Beranda / Urban / Menantu Kuli / VIII. Serpihan kapas

Share

VIII. Serpihan kapas

Penulis: Leva Lorich
last update Terakhir Diperbarui: 2025-01-04 09:16:36

Setelah mengantar Delia ke kampus, Willy langsung kembali ke rumah dan memulai tugas berikutnya, yaitu mencuci Mini Cooper biru milik Delia. Mobil kecil itu terasa lebih mudah ditangani dibanding SUV besar yang ia bersihkan tadi pagi. Entah karena ukurannya yang mungil atau karena Willy mulai terbiasa dengan standar ketat yang diajarkan Mira, ia menyelesaikan tugasnya jauh lebih cepat dari yang ia perkirakan.

Mobil Delia kini berkilau sempurna, bahkan lebih bersih dari ketika ia melihatnya pertama kali. Willy mengangguk puas sambil menyeka keringat di dahinya. Ia menyimpan peralatan cuci ke tempat semula, lalu kembali ke dalam rumah untuk beristirahat.

Namun, siang itu terasa begitu panas dan membosankan. Tidak ada tugas tambahan dari Mira atau Haldi, dan Willy mulai merasa tidak betah diam saja. Ia memutuskan untuk berjalan-jalan di taman belakang rumah.

---

Taman belakang keluarga Haldi adalah tempat yang menakjubkan. Penuh dengan pohon buah-buahan seperti mangga, jambu, rambutan, hingga durian, taman itu terlihat seperti versi kecil dari kebun raya kota. Pepohonan yang rimbun memberikan suasana teduh meskipun matahari sedang terik-teriknya. Willy menghirup udara segar sambil melangkah santai, merasa lebih rileks.

"Ini seperti surga kecil," gumam Willy sambil memandangi area luas yang tertata rapi.

Namun, ketenangan itu tiba-tiba terganggu ketika sebuah mangga besar jatuh dari pohon di dekatnya. Mangga itu meluncur dengan kecepatan tinggi, hampir mengenai kepalanya.

Refleks, Willy melompat mundur dan mengayunkan tangan kanannya. Pukulan itu mengenai mangga yang sedang jatuh, menghancurkannya menjadi serpihan sebelum menyentuh tanah. Willy berdiri terpaku, menatap tangan dan sisa buah yang bertebaran di tanah.

"Apa barusan?" bisiknya, bingung.

---

Willy teringat pada perasaan aneh yang beberapa hari terakhir ini muncul di tubuhnya. Ia sering mendapati dirinya melakukan gerakan yang seolah-olah dipandu oleh naluri. Kecepatan dan kekuatan tubuhnya seperti meningkat, meskipun ia tidak pernah melakukan latihan khusus.

Iseng, Willy mencoba meniru gerakan yang tadi dilakukannya. Ia mengayunkan tangan, menendang udara, dan bergerak seperti sedang mempraktikkan beladiri. Hasilnya membuatnya tercengang.

Gerakan-gerakannya terasa begitu alami, seolah tubuhnya sudah terlatih selama bertahun-tahun. Willy berhenti sejenak, merenungkan apa yang sebenarnya terjadi padanya.

"Padahal aku tidak pernah belajar beladiri," pikirnya sambil memandangi tangannya sendiri.

Rasa penasaran mendorong Willy untuk mencoba lebih jauh. Ia mulai mencari tantangan kecil di sekitarnya. Sebuah batu besar di sudut taman menarik perhatiannya. Willy mendekat, merasakan permukaan batu yang keras dan kasar.

"Apakah aku bisa menghancurkan ini?" tanyanya pada diri sendiri.

Dengan sedikit ragu, Willy menarik napas dalam, mengepalkan tangan, lalu mengayunkan pukulannya ke arah batu itu. Suara keras terdengar, dan batu itu pecah menjadi beberapa bagian. Willy terdiam, matanya melebar.

"Apa-apaan ini?" bisiknya lagi, kali ini dengan nada lebih bingung.

Namun, rasa ingin tahunya belum terpuaskan. Willy mulai membuat tantangan-tantangan lain untuk menguji batas kemampuannya. Ia mencoba melompat ke dahan pohon yang tinggi, dan berhasil melakukannya dengan mudah. Ia meninju tanah keras hingga menciptakan lubang kecil. Semua itu ia lakukan tanpa merasa lelah atau kesakitan.

Setelah beberapa percobaan, Willy duduk di bawah pohon, mencoba memahami apa yang baru saja terjadi.

"Kenapa aku bisa melakukan semua ini? Dari mana datangnya kekuatan ini?" pikirnya sambil memandang kedua tangannya.

Keringat mengalir di dahinya, bukan karena lelah, tetapi karena bingung. Willy tahu bahwa ada sesuatu yang berubah dalam dirinya, sesuatu yang tidak wajar. Namun, ia tidak tahu harus berbuat apa dengan kekuatan ini atau apa yang akan terjadi selanjutnya.

---

Setelah puas mencoba berbagai gerakan aneh di taman belakang, Willy kembali ke rumah keluarga Haldi. Ia berjalan dengan langkah ringan, tidak merasa lelah meskipun sudah melakukan hal-hal yang cukup menguras tenaga. Ada perasaan aneh dalam tubuhnya, staminanya terasa meningkat, dan rasa capek seperti menghilang begitu saja.

Begitu masuk ke halaman samping rumah, pandangan Willy tertuju ke garasi yang tadi pagi ia gunakan untuk mencuci SUV keluarga. Ia teringat pesan Haldi beberapa hari lalu, "Jangan pernah menganggur, Willy. Kalau tidak ada tugas, cari sesuatu yang bisa kamu kerjakan."

Willy merasa pesan itu sangat masuk akal. Selain membuatnya tetap sibuk, inisiatif seperti ini juga bisa meningkatkan kepercayaan keluarga Haldi terhadap dirinya.

“Baiklah, garasi ini perlu dirapikan,” gumam Willy sambil melangkah mendekat.

Garasi itu besar, cukup untuk menampung lima mobil sekaligus. Di sudut-sudutnya terdapat tumpukan alat-alat bengkel, ban cadangan, dan beberapa kotak yang berisi perlengkapan lain. Willy memutuskan untuk membersihkan area itu terlebih dahulu.

Ia mulai dengan menyapu lantai, mengelap rak-rak besi, lalu mengatur ulang alat-alat yang berserakan. Semua itu ia lakukan dengan cekatan dan tanpa merasa lelah. Bahkan, ia merasa energinya semakin bertambah seiring dengan berjalannya waktu.

"Apa ini efek dari latihan tadi?" pikir Willy, sambil menyeka peluh di dahinya.

Dalam waktu kurang dari satu jam, garasi itu terlihat jauh lebih rapi. Willy merasa puas dengan hasilnya dan kembali merenungkan kondisi fisiknya yang tiba-tiba berubah drastis. Namun, sebelum ia sempat berpikir lebih jauh, suara panggilan dari arah dapur mengejutkannya.

"Willy! Ayo makan siang dulu, Nak!"

Willy menoleh dan melihat Bu Din, kepala asisten rumah tangga, melambai dari pintu dapur. Wanita paruh baya itu adalah sosok yang ramah, tapi juga tegas dalam menjalankan tugasnya. Willy segera meletakkan kain lap yang ia gunakan dan berjalan mendekat.

---

Di ruang makan para asisten rumah tangga, aroma masakan sederhana namun lezat memenuhi udara. Di meja makan, sudah tersaji sepiring nasi, semangkuk sayur, ikan yang wangi, dan segelas air es. Willy duduk di salah satu kursi sambil mengucapkan terima kasih kepada Bu Din.

"Makannya yang banyak, Willy. Kamu kerja dari pagi, pasti lapar," kata Bu Din sambil duduk di kursi seberang.

"Terima kasih, Bu Din," jawab Willy sambil mulai menyendok nasi ke piringnya.

Suasana makan siang itu terasa santai. Bu Din, seperti biasa, tidak bisa menahan diri untuk mengobrol. Kali ini, ia menatap Willy dengan senyum menggoda.

"Willy, aku lihat tadi pagi kamu mengantar Nona Delia ke kampus, ya?" tanyanya dengan nada bercanda.

"Iya, Bu," jawab Willy sambil tetap makan.

"Ah, Nona Delia memang ramah orangnya. Tapi hati-hati, Willy," kata Bu Din sambil menunjuk dengan sendok.

"Hati-hati kenapa, Bu?" tanya Willy sambil mengangkat alis.

Bu Din tertawa kecil. "Jangan sampai kamu tergoda, Nak. Itu anak majikan kita. Cantik, ramah, iya. Tapi tetap saja, dia itu dari keluarga kaya. Kita ini hanya serpihan kapas, bukan kelas mereka."

Willy terdiam sejenak, mencerna kata-kata Bu Din. Ia tahu wanita itu tidak bermaksud jahat, hanya mencoba mengingatkan.

"Saya tahu, Bu. Saya hanya bekerja di sini," jawab Willy akhirnya, mencoba bersikap tenang.

"Bagus kalau kamu sadar. Kadang, yang muda-muda ini gampang terlena. Nona Delia memang baik, tapi jangan sampai lupa diri," kata Bu Din lagi, kali ini dengan nada lebih serius.

Willy mengangguk sambil melanjutkan makannya. Dalam hati, ia tidak bisa mengabaikan rasa kagum yang ia rasakan pada Delia. Gadis itu memang berbeda, bukan hanya karena kecantikannya, tetapi juga sikapnya yang ramah dan hangat. Namun, Willy sadar betul bahwa ia hanyalah seorang karyawan di rumah ini.

Setelah makan siang selesai, Willy mengucapkan terima kasih lagi kepada Bu Din dan membantu membereskan meja makan. Sambil mencuci piring, ia merenungkan ucapannya.

"Aku harus tetap fokus pada pekerjaanku. Ini semua hanya kekaguman biasa," pikirnya, meskipun jauh di lubuk hatinya, ia tahu perasaan itu mungkin lebih dari sekedar kagum.

Tiba-tiba Willy terpikir sesuatu, "Tapi bagaimana kalau aku benar-benar jatuh cinta?"

###

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Menantu Kuli   L. Berdiri Di Puncak

    Gedung pencakar langit Rumah Sakit Golden Healthy berdiri dengan megahnya di pusat Kota Arsaka, memantulkan cahaya matahari pagi pada dinding kacanya yang berkilauan. Pagi ini, suasana di lobi utama tampak jauh lebih sibuk dan tegang dibandingkan hari-hari biasanya. Barisan dokter spesialis, perawat dengan seragam putih bersih, hingga jajaran direksi berpakaian formal telah berdiri rapi membentuk pagar ayu yang panjang. Mereka semua sedang menunggu kedatangan sosok misterius yang menurut kabar hukum terbaru telah menjadi pemilik tunggal sekaligus Direktur Utama mereka yang baru. Tidak ada satu pun dari mereka yang menyangka bahwa sosok yang akan muncul adalah pemuda yang selama ini dianggap tidak memiliki pengaruh apa pun di kota tersebut.Iring-iringan mobil mewah berwarna hitam mengkilap perlahan memasuki pelataran gedung. Mobil paling depan berhenti tepat di depan pintu lobi, dan seorang pengawal dengan sigap membukakan pintu belakang. Willy melangkah keluar dengan setelan jas c

  • Menantu Kuli   XLIX. Lonjakan Drastis

    Pandangan Ben Dino seketika beralih sepenuhnya ke arah Willy, meninggalkan koran yang tadi ia baca di samping meja. "Katakanlah, Nak. Kami semua mendengarkan. Apakah ini mengenai masalah rumah tangga kalian, atau ada hal lain yang mendesak?" tanya Ben Dino dengan sorot mata yang penuh perhatian."Ini bukan soal masalah rumah tangga, Ayah. Ini adalah sesuatu yang berkaitan dengan masa depanku dan juga kejutan yang baru saja aku terima kemarin," jawab Willy sambil menatap mata ayah angkatnya dengan penuh ketegasan."Kelihatannya sangat serius. Apakah kau sedang butuh modal bisnis atau semacamnya?" tanya Sano sambil menyandarkan punggungnya ke kursi, tampak tertarik dengan pembukaan Willy yang tidak biasa."Bukan modal, Kak. Ini jauh lebih besar dari itu. Aku sendiri pun masih merasa seperti di dalam mimpi saat pertama kali mengetahuinya," sahut Willy sambil melirik Delia sejenak untuk mencari kekuatan tambahan."Kalau begitu, ceritakanlah sekarang agar kami tidak mati penasaran. Apa yan

  • Menantu Kuli   XLVIII. Sarapan Harmonis

    Cahaya matahari pagi menyelinap masuk melalui celah-celah tirai besar di kamar utama, memantulkan binar keemasan pada lantai marmer yang bersih. Willy terbangun dengan perasaan yang jauh lebih ringan dibandingkan malam sebelumnya, seolah beban berat yang sempat menghimpit dadanya telah luruh bersama keringat dan pergumulan hangat bersama Delia. Ia menoleh ke samping, mendapati istrinya sedang merapikan rambut di depan cermin besar setelah mereka berdua selesai mandi bersama untuk membersihkan sisa-sisa kelelahan tadi malam. Ritual mandi pagi itu tidak hanya menyegarkan fisik mereka, tetapi juga semakin mempererat ikatan batin yang sempat tegang karena tekanan rahasia dari sistem cahaya."Apakah kau sudah merasa lebih siap untuk menghadapi Ayah pagi ini?" tanya Delia sambil memulas sedikit lipstik di bibirnya yang ranum.Willy mengangguk mantap sambil mengenakan kemeja santai namun tetap terlihat rapi dan berwibawa. "Berkat ide cemerlangmu semalam, aku merasa jauh lebih percaya diri

  • Menantu Kuli   XLVII. Solusi Delia

    Willy menatap istrinya dengan pandangan yang berusaha terlihat setegar mungkin, meskipun di dalam hatinya ia merasa sangat berdebar karena harus mempertahankan kebohongan besar ini. Ia menghela napas panjang sebelum akhirnya kembali membuka suara dengan nada yang sangat serius."Entah itu terdengar sangat aneh di telingamu atau sama sekali tidak masuk akal bagi logika siapa pun, kenyataannya memang sudah seperti itu adanya, Delia," ujar Willy sambil menatap lekat kedua mata istrinya.Ia menjelaskan bahwa segala bentuk administrasi dan pembuktian hukum sudah berada di tangannya tanpa ada satu pun celah yang bisa diperdebatkan lagi oleh pihak mana pun."Aku tidak sedang mengigau atau mencoba menciptakan lelucon yang tidak masuk akal di malam hari ini. Aku benar-benar pemilik sah Golden Healthy sekarang," tambah Willy dengan nada suara yang sedikit lebih rendah namun sangat menekan.Delia terdiam selama beberapa saat, mencoba mencerna intensitas yang terpancar dari raut wajah suaminya ya

  • Menantu Kuli   XLVI. Pembicaraan Serius

    MOHON MAAF KEPADA SEMUA PEMBACA KARENA SELAMA INI PENULIS VAKUM. TAPI, MULAI HARI INI CERITA AKAN KEMBALI DILANJUTKAN. Langkah kaki Willy terasa berat saat ia menyusuri jalan setapak di taman belakang kediaman mewah milik Ben Dino. Udara malam yang dingin menyapu permukaan kulitnya, namun tidak mampu mendinginkan gejolak pikiran yang sedang melanda. Di dalam kepalanya, sistem cahaya yang bersemayam dalam tubuhnya seolah terus berdenyut, mengingatkan Willy bahwa ia kini bukan lagi sekadar pemuda biasa yang menumpang di rumah orang kaya. Secara hukum dan administratif, ia telah menjadi pemilik tunggal dari Rumah Sakit Golden Healthy, sebuah institusi medis papan atas yang namanya sangat disegani di Kota Arsaka. Namun, kekayaan dan kekuasaan yang datang secara instan itu justru membawa beban moral yang besar. 'Bagaimana mungkin aku menjelaskan hal ini kepada ayah yang telah memberikan segalanya, tanpa membocorkan rahasia tentang sistem yang menjadi sumber kekuatanku?' gumam

  • Menantu Kuli   XLV. Harta Karun

    Bab XLV: Harta KarunWilly menaiki ojek motor dengan cepat, menuju rumah warga tempat mobilnya dititipkan. Sambil menikmati hembusan angin sore yang menyapu wajahnya, ia merasa puas dengan kejadian sore tadi. Willy tak sabar ingin segera menceritakan perkelahiannya dengan anak buah Tomey kepada Delia. Ia ingin istrinya tahu bahwa pria yang selama ini mendekatinya, ternyata tak lebih dari sekedar pengecut yang hanya berani bertindak ketika memiliki banyak anak buah di sisinya.Setelah mengambil mobilnya, Willy meluncur di tengah kemacetan kota Arsaka. Langit sudah mulai gelap dan jalanan padat dengan kendaraan yang berdesakan. Ia menyalakan lampu hazard saat laju kendaraan benar-benar melambat. Tak seberapa lama waktu berjalan, ponselnya bergetar di dashboard, itu adalah panggilan masuk dari Ben Dino."Halo, Ayah?" Willy menjawab panggilan sambil tetap fokus pada lalu lintas."Nak, kamu ada di mana? Malam ini Ayah ingin mengajakmu menjenguk seorang teman lama yang sedang sakit. Ayah s

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status