LOGIN
Memilih menghilang bak ditelan bumi demi tetap bisa hidup dibawah lindungan ibunya yang hatinya benar-benar sekuat baja, Arzeta benar-benar bergantung pada ibunya tidak ada tempat ia bersanding seiiring perutnya yang semakin bucit.
Bak sebuah kertas yang menutupi lubang, satu lubang ditutup tumbuhlah lubang yang lain. Mila memutuskan menutup kedua telinganya dari berita tentangnya yang simpang siur, kedua tangannya tidak cukup untuk menutup semua mulut yang membicarakannya bukan masalah untuk dirinya, ia hanya tidak mau Arzeta mendengar dan tidak menghadapinya.
hidup yang hancur itu seperti apa, layaknya sesuatu yang diambil paksa atau harus tetap berjalan dengan kaki diatas serpihan kaca. hidup yang terombang ambing demi menghindari beberapa ucapan yang membuat naluri benar-benar terputus. dikelilingi aib dimana-mana tetapi tetap harus bertahan hidup!
Lelaki itu menunggu seseorang di dalam toilet perempuan, berkali-kali ia mengigit kukunya matanya menatap cemas sekitar. Seperti seseorang yang mengalami depresi ia mondar-mandir dengan setia menunggu seseorang di dalam untuk keluar.
“Kamu nggak minum obat itu kan?” Bentak Genta dengan mata yang memerah dan nafasnya memburu.
“Kamu pikir hidup dan karirku tidak hancur? Aku yang lebih dirugikan disini!” Tandas Zeta kemudian menekan tombol lift membuat Genta terdiam mendengar suara Zeta yang tak lagi bergetar namun justru terdengar sedang menggertaknya.
“Kalau lelaki bajingan itu tidak mau bertanggung jawab, ataupun kamu takut mencoreng nama baik keluarga. Mamah tegaskan apapun yang terjadi jangan aborsi bayi yang tidak berdosa di dalam rahimmu!!!” Ucap Mila penuh penekanan, berapi-api dalam kata demi kata.
Story Beginning.....
Arzeta memandang keluar dari teduahn parkiran, ia memeluk helmnya di kedua tangannya. Melihat jalanan yang masih belum kering dan juga dimana-mana ada genangan. Beberapa karyawan berlalu untuk segera pulang takut jika langit belum selesai mengguyur kota. Hujan susulan bukankah sering terjadi di cuaca dan iklim yang tidak menentu.
Ira : Ta, sorry gue ada lembur!
Arzeta menghela nafas membaca pesan dari sahabat karibnya. Entah harus bahagia atau justru benar-benar sedih. Arzeta menengok ke belakang melihat motor Genta masih terparkir di tempat yang semula menandakan laki-laki itu belum pulang.
Ibu : Pulang sama siapa Ta?
Ponselnya bergetar kembali, hanya ia baca sekilas tanpa berniat membalasnya. Ia lebih memperhatikan lorong yang bisa saja tiba-tiba Genta muncul, sedetik lambat saja pasti laki-laki itu mengabaikan Arzeta. Sesuai dengan pengamatan Arzeta laki-laki itu muncul dari lorong, Zeta bergegas menghampiri Genta.
Genta hanya melirik sinis, memakai jaket kulitnya. Zeta sudah menyiapkan ekspresi yang akan ia perlihatkan pada Genta saat ini.
“Bang, Zeta bareng ya! Temen dan…”
“Ibu lo sibuk iya?” Potong Genta menirukan ucapan Zeta yang selalu sama setiap ia ingin pulang bersama dengannya.
“Iya!” Jawab Zeta dengan wajah cengengesan padahal astmosfer di sekitarnya tampak jelas jika laki-laki itu tidak menyukai keberadaannya.
“Ya udah buruan!” Tukas Genta dengan wajah dan suara sangat sinkron menyiratkan ketidaknyamanannya pada Zeta.
Zeta dengan senyum lebarnya segera naik ke atas jok belakang Genta, ia hanya memegang erat tas ransel milik Genta sebagai pembatas antara dirinya dengan Genta. Motor melaju dengan kecepatan sedang, dengan lihai Genta menghindari genangan ditambah kota sehabis hujan, jalanan tampak sepi. Genta menjadi lebih leluasa untuk beraksi di jalanan.
Zeta yang berada dibelakang hanya tersenyum malu, lagi-lagi ia berhasil memanfaatkan momen demi momen guna menambah daftar kenangan bersama laki-laki yang ia dambakan, Genta Nugroho. Genta sama sekali tidak mau melihat spion yang memantulkan wajah Zeta yang sejak tadi menyembunyikan senyumannya.
Begitu sampai di depan rumah Zeta, Zeta segera turun dan tersenyum kemudian melangkah pergi. Ia pernah basa-basi dengan Genta untuk bersinggah sebentar di rumahnya namun laki-laki itu mengacuhkan itu tidak terjadi sekali dua kali tapi berkali-kali, membuat Zeta memilih hanya mengucapkan terimakasih atas tumpangannya. Perasaan yang ia simpan rapat-rapat membuat Zeta mengetahui Genta merupakan sosok laki-laki yang tidak suka dengan hal yang basa-basi.
“Heh!” Panggil Genta membuat Zeta langsung menoleh dengan senang hati. Langsung mendekat pada Genta yang menatapnya dingin, sorot matanya begitu tajam benar-benar membunuh bak seekor elang menemukan mangsa.
“Gue tegasin ya Ta sama elo! Gue nolong elo bukan karena gue punya rasa yang sama kayak elo!” Ucap Genta dengan menggebu-gebu namun wajah Zeta tampak tenang mendengarnya, membuat Genta semakin terpancing emosi.
“Tapi karena sesame rekan kerja aja! Jadi gue harap elo nggak meminta lebih!” Ucap Genta begitu taja, dan menusuk namun wajah Zeta tampak tenang, membuat Genta berfikir bahwa Zeta tidak mengerti maksud ucapannya.
“Percuma gue ngomong sama cewek setengah kayak elo!” Ucap Genta pedas kemudian menancap gasnya kencang meninggalkan Zeta yang mematung kemudian tertawa ketir menertawakan dirinya sendiri.
TO BE CONTINUE --->
Seorang wanita yang beberapa hari kini telah menjadi seorang ibu tengah menggendong putrinya untuk duduk di ruang tengah bersama para sahabatnya yang menginap di rumahnya semenjak Zeta melahirkan. Zeta mengusap pelan wajah putrinya yang sedang terlelap, karena semalaman bayi mungil itu mengajak ibunya untuk bergadang terus menerus. “Ta! Mau gue bikinin susu atau teh?” Tawar Ira yang baru saja bergabung dengan membawa beberapa minuman hangat milik para sahabatnya. “Nggak kopi Ta?” Ledek Dicky yang langsung dibalas sebuah tatapan tajam dari Zeta. “Maaf Ta, emang sahabat gue yang satu ini agak ruwet otaknya.” Ucap Sam membuat tawa menggelegar, namun tak sampai puas mereka segera menutup mulutnya masing-masing begitu menyadari ada bayi yang terlelap ditengah-tengah mereka. “Kalian libur lama emang nggak masalah?” Tanya Zeta pada Salsa, Dicky dan Sam yang notabene mereka satu kantor. “Nggak, project kita mah udah dikelarin. Biar bisa ambi
Ta, Zeta sudah melahirkan seorang bayi perempuan. “Benarkah syukurlah, Genta belum bisa kesana ya Bu!” Ucap Genta kepada seorang wanita di seberang melalui sambungan telepon. Kemudian ia meletakkan benda pipih itu, di atas meja setelah sambungan telepon mereka berakhir. Senyum yang Genta pasang sekarang adalah senyum penuh kepalsuan, ia dirundung kebingungan mendalam sebab obrolan papah dan mamahnya semalam membuat terfikir akan bagaimana nantinya dirinya. “Apa aku harus mencoba terlebih dahulu saja?” Gumam Genta entah pada siapa, semua karyawan telah pulang karena jam memang sudah menunjukkan pukul delapan malam hanya tinggal dirinya di dalam ruangan sedang memikirkan bagaimana dan apakah semua pertanyaan muncul setelah ia berniat untuk memberitahu keluarganya tentang sosok Zeta. Mengingat papah dan mamahnya yang bersikap selalu apa-apa serba perfeksionis, Genta menatap sebentar meja kerja sahabat karibnya yang mendadak izin untuk hari
Seorang wanita tengah menunggu anaknya yang melahirkan, dini hari Mila meminta bantuan orang sekitar untuk membawa Zeta ke tempat bidan terdekat. Hari yang diperkirakan dia akan melahirkan rupanya maju seminggu lebih cepat, kini Mila sedang menunggu anaknya di dalam yang sedang berjuang mempertaruhkan nyawanya demi lahirnya putri semata wayangnya. Sedangkan di dalam, Zeta sudah merasakan kesakitan, namun belum pembukaan. Membuatnya harus bersabar sampai pembukaan agar persalinannya bisa dilaksanakan. Ia sebisa mungkin menahan tangisnya akan kesakitan di perutnya yang benar-benar tidak didefinisikan, keringat dinginnya bercucuran di pelipisnya. Ia menyakinkan dirinya bahwa ia bisa melaluinya, ia sudah menunggu hari ini tiba. Ia siap berjumpa dengan anaknya yang sebentar lagi lahir ke dunia. Tak hanya fikirannya terpacu pada Zeta yang berada di dalam, Mila sejak tadi menoleh ke pintu keluar berharap orang yang tadi ia hubungi akan segera datang. Namun harusnya ia t
Genta baru saja pulang kerja, sejak tadi ia hanya membaringkan tubuhnya di atas tempat tidurnya, menunggu seseorang di seberang sana membaca pesan yang ia kirimkan. Siapa lagi jika bukan Zeta, kekasihnya. Ah bolehkah menyebutnya sebagai kekasih mulai sekarang? Karena mereka sedang menjalin hubungan? Lebih tepatnya kapan itu dimulai? Genta menghela nafas kala dibawah nama kontak gadis itu tidak tertuliskan sebuah kata yang menandakan bahwa gadis itu sedang online, membaca kemudian segera membalas pesan dari Genta. Begitu tidak sabarnya lelaki yang sedang merasakan asmara layaknya remaja bangku SMA yang baru resmi menentukan hari jadi mereka. Genta memilih bangkit dari acara melepas penatnya setelah seharian sibuk bekerja, laki-laki itu berniat mandi untuk mempercepat waktu menunggu Zeta mengirim pesan untuknya. Baru saja mereka menjalin hubungan yang belum sepenuhnya resmi namun mereka harus sudah merasakan bagaimana hubungan terbentang jarak yang memisahkan mereka. Ting… Zeta : Ba
Beberapa orang mengeluhkan kepada semesta, ketika hujan terus menerus mengguyur kota tanpa ampun tapi tidak untuk para mereka yang membutuhkan adanya hujan untuk pekerjaan mereka. Beberapa orang juga mengeluhkan kepada semesta, mengapa hari itu matahari itu begitu terik hingga terasa membakar setiap kulit yang terpapar sinarnya. Tapi tidak dengan mereka yang menganggap sang surya adalah sumber pokok kehidupan mereka. Semua itu, tidak berlaku untuk orang yang sedang jatuh cinta. Percaya tidak percaya. Hati mereka yang berbunga-bunga terus dipenuhi dengan hal-hal yang manis dan pikiran yang positif membuat senyuman terus terukir di wajah mereka, tanpa sebab yang masuk akal. Maka, inilah alasan mengapa cinta itu gila?Sama seperti yang dialami gadis yang sejak tadi tengah mengotak-ngatik ponselnya, mengusap foto dirinya dan seorang lelaki yang mereka ambil kemarin jauh. Lelaki yang kini menjadi dambaan hatinya, anehnya ketika sang lelaki memintanya untuk menjadi separuh bagian hidupnya,
Sang Mentari seperti tidak memberikan kesempatan untuk bernafas dengan begitu gampang, pada sosok laki-laki yang tengah tertidur kini mulai terjaga, terganggu dengan hiruk pikuk kota yang mulai ramai dengan aktivitas masing-masing. Genta yang masih merasa begitu Lelah memaksakan dirinya untuk segera bangun. Kembali bekerja perbedaannya kini, mimpi buruk tak berani lagi bersinggah dalam tidurnya. Sebab separuh raga yang dulunya benar-benar menyiksa dirinya telah ia temukan di Kota tempat ia menjalankan suatu project, Kota Mataram. Genta meraba permukaan tempat tidurnya, mencari benda pipih yang ia geletakan asal di samping bantalnya semalam. Begitu ketemu, tangannya dengan lincah menari di permukaan layer sentuh miliknya. Mencari nama seorang gadis yang mengobati luka hatinya dulu! Zeta, sejak bertemu gadis itu Genta tidak menepis jika mentalnya perlahan membaik. Bisa berbicara dan melihat senyuman tulus gadis itu begitu menenangkan dan melenyapkan keresahan hatin
Genta sedang menatap pemandangan yang disuguhkan, hal yang membuatnya bersemangat untuk melakukan perjalanan bisnis adalah pemandangan yang disuguhkan tidak mungkin ia temuka di daerah asalnya. Pantai yang mengelilingi dataran rendah dengan pasir putih semakin menjadi panorama indah. Proyek merek
Lelaki itu menunggu seseorang di dalam toilet perempuan, berkali-kali ia mengigit kukunya matanya menatap cemas sekitar. Seperti seseorang yang mengalami depresi ia mondar-mandir dengan setia menunggu seseorang di dalam untuk keluar. Mata Genta merah, ia tidak kuasa menahan emosinya yang meledak-le
Langit mendung, semakin membuat malas-malasan untuk beraktivitas. Sayangnya masih terlalu pagi untuk perempuan itu melamun di pagi hari. Zeta yang lebih awal di kantor, menjalankan aktivitasnya seperti dulu sekembalinya dari Batam. Sampai sekarang Mamahnya belum mengetahui insiden yang menimpa anak
Arzeta masuk ke dalam ruangan secara pelan-pelan karena kedua tangannya sedang membawa dua cup berukuran sedang berisikan kopi Mocca milik Salsa dan juga dirinya, entah mengapa semenjak Salsa memperingatinya untuk tidak membelikan apapun kepada rekan-rekannya Zeta menurutinya. Seperti hilang beba







