MasukMerasa jengah di dalam kamar, pertama kalinya Keia berani datang ke kamar Evanzo. Sedikit terkejut dia mendapati Evanzo sedang melakukan video call bersama dengan wanita lain. Bukannya selama ini dia mengakui tidak mempunyai pacar ataupun istri. Namun berbeda dengan ucapan yang pernah dia lontarkan ke Keia.
“Evanzo, siapa?” tanyanya sedikit bergetar. Kedua matanya terasa panas. Bukan karena cemburu dia hanya takut Evanzo tidak bertanggung jawab atas apa yang pernah dilakukan. Buru-buru Evanzo mematikan ponselnya kemudian dia melempar sembarang di atas kasur. Laki-laki itu terlihat sedikit gugup. Entah jantungnya terasa berdegup kencang, “S—siapa?” Dia justru bertanya kembali kepada Keia. Keia segera pergi dari kamar, namun sebelum dia beranjak tangannya digapai terlebih dahulu. Sontak wanita itu menghentikan langkahnya, lalu menatap Evanzo sembari melotot. “Sejak awal aku sudah nggak percaya sama kamu, terbukti semuanya hari ini.” “Salah paham, Keia. Kamu hanya salah melihat,” jawabnya tidak sesuai fakta. Keia bukan lagi anak kecil yang dapat dibodohi, mana mungkin dia salah melihat. Jelas depan mata semua direkam oleh otaknya, serta membuktikan kalau Evanzo seorang pembohong. Padahal kedatangan Keia memiliki tujuan untuk mencari lebih dalam lagi tentang kehidupan Evanzo. Bagaimanapun mereka hanya kenal satu bulan melalui sosial media. Masih banyak pertanyaan yang memenuhi pikirannya, lagipula tidak ada salahnya. Meski cinta mereka terhalang oleh nafsu, Keia justru penasaran dengan semua aktivitas sebelum dirinya hadir. Kedatangan memberi kejutan pahit yang harus diterima, tentu Evanzo bukan sepenuhnya untuk Keia, tetapi ada hati lain yang menerobos masuk. Benci, itulah yang saat ini menggambarkan perasaannya. Apalagi kondisinya dia sudah kehilangan mahkotanya, mungkin tidak banyak laki-laki akan menerima sepenuh hati tanpa tujuan lain. Menyesal, hanya ini yang terlintas dalam diri. Keia semakin hancur, entah sudah berapa keping hatinya remuk menjadi luka-luka yang pedih. Keia semakin tidak percaya atas segala ucapan Evanzo semalam ini. Banyak kebohongan untuk menutup dirinya agar tetap sempurna. “Padahal kedatangan aku ke sini memiliki tujuan, tapi kamu memberikan tujuan lain dan membuat aku semakin paham kalau kamu bukan orang baik untuk aku singgah bersamamu,” ujarnya terdengar ketus. “Apa sih, kalau bicara dipikir terlebih dahulu, kalau belum mengetahui apa-apa sebaiknya diam. Jangan membuat kita berada di kesalahpahaman. Bukannya aku sudah jujur, nanti akan menikahi kamu setelah semua urusan selesai,” jawab Evanzo tidak kalah ketus. “Kamu yang nggak punya pikiran, Evan!” Seru Keia semakin terdengar amarah. Bukannya membujuk Evanzo lebih memilih pergi, entah dia melangkah kaki ke mana. Di kamar hanya tertinggal Keia sendiri. Pantas jika Keia menyebutnya sebagai laki-laki egois. Wanita itu terdiam, merenungi penyesalan yang telah terjadi beberapa hari lalu. Tidak memiliki keluarga, tidak punya tempat singgah, bahkan hidupnya semakin berantakan. Tetapi Evanzo dengan mudahnya mempermainkan hati, serta merendahkan seseorang tanpa berpikir panjang tentang kehidupan orang tersebut. Setelah melamun beberapa detik, Keia bukannya keluar dia justru menjelajah di kamar Evanzo. Matanya tertuju ke sudut kamar ada sebuah meja yang cukup berantakan. Dia melangkah maju kemudian tangannya mulai mencari selembar foto yang tertimpa barang-barang tidak berguna. Foto usang membuat Keia sulit melihat siapa seseorang yang berada dalam satu frame. Tangannya mengusap lembut, “Evanzo, siapa wanita ini?” Dia mengerutkan kedua alis sambil berpikir keras. “Apa wanita yang tadi dia video call, cukup mirip. Biar ini aku simpan, lain waktu akan kutanyakan,” gumam Keia. Kemudian dia mencari kembali, mengacak-ngacak tumpukan dengan barang-barang yang tidak lagi terpakai. Cukup jorok Evanzo, semua dia tumpuk menjadi satu di atas meja. Setelah lama mencari dia kembali menemukan sepasang gelang couple, hatinya sudah tidak berpositif atas segala hal. Jelas kalau mereka sudah memiliki hubungan. Keia berpikir apakah dirinya seorang pelakor yang telah merusak hubungan orang lain. Tetapi Evanzo pun mengakui bahwa dia tidak sedang menjalin hubungan dengan siapa pun. Sekarang dia tidak tahu apa yang harus dilakukan, mundur atau tetap bertahan dengan rasa sakit di hati. Meski dia sama sekali tidak memiliki perasaan cinta, justru ini lebih sakit karena harga dirinya terlihat begitu rendah. Dirasa cukup menenangkan diri Evanzo tiba-tiba masuk, dia masih mendapati Keia berdiam dalam kamarnya. Langkahnya yang panjang membuat dia semakin dekat ke arah wanita itu. “Mencari apalagi di kamar aku, Keia. Masih nggak percaya ucapan aku. Harus berapa banyak lagi kata-kata yang bisa meyakini kamu?” tanyanya tanpa tahu apa yang sedang Keia sembunyikan. “Nggak. Aku hanya melihat sekitar,” jawab Keia berbohong. Padahal hatinya lagi menahan panahan yang begitu menusuk. Entah Evanzo kerasukan apa, kemudian dia mendekap tubuh Keia begitu erat. Jarinya mengelus puncak kepala hingga membuat Keia meneteskan air mata. Rasa sakit yang begitu dalam dia semakin termenung dalam luka. “Basah! Kamu nangis, Keia?” “Kenapa, Keia?” Wanita itu hanya menggelengkan kepalanya, banyak jawaban yang tidak ingin dia lontarkan. Dia segera menghapus air matanya dengan jari. “Lepas! Aku ingin ke kamar!” bentak Keia penuh amarah. Namun Evanzo semakin mengeratkan pelukannya hingga Keia kesusahan untuk bernapas. “Evanzo, sakit. Kamu kenapa sih selalu menyiksa aku? Kemarin kamu memaksa untuk kita melakukan hubungan badan. Sekarang kamu menekan aku untuk tetap tegar menerima apa yang sudah aku lihat.” “Keia, aku mohon percaya sama aku. Aku sayang sama kamu, bahkan cintaku lebih besar dari nafsu aku,” ucap Evanzo begitu pelan. “Cih, menjijikan. Kamu bilang kalau berucap harus dipikirkan terlebih dahulu. Tapi kamu sama sekali nggak ada otak untuk memikirkannya. Dapat apa kamu dari membohongi aku?” tanya Keia sedikit berteriak. Dia berontak sekuat tenaga hingga terlebih dari pelukannya. “Keia.” “Keia. Dengarkan aku!” seru Evanzo. Kali ini Evanzo yang ditinggalkan sendiri dalam kamar, ternyata dia sama sekali tidak sadar apa yang telah diperbuat. Rasa sakit serta luka yang membekas atas segala perbuatannya. Namun Evanzo memilih tidak peduli dan tidak mau melanjutkan perdebatannya dengan Keia. Membiarkan Keia pergi dalam kesedihan, Evanzo tidak pernah menyesali segala perbuatan keji. Dia terlihat santai dan kembali merebahkan tubuhnya di atas kasur. Memilih tidak peduli, membiarkan semua berlalu tanpa harus melibatkan dirinya sendiri. Lagipula Keia hanya menumpang hidup demi bisa bertahan lebih lama. “Wanita itu terlalu polos. Bodoh!” “Waktu yang akan menjawab semua pertanyaannya, untuk sekarang aku hanya fokus untuk menikmati. Kalau dia berakal pasti sudah kabur sejak lama dari rumahku.” Disusul ketawa ringan dari bibir Evanzo, Evanzo kembali melakukan aktivitasnya yang sempat tertunda, dia menyalakan ponsel lalu melakukan video call dengan wanita yang menjadi perbincangannya bersama Keia, hanya suara tertawa yang terdengar asyik. Mereka begitu menikmati serta menyalurkan rasa kangennya.Merasa jengah di dalam kamar, pertama kalinya Keia berani datang ke kamar Evanzo. Sedikit terkejut dia mendapati Evanzo sedang melakukan video call bersama dengan wanita lain. Bukannya selama ini dia mengakui tidak mempunyai pacar ataupun istri. Namun berbeda dengan ucapan yang pernah dia lontarkan ke Keia. “Evanzo, siapa?” tanyanya sedikit bergetar. Kedua matanya terasa panas. Bukan karena cemburu dia hanya takut Evanzo tidak bertanggung jawab atas apa yang pernah dilakukan. Buru-buru Evanzo mematikan ponselnya kemudian dia melempar sembarang di atas kasur. Laki-laki itu terlihat sedikit gugup. Entah jantungnya terasa berdegup kencang, “S—siapa?” Dia justru bertanya kembali kepada Keia. Keia segera pergi dari kamar, namun sebelum dia beranjak tangannya digapai terlebih dahulu. Sontak wanita itu menghentikan langkahnya, lalu menatap Evanzo sembari melotot. “Sejak awal aku sudah nggak percaya sama kamu, terbukti semuanya hari ini.” “Salah paham, Keia. Kamu hanya salah melih
Bermula chatting di sosial media, berujung menjadi pertemuan tatap muka antara Keia dan Evanzo. Mereka memutuskan untuk bertemu pada hari berikutnya, Evanzo mengajak Keia bertemu di taman yang berada pada pusat kota. Sebelumnya Keia hidup sebatang kara di kerasnya Ibukota Jakarta. Dia memilih ngekos di tempat yang kumuh hanya karena harganya terjangkau. Menunggu besok harinya, mereka datang tepat waktu sesuai perjanjian. Waktu masih menunjukan pukul 4 sore, di mana orang-orang ikut serta memenuhi taman yang menjadi tempat pertemuan mereka. Paras cantik dan rupawan, itulah yang menggambarkan mereka berdua. “Kamu tinggal sama siapa di sini?” tanya Evanzo dengan tatapan lekat. Keia merespon dengan senyuman manis. “Sendiri saja, kedua orang tua aku sudah tiada. Aku juga nggak punya keluarga dekat untuk numpang singgah,” jawabnya sedikit mendatarnya nada bicaranya. Sudut bibir Evanzo menyinggung, tentu saja ada hal yang dia sedang rencanakan. Bukan tanpa sebab, melainkan ada banyak
Evanzo merasa pintu kamarnya seperti terbuka, matanya terbelalak kaget ketika dia menyipitkan kedua mata untuk melihat siapa yang datang. “Astaga ayah, kenapa nggak memberi kabar terlebih dahulu,” ucapnya. Dia langsung terburu-buru mencari baju di sekitaran tempat tidur. Sementara Keia masih terlelap dengan tubuh yang belum terbalut oleh baju. Evanzo pun menyelimuti wanitanya sebelum keadaan semakin kacau. “Semenjak kamu memilih tinggal sendiri, semakin liar juga pergaulannya. Kamu ajak wanita mana lagi untuk tidur bersama, memangnya kamu nggak mau menikah. Hidup dengan layak seperti laki-laki yang lain, umur kamu sudah matang untuk menikah,” ujar Santoso dengan nada sedikit membentak. “Belum saja ibumu datang melihat tingkah laku anaknya yang kurang ajar ini,” lanjutnya. Evanzo melangkah kaki keluar kamar diikuti oleh Santoso, bahkan tidak ada kabar apa pun ketika dia datang. Iya, pertanyaan itu mengisi kepalanya hingga terasa begitu penat. Biasanya ada banyak hal yang ingin d
Keesokan harinya Evanzo menghampiri Keia yang masih mendakap dalam kamarnya. Rasa lelah begitu dia rasakan, mata indahnya pun masih terpejam erat. Namun dia merasakan ada tangan yang mulai membelai rambutnya yang tidak terikat. Perlahan matanya dia buka dan pandangan langsung dipenuhi oleh Evanzo. Senyuman manis menyapa Keia, bukan lagi rasa kesel atau emosi. “Aku kayaknya beneran jatuh cinta sama kamu, Keia, rasanya beda. Sejak satu bulan lalu, hatiku selalu bergetar setiap kali berada di sampingmu. Aku tahu ini terjadi secara mendadak dan membuat kamu harus banyak berpikir,” ucapnya lembut. Kemudian disusul dengan kecupan hangat. Keia justru mematung, bingung. Sebenarnya ini hanya jebakan atau janji manis yang terucap oleh Evanzo. Selama satu bulan belakangan ini dia hanya merasa bahwa dirinya dipermainkan untuk melengkapi gairah saja. Namun kali ini berbeda, bukan Evanzo yang dia kenal, seperti orang asing yang tiba-tiba masuk dalam kehidupannya. Masih mencerna perkataan i
“Sudah aku bilang, kemarin malam puncak kenikmatan antara kita berdua tetapi kamu nggak mau mengakui kalau itu bagian dari rasanya,” ucap Evanzo dengan sedikit bercanda. Keia terdiam sedikit ada penyesalan dalam hidupnya, bagaimana tidak dia baru pertama kali merasakan kehidupan yang sebenarnya enggan untuk dia rasakan kembali. Tatapan kosong yang justru mendominasi keheningan antara sepasang kekasih yang tidak saling mencintai. Meskipun rasanya masih membekas jelas di dalam otaknya bagaimana tentang ekspresi Evanzo ketika berada di atas tubuhnya. “Hadiah karena kamu menuruti kemauan aku, nanti sore kita pergi ke kedai es krim ya. Itu kan kesukaan kamu, aku tahu itu salah, aku minta maaf ya, janji jangan ditekuk lagi wajahnya karena itu sangat jelek sekali, Keia,” teriak Evanzo yang sedikit membuat Keia semakin tidak nyaman. “Kenapa? Banyak cara untuk menikmati hidup, tapi kamu lebih memilih menjadi laki-laki brengsek. Kalau hidup aku berantakan sepenuhnya tanggung jawab ada di k
“Pegang sedikit, barangkali kamu suka dengan ini, siapa sih wanita yang ngga tergoda, besar dan berurat, loh!” seru Evanzo Bravi Sagara. Laki-laki berusia 30 tahun itu terlihat tengil seraya menatap wanita yang sedang duduk di sampingnya. Kedua alisnya sengaja dia naik turunkan dengan raut wajah mengejek. “Cih! Nggak sudi untuk melihatnya pun.” Amarah itu terdengar dari seorang wanita yang bernama Keia Evelyn Madison. Meskipun mereka saling menatap rasanya pun jijik untuk saling menyentuh. Terutama Keia, wanita ini dipaksa untuk memuaskan Evanzo yang sedang terikat oleh sebuah gairah. Tangan kekar mulai menjamah bagian dada dan sedikit meremasnya, Keia hanya terdiam seraya menatap kasar. Suara pun enggan untuk dikeluarkan, meski dia merasa kurang suka dengan tindakan Evanzo namun tetap memilih diam. Melihat Keia menikmati, Evanzo semakin menjulurkan tangannya ke bagian yang dia sukai. “Sshhhhh ahh!” Suara itu yang keluar tegas dari bibir Keia. “Sudah aku bilang rasanya akan







