MasukMelihat jasad Ellias dengan mata membelalak dan ekspresi tidak terima itu, semua orang di tempat tersebut pun tercengang. Mereka merasakan hawa dingin menjalar dari telapak kaki mereka menuju ke kepala mereka, merasakan sekujur tubuh mereka dingin.Ellias yang detik sebelumnya masih hidup dan bugar itu, dihabisi begitu saja oleh Ardika dengan menggunakan satu tangan.Perilaku menggila yang ditunjukkan Ardika pada saat ini, serta sikap tegasnya saat menghabisi Ellias tadi bagaikan sebilah pedang tajam yang langsung menusuk ke dalam hati semua orang."Ahhh ... putraku!"Setelah tercengang sejenak, akhirnya Lizzie bereaksi kembali.Dengan ekspresi pucat pasi, dia langsung menerjang ke arah jasad putranya.Sambil memeluk jasad Ellias dan menggoyangkannya beberapa kali, melihat putranya yang sudah tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan itu, bagaikan tersambar petir tubuhnya langsung gemetaran, lalu terduduk di lantai.Tidak perlu diragukan lagi, adalah salah satu hal yang menyedihkan bagi
"Ellias, apa sekarang kamu masih mau menuduh Kak Ardika?!"Melihat Ellias sudah mulai terlihat takut, Cahdani langsung maju dan berseru dengan tajam, ingin memanfaatkan kesempatan ini untuk memaksa pria itu mengaku."Plak ...."Tepat pada saat ini, Lizzie tiba-tiba muncul di hadapan putranya, lalu melayangkan satu tamparan keras ke wajah Cahdani.Cahdani yang sedang lengah pun tidak sempat menghindari tamparan tersebut.Kuku-kuku panjang dan tajamnya langsung meninggalkan dua bekas goresan di wajah Cahdani.Tidak ada yang menyangka Lizzie akan tiba-tiba menyerang Cahdani, tetapi reaksinya itu juga telah membuktikan ucapan Cahdani memang benar.Ellias memang sengaja menuduh Ardika.Hanya saja, kebanyakan orang di tempat itu memang menjalin hubungan dengan Keluarga Sirwanto, sedangkan sisanya juga hanya ingin berperan sebagai penonton di sana, jadi tentu saja mereka tidak akan menyebutkan pelaku yang sesungguhnya."Cahdani, jangan banyak bicara omong kosong!"Lizzie berseru dengan tajam,
Saat ini, Cahdani terpaksa menyebutkan martabat Organisasi Snakei untuk menekan semua orang."Pak Cahdani, jangan coba-coba menuduh di sini!"Lizzie berkata dengan dingin, "Sebaiknya kamu lihat dengan jelas, siapa yang terlebih dulu nggak menganggap serius martabat Organisasi Snakei!""Itu Ardika!""Jelas-jelas dia tahu Pak Kirbi, pemimpin Aula Hukum cabang Gotawa berada di Gedung Glori, dia malah masih berani mencoba untuk membunuh putraku untuk membungkam putraku tepat di bawah pengawasan Pak Kirbi.""Apa dia punya sedikit pun kesadaran untuk menganggap serius martabat Organisasi Snakei?""Pak Cahdani, konyolnya kamu masih melindungi bajingan yang bertindak semena-mena ini! Menurutku, mungkin kamu sebagai wakil ketua cabang Provinsi Denpapan sudah lupa diri!"Saat masih muda, Lizzie sudah terbiasa berdebat dengan orang. Bagaimana mungkin dia bisa takut hanya karena beberapa patah kata dari Cahdani itu?Begitu dia membuka mulut tajamnya itu, dia langsung melontarkan tuduhan-tuduhan te
"Benar-benar arogan dan semena-mena.""Apa dia benar-benar mengira karena sudah ada Jace sebagai pendukungnya, dia sudah bisa bertindak sesuka hatinya di ibu kota provinsi? Bahkan Jace sendiri juga nggak berani searogan itu, bukan?""Awalnya aku mengira hari ini bocah ini datang untuk memohon pengampunan dari Keluarga Sirwanto, sekarang sepertinya dia ingin melawan Keluarga Sirwanto hingga akhir!""Kalau aku adalah Pak Kirbi, aku pasti menampar mati dia dengan satu tamparan ...."Mendengar kebanyakan orang melontarkan kata-kata kasar dan makian terhadap Ardika, seulas senyum dingin bangga menghiasi wajah Ellias.Sejak Ardika memukulinya saat di mal, orang ini sudah ditakdirkan akan dipermainkan olehnya sampai mati.Dan, mempermainkan Ardika hingga mati hanyalah permulaan.Clara dan istri cantik Ardika itu, akan menjadi mainannya!Menghadapi tuduhan-tuduhan itu, Ardika sama sekali tidak mengambil tindakan untuk menyangkalnya, dia bahkan menghentikan Cahdani untuk menyangkalnya.Sangat j
Fitur wajah wanita paruh baya cantik ini ada kemiripan dengan Ellias. Saat ini, dia memasang ekspresi muram, sorot matanya tampak panik.Orang ini tidak lain adalah istri yang lebih muda belasan tahun dari Jemi, ibu kandung Ellias, Lizzie.Ardika melirik sekelompok orang itu, tetapi dia tidak menemukan sosok bayangan Jemi.Lizzie segera berjalan memasuki kerumunan orang-orang itu. Saat dia melihat Jemi yang terjatuh dalam posisi miring di lantai dengan sekujur tubuh berlumuran darah, dan Ardika yang menempatkan kedua tangannya di punggungnya seakan-akan semua ini tidak ada hubungannya dengan dirinya, raut wajah Lizzie langsung berubah menjadi sangat muram."Ada apa, Ellias?""Kenapa kepalamu berdarah lagi? Siapa yang memukuli hidungmu?"Dia langsung berteriak dengan marah, "Siapa yang memukuli putraku? Cepat keluar!""Ibu, cepat tolong aku ...."Melihat ibunya sudah muncul, Ellias berteriak dengan makin bersemangat, "Ardika yang memukulku!""Setelah dia tahu keluarga kita mengadu pada
Di antara kerumunan orang-orang ini, ada pria dan juga wanita. Mereka berbicara dengan logat yang berbeda-beda, kelihatan seperti pengunjung yang memang datang untuk melihat pesona tempat ini.Melihat sudah ada orang yang datang, Ellias kembali berteriak sambil terisak, "Pembunuhan! Ardika mau melakukan pembunuhan! Ahhh! Sakit sekali!""Apa di matamu masih ada hukum? Apa di matamu masih ada Pak Kirbi?""Ardika, apa yang telah kulakukan hingga kamu memperlakukanku seperti ini ...."Harus diakui bahwa tidak heran Ellias adalah orang yang menjalankan perusahaan hiburan. Kemampuan aktingnya memang bagus.Saat berteriak sambil terisak, dia bahkan mengusap-usap tubuhnya dengan sembarang. Tanpa butuh waktu lama, dia sudah terlihat berlumuran darah. Dia membuat dirinya sendiri terlihat makin menyedihkan lagi."Ellias, kamu benar-benar nggak tahu malu!"Melihat orang yang berkerumun makin banyak, Cahdani juga sudah mulai agak panik. Dia langsung melangkah maju dan menegur bocah tak tahu malu it







