LOGINSebelum membersihkan diri, Willy memutuskan untuk menemui Haldi, kepala keluarga yang memiliki aura tenang namun tegas. Willy tahu bahwa bekerja di rumah ini membutuhkan kedisiplinan dan transparansi. Permintaan Delia tadi membuatnya sadar bahwa setiap keputusan, sekecil apa pun, sebaiknya disampaikan kepada Haldi agar tidak timbul masalah di kemudian hari.
Willy berjalan menuju ruang kerja Haldi, ruangan besar dengan jendela besar yang menghadap taman. Ia mengetuk pintu pelan. "Masuk," terdengar suara berat dari dalam. Willy membuka pintu perlahan dan melangkah masuk. Haldi sedang duduk di meja kayu besar, mengenakan kemeja putih dan celana panjang gelap. Di depannya, ada beberapa dokumen yang sedang diperiksa. "Selamat pagi, Pak Haldi," sapa Willy dengan sopan. Haldi mengangkat wajahnya dan tersenyum kecil. "Pagi, Willy. Ada apa?" "Begini, Pak," Willy mulai berbicara, meskipun ada sedikit gugup di nada suaranya. "Baru saja Nona Delia meminta saya untuk mengantarnya ke kampus jam delapan menggunakan mobilnya. Setelah itu, saya diminta mencuci mobilnya dan menjemputnya lagi sore nanti." Haldi menatap Willy dengan pandangan yang sulit ditebak. Setelah beberapa detik, ia mengangguk. "Baik. Saya senang kamu melapor. Itu hal yang tepat untuk dilakukan." Willy menghela napas lega. "Terima kasih, Pak. Saya hanya ingin memastikan semuanya sesuai aturan." "Itu bagus," kata Haldi sambil bersandar di kursinya. "Didikan Mira mungkin terasa keras, tapi ada tujuannya. Kalau kamu terus belajar, kamu akan menemukan ritme yang pas di rumah ini." Willy mengangguk mantap. "Saya akan berusaha, Pak." Haldi tersenyum kecil. "Kalau begitu, siapkan dirimu. Ini tugas pertama yang cukup besar. Pastikan Delia merasa nyaman selama perjalanan." "Baik, Pak." Willy pamit dan menutup pintu ruang kerja dengan hati yang lebih tenang. --- Setelah melapor, Willy kembali ke kamarnya untuk membersihkan diri. Ia mandi dengan cepat, mencoba menghilangkan rasa lelah dari pekerjaan pagi tadi. Air dingin yang menyentuh kulitnya memberikan kesegaran, meskipun pikirannya masih dipenuhi kekhawatiran tentang tugasnya mengantar Delia. Selesai mandi, Willy mengenakan pakaian bersih, kaos putih sederhana dan celana jeans biru gelap. Ia ingin tampil rapi namun tetap nyaman. Ketika ia keluar dari kamarnya, aroma masakan yang sedap langsung menyambutnya. Di meja dapur, sudah tersedia nasi goreng dengan telur mata sapi di atasnya, ditemani segelas teh hangat. "Nak, sarapan dulu sebelum bekerja. Kamu harus membiasakan teratur makan agar kerjanya tidak keteteran," ucap Bu Din, kepala asisten rumah tangga. "Terimakasih, Bu Din. Ibu sudah makan?" tanya Willy basa-basi. Bu Din mengangguk, "Sudah semua. Majikan sudah, para asisten rumah tangga juga sudah. Hanya tinggal kamu yang belum," Willy duduk dengan tenang dan mulai makan. Sarapan sederhana itu terasa lebih nikmat setelah pagi yang penuh tekanan. "Setidaknya, aku punya energi untuk menjalani hari ini," pikir Willy sambil menyeruput teh. --- Jam menunjukkan pukul delapan kurang sepuluh menit ketika Willy selesai makan. Ia segera menuju halaman depan untuk bersiap. Mini Cooper biru milik Delia sudah terparkir rapi di dekat taman. Mobil itu terlihat manis namun elegan, dengan bodi yang berkilau seakan baru keluar dari showroom. Willy menatap mobil itu dengan sedikit rasa kagum. Ia membuka pintu mobil, memeriksa bagian dalamnya untuk memastikan semuanya dalam keadaan rapi dan bersih. Jok kulit putih dan dashboard minimalis memberikan kesan mewah tanpa berlebihan. Willy duduk di kursi pengemudi sebentar, merasakan kenyamanan mobil itu. "Mobil ini pasti favorit Delia," gumamnya sambil tersenyum kecil. Willy keluar dari mobil dan berdiri di sampingnya, menunggu Delia. Ia melirik jam tangan, mencoba memastikan semuanya sesuai jadwal. Pintu depan rumah terbuka, dan Delia muncul dengan penampilan yang memukau. Ia mengenakan blus putih dengan rok hitam selutut, ditambah tas selempang kecil yang tergantung di bahunya. Rambut panjangnya dibiarkan tergerai, dan wajahnya tampak segar dengan riasan tipis yang mempertegas kecantikannya. Willy hanya bisa menatapnya beberapa detik, merasa jantungnya berdebar lebih cepat. Ia segera menundukkan kepala untuk menyembunyikan rasa gugup. Delia berjalan mendekat dengan langkah ringan. "Sudah siap, Willy?" tanyanya dengan senyum ceria. "Sudah, Delia," jawab Willy sambil membuka pintu mobil untuknya. "Terima kasih," kata Delia sambil masuk ke mobil. Ia duduk di kursi penumpang depan dan meletakkan tasnya di pangkuan. Willy menutup pintu dengan hati-hati sebelum masuk ke kursi pengemudi. Ia menghidupkan mesin, dan suara lembut mobil itu terdengar. "Ke kampus, ya?" tanya Willy memastikan. Delia mengangguk. "Iya, kampusku ada di jalan utama. Aku yakin kamu tahu rutenya." "Baik," kata Willy sambil memasukkan gigi dan mulai melajukan mobil. --- Perjalanan menuju kampus terasa cukup tenang, meskipun Willy masih merasa gugup. Sesekali, Delia mengajaknya bicara, membahas hal-hal ringan seperti cuaca dan keadaan jalan. Percakapan itu membantu Willy sedikit lebih rileks. "Aku suka cara kamu mengemudi, Willy. Tenang tapi pasti," komentar Delia sambil tersenyum. "Terima kasih, Delia. Saya hanya berusaha memastikan perjalananmu nyaman," jawab Willy dengan nada rendah hati. Delia tertawa kecil. "Kamu ini sopan sekali. Tidak seperti beberapa sopir yang pernah kami punya." Willy hanya tersenyum, meskipun di dalam hatinya ia merasa bangga mendapat pujian. "Oya, bukankah ada driver yang namanya Pak Deny, kan?" Willy mencoba mengingat apa yang disampaikan Bu Din kemarin. Delia mengiyakan, "Tapi itu sopir, Ayah atau Ibu. Untuk anak-anaknya, tidak ada jatah sopir pribadi. Untungnya kamu melamar kerja di saat yang tepat," Willy berasa senang bisa membuat Delia terbantu, tapi benaknya masih berpikir, "Tugas saya sebenarnya adalah kuli tetap. Membantu bagian lain jika dalam waktu senggang, atau ada permintaan khusus," Delia tak mempedulikan itu. Dengan santai berkata, "Dan ini adalah permintaan khusus." --- Ketika mereka tiba di kampus, Delia memberikan arahan ke tempat parkir. Mobil berhenti dengan mulus di depan gedung utama. "Terima kasih, Willy," kata Delia sambil membuka pintu. "Sama-sama, Delia. Saya akan mencuci mobil ini seperti yang kamu minta," kata Willy sambil keluar dari mobil untuk membukakan pintu bagasi. Delia mengambil tas kuliah dari bagasi dan kembali tersenyum. "Kamu benar-benar bisa diandalkan, ya." Willy hanya mengangguk sambil menahan rasa canggung. "Sampai nanti sore, ya. Jangan lupa jemput aku tepat waktu," kata Delia sebelum melambaikan tangan dan berjalan masuk ke gedung kampus. Willy menatap punggung Delia yang perlahan menghilang di keramaian mahasiswa. Jantungnya kembali berdetak lebih cepat. Ada sesuatu tentang Delia yang sulit dijelaskan, yakni kehangatan, keceriaan, atau mungkin kecantikannya yang membuat Willy merasa gugup sekaligus bersemangat. Sambil menghela napas, Willy menghidupkan mesin mobil dan bersiap kembali ke rumah untuk melanjutkan tugas berikutnya, mencuci mobil Delia. "Semoga saja saat mencuci nanti Nyonya Mira sudah berangkat," gumam Willy dengan wajah risau. ###Gedung pencakar langit Rumah Sakit Golden Healthy berdiri dengan megahnya di pusat Kota Arsaka, memantulkan cahaya matahari pagi pada dinding kacanya yang berkilauan. Pagi ini, suasana di lobi utama tampak jauh lebih sibuk dan tegang dibandingkan hari-hari biasanya. Barisan dokter spesialis, perawat dengan seragam putih bersih, hingga jajaran direksi berpakaian formal telah berdiri rapi membentuk pagar ayu yang panjang. Mereka semua sedang menunggu kedatangan sosok misterius yang menurut kabar hukum terbaru telah menjadi pemilik tunggal sekaligus Direktur Utama mereka yang baru. Tidak ada satu pun dari mereka yang menyangka bahwa sosok yang akan muncul adalah pemuda yang selama ini dianggap tidak memiliki pengaruh apa pun di kota tersebut.Iring-iringan mobil mewah berwarna hitam mengkilap perlahan memasuki pelataran gedung. Mobil paling depan berhenti tepat di depan pintu lobi, dan seorang pengawal dengan sigap membukakan pintu belakang. Willy melangkah keluar dengan setelan jas c
Pandangan Ben Dino seketika beralih sepenuhnya ke arah Willy, meninggalkan koran yang tadi ia baca di samping meja. "Katakanlah, Nak. Kami semua mendengarkan. Apakah ini mengenai masalah rumah tangga kalian, atau ada hal lain yang mendesak?" tanya Ben Dino dengan sorot mata yang penuh perhatian."Ini bukan soal masalah rumah tangga, Ayah. Ini adalah sesuatu yang berkaitan dengan masa depanku dan juga kejutan yang baru saja aku terima kemarin," jawab Willy sambil menatap mata ayah angkatnya dengan penuh ketegasan."Kelihatannya sangat serius. Apakah kau sedang butuh modal bisnis atau semacamnya?" tanya Sano sambil menyandarkan punggungnya ke kursi, tampak tertarik dengan pembukaan Willy yang tidak biasa."Bukan modal, Kak. Ini jauh lebih besar dari itu. Aku sendiri pun masih merasa seperti di dalam mimpi saat pertama kali mengetahuinya," sahut Willy sambil melirik Delia sejenak untuk mencari kekuatan tambahan."Kalau begitu, ceritakanlah sekarang agar kami tidak mati penasaran. Apa yan
Cahaya matahari pagi menyelinap masuk melalui celah-celah tirai besar di kamar utama, memantulkan binar keemasan pada lantai marmer yang bersih. Willy terbangun dengan perasaan yang jauh lebih ringan dibandingkan malam sebelumnya, seolah beban berat yang sempat menghimpit dadanya telah luruh bersama keringat dan pergumulan hangat bersama Delia. Ia menoleh ke samping, mendapati istrinya sedang merapikan rambut di depan cermin besar setelah mereka berdua selesai mandi bersama untuk membersihkan sisa-sisa kelelahan tadi malam. Ritual mandi pagi itu tidak hanya menyegarkan fisik mereka, tetapi juga semakin mempererat ikatan batin yang sempat tegang karena tekanan rahasia dari sistem cahaya."Apakah kau sudah merasa lebih siap untuk menghadapi Ayah pagi ini?" tanya Delia sambil memulas sedikit lipstik di bibirnya yang ranum.Willy mengangguk mantap sambil mengenakan kemeja santai namun tetap terlihat rapi dan berwibawa. "Berkat ide cemerlangmu semalam, aku merasa jauh lebih percaya diri
Willy menatap istrinya dengan pandangan yang berusaha terlihat setegar mungkin, meskipun di dalam hatinya ia merasa sangat berdebar karena harus mempertahankan kebohongan besar ini. Ia menghela napas panjang sebelum akhirnya kembali membuka suara dengan nada yang sangat serius."Entah itu terdengar sangat aneh di telingamu atau sama sekali tidak masuk akal bagi logika siapa pun, kenyataannya memang sudah seperti itu adanya, Delia," ujar Willy sambil menatap lekat kedua mata istrinya.Ia menjelaskan bahwa segala bentuk administrasi dan pembuktian hukum sudah berada di tangannya tanpa ada satu pun celah yang bisa diperdebatkan lagi oleh pihak mana pun."Aku tidak sedang mengigau atau mencoba menciptakan lelucon yang tidak masuk akal di malam hari ini. Aku benar-benar pemilik sah Golden Healthy sekarang," tambah Willy dengan nada suara yang sedikit lebih rendah namun sangat menekan.Delia terdiam selama beberapa saat, mencoba mencerna intensitas yang terpancar dari raut wajah suaminya ya
MOHON MAAF KEPADA SEMUA PEMBACA KARENA SELAMA INI PENULIS VAKUM. TAPI, MULAI HARI INI CERITA AKAN KEMBALI DILANJUTKAN. Langkah kaki Willy terasa berat saat ia menyusuri jalan setapak di taman belakang kediaman mewah milik Ben Dino. Udara malam yang dingin menyapu permukaan kulitnya, namun tidak mampu mendinginkan gejolak pikiran yang sedang melanda. Di dalam kepalanya, sistem cahaya yang bersemayam dalam tubuhnya seolah terus berdenyut, mengingatkan Willy bahwa ia kini bukan lagi sekadar pemuda biasa yang menumpang di rumah orang kaya. Secara hukum dan administratif, ia telah menjadi pemilik tunggal dari Rumah Sakit Golden Healthy, sebuah institusi medis papan atas yang namanya sangat disegani di Kota Arsaka. Namun, kekayaan dan kekuasaan yang datang secara instan itu justru membawa beban moral yang besar. 'Bagaimana mungkin aku menjelaskan hal ini kepada ayah yang telah memberikan segalanya, tanpa membocorkan rahasia tentang sistem yang menjadi sumber kekuatanku?' gumam
Bab XLV: Harta KarunWilly menaiki ojek motor dengan cepat, menuju rumah warga tempat mobilnya dititipkan. Sambil menikmati hembusan angin sore yang menyapu wajahnya, ia merasa puas dengan kejadian sore tadi. Willy tak sabar ingin segera menceritakan perkelahiannya dengan anak buah Tomey kepada Delia. Ia ingin istrinya tahu bahwa pria yang selama ini mendekatinya, ternyata tak lebih dari sekedar pengecut yang hanya berani bertindak ketika memiliki banyak anak buah di sisinya.Setelah mengambil mobilnya, Willy meluncur di tengah kemacetan kota Arsaka. Langit sudah mulai gelap dan jalanan padat dengan kendaraan yang berdesakan. Ia menyalakan lampu hazard saat laju kendaraan benar-benar melambat. Tak seberapa lama waktu berjalan, ponselnya bergetar di dashboard, itu adalah panggilan masuk dari Ben Dino."Halo, Ayah?" Willy menjawab panggilan sambil tetap fokus pada lalu lintas."Nak, kamu ada di mana? Malam ini Ayah ingin mengajakmu menjenguk seorang teman lama yang sedang sakit. Ayah s







