ホーム / Romansa / Menantang Kasta / Tidak Ada Janji

共有

Tidak Ada Janji

作者: Erna Azura
last update 公開日: 2026-04-20 19:54:08

Pelukan itu perlahan terurai.

Tidak ada yang langsung menjauh dengan tergesa. Tidak juga ada kata-kata yang dipaksakan untuk mengisi jeda.

Hanya dua orang yang sama-sama diam, mencoba mengembalikan diri ke posisi masing-masing.

Ratu menarik napas pelan, lalu mengusap sisa air mata di pipinya. Ia berdehem kecil, berusaha menormalkan suasana.

“Aku… lanjut belajar ya,” gumamnya pelan.

Zyandru mengangguk. “Iya.”

Ratu kembali ke meja, membuka laptopnya lagi. Layarnya menyala, menampilkan mater
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター
コメント (5)
goodnovel comment avatar
virna putri
Benteng kalian hrs kokoh.. rem kalian hrs pakem.. jgn diulang lg berdua2n nginep bareng kayak gini yaaa.. khtwr setan nya mulai ngerecokin kalian.. kalian msh mudaaaa
goodnovel comment avatar
Nina Tantina
Thor mereka msh muda msh panjang masa depannya , jgn yg aneh2 ya Thor , kasihan jg Satria & Kaluna , biarkan mereka berpacaran yg tulus & murni sesuai usia mereka.....
goodnovel comment avatar
kartiwie yanie
jangan sampai ada adegan² yg menegangkan yaa aruu ratuu kasian kakak² kaliann
すべてのコメントを表示

最新チャプター

  • Menantang Kasta   Membalas Sakit Hati Satria

    Kabut tipis mulai menyelimuti kebun teh, lampu-lampu kecil di sepanjang jalan menyala satu per satu, menciptakan suasana hangat di tengah udara dingin dan gelapnya malam.Di dalam kamar villa, Kaluna sedang duduk di depan cermin, merapikan rambutnya yang kini dibiarkan jatuh alami di bahu.Satria keluar dari kamar mandi, sudah rapi dengan kemeja kasual berwarna gelap.“Kita keluar sebentar ya,” katanya sambil mengambil kunci mobil.Kaluna menoleh. “Makan malam?”Satria mengangguk. “Ada Caffe yang lagi viral, enggak jauh dari sini. Tadi aku lihat di sosial media.”Kaluna tersenyum. “Yeaaaay.” Dia senang sekali.Tidak berapa lama kemudian, Satria sudah memarkirkan mobilnya di depan Caffe yang dimaksud.Caffe itu tidak terlalu besar.Bangunannya dominan kayu dengan lampu kuning temaram yang memberi kesan hangat dan intim.Dari luar sudah terlihat beberapa meja terisi, sebagian besar pasangan atau keluarga kecil.Begitu mereka masuk

  • Menantang Kasta   Bulan Madu Kedua

    Perjalanan menuju resort terasa lebih sunyi.Bukan karena tidak ada yang ingin dibicarakan melainkan karena keduanya sedang menikmati jeda.Jeda setelah hari kemarin yang penuh tawa dan kebahagiaan.Tiga puluh menit kemudian, mobil berhenti di sebuah gerbang kayu dengan ukiran sederhana.Tidak terlalu mencolok.Tidak terlalu mewah.Namun begitu mereka masuk—hamparan kebun teh langsung menyambut.Hijau.Luas.Seolah tidak berujung.Udara di sana lebih dingin.Lebih bersih.Lebih menenangkan.“Keren banget pemandangannya…,” gumam Kaluna pelan.Satria tersenyum tipis.“Lumayan lah buat second honeymoon,” katanya santai, padahal ia memilih tempat ini dengan sangat hati-hati dan menekan kebutuhan pribadinya mengingat saldo di rekening semakin menipis.Villa yang mereka tempati berdiri sedikit terpisah.Privat. Tenang. Menenangkan.Begitu pintu dibuka—aroma kayu dan udara hangat langsung menyambut.Interiornya sederhana. Elegan.Dengan jendela besar menghadap langsung ke

  • Menantang Kasta   Donatur

    Pagi ini, tidak ada lagi musik maupun suara tawa yang memecah halaman.Tenda masih berdiri, meski sebagian sudah setengah dibongkar.Beberapa kursi ditumpuk di sudut.Sisa-sisa pesta masih terasa tapi suasananya jauh lebih hening.Kaluna menghirup udara pagi yang dingin di teras rumah.Rambut sengaja digerai, wajahnya masih segar setelah mandi.Tidak lama kemudian Satria keluar sambil membawa koper kecil.“Sudah siap?” tanyanya.Kaluna menoleh, lalu mengangguk.“Iya .…”Hari ini mereka akan pergi.Bulan madu kedua—kata Satria.Di sebuah resort tidak jauh dari sini tepatnya di Lembang.Bukan milik Gunadhya.Bukan sesuatu yang mewah berlebihan.Tapi cukup untuk mereka berdua.“Kalian yakin enggak akan sarapan dulu?” kata ibu karena tadi Satria dan Kaluna melarangnya membuat sarapan pagi.“Enggak Bu, kita mau kuliner ….” Kaluna yang menjawab.“Jangan bawa Kaluna makan di pinggir jalan ya, Satria.” Bapak Sutisna berpesan.Satria dan Kaluna terkekeh.“Enggak lah, Pak.”

  • Menantang Kasta   Menutupi Kesalahan Ayah Kama

    Setelah mandi bersama dengan alasan mempersingkat waktu—Kaluna dan Satria kembali ke kamar.“Sini duduk sayang,” kata Satria menuntun Kaluna duduk di depan meja rias.Rambut Kaluna basah.Ujung-ujungnya menetes pelan ke bahu.Satria berdiri di belakangnya.Memegang hairdryer.Suara mesin kecil itu mulai terdengar.Hembusan hangat mengalir di antara helai rambut Kaluna.Gerakan Satria pelan.Hati-hati.Seolah rambut itu sesuatu yang rapuh.Kaluna menatap pantulan mereka di cermin.“Capek?” tanya Satria pelan.Kaluna menggeleng kecil.“Enggak… malah senang.”Satria tersenyum tipis.“Acaranya… di luar ekspektasi aku,” lanjut Kaluna.“Lebih ramai ya?” tanya Satria.“Lebih hangat,” jawab Kaluna pelan.Jeda.“Aku lihat sendiri … keluarga aku benar-benar menikmati.”Nada suaranya jujur.Masih menyimpan sisa haru.Satria terus mengeringkan rambut Kaluna.“Sepupu-sepupu kam

  • Menantang Kasta   Dunia Satria

    Sore mulai turun perlahan.Langit desa berubah jingga.Sinar matahari yang tadinya terang kini melembut, jatuh di antara tenda dan rangkaian bunga yang mulai sedikit layu setelah seharian dipenuhi manusia dan tawa.Suara musik tidak lagi sekeras tadi.Beberapa tamu mulai berpamitan.Piring-piring mulai dirapikan.Anak-anak sudah kelelahan dan digendong pulang.Dan di antara semua itu—keluarga Gunadhya mulai bersiap pulang.Mobil-mobil mewah kembali dipanaskan.Para sopir berdiri siaga.Namun suasana perpisahan tidak terasa dingin.Justru hangat. Sangat kekeluargaan.Di depan rumah, bapak Sutisna dan ibu Ratna berdiri berdampingan.Masih dengan pakaian yang dikenakan saat acara.Masih dengan wajah lelah … tapi bahagia.Om Kana yang paling dulu mendekat.Langsung menjabat tangan bapak dengan erat.“Pak… terima kasih banyak ya,” katanya tulus.“Ini… luar biasa sekali.”Bapak Sutisna tersenyum canggung.“Ah… biasa saja, Pak… seadanya.”“Seadanya?” Om Kana tertawa ke

  • Menantang Kasta   Kekecewaan Terdalam Kaluna

    Riuh pesta masih terasa di halaman rumah Bapak Sutisna.Musik dangdut bercampur tawa para Gunadhya yang tampak menikmati acara ini karena merupakan hal baru bagi mereka.Suara gelas beradu, denting sendok garpu terdengar dari para tamu undangan yang hadir siang itu.Anak-anak berlarian mengelilingi panggung.Tapi di sisi lain halaman rumah—sedikit menjauh dari keramaian itu—suasananya berbeda.Lebih tenang.Lebih sunyi.Dan lebih … jujur.Kaluna tengah berdiri di dekat pagar kayu, memandang ke arah jalan desa yang dipenuhi mobil-mobil mewah yang terparkir rapih beraturan.Tangannya terlipat di depan dada.Tatapannya kosong, tapi pikirannya jelas tidak.“Lun.” Suara itu membuatnya menoleh.Davanka berjalan mendekat.Masih rapi dengan kemeja mahalnya, tapi wajahnya tidak setenang biasanya.Ia sudah lama memperhatikan adiknya dari jauh sampai akhirnya mengambil inisiatif untuk mendatangi.“Lo kenapa?” tanyanya pelan.Kaluna tidak langsung menjawab.Ia hanya menatap kakak

  • Menantang Kasta   Merasa Hidup Lagi

    Ruang rapat lantai dua puluh satu terasa lebih dingin dari biasanya.Empat perwakilan perusahaan Jepang duduk dengan postur tegak, tablet dan dokumen terbuka rapi di depan mereka. Para direksi anak perusahaan AG Group yang Kaluna pimpin terlihat duduk di sisi lain meja panjang, tegang namun

  • Menantang Kasta   Akan Selalu Ada

    Ruang rawat VIP itu sunyi.Kaluna tertidur setelah infus bekerja.Satria duduk di sofa dekat jendela. Laptop terbuka. Slide presentasi terpampang.Ia memeriksa ulang angka.Mengoreksi tata bahasa.Menandai potensi pertanyaan yang mungkin muncul dari klien Jepang.Sesekali ia melirik ke arah r

  • Menantang Kasta   Bentakan Karena Cemas

    Presentasi dengan klien besar dari Jepang tinggal hitungan hari. Ruang CEO berubah seperti markas perang.Meja panjang penuh dengan berkas, grafik, catatan tangan, sticky notes warna-warni, dan iPad yang tidak pernah benar-benar mati.Kaluna sedang berdiri di depan layar proyektor, mengulang s

  • Menantang Kasta   Yang Harus Di Bayar Dari Sebuah Pengkhianatan

    Di sisi lain, Satria berjalan menyusuri koridor kantor dengan langkah tenang.Ia tidak merasa tersinggung apalagi merasa diusir, Satria mengerti.Kaluna sedang membangun tembok agar tidak goyah.Dan ia tidak akan menjadi orang yang meruntuhkannya.Jika jarak itu membuat Kaluna

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status