MasukPagi datang pelan-pelan ke rumah sakit.Tidak tergesa. Tidak gaduh. Cahaya matahari menyelinap melalui celah tirai, jatuh lembut ke lantai kamar rawat, menyentuh dinding putih yang semalaman menjadi saksi perjuangan, tangis, doa, dan kelahiran.Keinarra terbangun dengan tubuh yang terasa asing—lelah, nyeri, tapi anehnya ringan. Seolah sebagian besar beban yang ia pikul selama sembilan bulan terakhir kini berbaring tenang di sisi kirinya.Tangis kecil itu.Pelan. Lirih. Seperti panggilan yang tidak menuntut, tapi meminta.Keinarra menoleh.Bayi laki-laki itu terbaring di boks transparan di samping ranjangnya, dibedong rapi. Kulitnya kemerahan, matanya masih sering terpejam, tapi napasnya teratur—hidup, hangat, nyata.“Selamat pagi…,” bisik Keinarra lirih.Dadanya menghangat. Air mata kembali menggenang—bukan karena sakit, bukan karena takut, melainkan karena rasa syukur yang terlalu besar untuk ditampung diam-diam.Pintu kamar terbuka pelan.Reyhan masuk dengan langkah hati-h
Malam di rumah sakit terasa lebih panjang dari biasanya.Lampu-lampu koridor menyala konstan, tanpa emosi, seolah tidak peduli bahwa di salah satu ruangan itu—sebuah kehidupan sedang berjuang untuk lahir ke dunia.Keinarra menggenggam seprai dengan kedua tangan. Keringat membasahi pelipisnya, rambutnya menempel di dahi. Napasnya berat, terputus-putus, mengikuti irama kontraksi yang kini tidak lagi bisa ditawar.“Tarik napas… hembuskan… bagus, Kei… bagus….”Suara Reyhan terdengar dekat. Terlalu dekat untuk diabaikan. Terlalu nyata untuk dihindari. Ia berdiri di sisi ranjang, satu tangan menggenggam tangan Keinarra, satu tangan lain menopang punggung istrinya setiap kali tubuh Keinarra menegang.Kontraksi datang lagi.Lebih kuat.Lebih lama.Keinarra mengerang tertahan, matanya terpejam rapat. “Mas… sakit….”Reyhan menelan ludah. Dadanya terasa diremas. Tapi ia memaksa suaranya tetap stabil.“Aku tahu… aku di sini. Lihat aku, sayang. Lihat aku.”Keinarra membuka mata dengan s
Malam itu Jakarta terlihat biasa saja dari balik jendela kamar—lampu-lampu kota berkelip, suara kendaraan berlalu lalang, kehidupan berjalan seperti tidak ada apa-apa yang berubah.Padahal di dalam rumah itu, semua sedang menunggu satu hal yang tak bisa dijadwalkan dengan pasti.Kelahiran.Keinarra sedang berdiri di depan jendela, kedua telapak tangannya menopang perut yang kini benar-benar besar. Kulit perutnya terasa tertarik, napasnya lebih pendek. Ia tidak kesakitan—belum—tapi tubuhnya memberi sinyal yang jelas.Waktu hampir tiba.“Mas,” panggilnya pelan.Reyhan yang sejak sepuluh menit lalu berpura-pura membaca laporan di sofa—padahal satu kalimat pun tidak ada yang masuk ke kepalanya—langsung bangkit.“Iya sayang? Kamu kenapa?”Keinarra menggeleng kecil. “Enggak apa-apa. Cuma… rasanya beda.”Reyhan langsung berdiri tepat di hadapannya, refleks protektifnya muncul tanpa diminta. Satu tangannya menahan pinggang Keinarra, satu telapak tangan lainnya terasa hangat di perut
Hari itu, Keinarra bangun pagi sekali bahkan sebelum alarm berbunyi.Bukan gugup seperti hari sidang. Bukan takut seperti hari-hari setelah penculikan. Melainkan perasaan hening yang penuh—seperti seseorang yang akhirnya tiba di tepi danau setelah perjalanan panjang, lalu berhenti sejenak hanya untuk menyadari kalau aku telah sampai.Ia membuka mata perlahan. Tirai kamar belum sepenuhnya terbuka, cahaya pagi merayap lembut di lantai. Tangannya langsung bergerak ke perutnya—kebiasaan yang kini tak pernah terlewat.“Bangun, Nak,” bisiknya. “Hari ini… Bunda wisuda.”Ada gerakan kecil dari dalam. Pelan. Seolah menyahut.Keinarra tersenyum, menahan haru yang tiba-tiba menekan dadanya.Hari ini ia tidak hanya akan berdiri sebagai sarjana. Ia akan berdiri sebagai dirinya sendiri—perempuan yang pernah diragukan, ditinggalkan, disakiti, lalu memilih bertahan.Pintu kamar diketuk pelan.“Kei?” suara Doni terdengar hati-hati. “Ayah boleh masuk?”“Iya, Yah.”Doni masuk dengan kemeja put
Hujan turun sore itu dengan cara yang tenang. Tetesannya jatuh ke halaman rumah Keinarra satu per satu, membasahi daun kamboja yang gugur, membuat udara terasa lebih dingin dan bersih.Keinarra sedang menonton televisi di ruang keluarga, bersandar pada sofa dengan bantal kecil menopang punggungnya. Tubuhnya lelah—bukan lelah fisik sepenuhnya, tapi lelah emosional setelah hari yang panjang kemarin- kemarin. Sidang skripsi, ucapan selamat, pelukan, tawa, tangis. Semua datang bersamaan, seperti gelombang yang tidak memberi jeda.Tangannya mengusap perutnya yang kini benar-benar bulat. Bayi itu bergerak kecil, pelan—seolah ikut merasakan keheningan sore.“Akhirnya selesai juga, Nak,” gumamnya lirih.Doni ada di dapur, sengaja memberi ruang. Reyhan masih di kantor—meski sudah berjanji akan pulang lebih cepat. Widhy mengatakan tidak datang dulu hari ini dengan alasan “mau cari kado kelulusan yang lebay tapi bermakna”. Rumah itu kini menjadi tenang. Terlalu tenang.Bel pintu berbunyi.
Pagi itu datang terlalu lambat.Keinarra terbangun bahkan sebelum alarm berbunyi. Langit masih pucat, cahaya matahari belum benar-benar menyusup di balik tirai. Ia terdiam beberapa detik, menatap langit-langit, mencoba menenangkan detak jantungnya yang terasa terlalu keras untuk ukuran sebuah pagi.Tapi nyatanya pagi ini bukan pagi biasa.Sidang skripsi.Hari ini.Tangannya refleks bergerak ke perutnya. Mengusap dengan gerakan memutar. Hangat. Nyata.“Bunda gugup,” bisiknya pelan. “Tapi kita bisa, ya?”Tidak ada tendangan keras. Hanya gerakan kecil, samar—cukup untuk membuat Keinarra tersenyum. Ia menarik napas panjang, lalu bangkit perlahan dari ranjang.Dia melihat suaminya masih terlelap, damai dan tentu saja tampan.Di kamar mandi, wajahnya tampak pucat tapi matanya terang. Ia membasuh wajahnya dengan air hangat, menatap pantulan dirinya sendiri—perempuan yang pernah jatuh, pernah direndahkan, pernah nyaris hilang. Dan kini berdiri di ambang satu pencapaian yang ia perjua







