首頁 / Romansa / Menantang Kasta / Telah Mengerti

分享

Telah Mengerti

作者: Erna Azura
last update publish date: 2026-06-14 12:58:59

Mobil yang mereka tumpangi akhirnya memasuki area gudang.

Begitu gerbang terbuka—bukan suasana gudang kecil yang menyambut.

Bunda memperhatikan dari balik kaca mobil.

Area parkir cukup luas.

Beberapa mobil bak terbuka sedang bongkar muat.

Truk pendingin terparkir berjajar.

Ada area sortir.

Area packing.

Cold storage.

Dan orang-orang yang bergerak cepat dengan ritme kerja yang teratur.

Tidak semrawut.

Tidak berisik tanpa arah.

Semuanya terlihat sibuk tapi tertata.

Satria menghentika
在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP
已鎖定章節
評論 (5)
goodnovel comment avatar
Nina Tantina
Omongan adalah doa ya Bun , sy jg terharu Bunda bilang begitu , semoga ya amiin
goodnovel comment avatar
Ami tsamarat
aaamiiinnnnn semoga apa yg bunda prediksi bakalan terwujud ya
goodnovel comment avatar
Ria Nur
bercanda atau pun sungguhan jika itu mengandung harapan biasanya ucapan itu menjadi do'a,,, jadi kan Wirakusuma sejajar dengan Gunadya,,,
查看全部評論

最新章節

  • Menantang Kasta   Ayah

    Pagi datang lebih cerah dari biasanya.Sinar matahari masuk melalui jendela besar ruang rawat dan jatuh lembut di lantai mengkilap.Kaluna sudah jauh lebih segar dibanding semalam meski wajahnya masih pucat dan gerakannya masih sangat hati-hati.Hari ini dia memakai piyama khusus menyusui warna krem yang dibawakan ibu.Rambutnya dikepang longgar.Dan sekarang—di pelukannya ada bayi perempuan kecil yang sedang menyusu dengan tenang.Sementara bayi laki-laki ada di gendongan Satria.Pria itu duduk kaku. Benar-benar kaku. Takut salah posisi. Takut bayinya jatuh.NTakut bernapas terlalu kencang. Tapi ingin menggendongnya.Setiap tiga detik sekali dia melihat ke Kaluna.“Sayang, ini cara aku gendongnya udah bener belum?”Kaluna melirik. “Kalau enggak bener, dia udah protes dari tadi.”Satria menundukan melihat bayinya. Bayi itu tidur pulas. “…oh.”Kaluna menahan senyum.Sejak perawat membawa si kembar ke ruangan itu, Satria sudah berubah jadi ayah paranoid.Bayi bersin—panik.

  • Menantang Kasta   Cucu Pertama Bapak Dan Ibu

    Pelukan mereka terurai pelan.Satria masih duduk di samping Kaluna dengan satu tangan memeluk bahunya.Kaluna menyandarkan kepala sebentar di pundak Satria.Tubuhnya masih lemah. Masih terasa pegal.Tapi entah kenapa—dadanya terasa penuh.Penuh syukur.Penuh bahagia.Dan sangat ingin melihat dua manusia kecil yang baru beberapa jam lalu keluar dari tubuhnya.Belum sempat mereka bicara lagi—terdengar ketukan di pintu.Tok.Tok.Tok.Satria turun dari atas ranjang untuk membuka pintu.Dan detik berikutnya—suasana tenang ruang VIP itu langsung berubah.Ibu masuk paling depan sambil membawa tiga tas besar.Di belakangnya bapak membawa kantong kain dan satu termos besar.Kaluna yang tadi setengah rebahan seketika senyumnya melebar.“Ibuuuu….”Ibu mendekat cepat.“Ya Ampun Neng…” Beliau langsung mengusap kepala Kaluna. “Gimana sekarang?”Kaluna mengangguk kecil. “Masih sakit dikit.”Ibu langsung melotot ke Satria. “Loh kok cuma dikit? Operasi itu sakit.”Satria melongo

  • Menantang Kasta   Arutala Dan Arunika

    Setelah dokter memastikan kondisi Kaluna aman dan stabil, perawat membawa Kaluna ke ruang rawat inap.Satria menunggu Kaluna di luar ruang operasi, begitu mendapati sosok Satria—bibir Kaluna tersenyum.“Aku berhasil,” katanya serak.“Iya sayang … Kamu berhasil, kamu hebat.” Satria mengecup tangan Kaluna yang dia genggam sambil berjalan di samping ranjang di dorong perawat.Dua perawat pria yang mendorong ranjang itupun ikut tersenyum merasakan kebahagiaan pasangan muda yang baru saja menjadi orang tua dari bayi kembar yang sehat.Satria memilih ruangan VIP agar Kaluna nyaman, sekarang saldo di rekeningnya lebih dari cukup untuk memberikan fasilitas terbaik bagi istrinya.Ruang rawat VIP itu cukup tenang.Tidak benar-benar sunyi karena masih ada suara langkah perawat sesekali di koridor dan bunyi mesin monitor yang ritmenya pelan.Kaluna dipindahkan ke ranjang pasien, wajahnya masih pucat dan lemas.Kelopak matanya tampak berat dan bibirnya sedikit kering.Efek obat membuat t

  • Menantang Kasta   Bayi Kembar

    Tujuh menit kemudian, mobil Satria masuk halaman rumah seperti habis memenangkan balapan.“LUNA!” Dia berteriak dari luar sambil berlari masuk ke dalam rumah.Kaluna sedang rebahan di sofa menahan mulas dengan wajah sekusut rambutnya.“KENAPA LAMA?!”Dia tiba-tiba marah.Satria melongo. “Ini aku sampai sini cuma tujuh menit loh, harusnya sep—” Kalimatnya terpotong.“AKU MAU MELAHIRKAN!”Satria terperanjat, dia bergegas pergi ke kamar.Menyambar tas dari atas lemari kemudian memasukan bantal, lalu charger, dan dompet.Pria itu panik jadi benaknya tidak bisa berpikir jernih.“Satriaaaaaa, kamu apa bawa bantal? Di rumah sakit banyak bantal!”Satria seketika tersadar. “… oh iya sayang.” Mengeluarkan bantal dan memasukan keperluan Kaluna.“Bu, kami pergi ya.” Satria pamit sambil menggendong Kaluna.“Iya … iya, nanti Ibu dan bapak menyusul.” Ibu membantu membawakan tas ke dalam mobil.Lima menit kemudian mereka berangka

  • Menantang Kasta   Belum Mau Keluar

    Pagi datang dengan tenang.Sinar matahari masuk dari sela tirai ruang rawat.Kaluna masih berbaring dengan rambut sedikit berantakan sementara Satria duduk di sofa kecil sambil memangku laptop tapi sejak lima belas menit lalu tidak ada satu pekerjaan pun yang benar-benar masuk ke kepalanya.Tatapannya lebih sering pindah ke Kaluna.Ke perut Kaluna.Ke monitor.Lalu kembali lagi ke Kaluna.Dokter masuk ketika visite pagi.Mengecek tekanan darah.Mengecek kondisi janin.Memeriksa beberapa hal.Lalu mengangguk puas. “Bagus.”Satria yang berdiri di samping ranjang seketika menegakan punggung. Dokter tersenyum. “Boleh pulang ya Bu.”Kaluna tampak lega sementara Satria membeku. “…pulang?”Dokter mengangguk. “Masih belum ada pembukaan.”Satria tampak berpikir keras. “…tapi semalam kontraksi.”Dokter tersenyum sabar. “Kontraksi palsu.”Satria masih mencoba bertahan. “Kalau nanti malam lahiran bagaimana?”Dokter tertawa kecil. “Kalau nanti malam lahiran ya balik lagi.”Sat

  • Menantang Kasta   Kontraksi Palsu

    Meski bukan pagi lagi dan Satria juga bapak sudah berangkat ke tempat mereka mencari nafkah, tapi dari dapur rumah—masih tercium aroma bawang putih yang ditumis.Kaluna sedang memasak makan siang untuk suami tercinta. Dia berdiri atau lebih tepatnya setengah berdiri setengah bersandar.Perut delapan bulan lebih itu sekarang benar-benar sudah menguasai hidupnya.Untuk mengambil mangkuk yang jatuh saja dia perlu strategi.Untuk memakai sandal perlu negosiasi dengan gravitasi.Dan hari ini—dia sedang semangat untuk menyenangkan suaminya.Suaminya yang beberapa minggu lalu harus berjuang meluluhkan hatinya yang sedang diliputi cemburu.Ibu sebenarnya sudah melarang Kaluna memasak.“Udah, Neng… Ibu aja yang masak.”Tapi Kaluna tetap ngotot.“Enggak Bu… aku mau masak untuk Satria.”Ibu menghela napas.“Kenapa sih maksain banget? Perut kamu sudah besar.Kaluna menjawab santai sambil mengaduk.“Enggak maksain kok, Luna seneng masak buat Satria. Biar kaya istri-istri Solehah be

  • Menantang Kasta   Pelukan Hangat

    Langkah mereka pelan ketika kembali dari restoran dekat pantai menuju bangunan utama resort.Malam Bali terasa hangat saat itu. Angin laut masih berembus lembut membawa aroma asin yang samar.Satria berjalan di samping Kaluna, kedua tangan mereka saling bergandengan.Sesekali Satria menoleh ke s

  • Menantang Kasta   Akan Selalu Dekat

    Mobil berhenti di depan lobi gedung utama AG Group.Satria turun lebih dulu seperti biasa. Ia memutari mobil dan membuka pintu untuk Kaluna.“Nona.”Kaluna turun dengan gerakan anggun, seolah hari itu hanyalah hari kerja biasa.Tidak ada yang akan menyangka bahwa beberapa jam

  • Menantang Kasta   Tak Ingin Melepaskan

    “Nona, hari ini jadwal kita akan mengunjungi proyek—“ Brifing singkat Satria terjeda.“Sekarang aja, langsung … biar enggak bolak balik,” potong Kaluna.“Baik Nona.” Diam-diam Satria mengirim pesan kepada kepala proyek kalau jadwal kunjungan sang CEO dimajukan.Pagi itu udara di lokasi proyek

  • Menantang Kasta   Tidak Pernah Berubah

    Keesokan paginya gedung anak perusahaan AG Group yang dipimpin Kaluna terlihat jauh lebih hidup dari biasanya.Balon-balon perusahaan dengan warna emas dan biru tergantung di beberapa sudut lobi. Booth bazar berdiri berjajar di area taman belakang gedung. Musik ringan mengalun dari panggung

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status