asing, ngga ada hak kamu mengajak tanpa persetujuan dari yang menerima. Ini sudah sangat keterlaluan, Evan!” 

  “Kita sampai, Keia.” 

  “Mari masuk.”

  Evanzo membukakan pintu agar Keia segera masuk ke dalam rumahnya. Pertama kali yang dia rasakan, adem dan tenang. Itulah yang dapat digambarkan oleh wanita muda dengan rasa khawatirnya. Rumah ini rasanya berbeda dari ruangan kos yang kecil dan kumuh. Namun Keia lebih memilih tinggal di sana, daripada dia harus menerima teguran yang membuatnya sakit hati. 

  “Kamu tinggal bersamaku, syaratnya hanya memuaskan aku setiap hari,” bisik Evanzo tepat di samping telinga Keia, justru wanita itu membelalakan matanya hingga bulat sempurna. 

  “Tidak ada perjanjian itu, sejak awal kamu nggak bilang kalau demi memuaskan gairah kamu. Sama halnya kamu mempermainkan aku serta membuatku semakin terlihat rendah oleh orang-orang sekitar. Jahat, licik, biadab!”

  “Tenang, Nona! Tidak perlu berurat, aku hanya melakukan hal yang semestinya. Ini merupakan timbal balik yang tepat, kamu dapat tinggal bersama aku dan aku bisa merasa puas setiap harinya.”

  “Evan—” Tangan kekar Evanzo menarik tubuh mungil milik Keia, tentu langsung terbawa. Mereka hanya berjarak kurang lebih lima centimeter, jelas bagian tubuhnya pun melekat satu sama lain.

  Memang ini yang diharapkan Evanzo, belum apa-apa dia sudah merasakan sedikit buah dadanya yang menempel di tubuh kekar. Keia menahan amarah, meski rasanya ingin sekali menjambak rambut si laki-laki biadab. Beda halnya dengan Evanzo, dia tertawa kecil sambil ngeledek. 

  “Sudah aku jelaskan, kamu saja yang tidak mengerti. Dengan cara memaksa seperti ini kamu bisa ikut bersama aku ke rumah. Aku kesepian, aku butuh teman, bukan sekedar berbicara, tetapi menampung semua gairah aku kepadamu,” bisiknya sambil menyentuh dagu Keia. Sang empu langsung membuang muka seakan dia tidak ingin disentuh.

 Suasana yang awalnya lebih membaik kini semakin memanas, terlihat wajah Keia penuh dengan amarah. Sementara Evanzo masih girang atas kemenangan yang dia dapatkan. Semua menjadi paksaan untuk Keia demi memuaskan gairahnya.

 “Aku ingin pulang.”

 “Aku nggak mau berada di tempat ini.”

 Evanzo tersenyum. “Kamu sudah milik aku sepenuhnya, kita sudah menjalin hubungan, kamu adalah pacarku. Jadi aku berhak atas segala bagian tubuhmu. Sudah kamu hanya perlu menikmati.”

 “Itu terlalu rendah untuk aku lakukan, Evan. Aku bukan wanita murahan, kalau aku berada di sini, aku akan kehilangan pekerjaan. Siapa yang bertanggung jawab atas semuanya?” tanyanya dengan nada kesal. 

 Tidak ada jawaban yang keluar dari bibirnya Evanzo, justru dia sedang memikirkan apa yang ingin dilakukan besok hari bersama wanitanya, Keia. Sifat licik kembali memenuhi pikiran Evanzo. 

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Memuaskan Tanpa Rasa Gairah   Bab 10 - Berpisah

    “Boleh nanti saja pulangnya? Aku masih rindu, Babe. Tolong berikan waktu beberapa jam lagi,” rengek wanita itu dengan tatapan memohon. “Nggak bisa aku masih ada urusan, Babe. Nanti kalau sudah waktunya kita akan bertemu kembali, mohon gunakan rasa sabar kamu, ya,” jawab Evanzo membuat wanitanya merasa sedikit sakit hati. Mendengar tanggapan Evanzo wanita itu mempercepat pergerakannya supaya bisa rapi lebih awal, sedikit rasa kecewa namun dia harus menerima kenyataan yang sebenarnya terjadi. Dilakukan meskipun sedikit terpaksa karena dia masih ingin bersama kekasihnya. Dengan raut wajah cemberut dia masih mempersiapkan barang-barangnya agar tersusun dalam tas yang dia pakai. Sementara Evanzo masih dalam posisi yang sama, sesekali dia memperhatikan wanitanya. Evanzo pun sadar dengan tingkah lakunya, namun jika diteruskan akan terjadi pertengkaran hebat akibat dirinya tidak ingin ditinggal berpisah. “Babe.” “Masih ada lain waktu untuk berjumpa, Babe. Sudah siap? Sekarang kita b

  • Memuaskan Tanpa Rasa Gairah   Bab 9 - Bertemu Kembali

    Evanzo sudah berada di kafe untuk menunggu seseorang yang sudah berjanji bertemu beberapa waktu lalu. Pakaian rapi membuat dia kelihatan lebih berwibawa, baju putih dengan setelan levis. Sesekali dia menyeruput es kopi untuk menemani dalam waktu sendirinya. Habis setengah cup, ternyata seorang wanita datang langsung menghampiri Evanzo, tanpa diperintah dia segera duduk. “Babe, maaf sudah membuat menunggu lama. Apa kabar? Kita sudah lama nggak jumpa,” ucap wanita itu, kemudian dia mengecup bibir Evanzo. “Kabar baik, Babe. Pesan makanan yang kamu inginkan, mengganti semua waktu yang telah kamu lewati sendiri. Aku minta maaf untuk semuanya, karena banyak faktor yang mengharuskan kita jaga jarak,” balas Evanzo. Jarinya mengelus rambut panjang dan halus. Makanan pun langsung dipesan, beberapa waktu makanan mulai terisi di atas meja penuh. Canda tawa mengisi ruangan yang bernuansa aesthetic. Dingin berwarna coklat muda semakin membuat hati jatuh cinta dengan seisinya. Dua sejoli tam

  • Memuaskan Tanpa Rasa Gairah   Bab 8 - Menenangkan Diri

    Malam hari tiba, Keia melangkah kaki keluar dari perumahan yang ditempati oleh Evanzo. Mencari angin malam untuk sejenak membuat pikiran tenang. Dia keluar pun tanpa sepengetahuan Evanzo karena benar-benar ingin merasa sendiri. Dia pun masih kepikiran akan kejadian tadi pagi yang justru membuatnya semakin menyesali segala perbuatan tersebut. Angin mulai berhembus membuat rambut sepanjang bahu ikut beterbangan. Sepanjang jalan cukup ramai kendaraan bermotor ataupun mobil. Mereka melaju dengan tenang hingga membuat Keia semakin menikmati sekitar. Langkahnya menjauh hingga berada di luar perumahan, matanya mencari kenan ke kiri. Banyak tukang jualan berjajar dengan rapi, satu persatu dia telusuri hingga menemukan satu makan yang dia pengen. “Pesan satu porsi, ya,” ucap Keia kepada pedagang pecel lele. Pesanan sudah Keia dapat dia pun segera melanjutkan perjalanan, masih mencari makanan yang dia inginkan lagi. Malam semakin kelabu dia pun memilih untuk duduk sejenak di depan warung

  • Memuaskan Tanpa Rasa Gairah   Bab 7 - Rayuan

    Besok harinya dirasa sudah cukup tenang, Evanzo pun menghampiri Keia yang masih mengurung dirinya dalam kamar. Sakit hatinya akibat kebohongan Evanzo masih terasa dalam relungnya. Namun Evanzo tidak sedikitpun merasa bersalah atas perbuatan yang keji. Dia telah mempermainkan perasaan bahkan jiwanya pun dia rusak begitu parah. Jelas, membuat trauma itu hadir. Langkah kakinya semakin membawa dia berada di kamar Keia. Keia terduduk merenung di ujung tempat tidur, matanya sedikit memerah dan bengkak. Keia terdiam dalam lamunan yang begitu terasa hampa. Evanzo meletakkan tubuhnya samping Keia sambil merangkul wanita itu dari belakang. Tidak ingin berbicara Keia memilih bungkam dan seolah tanpa kehadiran Evanzo samping dirinya. “Keia, maafin aku, ya. Kemarin seolah aku nggak menghargai keberadaanmu. Itu cuma teman doang, kan kamu kekasihku,” ucapnya sedikit bercanda. Evanzo mengusap air mata yang sedikit demi sedikit mulai turun membasahi pipinya. “Lihat aku, Keia.” “Aku mohon, Keia

  • Memuaskan Tanpa Rasa Gairah   Bab 6 - Tak Terduga

    Merasa jengah di dalam kamar, pertama kalinya Keia berani datang ke kamar Evanzo. Sedikit terkejut dia mendapati Evanzo sedang melakukan video call bersama dengan wanita lain. Bukannya selama ini dia mengakui tidak mempunyai pacar ataupun istri. Namun berbeda dengan ucapan yang pernah dia lontarkan ke Keia. “Evanzo, siapa?” tanyanya sedikit bergetar. Kedua matanya terasa panas. Bukan karena cemburu dia hanya takut Evanzo tidak bertanggung jawab atas apa yang pernah dilakukan. Buru-buru Evanzo mematikan ponselnya kemudian dia melempar sembarang di atas kasur. Laki-laki itu terlihat sedikit gugup. Entah jantungnya terasa berdegup kencang, “S—siapa?” Dia justru bertanya kembali kepada Keia. Keia segera pergi dari kamar, namun sebelum dia beranjak tangannya digapai terlebih dahulu. Sontak wanita itu menghentikan langkahnya, lalu menatap Evanzo sembari melotot. “Sejak awal aku sudah nggak percaya sama kamu, terbukti semuanya hari ini.” “Salah paham, Keia. Kamu hanya salah melih

  • Memuaskan Tanpa Rasa Gairah   Bab 5 - Awal Pertemuan

    Bermula chatting di sosial media, berujung menjadi pertemuan tatap muka antara Keia dan Evanzo. Mereka memutuskan untuk bertemu pada hari berikutnya, Evanzo mengajak Keia bertemu di taman yang berada pada pusat kota. Sebelumnya Keia hidup sebatang kara di kerasnya Ibukota Jakarta. Dia memilih ngekos di tempat yang kumuh hanya karena harganya terjangkau. Menunggu besok harinya, mereka datang tepat waktu sesuai perjanjian. Waktu masih menunjukan pukul 4 sore, di mana orang-orang ikut serta memenuhi taman yang menjadi tempat pertemuan mereka. Paras cantik dan rupawan, itulah yang menggambarkan mereka berdua. “Kamu tinggal sama siapa di sini?” tanya Evanzo dengan tatapan lekat. Keia merespon dengan senyuman manis. “Sendiri saja, kedua orang tua aku sudah tiada. Aku juga nggak punya keluarga dekat untuk numpang singgah,” jawabnya sedikit mendatarnya nada bicaranya. Sudut bibir Evanzo menyinggung, tentu saja ada hal yang dia sedang rencanakan. Bukan tanpa sebab, melainkan ada banyak

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status