MasukKeinarra kembali ke kossannya yang sempit di lingkungan kumuh.
Langit malam telah lama berganti dengan bintang-bintang yang redup. Namun Keinarra masih duduk di ujung ranjang, memeluk lutut dengan sweater abu yang sudah dua hari tidak dicuci. Rambutnya dibiarkan tergerai, kusut dan lepek oleh keringat dingin yang tak kunjung berhenti. Lampu kamar menyala temaram, menyisakan bayangan di dinding yang membuat suasana makin mencekam. Ia memandangi tangannya sendiri—tangan yang tadi malam menandatangani begitu banyak lembaran perjanjian. Perjanjian jadi istri. Perjanjian untuk menjual dirinya. Perjanjian untuk tidak mencintai. “Besok malam … kamu akan membuktikan bahwa tandatanganmu punya harga.” Suara pria bertopeng yang katanya adalah suaminya itu terngiang begitu nyata, seolah masih berdiri di hadapannya, menatapnya dengan mata dingin yang tertutup topeng. Keinarra menengadahkan kepala, menahan napas. Ia belum tidur sejak pulang dari Le Revé. Tubuhnya lelah, tapi pikirannya menolak diam. Dia bahkan belum tahu nama pria itu. Tapi dia sudah menjadi istrinya. Sudah sah. “Gila… ini gila … tapi seenggaknya dia bukan pria tua menjijikan …” bisiknya pelan, setengah tertawa sendiri. Namun tawanya terhenti ketika ia mengingat mata ayahnya di balik kaca ruang ICU—mata yang tertutup rapat karena koma panjang. “Kei melakukan ini untuk Ayah .…” air mata kembali mengalir. “Maafkan, Kei … Ayah.” Keesokan Paginya – Kampus, 09.12 WIB Keinarra duduk di bangku barisan tengah kelas Ekonomi Mikro. Dosennya, Pak Raditya, sedang menjelaskan konsep elastisitas permintaan dengan penuh semangat, namun suara itu hanya seperti dengungan samar di telinganya. Buku catatan terbuka di depannya, tapi kosong. Pulpennya hanya digenggam, tidak bergerak. Mata Keinarra merah. Kantung matanya hitam pekat. Kepalanya berdenyut ringan, tapi tak cukup untuk membuatnya pingsan. Sayangnya. “Keinarra.” Suara Pak Raditya menggema di seisi kelas. “Keinarra Athaletha!” Keinarra tersentak. “Ya, Pak?” Beberapa mahasiswa menoleh dengan tawa tertahan. Pak Raditya mendengus. “Saya tanya, dalam kondisi elastis sempurna, bagaimana bentuk kurva permintaan?” Keinarra menatap papan tulis seperti melihat simbol alien. “E-e… horizontal, Pak,” jawabnya pelan. Pak Raditya mengangguk setengah enggan. “Tolong fokus. Jangan datang ke kelas hanya karena absensi.” Keinarra mengangguk. “Maaf, Pak.” Widhy yang duduk di sampingnya mengusap lengan Keinarra, tatapannya tampak iba. “Aku enggak bisa tidur semalam,” kata Keinarra memberitahu kenapa dia tidak fokus. Widhy menganggukan kepalanya mengerti dan mereka berdua kembali memperhatikan apa yang disampaikan pak Raditya. *** Usai mata kuliah kedua, Widhy menyeret Keinarra ke kantin kampus. “Duduk di sini, aku pesen dulu,” kata Widhy lalu beberapa menit kemudian gadis cantik itu kembali. Widhy meletakkan nampan makanan di hadapan Keinarra dengan dramatis. “Mulai sekarang, kamu enggak boleh menghindar dari aku lagi pas makan siang, kamu harus makan,” ucapnya sambil menyeruput es teh manis. Keinarra tersenyum lemah. “Aku cuma lagi enggak laper.” “Bohong. Terus mata kamu kayak panda insomnia. Enggak tidur semalem ya?” Widhy mencolek pipinya. Keinarra tertawa kecil, tapi tidak menjawab. Widhy makin serius. “Hei… ayah kamu gimana?” Pertanyaan itu membuat tawa Keinarra langsung lenyap. Tapi ia buru-buru mengganti ekspresinya. “Sudah lebih baik. Perawat bilang semalam tekanan darahnya stabil. Mungkin sebentar lagi sadar,” katanya sambil menyuap nasi pelan, padahal perutnya lapar sejak tadi. Widhy tersenyum lega. “Syukurlah… aku sempat khawatir banget. Kamu enggak cerita-cerita, enggak angkat telpon, enggak balas chat.” “Sorry… aku cuma lagi pengen tenangin diri. Banyak tugas juga,” ujar Keinarra berdusta, lagi. Widhy menatapnya sejenak. “Kamu yakin kamu baik-baik aja?” Keinarra mengangguk cepat. Terlalu cepat. “Ya udah, nanti malam nginep di kosanku, ya? Kita maskeran sambil nonton drama Korea.” Keinarra tersenyum. “Kamu tahu ‘kan aku kerja shift malam, aku enggak bisa.” “Oh iya ya ….” Widhy cemberut. “Ehm… mungkin lain kali ya, Wid… aku janji.” Bohong lagi. Tapi apa lagi yang bisa ia lakukan? Keinarra menunduk dalam. Hari ini, dia belajar satu hal penting yang mana berbohong itu melelahkan. Tapi lebih melelahkan lagi menjelaskan kebenaran yang tidak akan pernah bisa dimengerti siapa pun. *** Sore Hari – Kampus Universitas Pertiwi, Pukul 16.13 WIB Langit mendung, gerimis turun perlahan membasahi pekarangan kampus saat Keinarra keluar dari gedung fakultas dengan langkah berat. Di ujung jalan, sebuah mobil hitam mewah berhenti perlahan di pinggir trotoar. Seorang pria berbadan tegap turun dari kursi kemudi, mengenakan jas hitam dan kacamata hitam meski matahari nyaris tenggelam. “Nona Keinarra Athaletha?” Keinarra mengangguk pelan. Pria itu membuka pintu belakang, mempersilakannya masuk tanpa sepatah kata. Mobil melaju diam-diam, membelah kemacetan Jakarta dengan sirene samar yang membuka jalan. Keinarra hanya bisa menatap keluar jendela. Dada sesak. Tenggorokan kering. Ini bukan mimpi. Ia benar-benar dibawa ke tempat di mana “pernikahan” yang sah di atas kertas akan berubah menjadi nyata. “Duuuuh, ciuman saja belum pernah ini disuruh malam pertama … kuatkan, Kei .., Tuhan.” Keinarra membatin. Satu jam kemudian, sang driver berhasil membelah kemacetan jam pulang kerja. Mobil berhenti di depan gedung yang merupakan kawasan hunian mewah. Driver turun lebih dulu membukakan pintu untuk Keinarra yang diam saja karena tidak tahu bagaimana cara membuka pintu mobilnya yang di buka terbalik tidak seperti pintu mobil kebanyakan. “Silahkan Nyonya, Anda bisa langsung masuk ke lift dan menekan tombol tujuh … Penthouse Anda nomor 701.” Sang driver memberitahu. “Terimakasih.” Keinarra turun lalu melangkah pelan, ragu, canggung dan cemas masuk ke dalam gedung. Mahendra Residence – Lantai 7, Penthouse 701 Begitu pintu terbuka, Keinarra tertegun. Ia belum pernah melihat ruangan seindah ini seumur hidupnya. Lantai marmer putih. Sofa krem elegan. Langit-langit tinggi dengan lampu gantung kristal yang menciptakan bayangan indah di dinding. Dua orang wanita berpenampilan profesional tadi menyambutnya di depan pintu, sementara satu lagi sudah menunggu di ruang spa pribadi dengan peralatan lengkap. “Selamat malam, Nyonya Keinarra. Kami dari Lotus & Amara Spa. Tugas kami adalah mempersiapkan Anda.” “Mempersiapkan?” Keinarra mengulang pelan. Salah satu dari mereka tersenyum lembut. “Treatment sebelum malam pertama, Nyonya.” Keinarra tak menjawab. Tapi tubuhnya menurut saat mereka menuntunnya masuk ke ruang spa, membuka sweater lusuhnya, dan menggantinya dengan kimono satin berwarna ivory. Ia dibiarkan telanjang tubuh dan hati yang kini sudah bukan menjadi kendalinya lagi. Tiga Jam Kemudian. Tubuh Keinarra kini sudah bersih, harum, dan ringan. Kulitnya lembut karena lulur susu, rambutnya sedikit dipangkas lalu ditata rapi sebahu dengan sentuhan blow natural, wajahnya dirias tipis—hanya bedak ringan, blush lembut, lip tint, dan alis halus yang dibingkai dengan elegan. Bahkan dirinya sendiri tak mengenali bayangan di cermin besar kamar mandi itu. “Silakan ganti dengan ini,” ujar salah satu terapis, menyerahkan sebuah dress tidur transparan berwarna lilac dengan jubah satin senada. Dress itu terlalu pendek. Terlalu tipis. Terlalu… mengundang. Namun Keinarra tak berkata apa-apa. Ia mengenakannya dengan tangan gemetar. Setelah para wanita itu pamit dan meninggalkannya sendiri di dalam kamar besar beraroma white musk, Keinarra berdiri kaku di tengah ruangan. Di hadapannya, tempat tidur megah dengan seprai putih yang terlalu bersih untuk dilumuri dosa. Tirai jendela masih terbuka, memperlihatkan siluet kota Jakarta yang menyala dalam kabut malam. Ia melangkah perlahan ke tepi ranjang, duduk lalu menarik napas panjang. Keheningan menyergap. Detik jam terdengar jelas. Keinarra merapatkan jubahnya, memeluk tubuh sendiri. Tubuh yang kini terlihat mewah tapi masih dihuni oleh jiwa yang gemetar. “Apakah aku masih Keinarra … atau hanya properti sewaan malam ini?” Tak ada jawaban. Hanya pantulan dirinya sendiri di kaca lemari. Cantik. Rapuh. Siap. Dan tidak siap.Hari terakhir di Maldives terasa seperti puncak dari sebuah perjalanan panjang yang tidak pernah Keinarra rencanakan untuk ia menangkan — tapi nyatanya, di sinilah ia berdiri sebagai pemenang.Langit sore berwarna keemasan, laut tenang, dan vila kayu itu diterpa cahaya lembut yang melapisi segala hal dengan estetika yang terlalu indah untuk kenyataan. Ada angin asin, ada aroma kelapa muda, dan ada suara ombak yang membisik sesuatu yang hanya bisa dipahami hati yang telah berdamai.Reyhan duduk di hammock besar, Arelio tidur tengkurap di dada ayahnya — satu tangan Reyhan menahan tubuh mungil itu, satu lagi mengusap punggungnya perlahan, seolah dunia hanya terdiri dari laki-laki itu dan dua hal yang paling ia cintai.Keinarra mendekat, melipat kain pantai di lututnya dan duduk pelan di samping mereka.“Mas,” panggilnya lembut.Reyhan menoleh, tersenyum — senyum yang dulu sangat sulit ia dapatkan dari Reyhan yang penuh dendam dan trauma. Kini senyum itu datang tanpa syarat.“Kamu b
Malam tiba tanpa upacara.Tidak ada lampu kota. Tidak ada klakson. Tidak ada manusia lain dalam jarak pendengaran.Hanya ombak yang memukul pelan dinding kayu vila, dan angin asin yang merayap masuk dari celah tirai linen.Arelio sudah tidur lebih awal.Nanny menutup pintu kamar bayi kecil di dalam vila, lalu menurunkan suara, seolah seluruh bangunan ini sedang menidurkan sesuatu yang jauh lebih penting daripada seorang bayi enam bulan.Keinarra berdiri di depan cermin panjang, membuka ikatan rambutnya pelan.Rambutnya jatuh ke punggung, bergelombang ringan oleh cuaca tropis. Gaun linen putih yang ia pakai sejak sore kini berganti camisole tipis satin warna nude yang mengikuti bentuk tubuhnya tanpa berusaha terlihat seksi—justru kesederhanaan itu yang membuatnya berbahaya.Reyhan keluar dari kamar mandi menggunakan handuk melilit pinggang, tetesan air menggelinding di punggung dan dada.Ia bukan lelaki yang suka memamerkan tubuhnya, tapi dunia sepertinya selalu lupa bahwa este
Maldives tidak pernah benar-benar sunyi.Pulau itu memiliki suara sendiri—laut yang mengelus bibir pasir, kain payung pantai yang berkibar, tawa turis yang mencair dalam udara asin.Namun, bagi Keinarra, suara paling indah pagi itu bukan berasal dari langit atau laut.Melainkan dari tawa Arelio.Bayi enam bulan lebih itu duduk di kursi plastik kecil dengan kaki menggantung dan pipi merah yang memantul sinar matahari. Di depannya, Reyhan mengangkat sendok kecil berisi puree mangga.“Ayo buka mulutnya…” Reyhan menggoda, suaranya lebih lembut dari angin laut. “Satu… dua…”Arelio tertawa dulu, baru membuka mulutnya.“Sukses,” Reyhan mengangguk seolah baru memenangkan tender miliaran.Keinarra duduk di kursi pantai, rambutnya diikat longgar, memakai gaun linen putih yang membuat kulitnya tampak karamel kecoklatan. Punggungnya disangga bantal karena dokter melarangnya duduk lama tanpa support punggung sejak tahu ia mengandung 8 minggu.Kehamilan kedua.Informasi yang disampaikan d
Rumah sakit memiliki cara sendiri untuk membuat orang memahami batas tubuhnya.Yaitu dengan pemeriksaan yang tak berkesudahan.Pagi itu Darmawan sudah menjalani tiga tes yang terdiri dari EKG, USG abdomen, dan panel darah lanjutan.Tekanan darahnya masih tinggi. Ginjalnya masih lemah. Tapi bukan itu yang membuatnya tampak kecut—melainkan biaya meski sudah ditanggung oleh anak yang pernah dia kecewakan, sakiti dan hancurkan mentalnya.“Tes lagi, Pak,” kata perawat.Nada suaranya profesional.Nadya menahan map kecil berisi struk-struk sementara yang mereka terima sejak masuk rumah sakit. Setelah biaya ditanggung, rumah sakit memberi dua versi struk: satu untuk dokumentasi pasien, satu untuk penanggung.Totalnya tidak besar untuk kelas mereka dulu.Tidak besar juga untuk orang-orang yang pernah hidup di dunia yang deras dengan champagne dan gala dinner.Namun untuk Nadya dan Darmawan yang kini menghitung harga mie instan per bungkus, angka itu terasa seperti hukuman moral.Pera
Tidak ada perubahan drastis ataupun keajaiban medis yang membuatnya bangun dengan wajah segar dan pipi terisi. Namun ada sesuatu yang pelan-pelan kembali, ketenangan. Ketenangan karena tubuhnya tidak lagi bergantung pada air panas dari dispenser hotel, atau obat warung yang dibeli Nadya setelah bertengkar dengan kasir karena uang recehnya kurang dua ribu rupiah.Perawat masuk membawa troli kecil.“Selamat pagi, Pak Darmawan. Kita cek tekanan darahnya dulu ya.”Darmawan mengangguk kecil, gerakannya lambat. Nadya duduk di sofa ruang rawat eksekutif itu, jarinya menekan gawai tua yang layarnya sudah retak. Ia sedang membuka lalu menutup kertas catatan pengeluaran yang ia bawa sejak MHN Group menendang mereka keluar dari kehidupan kelas atas.Ada sesuatu yang ironis dalam kehidupan Nadya. Dulu ia meninggalkan Keinarra dalam kemiskinan lalu berusaha menendangnya ke jalanan dari posisi istri Reyhan yang saat itu masih menjadi Mahendra dan Presdir MHN Group. Kini justru Nadya yang mencat
Pagi membuat rumah sakit itu tampak lebih ramah daripada kenyataannya. Fasad kaca memantulkan langit biru, perawat berlalu lalang dengan langkah cepat, dan aroma antiseptik memenuhi udara seperti bagian dari protokol yang tidak pernah berubah.Namun, bagi Darmawan dan Nadya, pagi itu bukan tentang pemulihan atau kesempatan. Melainkan tentang antrian, formulir, dan penolakan.“Bu, saya sudah jelaskan, untuk masuk ruang rawat kami butuh deposit minimal.” Petugas administrasi kembali membuka laptopnya, sikapnya bosan, matanya tidak peduli.“Pak, saya mohon .…” Suara Nadya pelan, tapi serak oleh malam tanpa tidur. “Suami saya tidak bisa pulang dalam kondisi begini. Dia bisa mati.”Suara itu tercekat pada kata terakhir.Darmawan duduk di kursi roda, tubuhnya rapuh, napasnya pendek-pendek, seperti setiap helaan adalah batu yang harus didorong.Petugas mendengus. “Kami tidak menolak pasien, Bu. Tapi ada prosedur yang harus dipatuhi.”“Kalau ada uang, saya bayar!” Nadya membalas cepat.







