LOGINSetelah dijadikan bank darah oleh cinta pertama suamiku, aku sakit hingga meninggal di rumah kontrakan yang disedekahkan oleh suamiku yang merupakan konglomerat. Hari ini adalah hari ketiga setelah kematianku. Putraku yang berusia enam tahun akhirnya menyadari ada yang tidak beres. Dia bermain mainan dan jarinya terluka, aku tidak menenangkannya. Dia membuka biskuit dan menyuapkan makanan ke mulutku, aku tidak menghentikannya. Dia berbaring dalam pelukanku, mencengkeram bajuku dan memanggil pelan "Mama," aku juga tidak memberi respons. Dengan panik, dia menemukan ponselku dan menelepon suamiku yang konglomerat itu. "Papa, kenapa Mama masih tidur?" Pria itu malah mengirimkan sebuah foto dirinya sedang menyantap makan malam tahun baru bersama cinta pertamanya, lalu berkata dengan dingin, "Cuma tidur, bukan mati. Hari ini malam tahun baru, aku sangat sibuk." "Katakan pada ibu kamu yang nggak tahu diri itu, kalau dia sudah mau mengakui kesalahannya, baru datang mencariku." Telepon ditutup. Anak itu tertegun lama. Dia memungut biskuit terakhir di rumah dari tempat sampah, mematahkannya menjadi dua, lalu menyuapkannya ke mulutku. "Mama, kita juga makan."
View More"Bu Saskia, Anda terlibat dalam kasus kekerasan terhadap anak dan pembunuhan. Silakan ikut kami ke kantor polisi untuk menjalani penyelidikan."Saskia tertegun. Matanya seketika memerah. "Apa yang kalian bicarakan? Aku hanya latihan drama dengan putriku di kamar. Tadi itu semua cuma dialog. Apa kalian salah dengar?"Dengan panik, dia menoleh ke arah Refal. Sambil menangis, dia berkata, "Refal, cepat bantu aku jelaskan. Kamu tahu sendiri, aku bahkan nggak berani membunuh ayam. Mana mungkin berani membunuh orang? Pasti ada kesalahpahaman."Melihat sikapnya yang tampak lemah dan menyedihkan itu, Refal justru merasa mual. Dia tidak pernah menyangka bahwa kemampuan akting perempuan ini bisa sehebat ini.Dia sama sekali tidak seperti Maudy. Tidak, bahkan jari kakinya pun tidak pantas dibandingkan dengan Maudy.Saat memikirkanku, kebencian di mata Refal semakin dalam. "Saskia, beraninya kamu menipuku!"Dia mengulurkan tangan dan mencekik leher Saskia dengan keras. Suaranya dingin hingga menus
"Aku jelas sudah bilang ke dokter hanya ambil 400 cc, mana mungkin jadi 2.000 cc?" Mata Refal memerah. Dengan tidak percaya, dia berkata, "Kamu bohong padaku, pasti bohong!"Kemudian, dia tersenyum sinis dan bergumam pada dirinya sendiri, "Aku tahu sekarang, kamu bukan polisi sungguhan. Kamu pasti orang yang Maudy suruh untuk berpura-pura.""Dia bayar kamu berapa untuk sandiwara ini? Katakan, dia bayar kamu berapa? Berapa?"Richard menggeleng dan berkata, "Percaya atau nggak, inilah kenyataannya. Pak Refal, silakan ikut kami ke kantor polisi."Selesai berbicara, dia mengeluarkan borgol dari dadanya, bersiap menangkap Refal.Refal masih tidak percaya dan melawan dengan keras.Namun, kepala pelayan seolah-olah teringat sesuatu. Wajahnya langsung pucat pasi. "Mungkinkah itu ...."Refal terdiam. Matanya merah seakan-akan bisa meneteskan darah. "Apa Paman tahu sesuatu?"Richard juga segera menoleh ke arah kepala pelayan dan bertanya, "Apa yang kamu tahu?"Kepala pelayan mengatupkan bibir, l
Anakku ketakutan dan bersembunyi ke dalam pelukanku, lalu bertanya dengan tidak percaya, "Mama, dia benar-benar ibu kandung Kak Nicole?"Melihat tatapan bingung anakku, aku sempat terdiam. Namun, aku kembali dikejutkan oleh tindakan Saskia.Melihat Nicole tidak berani berbicara, amarah Saskia langsung memuncak. Dia langsung menjulurkan tangan dan mencubit keras bagian dalam paha Nicole.Sambil mencubit, dia memaki, "Perempuan jalang, selalu gagal dan cuma merusak urusan! Aku sudah mengusir Maudy dan anak haram itu selama berhari-hari, tapi kamu belum juga berhasil mengait hati Refal si bodoh itu!""Bukankah kamu paling suka menggoda pria? Kenapa justru gagal di saat seperti ini? Kalau saja kamu benar-benar bisa membuat Refal melupakan anak haram itu, aku nggak akan setakut ini. Semua ini salahmu!"Setiap kali Saskia mengucapkan satu kalimat, dia akan mencubit Nicole dengan keras, seolah-olah ingin meluapkan semua ketidakpuasannya ke tubuh Nicole.Sementara itu, Nicole tampak sudah terb
"Selain itu, mengenai jenazah Nyonya, ada beberapa hal yang ingin polisi tanyakan kepada Tuan."Refal menunduk, menatap anak dalam pelukannya yang tampak seolah-olah hanya tertidur. Dadanya terasa seperti dilubangi, angin dingin terus menerpa tanpa henti.Namun, akal sehatnya mengatakan bahwa menyembunyikan penyebab kematian anaknya adalah pilihan yang benar.Saskia juga buru-buru membujuk, "Refal, yang dikatakan kepala pelayan itu benar. Walaupun kamu nggak sengaja, keadaannya sudah seperti ini. Lebih baik cepat sembunyikan Kenny."Refal menatap Saskia dengan tatapan kosong. Suaranya serak. "Saskia, aku telah membunuh Kenny dan bahkan menyembunyikannya. Dia nggak akan memaafkanku."Di mata Saskia terlintas seberkas ketidaksabaran, tetapi dia segera kembali berpura-pura lembut. "Mana mungkin? Kenny itu anak yang paling penurut. Dia pasti bisa memahami kesulitanmu dan nggak akan marah padamu. Refal, tenang saja."Kenny mencibir. Tatapannya penuh rasa muak. "Aku nggak akan memaafkannya!"






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.