Share

Kursi Presiden Direktur

Author: Erna Azura
last update Last Updated: 2025-10-17 22:06:13

Reyhan harus mengahadapi hari senin ini dengan semangat, pasalnya ada rapat Komisaris yang harus dia hadapi.

Agendanya bukan pembahasan laporan tri semester atau rapat koordinasi akhir tahun, melainkan untuk membahas gosip tentang Keinarra yang ramai di media sosial.

Lift yang Reyhan tumpangi tidak berhenti di lantai tujuh, langsung ke loby di mana mobilnya sudah menanti.

Dua malam tidurnya tidak nyenyak karena tidak memeluk Keinarra.

“Sabar ya Kei, aku selesaikan dulu urusan dengan perusahaan … setelah itu baru kita selesaikan urusan kita,” gumam Reyhan sesaat sebelum pintu lift terbuka.

“Selamat pagi, Pak.” Argo membukakan pintu untuk Reyhan.

“Pagi,” sahut Reyhan datar.

“Apa semua bukti sudah siap?” Reyhan bertanya ketika mobil sudah melaju menuju gedung pusat MHN Group.

“Sudah Tuan.”

Reyhan menganggukan kepala pelan, raut wajahnya tampak mengeras.

***

Ruang rapat utama—ruangan oval besar dengan dinding kaca yang menghadap kota—penuh oleh para Komisaris MHN Group, dewan
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Ami tsamarat
ada untungnya juga ya berarti.. akibat ulah si nadya akhirnya reyhan bisa mengambil alih perusahaan almh ibunya secara penuh
goodnovel comment avatar
Gita
Bravo reyhan.
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Menantu Bayangan : Istri Simpanan Pewaris Tersembunyi   Penuh Dengan Kebahagiaan

    Dunia bisnis punya cara sendiri untuk menyambut anak-anak para pemiliknya.Dan kini, dunia itu mulai mengenal satu nama baru yaitu Keinarra Athaletha Anggoro.Malam itu, Gunawan menjemput Keinarra dengan Bentley hitam. Reyhan menyusul dari kantor dengan mobil mewah yang berbeda. Tidak ada iring-iringan besar, tapi elegan, presisi, dan jelas kalau acara yang akan dihadiri Keinarra ini bukan undangan biasa.“Sayang … apa papa kamu sudah datang?” Reyhan sedang mengenakan jasnya, earphone bluetooth menempel di telinga.Mereka sedang berada di tempat berbeda, Keinarra di rumah dan Reyhan di kantor.“Kayanya sudah sampai, tadi aku denger suara mobil masuk.” Keinarra menjawab.Hening. Mereka sedang sibuk memperbaiki penampilan untuk acara malam ini.“Mas ….” Suara Keinarra terdengar ragu.“Ya sayang ….” Reyhan menyahut cepat.“Acara koperasi bank? Konferensi investor? Atau gala sosial?” tanya Keinarra sambil memakai anting kecil.“Semua dalam satu,” jawab Reyhan sambil mengancing

  • Menantu Bayangan : Istri Simpanan Pewaris Tersembunyi   Cinta yang Tumbuh Lebih Besar

    Waktu ternyata bisa berlari dan menari dalam diam.Tanpa disadari, enam bulan sudah berlalu sejak Arelio lahir—enam bulan sejak Keinarra menemukan versi dirinya yang pernah ia takutkan, pernah ia rindukan, dan akhirnya ia terima di mana sekarang Keinarra memiliki gelar baru yaitu seorang ibu.Pagi itu, matahari belum terlalu tinggi, angin masih terasa sejuk, dan kamar bayi dipenuhi aroma sabun bayi dan bedak talc yang ringan. Arelio duduk di kursi bayi dengan pipi chubby yang menggemaskan, rambut tipisnya mulai tumbuh acak, dan matanya yang besar memandang dunia tanpa sedikit pun rasa takut.“Selamat pagi, Pangeran,” kata Keinarra sambil mencium pipi kanan lalu kiri. “Hari ini kita mandi pagi, makan bubur, terus bunda ajak jalan-jalan di taman.”Arelio menjawab dengan gumaman tidak jelas.“Pa-pa-ba-ba.”Keinarra terbelalak. “Kamu barusan manggil siapa? Papa? Atau Bapak? Atau lagi latihan baca mantra?”Arelio menatapnya dengan kerjapan pelan, lalu tertawa tanpa suara sambil mene

  • Menantu Bayangan : Istri Simpanan Pewaris Tersembunyi   Panik

    Malam pertama di rumah seharusnya tenang. Setidaknya, begitu yang dibayangkan Reyhan. Lampu kamar utama telah diredupkan. Tirai ditutup setengah. Udara sejuk dari pendingin ruangan mengalir pelan, tidak terlalu dingin, tidak terlalu hangat—hasil kompromi panjang antara Reyhan yang paranoid dan Keinarra yang masih menyesuaikan tubuh pascamelahirkan. Keinarra berbaring miring, satu lengan melingkar di sekitar Arelio yang tertidur di boks bayi kecil tepat di sisi ranjang. Bayi itu tampak damai—mulutnya sedikit terbuka, napasnya teratur, wajahnya tenang seolah dunia memang diciptakan khusus untuknya. “Mas,” bisik Keinarra pelan. “Hm?” “Dia tidur nyenyak banget.” Reyhan tersenyum, suaranya ikut direndahkan. “Aku sampai takut bernapas terlalu keras, takut dia terganggu.” Keinarra terkekeh kecil, lalu memejamkan mata. Akhirnya. Malam pertama. Bertiga. Setelah drama panjang hubungan mereka. Dua puluh menit pertama berlalu dalam keheningan yang hampir sakral. Lalu—

  • Menantu Bayangan : Istri Simpanan Pewaris Tersembunyi   Pulang

    Hari ini, Keinarra dan Arelio akhirnya diperbolehkan pulang.Keinarra sangat bersemangat,Ia berdiri di depan cermin kecil di kamar rawat, mengenakan gaun longgar berwarna krem yang Reyhan pilihkan khusus—sederhana, nyaman, dan tidak menekan tubuhnya yang masih dalam masa pemulihan. Rambutnya diikat rendah, wajahnya nyaris tanpa riasan, tapi ada ketenangan yang tidak pernah ia miliki sebelumnya.Di lengannya, Arelio terlelap.Dibedong rapi, topi kecil menutupi kepalanya. Wajah mungil itu tampak damai, seolah dunia memang diciptakan untuk menyambutnya dengan penuh suka cita.“Sebentar lagi kita pulang,” bisik Keinarra pelan.Arelio tidak bergerak, hanya menghela napas kecil.Reyhan berdiri di belakangnya, memperhatikan dari cermin. Dadanya terasa penuh—terlalu penuh untuk diberi nama. Ia melangkah mendekat, menyentuh bahu Keinarra dengan hati-hati.“Siap, sayang?” tanyanya.Keinarra mengangguk. “Lebih dari siap.”Reyhan tersenyum kecil. “Aku sudah cek semuanya. Kursi bayi di

  • Menantu Bayangan : Istri Simpanan Pewaris Tersembunyi   Hidup yang Bebas

    Pagi berikutnya datang dengan cahaya yang lebih terang.Bukan karena matahari lebih terik, melainkan karena ruangan itu telah berubah. Tidak lagi hanya kamar rumah sakit, melainkan tempat di mana sebuah nama mulai mencari bentuk—bukan sekadar rangkaian huruf, tetapi identitas, doa, dan garis kehidupan.Keinarra terbangun dengan Arelio masih tertidur di dadanya.Napas bayi itu teratur, dadanya naik turun pelan. Setiap tarikan napasnya terasa seperti pengingat bahwa hidup baru ini benar-benar nyata. Tangannya yang kecil sesekali menggenggam kain baju Keinarra, refleks sederhana yang entah mengapa selalu membuat dada Keinarra menghangat.Reyhan duduk di sofa kecil dekat jendela, setengah terjaga. Ia belum benar-benar tidur sejak malam sebelumnya—tidak karena cemas, melainkan karena merasa dunia terlalu berharga untuk dilewatkan hanya dengan memejamkan mata.“Kamu sudah bangun?” tanyanya pelan.Keinarra mengangguk. “Dari tadi.”Reyhan tersenyum kecil. “Dia tenang banget ya, nyaman

  • Menantu Bayangan : Istri Simpanan Pewaris Tersembunyi   Awal Baru

    Pagi datang pelan-pelan ke rumah sakit.Tidak tergesa. Tidak gaduh. Cahaya matahari menyelinap melalui celah tirai, jatuh lembut ke lantai kamar rawat, menyentuh dinding putih yang semalaman menjadi saksi perjuangan, tangis, doa, dan kelahiran.Keinarra terbangun dengan tubuh yang terasa asing—lelah, nyeri, tapi anehnya ringan. Seolah sebagian besar beban yang ia pikul selama sembilan bulan terakhir kini berbaring tenang di sisi kirinya.Tangis kecil itu.Pelan. Lirih. Seperti panggilan yang tidak menuntut, tapi meminta.Keinarra menoleh.Bayi laki-laki itu terbaring di boks transparan di samping ranjangnya, dibedong rapi. Kulitnya kemerahan, matanya masih sering terpejam, tapi napasnya teratur—hidup, hangat, nyata.“Selamat pagi…,” bisik Keinarra lirih.Dadanya menghangat. Air mata kembali menggenang—bukan karena sakit, bukan karena takut, melainkan karena rasa syukur yang terlalu besar untuk ditampung diam-diam.Pintu kamar terbuka pelan.Reyhan masuk dengan langkah hati-h

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status