FAZER LOGINDi dalam wilayah perguruan dalam, terdapat sebuah aula besar yang dipenuhi aroma tumbuhan spiritual dan bahan obat. Seorang pria tua berjubah merah dengan wajah ramah sedang mendemonstrasikan proses pemurnian pil di hadapan lebih dari seratus murid inti.Mereka menggunakan jubah berwarna ungu sebagai simbol status murid inti Perguruan Sangkara. Mereka yang berhasil mencapai kedudukan tersebut tentu memiliki bakat dan kemampuan yang jauh melampaui murid biasa.“Saat memurnikan pil, kalian harus menghindari sikap tergesa-gesa dan kegelisahan. Sekalipun sebuah gunung runtuh tepat di hadapan kalian, pikiran harus tetap tenang dan perhatian tidak boleh teralihkan dari proses pemurnian. Kalian mengerti?”Pria tua berjubah merah itu memberikan petunjuk dengan nada tenang. Lebih dari seratus murid inti segera membungkuk hormat dan menjawab serempak.“Baik, Guru. Kami mengerti!”Mereka kembali memusatkan perhatian pada setiap gerakan pria tua tersebut, menyimak seluruh ajarannya dengan sungguh
Dwiki kembali mengernyit. Kali ini, kemarahannya mulai bercampur dengan rasa curiga. ‘Ada sesuatu yang tidak beres.’Dia mengamati Revan dengan lebih saksama. Perlahan, ekspresi wajahnya berubah, dan keterkejutan mulai menggantikan kemarahan yang sebelumnya mendominasi tatapannya. “Ini...”“Revan, kau....”Dito baru saja hendak melanjutkan ucapannya ketika teriakan Dwiki mendadak memotong perkataannya.“Diam!”Dito tersentak ketakutan. Tubuhnya gemetar dan mulutnya langsung terkatup rapat, tak berani mengeluarkan sepatah kata pun lagi.Para murid yang sebelumnya sibuk berbisik juga seketika bungkam. Mereka tidak memahami alasan Dwiki tiba-tiba murka, tak seorang pun berani mempertanyakannya. Suasana aula yang semula riuh berubah sunyi, begitu hening hingga tidak ada yang berani bernapas terlalu keras.Sementara itu, kesadaran Revan perlahan kembali pulih di dalam Cincin Langit. Dia bisa mendengar segala sesuatu yang terjadi di dunia luar dengan sangat jelas. Setiap perkataan dan suara
Pemandangan itu tentu saja menarik perhatian banyak orang, termasuk Dwiki. Namun, sang tetua belum mengatakan apa-apa dan memilih melanjutkan ceramahnya.“Untuk menjadi alkemis kelas empat, kalian harus mampu memurnikan pil kelas empat. Saat itu, aku—”“Tetua Dwiki!”Sebuah suara mendadak menyela penjelasannya.“Revan sedang tidur! Dia sama sekali tidak menghormati ceramah Tetua Dwiki!”Semua orang langsung menoleh ke arah sumber suara. Orang yang berdiri sambil melontarkan tuduhan itu tak lain adalah Dito.Posisinya tidak jauh dari Revan. Sebagai sesama murid baru, dia memang mendapat tempat yang cukup dekat dengan barisan depan. Sejak tadi, Dito terus memperhatikan Revan, entah secara terang-terangan maupun diam-diam.Begitu mendengar ucapannya, perhatian seluruh murid beralih kepada Revan. Mereka yang berdiri di bagian belakang tidak bisa melihat dengan jelas apa yang sedang terjadi. Namun, para murid yang berada di sekitar Revan bisa menyaksikannya tanpa terhalang.Pemuda itu mema
Orang-orang di sekitarnya seharusnya tidak akan menyadari sesuatu yang aneh.Revan perlahan menutup mata. Kesadaran Spiritualnya segera memasuki Cincin Langit.Pemandangan luas terbentang di hadapannya. Langit dipenuhi bintang-bintang berkelap-kelip, membentuk hamparan cahaya yang membentang tanpa batas.Di antara sekian banyak bintang itu, sebuah bintang yang memancarkan cahaya biru redup tiba-tiba berkelip dengan cepat.Tatapan Revan langsung tertuju padanya. “Apa ini...?”Bintang biru yang menggantung di langit Cincin Langit mulai memancarkan cahaya semakin terang. Sinarnya perlahan menguat, berubah dari cahaya redup menjadi kilau menyilaukan yang menyerupai matahari.Tiba-tiba, sebuah suara ilahi bergema di dalam pikiran Revan.“Cincin Langit, Fase Kedua, aktifkan!”Sekejap kemudian, serangkaian ingatan membanjiri benaknya. Revan tertegun ketika menyadari bahwa semua informasi itu berkaitan dengan tahap kedua Cincin Langit.“Apa ini...?” Matanya membelalak. Dia segera memahami isi
“Dalam proses pemurnian pil, pengendalian suhu merupakan salah satu faktor terpenting. Bahkan bagi kalian yang belum pernah mencoba membuat pil sekalipun, prinsip ini seharusnya sudah kalian pahami.” Dwiki mengangkat tangannya sambil menjelaskan dengan penuh percaya diri.“Keberhasilan pemurnian tidak hanya ditentukan oleh kemampuan mengendalikan suhu api. Kualitas dan khasiat pil yang dihasilkan juga sangat bergantung pada ketepatan proses tersebut.” Dia berhenti sejenak, membiarkan para murid mencerna perkataannya sebelum melanjutkan. “Ada satu hal lagi yang tidak boleh kalian abaikan. Suhu api yang tidak terkendali dapat memicu ledakan selama proses alkimia berlangsung!”Dwiki mulai menguraikan materinya secara bertahap. Sikapnya tetap angkuh, setiap penjelasan menunjukkan betapa mendalam pemahamannya mengenai alkimia.Revan mendengarkan dengan saksama. Semakin lama mengikuti pelajaran tersebut, semakin jelas baginya bahwa Dwiki memang memiliki pengetahuan yang luar biasa dalam bid
Revan hanya bisa terdiam. Baru kali ini dia menghadiri kelas alkimia, tetapi belum sempat mempelajari apa pun, dirinya sudah menjadi pusat perhatian ribuan orang.“Revan, apa kau tidak mendengar perkataanku? Kemarilah!” Suara Dwiki kembali terdengar, kali ini dengan nada yang lebih tegas.Revan menghela napas pendek sebelum akhirnya melangkah maju. Dia masih tidak habis pikir bagaimana Dwiki bisa menemukannya di tengah lautan manusia, apalagi sampai memintanya berdiri di depan.Revan tidak mengetahui bahwa tindakan tetua itu sebenarnya didasari niat baik. Dwiki hanya khawatir dia tidak bisa mendengar materi pelajaran dengan jelas jika terus berdiri di bagian belakang.Adapun apakah Revan mampu memahami ilmu alkimia, atau bahkan memiliki bakat di bidang tersebut, semuanya bergantung pada dirinya sendiri.Dwiki cukup puas dengan kepribadian Revan. Pemuda itu tegas dan tidak mengenal belas kasihan ketika menghadapi musuh, meskipun terkadang tindakannya terasa terlalu kejam.Begitu Revan







