Share

Tanda Tangan Kontrak

Author: Erna Azura
last update Last Updated: 2025-08-17 12:26:17

Langit senja merambat perlahan saat Keinarra berdiri canggung di depan cermin panjang kamar mandi kosannya. Sweater abu favoritnya tergantung di belakang pintu, sementara tubuhnya kini dibungkus blouse putih bersih dan celana bahan hitam—pakaian paling rapi yang ia miliki.

Keinarra menatap bayangan dirinya. Mata bulatnya tampak ragu. Bibirnya bergetar.

“Ini bukan aku…,” bisiknya pelan.

Namun begitu ia menunduk, melihat ponselnya yang menampilkan notifikasi pesan terenkripsi dari nomor asing bertuliskan:

‘Le Revé Hotel. Lantai 7. Suite 703. Jam 20.00. Bawa KTP. Jangan ajak siapapun.’

Jantung Keinarra berdetak cepat. Tangannya gemetar saat ia memasukkan KTP ke dalam dompet lusuhnya.

Jam di dinding menunjukkan pukul 18.32.

Waktu yang tersisa terasa begitu pendek tapi juga menyiksa.

Keinarra bergegas keluar dari kossan, menyusuri gang untuk sampai di jalan raya. Dia harus menunggu bus yang akan membawanya ke tempat tujuan.

19.55 WIB – Le Revé Hotel, Jakarta Pusat

Lampu gantung kristal menyambut Keinarra ketika ia masuk ke lobi hotel yang mewah dan terlalu senyap untuk ukuran publik. Lantainya berkilau seperti cermin. Aroma white tea diffuser menguar lembut, menyamarkan kecemasan yang mulai menggrogoti pikirannya.

Keinarra celingukan dengan ekspresi melongo.

Petugas resepsionis menyambut tanpa bertanya nama. “Selamat malam, Nona Keinarra. Silakan naik. Lift kiri sudah diprogram otomatis.”

Keinarra menelan ludah.

“Hah?” Keinarra bergumam tapi sebelum sang resepsionis menjelaskan ulang, dia buru-buru pergi ke area lift.

Keinarra tidak menyangka kalau iklan ini benar-benar direncanakan begitu matang dan serius sampai sang resepsionis mengetahui siapa namanya.

Memangnya dia akan menikah kontrak dengan siapa?

Pastinya bukan pria single dan bukan pria biasa saja, pasti pria beristri dan tua yang memiliki fetis seks mengerikan.

Keinarra sampai bergidik ngeri membayangkannya namun tak urung membuat kakinya tetap melangkah karena dia sangat membutuh Lima Milyar.

Lift menuju lantai tujuh terbuka begitu ia mendekat. Di dalamnya, hanya ada satu tombol yang bisa ditekan, angka tujuh.

Dan saat pintu terbuka kembali, seorang pria berpakaian hitam formal, lengkap dengan penutup wajah semi transparan berdiri di depan suite.

“Silakan masuk,” kata Argo.

Suara pria itu rendah, dalam, dan tanpa emosi. Tapi entah kenapa—membuat bulu kuduk Keinarra berdiri.

Dengan langkah ragu, Keinarra masuk ke dalam Suite bernomor tujuh ratus tiga.

Ruangan itu terasa sunyi. Mewah, tapi sunyi. Dindingnya berlapis motif krem elegan, jendela besar menghadap lampu kota dan di tengah ruangan ada meja kaca dengan dua kursi.

Di balik meja itu duduklah pria bertopeng lainnya. Masker hitam yang membatasi setengah wajahnya tidak menghalangi aura dominan yang memancar dari sikap duduknya. Tegak. Tenang. Penuh kendali.

Kemeja garis-garis yang dikenakan pria itu memeluk tubuhnya secara sempurna, seolah kemeja itu memang dibuat khusus untuknya sampai Keinarra bisa mengetahui kalau ada otot indah di balik kemeja itu yang gagal disembunyikan.

Dan Keinarra tidak pernah mengira apalagi berharap kalau pria itu lah yang akan menjadi suami kontraknya.

Bahkan hingga detik ini Keinarra masih bertanya-tanya, siapa dua pria tersebut?

Di atas meja, terbentang sebuah map hitam tebal dan sebuah pena perak.

“Silakan duduk, Nona Keinarra.” Pria bertopeng yang menyambutnya tadi menarik kursi di depan pria bertopeng yang duduk di belakang meja.

Keinarra menurut meski jantungnya berdebar sangat kencang. Ia merasa seperti masuk ke dunia lain. Dunia yang tidak lagi punya hukum normal—hanya perintah dan larangan.

“Ini adalah kontrak satu tahun. Anda akan menjadi istri secara hukum, dengan syarat-syarat yang telah dikirimkan sebelumnya. Saya akan membacakannya kembali.”

Keinarra menggenggam lututnya di bawah meja. Ia tidak sanggup menatap langsung kedua pria itu.

“Pertama: Anda tidak boleh mencari tahu siapa suami Anda.

Kedua: Anda tidak boleh bertanya tentang kehidupan pribadi suami Anda.

Ketiga: Anda tidak boleh membicarakan kontrak ini ke siapapun, termasuk teman atau keluarga Anda.

Keempat: Anda tidak boleh jatuh cinta kepada suami Anda.

Kelima: Anda wajib melayani kebutuhan suami kontrak Anda kapan pun ketika diminta.

Dan terakhir—Anda tidak boleh pergi tanpa izin suami Anda.”

Suara pria itu stabil. Tidak ada ancaman, tapi justru karena terlalu tenang, membuatnya menakutkan.

Keinarra mengangguk perlahan. Jantungnya berdentum keras, tapi ia tak berani bersuara.

“Sesuai dengan kesepakatan,” lanjut pria itu, “transfer lima miliar akan dilakukan setelah malam pertama diselesaikan. Tidak ada uang muka.”

Keinarra meneguk ludah.

Ia tahu ini gila. Ia tahu ia sedang menjual seluruh kendalinya. Tapi ia juga tahu, tak ada jalan kembali.

Tangannya mengambil pena. Ia menandatangani halaman pertama … kedua … dan ketiga ….

Setiap halaman terasa seperti menjual jiwanya. Tapi tangannya tetap bergerak.

“Setelah ini Anda akan tinggal di sebuah Penthouse, Mahendra Residence di lantai tujuh dan Andra harus selalu ada di tempat setiap malam karena bisa jadi suami Anda akan datang.”

Keinarra menganggukan kepalanya.

Reyhan yang duduk di depannya terus menatap Keinarra tanpa suara.

Tidak bisa Reyhan pungkiri kalau anak dari ibu tirinya itu memiliki paras cantik dengan mata bulat dan bulu mata yang tebal dan lentik.

Hidungnya mancung dengan pipi tirus dan bibir mungil yang tebal di depan.

Tanpa sadar Reyhan menelan ludah seakan tidak sabar merasakan bibir itu, merusak masa depan Keinarra seperti Nadya yang menghancurkan hidupnya.

Setelah semua informasi telah disampaikan Argo, Reyhan mengetuk meja dua kali.

Pintu belakang terbuka.

Seorang pria berseragam Kantor Urusan Agama masuk dengan koper penuh berkas.

“Selamat malam. Saya diminta untuk mengurus akad nikah secara resmi. Data sudah kami terima. Tinggal tanda tangan sebagai administrasi.”

Keinarra nyaris tersedak. “A-apa? Hari ini?”

“Kontrak sebagai istri harus sah secara hukum negara,” ucap Reyhan datar.

Bingung, panik, terpojok—Keinarra tetap mengangguk.

Dia butuh uang itu.

Ia menandatangani satu demi satu dokumen dari KUA tanpa membaca.

Tangan yang biasa mengisi lembar jawaban ujian kini menggoreskan tanda tangan untuk menyerahkan hidupnya.

Lima belas menit kemudian, pria dari KUA itu pamit pergi.

Keinarra masih terduduk di kursinya. Nafasnya pendek. Dunia seperti bergerak lambat.

“Selamat,” kata pria bertopeng yang duduk di depan Kinara. “Sekarang … Kamu adalah istri saya.”

Keinarra mengangkat kepalanya, mata bulat itu menatap lekat si pria bertopeng yang sedari tadi duduk di depannya.

“Siapa kamu?”

Pria itu tidak menjawab.

Ia hanya berdiri perlahan dan berjalan ke arah pintu kamar tidur suite.

“Persiapkan dirimu. Besok malam … Kamu akan membuktikan bahwa tandatanganmu punya harga.”

Klik.

Pintu kamar tertutup.

“Besok sore, ada mobil yang akan menjemput Anda ke kampus … Anda akan langsung tinggal di Penthouse Mahendra Residence.”

Keinarra mendongak menatap pria bertopeng satunya yang masih tinggal di suite itu.

“Eeerr … jadi enggak sekarang malam pertamanya? Enggak di sini? Sayang sekali ….” Maksud Keinarra, sayang sekali mereka menyewa suite semewah ini hanya untuk tanda tangan yang bisa dilakukan di restoran biasa.

Argo terkekeh sembari meraih berkas yang sudah Keinarra tanda tangani.

“Sabar Nona … persiapkan saja diri Anda besok.”

Argo pergi setelah berkata demikian meninggalkan Keinarra yang masih terduduk dengan tampang melengo mencerna apa yang baru saja terjadi.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Melyani Suwandi
Seru nich...
goodnovel comment avatar
Ratna
gila gila , itu orng KUA g melakukan ijab , sah kah nikah kontraknya ?
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Menantu Bayangan : Istri Simpanan Pewaris Tersembunyi   TAMAT

    Hari terakhir di Maldives terasa seperti puncak dari sebuah perjalanan panjang yang tidak pernah Keinarra rencanakan untuk ia menangkan — tapi nyatanya, di sinilah ia berdiri sebagai pemenang.Langit sore berwarna keemasan, laut tenang, dan vila kayu itu diterpa cahaya lembut yang melapisi segala hal dengan estetika yang terlalu indah untuk kenyataan. Ada angin asin, ada aroma kelapa muda, dan ada suara ombak yang membisik sesuatu yang hanya bisa dipahami hati yang telah berdamai.Reyhan duduk di hammock besar, Arelio tidur tengkurap di dada ayahnya — satu tangan Reyhan menahan tubuh mungil itu, satu lagi mengusap punggungnya perlahan, seolah dunia hanya terdiri dari laki-laki itu dan dua hal yang paling ia cintai.Keinarra mendekat, melipat kain pantai di lututnya dan duduk pelan di samping mereka.“Mas,” panggilnya lembut.Reyhan menoleh, tersenyum — senyum yang dulu sangat sulit ia dapatkan dari Reyhan yang penuh dendam dan trauma. Kini senyum itu datang tanpa syarat.“Kamu b

  • Menantu Bayangan : Istri Simpanan Pewaris Tersembunyi   Cukup

    Malam tiba tanpa upacara.Tidak ada lampu kota. Tidak ada klakson. Tidak ada manusia lain dalam jarak pendengaran.Hanya ombak yang memukul pelan dinding kayu vila, dan angin asin yang merayap masuk dari celah tirai linen.Arelio sudah tidur lebih awal.Nanny menutup pintu kamar bayi kecil di dalam vila, lalu menurunkan suara, seolah seluruh bangunan ini sedang menidurkan sesuatu yang jauh lebih penting daripada seorang bayi enam bulan.Keinarra berdiri di depan cermin panjang, membuka ikatan rambutnya pelan.Rambutnya jatuh ke punggung, bergelombang ringan oleh cuaca tropis. Gaun linen putih yang ia pakai sejak sore kini berganti camisole tipis satin warna nude yang mengikuti bentuk tubuhnya tanpa berusaha terlihat seksi—justru kesederhanaan itu yang membuatnya berbahaya.Reyhan keluar dari kamar mandi menggunakan handuk melilit pinggang, tetesan air menggelinding di punggung dan dada.Ia bukan lelaki yang suka memamerkan tubuhnya, tapi dunia sepertinya selalu lupa bahwa este

  • Menantu Bayangan : Istri Simpanan Pewaris Tersembunyi   Babby Moon

    Maldives tidak pernah benar-benar sunyi.Pulau itu memiliki suara sendiri—laut yang mengelus bibir pasir, kain payung pantai yang berkibar, tawa turis yang mencair dalam udara asin.Namun, bagi Keinarra, suara paling indah pagi itu bukan berasal dari langit atau laut.Melainkan dari tawa Arelio.Bayi enam bulan lebih itu duduk di kursi plastik kecil dengan kaki menggantung dan pipi merah yang memantul sinar matahari. Di depannya, Reyhan mengangkat sendok kecil berisi puree mangga.“Ayo buka mulutnya…” Reyhan menggoda, suaranya lebih lembut dari angin laut. “Satu… dua…”Arelio tertawa dulu, baru membuka mulutnya.“Sukses,” Reyhan mengangguk seolah baru memenangkan tender miliaran.Keinarra duduk di kursi pantai, rambutnya diikat longgar, memakai gaun linen putih yang membuat kulitnya tampak karamel kecoklatan. Punggungnya disangga bantal karena dokter melarangnya duduk lama tanpa support punggung sejak tahu ia mengandung 8 minggu.Kehamilan kedua.Informasi yang disampaikan d

  • Menantu Bayangan : Istri Simpanan Pewaris Tersembunyi   Memaafkan Masa Lalu yang Pahit

    Rumah sakit memiliki cara sendiri untuk membuat orang memahami batas tubuhnya.Yaitu dengan pemeriksaan yang tak berkesudahan.Pagi itu Darmawan sudah menjalani tiga tes yang terdiri dari EKG, USG abdomen, dan panel darah lanjutan.Tekanan darahnya masih tinggi. Ginjalnya masih lemah. Tapi bukan itu yang membuatnya tampak kecut—melainkan biaya meski sudah ditanggung oleh anak yang pernah dia kecewakan, sakiti dan hancurkan mentalnya.“Tes lagi, Pak,” kata perawat.Nada suaranya profesional.Nadya menahan map kecil berisi struk-struk sementara yang mereka terima sejak masuk rumah sakit. Setelah biaya ditanggung, rumah sakit memberi dua versi struk: satu untuk dokumentasi pasien, satu untuk penanggung.Totalnya tidak besar untuk kelas mereka dulu.Tidak besar juga untuk orang-orang yang pernah hidup di dunia yang deras dengan champagne dan gala dinner.Namun untuk Nadya dan Darmawan yang kini menghitung harga mie instan per bungkus, angka itu terasa seperti hukuman moral.Pera

  • Menantu Bayangan : Istri Simpanan Pewaris Tersembunyi   Rumah Baru

    Tidak ada perubahan drastis ataupun keajaiban medis yang membuatnya bangun dengan wajah segar dan pipi terisi. Namun ada sesuatu yang pelan-pelan kembali, ketenangan. Ketenangan karena tubuhnya tidak lagi bergantung pada air panas dari dispenser hotel, atau obat warung yang dibeli Nadya setelah bertengkar dengan kasir karena uang recehnya kurang dua ribu rupiah.Perawat masuk membawa troli kecil.“Selamat pagi, Pak Darmawan. Kita cek tekanan darahnya dulu ya.”Darmawan mengangguk kecil, gerakannya lambat. Nadya duduk di sofa ruang rawat eksekutif itu, jarinya menekan gawai tua yang layarnya sudah retak. Ia sedang membuka lalu menutup kertas catatan pengeluaran yang ia bawa sejak MHN Group menendang mereka keluar dari kehidupan kelas atas.Ada sesuatu yang ironis dalam kehidupan Nadya. Dulu ia meninggalkan Keinarra dalam kemiskinan lalu berusaha menendangnya ke jalanan dari posisi istri Reyhan yang saat itu masih menjadi Mahendra dan Presdir MHN Group. Kini justru Nadya yang mencat

  • Menantu Bayangan : Istri Simpanan Pewaris Tersembunyi   Memilih Menyembuhkan Luka

    Pagi membuat rumah sakit itu tampak lebih ramah daripada kenyataannya. Fasad kaca memantulkan langit biru, perawat berlalu lalang dengan langkah cepat, dan aroma antiseptik memenuhi udara seperti bagian dari protokol yang tidak pernah berubah.Namun, bagi Darmawan dan Nadya, pagi itu bukan tentang pemulihan atau kesempatan. Melainkan tentang antrian, formulir, dan penolakan.“Bu, saya sudah jelaskan, untuk masuk ruang rawat kami butuh deposit minimal.” Petugas administrasi kembali membuka laptopnya, sikapnya bosan, matanya tidak peduli.“Pak, saya mohon .…” Suara Nadya pelan, tapi serak oleh malam tanpa tidur. “Suami saya tidak bisa pulang dalam kondisi begini. Dia bisa mati.”Suara itu tercekat pada kata terakhir.Darmawan duduk di kursi roda, tubuhnya rapuh, napasnya pendek-pendek, seperti setiap helaan adalah batu yang harus didorong.Petugas mendengus. “Kami tidak menolak pasien, Bu. Tapi ada prosedur yang harus dipatuhi.”“Kalau ada uang, saya bayar!” Nadya membalas cepat.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status