Masuk"Yah, bukankah sudah kubilang? Memang kebetulan sekali."Divan tidak akan meminjamkan uang pada Alendo. Walaupun biasanya mereka cukup akrab, tetapi mereka sangat berhati-hati soal uang."Kenapa pemegang sahammu tiba-tiba mundur? Ini agak nggak normal, apa ada masalah?"Divan merasa ada yang aneh, jadi dia secara khusus menanyakan hal tersebut."Sebelumnya ada beberapa proyek yang tertahan, dia kira aku bermasalah. Yah, namanya juga memandang rendah orang."Alendo memanfaatkan kesempatan itu untuk mengutarakan kekesalannya.Divan bisa tahu jelas kalimat Alendo itu ditujukan pada dirinya. Walaupun dia merasa agak kesal, tetapi dia juga tahu identitas lawan bicaranya itu. Selama Alendo belum benar-benar hancur, semua orang tidak akan berani memusuhinya."Kalau begitu, memang agak sial, ya. Tapi aku benar-benar nggak punya uang lagi sekarang ini. Aku coba hubungi dulu. Bila perlu, aku akan membantumu menanyakan pada orang lain," kata Divan dengan sopan, membuat lawan bicara tidak bisa mel
Saking emosinya, Alendo membanting ponselnya.Dia mengira dengan mengirim Lucas ke sana, masalah ini sudah bisa terselesaikan, tetapi siapa sangka Muklis tetap berpegang teguh pada pendiriannya.Sementara itu, Lucas yang sedang berdiri di luar tidak tahu apakah dia harus masuk. Dia merasa agak ragu."Kenapa semuanya ada saja hambatan?"Alendo memukul tempat tidurnya dengan keras, dia tampak sangat marah. Dia tahu seharusnya dia menenangkan diri dan fokus pada pemulihannya. Namun sekarang semua masalah sudah datang, dia sama sekali tidak bisa tenang."Lucas, sudah kembali atau belum?"Alendo berteriak dengan marah. Tadi masih ada perawat yang datang untuk menanyainya, tetapi sudah dimakinya hingga keluar."Bos, aku sudah kembali."Lucas mengerti dia tidak bisa kabur, jadi dia hanya bisa mendorong pintu bangsal dan masuk ke dalam."Bos, tadi setelah aku tanyakan, aku baru tahu Pak Muklis sudah memperoleh informasi dari seseorang. Itulah sebabnya dia bersikeras mau mundur."Lucas takut di
Walaupun Lucas sudah menebak hal ini, tetapi saat mendengar informasi ini, dia tetap agak terkejut."Tentu saja situasinya bukan seperti itu. Kami hanya ingin tahu apakah ada yang berulah di belakang hingga membuat proyek-proyek itu bermasalah, juga demi membeli sebuah informasi."Lucas berusaha sebaik mungkin untuk memberikan penjelasan."Memangnya kenapa kalau begitu? Aku bebas menginvestasikan uangku pada siapa saja, tapi Keluarga Siantar benar-benar sudah menganggap remeh kami, tentu saja aku nggak setuju untuk melanjutkan kerja sama lagi."Kali ini Muklis sudah bertekad untuk tidak bekerja sama lagi. Apa pun yang mereka katakan, juga tidak ada gunanya.Hal yang lebih mengesalkan adalah, uang sebesar 180 miliar itu diambil dari dana proyek mereka. Orang yang satu itu benar-benar menganggap mereka sebagai orang bodoh."Sebenarnya hal ini bisa dijelaskan lagi. Pak Muklis nggak perlu marah karena hal ini. Itu hanya penggunaan dana untuk sementara waktu saja, kekurangan itu akan segera
"Memang ada sedikit masalah, tapi juga bukannya sangat merepotkan. Asalkan diubah sedikit, nggak lama lagi akan ada penghasilan. Sebenarnya hal seperti ini juga sulit dikatakan. Nggak ada yang tahu apa yang akan terjadi besok. Terlebih lagi, bisnis Keluarga Siantar selalu untung nggak pernah rugi."Lucas masih berusaha untuk membujuk lawan bicaranya. Dia juga sangat penasaran mengapa tekad Muklis dalam hal ini sangat kuat.Terlebih lagi, bagaimana Muklis bisa tahu soal proyek bermasalah? Mereka sudah memblokade informasi soal proyek bermasalah sejak awal, tidak akan ada orang luar yang tahu."Yah, seperti yang kamu katakan sendiri, nggak ada yang tahu apa yang akan terjadi besok. Jadi, kalian harus segera mentransfer uang itu padaku. Aku takut kalau ditunda-tunda akan terjadi sesuatu nggak terduga."Keputusan Muklis sudah bulat, tidak akan bisa dibujuk lagi.Lucas merasa sangat menyayangkan. Kali ini boleh dibilang dia juga sudah melihat ketetapan hati Muklis."Omong-omong, aku hanya b
"Sekarang Bos marah juga nggak ada gunanya. Bagaimana kalau kita pikirkan dulu cara lain?"Lucas yang berdiri di samping mengingatkan bosnya. Melihat bosnya yang sedang terluka masih harus memikirkan hal-hal itu, dia tahu memang tidak mudah bagi bosnya.Namun, pada dasarnya nyali mereka sendiri juga terlalu besar. Beberapa proyek dimulai pada saat bersamaan. Dulu ada Keluarga Siantar dan beberapa mitra bisnis yang menjadi penopang, tentu saja mereka bisa aman-aman saja.Akan tetapi, ibarat atap sudah bocor, hujan malah turun berhari-hari. Proyek mereka bermasalah, masih bisa mereka atasi. Namun, bermasalah pada saat bersamaan, membuat mereka tidak sanggup menanggung beban itu."Apa kamu pikir aku nggak ingin memikirkan cara? Tapi sekarang masalahnya adalah kita nggak berdaya."Sekarang Alendo sudah terluka, dia bahkan tidak bisa fokus pada pemulihannya dengan tenang. Di saat seperti ini, ada masalah baru lagi di perusahaan. Hal ini membuatnya makin marah dan kesal."Bagaimana kalau kit
"Dasar pecundang! Di mana para petarung itu? Hanya terima gaji buta saja?"Alendo merasa dirinya sudah melakukan persiapan matang, hanya saja dia tidak menyangka pergerakan Ardika begitu cepat, sama sekali tidak sempat memerintahkan para petarung itu untuk menyerang, bocah itu sudah menyerangnya."Saat aku membawamu ke rumah sakit, para petarung itu masih terletak di lantai yang dingin. Mereka semua sudah tumbang."Mengingat situasi seperti itu, ekspresi Lucas berubah menjadi makin muram.Untuk sesaat, dia juga tidak tahu apa yang harus dikatakannya!Kejadian seperti itu hanya dialami sekali saja sudah membekas dalam benak, mungkin seumur hidup ini dia tidak akan bisa melupakan lokasi yang mengerikan itu.Awalnya Alendo masih ingin menyalahkan para petarung tersebut, tetapi mendengar informasi ini juga membuatnya agak terkejut."Ardika hanya datang seorang diri, bagaimana dia bisa punya kemampuan seperti itu?"Alendo tetap sedikit tidak percaya, dia tidak percaya seseorang bisa sehebat
Sementara itu, di antara sekian banyaknya sekolah bela diri ini, tentu saja yang paling terkenal adalah sekolah bela diri di bawah naungan Organisasi Snakei cabang Provinsi Denpapan, Sekolah Bela Diri Sopran. Akan tetapi, sesungguhnya sekolah bela diri ini dikendalikan oleh Keluarga Gozali.Usai mem
Ardika berkata dengan acuh tak acuh, "Sudah kuselesaikan. Kelak, nggak akan terjadi hal-hal aneh lagi pada kalian sekeluarga.""Sebelumnya orang Negara Jepara masih nggak terima, mereka melakukan hal-hal aneh itu dengan mengendalikan roh kakek buyut Windono yang sudah mati. Tapi, dengan kemampuan me
Kalau Rosa takut pada Ardika, paling tidak saat berada di rumah Jace, dia juga tidak akan menunjukkan sikap seperti itu terhadap Ardika.Bagaimanapun juga, Ardika telah memukul orang. Dia hanya meminta pria itu untuk meminta maaf, bahkan berjanji ke depannya Werdi dan yang lainnya juga tidak akan me
Ardika mengalihkan pandangannya, melirik wanita itu sekilas. Kemudian, dia kembali menundukkan kepalanya, lalu mengulurkan tangannya untuk mengambil sepotong melon. Dia berkata dengan santai, "Oh? Makan saja butuh undangan? Bahkan butuh ada orang yang membawa masuk?""Kamu nggak bertanya pada orang







