Se connecterPagi berikutnya, Kaluna bangun dengan mata sedikit sembab.
Meski semalam mereka sudah baikan, tubuhnya tetap terasa lelah.Bukan cuma fisik.Tapi pikiran.Beruntung si kembar tidak bangun.Ternyata membuat pesta untuk tiga kelompok tamu berbeda bukan perkara mudah.Dia membuka ponsel.Ada dua puluh tujuh chat dari EO.Kaluna menutupnya lagi.Tidak sanggup.Sementara di sampingnya, Satria sudah tidak ada.Kaluna turun dari atas ranjang kemPagi berikutnya, Kaluna bangun dengan mata sedikit sembab.Meski semalam mereka sudah baikan, tubuhnya tetap terasa lelah.Bukan cuma fisik.Tapi pikiran.Beruntung si kembar tidak bangun.Ternyata membuat pesta untuk tiga kelompok tamu berbeda bukan perkara mudah.Dia membuka ponsel.Ada dua puluh tujuh chat dari EO.Kaluna menutupnya lagi.Tidak sanggup.Sementara di sampingnya, Satria sudah tidak ada.Kaluna turun dari atas ranjang kemudian berjalan menuju pintu.Dari lorong sudah terdengar suara ramai dari kamar si kembar.Kaluna bergerak ke sana. Di dalam kamar si kembar, Satria sedang memangku Arutala sambil sesekali mengangkat badan kecil itu ke udara.Arunika ada di baby bouncer.Begitu menyadari sosok Kaluna—Satria mengangkat pandangannya.Senyum Satria terbit begitu cerah secerah mentari pagi. “Pagi.”Kaluna bersandar di bingkai pintu sebelum akhirnya menyahut, “Pagi.”Kaluna me
Sejak hari itu—rumah baru resmi menjadi milik mereka.Dan entah kenapa setelah rumah selesai, hidup tidak otomatis jadi lebih santai.Justru sebaliknya.Karena sekarang Kaluna punya proyek baru.Baby shower sekaligus selamatan rumah.Awalnya ide itu terdengar sederhana.Undang keluarga dan tetangga sekitar.Makan bersama.Doa.Selesai.Tapi yang memegang ide adalah Kaluna.Dan Kaluna tidak pernah tahu arti kata sederhana.***Tiga hari terakhir rumah itu berubah seperti kantor proyek.Di meja makan terbuka beberapa katalog dekorasi.Laptop menyala.Sampel kain.Moodboard.Daftar tamu.Layout meja.Pilihan bunga.Vendor dessert.Pilihan photobooth.Kaluna bahkan menyewa EO dari Jakarta.Karena menurutnya—kalau sudah sekali buat, sekalian buat pesta yang keren.Dia ingin pesta yang hangat.Modern.Elegan.Bukan pesta yang terasa seperti acara perusahaan.Tema yang dia pilih adalah HOME — Where Love Begins.Dominasi warna putih, cream, sage green dan sedikit
Tiga bulan kemudian, rumah impian Satria dan Kaluna akhirnya selesai dibangun.Bukan selesai sebagai bangunan yang baru berdiri lalu buru-buru ditempati.Tapi benar-benar selesai sempurna, meski finishingnya memakan banyak waktu karena om Kaivan harus menunggu hujan deras demi membuktikan tidak ada yang bocor, saluran air bekerja dengan baik, saluran pembuangan pun tidak ada yang tersumbat oleh material bangunan.Dan pagi itu ketika kabut masih menggantung tipis di antara sawah dan pegunungan, mobil Satria masuk ke halaman rumah baru mereka.Kaluna duduk di kursi penumpang depan.Di belakang—dua nanny duduk menemani si kembar yang sekarang lebih besar tubuhnya dibanding tiga bulan lalu.Arutala sudah mulai sering menatap orang.Arunika suka mengoceh sendiri.Dan yang paling berubah—mereka sudah tidak serapuh dulu.Sampai Kaluna kadang bingung bagaimana mungkin bayi bisa tumbuh secepat itu.Satria memarkirkan mobilnya di garasi.Dia turun duluan lantas membuka pintu untuk Ka
Menjelang magrib mereka sampai rumah.Ibu sedang menggendong Arunika.Begitu melihat kantong hijau—matanya berbinar. “DAPET?!”Bapak mengangkat tinggi. “DAPET!”Satria ikut senyum bangga.Ibu cepat mengambil kantong itu.“Ya ampun … kalian cari sampai mana?”Satria menjawab lelah. “Aa enggak tahu Bu … tadi sempat hampir nyasar.”“Ini Ibu masak besok ya, soalnya sayur katuk yang kamu beli siang masih ada.”Satria mengangguk. “Ibu enggak usah repot-repot cari di pasar lagi, besok.” *** Besok paginya—daun katuk benar-benar dimasak.Ibu membuat sayur bening daun katuk dengan jagung muda dan sedikit irisan bawang merah goreng di atasnya.Kaluna yang awalnya tidak terlalu tertarik karena eneg setelah seharian kemarin menghabiskan sayur daun katuk yang Satria beli di rumah makan Sunda pun akhirnya tetap makan dua mangkuk sebab semua orang di rumah menatapnya penuh harap.Bapak bahkan sampai duduk di depan Kaluna sambil
Jam sebelas siang, bapak menitipkan ladang ke orang kepercayaannya.Sengaja pergi secepat ini untuk mencari daun katuk. Beliau naik motor, mengendarainya keluar masuk gang, keluar masuk kampung.Tidak jarang bapak berhenti di depan kiai sayur.“Mang ada daun katuk?”Penjual berpikir. “Enggak jual daun katuk, Pak. Di pasar enggak ada.”Sejalan dengan keluhan Ibu tadi pagi. Bapak mengangguk lantas menyalakan mesin motornya.Dia pergi ke tempat lain namun hasilnya masih sama.Tempat selanjutnya yang beliau datangi pun kosong.Di tempat lainnya malah penjual bertanya random. “Bapak habis melahirkan?”Bapak melongo. “Buat anak saya!”Penjual langsung ketawa. Dia memang sedang bercanda.Di tempat lain. Satria selesai menghitung sayur dan buah yang masuk dari para petani.Dia membuka maps kemudian mengetik : DAUN KATUK TERDEKAT.Berharap mesin pencari itu tahu di mana dia bisa menemukan daun katuk.Muncul satu lokasi, jaraknya bisa ditempuh sekitar tiga puluh menit.“Jang, t
Kali ini di pagi hari, rumah orang tua Satria tidak dimulai dengan suara ayam atau alarm ponsel.Tapi suara bayi.Yang satu mulai duluan.Lalu yang satu lagi ikut-ikutan.Seperti punya grup yang terkoordinasi dengan baik.Ketika suara itu mulai melengking, Satria membuka mata dengan gerakan pelan.Matanya berat. Lehernya pegal. Dia benar-benar lelah kemarin.Dan begitu sadar dirinya tidur dalam posisi setengah duduk sambil bersandar pada headboard—dia langsung menoleh.Kaluna tertidur miring.Rambutnya berantakan.Baju menyusuinya kusut dengan tiga kancing terbuka.Sementara Arutala dan Arunika tengah bersahutan tangis dari box bayi.Satria menghela nafas panjang lalu bangkit dari tepi ranjang, alih-alih panik—sekarang dia membiasakan diri dengan suara-suara malaikat itu.Tok …Tok …Ketukan terdengar dari luar, Satria menggendong Arutala lalu bergerak ke pintu.“Pak … si kembar sudah bangun ya?” Salah satu Nanny bertanya.Satria mengangguk lalu mengendik ke belakang.
Malam di Manhattan terasa berbeda.Lebih hidup. Lebih berkilau. Dan entah kenapa—lebih romantis.Setelah makan malam selesai, Ratu membantu membereskan meja meski Zyandru beberapa kali mengusirnya kembali ke sofa.Namun Ratu tetap keras kepala.Minimal membuang tissue bekas at
Udara hangat memenuhi kamar mandi marmer yang luas.Cermin besar dipenuhi embun tipis.Ratu keluar sambil mengeringkan rambutnya menggunakan handuk putih lembut yang bahkan terasa jauh lebih halus dari handuk mana pun yang pernah ia pakai.Kaos oversize milik Zyandru membungkus tubuhnya.Ukuran
Perjalanan panjang yang melelahkan itu akhirnya berakhir.Lampu kabin perlahan kembali terang.Suara pramugari terdengar lembut dari speaker pesawat, mengumumkan bahwa mereka telah mendarat dengan selamat di New York.Ratu yang sejak tadi tertidur di pelukan Zyandru perlahan membuka mata.Butuh
Hari itu, semuanya terjadi terlalu cepat.Tidak ada waktu untuk benar-benar mencerna.Tidak ada ruang untuk menenangkan diri.Begitu hasil diagnosa keluar—proses langsung berjalan.Administrasi.Persetujuan tindakan.Persiapan operasi.Semua seperti berlari.







