Share

BAB 8: UNDANGAN PESTA MALAM

Penulis: panmie
last update Tanggal publikasi: 2026-09-05 10:46:23

Sinar jingga kemerahan mulai meredup di ufuk barat, digantikan selimut malam yang menutupi kawasan kampus Universitas Nusa Bangsa. Suasana koridor Fakultas Ekonomi yang tadinya riuh kini berangsur lengang.

Rian melangkah keluar dari area perpustakaan utama, menyampirkan ransel kulit tuanya di bahu kanan. Ketua BEM berusia 21 tahun itu mengenakan kemeja kasual berwarna hitam kusam dengan lengan tergulung rapi hingga pertengahan lengan bawah, dipadukan celana jins gelap. Penampilannya terkesan acak-acakan tanpa usaha, namun garis wajah tegas dan postur tubuh tegapnya tetap memancarkan pesona magnetis yang sulit diabaikan.

"Woy, Rian! Tunggu sebentar!"

Dua orang mahasiswa seangkatan—Dimas dan Reno—berlari-lari kecil menghampiri Rian.

"Ada apa?" tanya Rian tenang.

"Kamu datang kan malam ini?" tanya Reno antusias. "Anak-anak angkatan kita mengadakan pesta penyambutan maba mandiri di club lounge daerah Selatan. Semua anak hits datang, Rian! Bintangnya kan kamu, Ketua BEM yang menjawab soal logika Profesor Hendra!"

Rian mengerutkan keningnya halus. "Pesta? Aku kurang suka tempat bising. Mau langsung pulang ke kos saja."

"Yah, jangan begitu dong, Bro!" potong Dimas cepat seraya merangkul bahu Rian. "Ini kan momen selebrasi. Lagipula, maba-maba cantik sudah nanyain kamu dari sore!"

Setelah menarik napas panjang, Rian akhirnya mengangguk pelan. "Baiklah. Tapi aku tidak bisa lama-lama."

Sebelum Rian melangkah menuju parkiran, sesosok tubuh mungil melesat keluar dari lorong samping. Sisca melangkah cepat dengan wajah yang dilipat rapat. Sekretaris BEM berusia 21 tahun itu mengenakan sweater rajut merah muda pastel. Wajah manisnya menegang; bibirnya dipanyunkan tajam, sementara matanya yang bulat menatap Rian penuh kecemburuan yang membara.

"Kamu benar-benar mau datang ke pesta itu?" tanya Sisca langsung, berdiri tepat di hadapan Rian dengan kedua tangan melipat kaku di depan dada.

Dimas dan Reno yang melihat kedatangan Sisca langsung melempar kerlingan jahil. "Duh, manajer pribadinya sudah datang nih. Kita tunggu di parkiran ya, Rian!" gurau Reno sebelum bergegas pergi.

Rian menatap Sisca dengan senyum tipis yang hangat. "Cuma sebentar, Sisca. Menghargai teman-teman."

Sisca memajukan langkahnya hingga jarak mereka makin terkikis. "Kamu tahu kan pesta malam anak-anak kampus seperti apa?" bisik Sisca tajam. "Banyak minuman keras, musik bising, dan... perempuan-perempuan pemburu pria tampan yang siap menerkammu!"

"Aku bisa menjaga diri, Sisca," balas Rian lembut, jemarinya terangkat merapikan poni rambut Sisca.

Namun Sisca memegang kedua sisi kerah kemeja hitam Rian dengan genggaman mungilnya yang erat. Ia mendongak menatap langsung ke dalam mata Rian.

"Dengarkan aku baik-baik, Rian Pratama!" tegur Sisca dengan intonasi melengking nan galak. "Satu: Jangan sekali-kali meminum alkohol! Kalau kamu sampai mabuk, aku kunci pintu kosanmu dari luar!"

Rian terkekeh pelan. "Iya, Tuan Putri. Aku cuma minum air putih atau soda."

"Dua! Jangan pulang terlalu malam! Maksimal jam sebelas malam kamu sudah harus ada di kosan. Kalau lewat semenit... aku akan menyusul dan menyeretmu pulang!"

"Tiga?" goda Rian pelan.

"Tiga..." Sisca menelan ludah, pipinya merona merah. "Jangan biarkan perempuan mana pun duduk menempel padamu! Ingat kalau aku selalu punya cara untuk membalasmu!"

Rian merengkuh kedua pergelangan tangan Sisca, lalu menggenggam jemari mungil itu dalam kehangatan telapak tangannya. "Janji. Jam sebelas aku sudah di kosan, tanpa setetes alkohol, dan tanpa ada wanita lain," bisik Rian mantap.

Sisca memalingkan wajahnya cepat-cepat. "Awas ya kalau ingkar janji!"

Pukul sembilan malam. Velvet Club & Lounge dipenuhi pendar lampu neon berwarna ungu dan keemasan. Suara dentuman musik EDM menggetarkan ruangan, diiringi aroma campuran alkohol, vape, dan parfum mewah.

Rian duduk di area VIP lounge yang agak ditinggikan. Ketua BEM itu memilih duduk di sudut sofa kulit hitam, berniat menyendiri sambil menyesap segelas jus jeruk dingin.

Namun, keberadaan Rian terendus oleh sekelompok maba yang sejak awal mengincarnya. Dipimpin oleh Mutiara—mahasiswi berambut keriting gantung berpakaian gaun mini cukup berani—dan temannya, Sherly, mereka menghampiri sofa Rian.

"Halo Kak Rian! Kok duduk sendirian sih?" sapa Mutiara menembus dentuman musik.

Tanpa menunggu balasan, Mutiara langsung mendudukkan dirinya tepat di sisi kanan Rian. Gaun mininya menggesek langsung celana Rian. Sementara Sherly tanpa ragu mendudukkan diri di sisi kiri Rian.

"Maaf, tapi saya lebih nyaman duduk santai begini," ujar Rian datar, berusaha menggeser posisi.

Mutiara menyandarkan tubuhnya lebih rapat hingga bahu mulusnya menempel erat di lengan tegap Rian. "Jangan dingin-dingin begitu dong, Kak... Minum dulu nih..." bisik Mutiara seraya menyodorkan segelas cocktail beraroma alkohol tajam.

"Tidak, terima kasih. Saya tidak minum alkohol," tolak Rian tegas.

Sherly di sisi kiri ikut melancarkan aksinya. Ia menyandarkan seluruh bobot tubuh bagian atasnya ke bahu kiri Rian, melingkarkan tangannya di lengan tegap pemuda itu secara amat manja. "Duh, Kak Rian... kepalaku pusing nih... Boleh pinjam bahumu buat bersandar sebentar kan?"

Sherly memejamkan mata, membiarkan tangannya perlahan merayap mengelus lengan kemeja hitam Rian. Dari sisi kanan, Mutiara makin memajukan dadanya menempel pada sisi tubuh Rian.

Rian menegang kaku. Usapan jemari Sherly di lengannya dan kehangatan Mutiara yang menempel rapat memberikan rangsangan sensorik yang amat intens. Bisingnya musik dan remangnya lampu membuat atmosfer di sofa itu terasa kian memanas.

Rian mengencangkan rahang, berusaha mengabaikan godaan fisik yang mengepungnya. Bayangan pesan galak Sisca dan janji jam sebelas malam seketika berkelebat kuat di pikirannya, menjadi satu-satunya benteng pertahanan agar ia tidak larut dalam jebakan kehangatan malam itu.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Menahan Hasrat Demi Sang Sahabat Masa Kecil   BAB 20: TANDA BAHAYA DI MALAM MINGGU

    Sinar jingga kemerahan perlahan surut di ufuk barat, digantikan oleh langit malam akhir pekan yang bertabur bintang tipis di atas kawasan kampus Universitas Nusa Bangsa. Suasana akhir pekan selalu membawa ritme hidup yang lebih santai bagi sebagian besar mahasiswa. Namun, bagi Rian dan Sisca, malam minggu memiliki arti yang jauh lebih sakral—sebuah waktu rutin yang biasanya mereka habiskan berdua untuk menikmati udara malam kota sambil mencari jajanan favorit.Rian berdiri di depan pintu kamar kos Sisca, mengetuk permukaan kayu dengan ketukan teratur. Pemuda berusia 21 tahun yang menjabat sebagai Ketua BEM itu mengenakan kemeja katun lengan panjang berwarna hitam legam yang digulung rapi hingga siku, dipadukan dengan celana jins gelap. Penampilannya tampak begitu memukau; garis wajahnya yang tegas, postur tubuhnya yang tinggi tegap, serta aura karismatiknya berpadu sempurna, menciptakan pesona luar biasa seorang pemuda jenius yang selalu berhasil memikat perhatian siapapun.Klek.Pint

  • Menahan Hasrat Demi Sang Sahabat Masa Kecil   BAB 19: BEKAL CINTA BENTUK HATI

    Pagi berganti dengan pendar sinar matahari yang hangat, menyapu sudut-sudut pelataran dan gazebo utama Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Nusa Bangsa. Kantin kampus yang berkonsep outdoor itu sudah dipenuhi hiruk-pikuk mahasiswa yang menikmati sarapan atau sekadar mengobrol sebelum jam kuliah pertama dimulai.Rian duduk di salah satu meja kayu panjang di bawah naungan pohon rindang. Pemuda berusia 21 tahun yang menjabat sebagai Ketua BEM itu mengenakan kemeja putih kasual berkerah rapi dengan lengan tergulung sebatas siku. Garis rahangnya yang tegas, sorot mata elangnya yang tenang, serta ketampanannya yang luar biasa tak pelak kembali menjadi pusat perhatian. Beberapa mahasiswi dari meja seberang tampak berbisik-bisik sembari mencuri pandang ke arahnya, mengagumi pembawaannya yang cerdas dan karismatik.Rian yang sedang membaca draf dokumen laporan BEM di ponselnya hanya menghembuskan napas halus. Ia sudah terbiasa menjadi pusat perhatian, namun kesendirian di meja itu tak berta

  • Menahan Hasrat Demi Sang Sahabat Masa Kecil   BAB 18: TERJEBAK DI RUANG PENYIMPANAN TEATER

    Lorong gedung kesenian Universitas Nusa Bangsa tampak lengang pada sore menjelang senja itu. Sebagai Ketua BEM yang selalu bertanggung jawab penuh terhadap koordinasi acara antar-UKM, Rian terpaksa menyetujui permintaan pengurus Klub Teater untuk membantu memindahkan beberapa kotak besar berisi kostum pementasan lama ke ruang penyimpanan bagian belakang.Rian berjalan mantap dengan langkah tegap, membawa kardus besar di tangan kanannya. Di depannya, Mila—senior Klub Teater yang tadi sempat bersitegang dengan Sisca—berjalan memimpin jalan sambil membawa kunci akses ruangan tersebut. Penampilan Mila tampak semakin mencolok dengan balutan busana ketat berpotongan asimetris yang membalut lekuk tubuhnya dengan sempurna."Taruh saja kotaknya di dekat rak besi sudut itu, Rian," ujar Mila dengan suara lembut yang mendayu-dayu, menunjuk area paling dalam dari ruang penyimpanan yang temaram. Ruangan berukuran tiga kali empat meter itu dipenuhi aroma kain beludru tua, debu halus, dan deretan kos

  • Menahan Hasrat Demi Sang Sahabat Masa Kecil   BAB 17: BEBAN PENDAFTARAN KLUB KAMPUS

    Suasana pelataran utama Universitas Nusa Bangsa mendadak berubah riuh dan berwarna. Memasuki minggu pendaftaran Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), deretan stan dari berbagai klub—mulai dari seni, olahraga, sastra, hingga sains—berjejer rapi di sepanjang jalan setapak kampus. Spanduk warna-warni berkibar tertiup angin siang, disertai alunan musik dan suara pameran dari pengeras suara yang bersahutan.Di tengah lautan mahasiswa baru yang sibuk memperebutkan brosur pendaftaran, sebuah titik keramaian tampak mencolok di dekat area stan pusat. Titik pusat perhatian itu tidak lain adalah Rian.Sebagai Ketua BEM sekaligus mahasiswa berprestasi yang namanya tengah naik daun, kehadiran Rian di area pendaftaran langsung menarik magnet dari berbagai penjuru klub. Rian berdiri tenang dengan mengenakan kemeja putih kasual yang digulung rapi hingga siku dan celana jins gelap. Garis rahangnya yang tegas, postur tubuhnya yang tinggi tegap, serta sorot mata elang yang teduh membuatnya tampak begitu menonj

  • Menahan Hasrat Demi Sang Sahabat Masa Kecil   BAB 16: INTAIAN SANG SAHABAT

    Sinar matahari pagi di lantai tiga gedung Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Nusa Bangsa terasa begitu menyengat, namun sama sekali tidak menyurutkan langkah gelisah yang sedari tadi mondar-mandir di depan jendela kaca buram ruang dosen. Sisca. Gadis berusia 21 tahun yang menjabat sebagai Sekretaris BEM itu berdiri resah di balik dinding luar kaca jendela ruangan Bu Dian. Rambut panjangnya yang terikat setengah berayun setiap kali ia menghentakkan kaki kecilnya dengan perasaan tak keruan. Kedua tangannya terlipat erat di depan dada, sementara matanya yang bulat jengkel taksi menyipit tajam menembus kaca, berusaha mengawasi setiap gerak-gerik di dalam ruangan tersebut. Bagaimana Sisca tidak cemas? Sejak sepuluh menit lalu, Rian—sahabat masa kecil sekaligus pria yang sudah mengunci hatinya—dipanggil sendirian ke ruangan dosen muda berparas jelita yang terkenal paling sensual seantero kampus. Dan sialnya lagi, posisi meja kerja Bu Dian berada persis di sudut yang membuat bay

  • Menahan Hasrat Demi Sang Sahabat Masa Kecil   BAB 15: PENOLAKAN ELEGAN SANG GENIUS

    Suasana di dalam ruangan dosen berpendingin udara itu terasa mendadak sunyi, hanya menyisakan desing halus dari pendingin ruangan dan debar napas yang tertahan. Aroma parfum beraroma vanilla musk dan bunga anggrek yang pekat masih mengepung udara di sekeliling meja kerja. Jemari lentik Bu Dian—dengan cat kuku senada—masih menggenggam erat dan mengelus perlahan punggung tangan Rian, menawarkan sebuah jalan pintas akademis yang diidam-idamkan oleh banyak mahasiswa.Rian menatap tangan mereka yang bersentuhan sejenak. Pemuda berusia 21 tahun itu sama sekali tidak menunjukkan kepanikan, keterkejutan, ataupun kegugupan yang biasanya dialami mahasiswa lain saat menghadapi dosen idola berpenampilan sensual. Garis wajahnya tetap tenang, tegas, dan memancarkan wibawa alami yang luar biasa.Dengan gerakan yang sangat halus, terukur, dan penuh kesopanan, Rian perlahan menarik punggung tangannya dari genggaman Bu Dian. Ia merenggangkan jarak duduknya sedikit, lalu meletakkan kedua tangannya di at

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status